Study Tour(4)

2218 Kata
13.45 Sholat selesai, rombongan study tour bergegas makan besar di restoran jawa yang disajikan tempat prasmanan. Banyak sekali lauk-pauk yang tersaji di tempat prasmanan, ada sambal goreng kentang, mie goreng, ayam bakar, ayam goreng, opor ayam, gulai kambing, kambing bakar, ikan bakar, ikan goreng, ikan gulai sampai aneka lauk-pauk lainnya. Makanan yang tersaji di restoran itu sudah diatur oleh pihak sekolah, sehingga para rombongan study tour bisa menikmati makanan sepuasnya tanpa perlu memikirkan biaya. Dita, Ilma, Levina dan Desti membungkus makanan yang ada di sana untuk dimakan nanti malam(siapa tahu mereka lapar). Nena yang melihat itu langsung menertawai mereka semua. "Haha, kalian lapar atau doyan sih? Niat banget bekal kertas nasi segala dari rumah," "Jangan gitu deh, Nen. Kita bawa ini siapa tau nanti malam lapar atau di bus gitu lapar, kan kita harus makan banyak." Jawab Dita. "Awas BB naik baru tau rasa, wkwkwk." "Ihh, nggak lah! Lagian cuman beberapa hari doang kita-kita makan banyak!" ucap Levina. Makan siang selesai, selanjutnya mereka akan berkunjung ke taman pintar, destinasi yang mereka nanti-nanti! Taman Pintar Yogyakarta adalah sebuah wahana wisata yang terdapat di pusat Kota Yogyakarta, tepatnya di Jalan Panembahan Senopati No. 1-3, Yogyakarta, di kawasan Benteng Vredeburg. Taman ini memadukan tempat wisata rekreasi maupun edukasi dalam satu lokasi. Di taman pintar terdapat banyak sekali berbagai macam tempat dimulai dari wahana bahari, science theater, playground, zona perpustakaan, kampung kerajinan, gedung PAUD, planetarium, gedung kotak, gedung oval, bioskop 2D dan 3D, zona dinosaurus, sampai zona-zona menyenangkan lainnya. Dengan ke taman pintar, kita bisa mendapatkan banyak ilmu pengetahuan tentang alam, sosial dan ilmu-ilmu yang lain. Avika, Nena, Syera dan Aisyah nampak kebingungan di taman pintar. Mereka berempat tidak tahu ingin kemana karena semua yang ada di sana menarik-menarik. "Kemana yah? Banyak amat nih tempatnya, jadi bingung! Mana cuman sampe jam 4 sore doang!" bingung Nena. "Ayo kita liat bioskop yuk, kita liat film 3 dimensi! Kapan lagi coba kita bareng-bareng nonton bioskop kaya begini terus bioskopnya 3 dimensi lagi, ayo!" ajak Aisyah. "Syah, tapi kan filmnya pasti lama, nanti kita nggak bakalan nyicipin tempat lain dong!" Avika, sedikit tidak setuju karena waktu yang terbatas "Udah, ayo dongg! Aku penasaran banget sama bioskop 3 dimensi!" Aisyah menarik tangan Avika, Nena dan Syera ke bioskop 3 dimensi, selama ini memang Aisyah begitu tertatik dengan bioskop 3 dimensi. Kerap kali Aisyah senantiasa membeli kacamata 3 dimensi di tukang mainan, tetapi saat melihat film di laptop atau di proyektor tidak ada bedanya sama sekali, hanya warnanya saja yang berbeda. "Ehh, iya, santai aja, Syahh!" Avika. Mereka berempat tiba di tempat kasir. "Selamat datang, Kakak-Kakak! Mau menonton film apa?" "Ada film apa aja ya, Mbak? Khusus yang 3 dimensi." Tanya Aisyah. "Oh, untuk 3 dimensi ada film dinosaurus, robot, doraemon dan film-film kartun lainnya. Untuk judul yang lebih lengkap silahkan lihat daftarnya," kasir itu memberikan sebuah kertas yang berisi daftar film yang akan diputar. "Gimana kalo doraemon?" usul Nena. "Ha'ah, doraemon aja!" Avika, mendukung usulan Nena. "Oke, fiks ya doraemon." "Mbak, kami mau menonton film doraemon. Harganya berapa, Mbak?" "1 orang 25 ribu saja ya." "Baik, Mbak!" Mereka menonton film bioskop 3 dimensi, sedangkan di sisi yang lain Muadzin, Bentar, Ripal, Rafli, Mamat, Chandra dan Rijal sedang melihat-lihat dinosaurus raksasa buatan. Dinosaurus itu terus bersuara, mengaum sesuai dengan sistem. "Eh, kita foto dulu, yuk!" ajak Rijal Kahpi. "Ayo!" Mereka semua berfoto di depan para dinosaurus yang terdapat pagar pembatas. Cekrek! Setiap foto apapun yang mereka ambil, selalu dikirimkan ke dalam group chat kelas ataupun group chat sekolah supaya kegiatan study tour bertambah meriah, baik di dunia digital(online) maupun di dunia real life(nyata). Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, ada tambahan 30 menit untuk mereka semua. Karena sudah terlalu sore akhirnya rombongan study tour kembali ke bus. Rombongan study tour menuju ke masjid untuk melaksanakan sholat ashar dan menunggu waktu sholat magrib. Di masjid ada yang mandi, makan, minum sampai merebahkan diri sejenak untuk melepas penat setelah seharian berkeliling Kota Yogyakarta. "Capek banget, sampe mau pingsan aku." Ungkap Avika yang baru selesai berwudhu. "Iya, sama, Vik. Padahal baru 2 destinasi wisata lho, tapi kita udah capek banget kaya ngelilingin seluruh Kota Yogyakarta." Ujar Aisyah, yang sama merasakan lelah. "Nanti malam kita langsung tidur ajalah, supaya besoknya punya tenaga. Kan besok kita bakalan seharian lagi kaya gini," Nena. "Hooh, eh sholat yuk, ini waktunya udah mau habis!" ajak Syera, terburu-buru masuk ke dalam masjid. "Astaghfirullahaladzimmm! Yukk!" Nena yang baru sadar bahwa waktu sholat ashar sedikit lagi, Nena pun terburu-buru masuk ke dalam masjid sama seperti Syera. 18.15 Rombongan study tour telah sampai di hotel astor, hotel yang mereka tempati. Di hotel banyak sekali makanan prasmanan, ada area musik klasik, kolam renang dan lain sebagainya. Banyak lampu berwarna-warni yang memenuhi hotel astor membuat daya tarik hotel astor untuk dikunjungi semua kalangan masyarakat. Di sebelah koridor terlihat lampu-lampu berwarna-warni dan terdapat air mancur, ada yang langsung berfoto di sana, adapun yang membuat konten vlog. Semuanya masuk ke kamar yang sudah disediakan masing-masing. 1 kamar berisi 8 orang sekaligus yang disertai 2 kamar mandi saja. Avika, Nena, Syera dan Aisyah menempati kamar nomor 1 bersama dengan Dita, Desti, Ilma dan Levina. Avika dan kawan-kawannya nampak kaget setelah mengetahui bahwa mereka semua 1 kamar dengan rombongan Dita, pasti ada kekacauan dan kehebohan di sana. "Lho, kalian ada di sini?" kaget Aisyah. "Iya, kita satu kamar wee!" Dita, sebari merapihkan tempat tidurnya. Ada 8 ranjang di sana, yang masing-masing ranjang terpisah-pisah dan saling berhadapan satu sama lain. "Waduhh, kok bisa-bisanya Bu Ajeng nyatuin kita sama geng itu sih! Ih, pindah kamar aja yuk!" ajak Nena. "Ihh, apaan lo, Nen! Siapa juga yang mau 1 kamar bareng kalian, kita juga ogah kali!" "Iya, huhh! Lebay amat sih si atlet voli!" ejek Desti. "Udah-udah, jangan ribut dong. Kita kan satu kelas, jadi jangan ribut-ribut kaya gini. Dimana-mana satu kelas tuh harus bersatu, sekarang ayo kita masuk, Nen." Avika, yang berpikir lebih dewasa dibandingkan Nena. "Iya, lagian kalo minta tuker sama orang lain kamarnya bisa-bisa kita juga yang bakalan diomelin bu Ajeng gara-gara udah ngaririweuh dia." Kata Syera. "Ho'oh!" Aisyah, mendukung keputusan Avika dan Syera. "'Hadehh, yaudahdeh, demi kalian, aku mau 1 kamar sama si geng heboh ini." Nena pun akhirnya setuju satu kamar dengan Dita, Ilma, Desti dan Levina. Keesokan harinya, setelah sholat subuh berjamaah dan sarapan pagi di hotel, rombongan study tour kembali melanjutkan perjalanannya. Sekarang mereka akan menuju ke museum pahlawan dan juga malioboro. Di museum pahlawan mereka semua belajar tentang sejarah Indonesia di masa lampau, dari kemerdekaan dan perjuangan-perjuangan lainnya. Petugas di museum itu memotret para siswa-siswi SMPN 1 Maja dan memasukkannya ke dalam website museum. Setelah berkunjung ke museum selama setengah hari, mereka sekarang menuju ke malioboro untuk membeli oleh-oleh dan kuliner. Di malioboro ada beraneka macam oleh-oleh dan kuliner khas Kota Yogyakarta, gudeg, sate klatak, tengkleng gajah, oseng mercon, tiwul, gatot, belalang goreng, bakpia pathuk, bakpia kukus tugu Jogja, Jogja scrummy, cokelat monggo, salak pondoh sampai kerajinan yang unik-unik. Ada baju khas Yogyakarta, mainan anak, gantungan kunci dan souvenir lainnya. "Ayo, Anak-Anak! Silahkan beli oleh-oleh sekarang, kami beri waktu sampai jam 4 sore ya, Anak-Anakku!" teriak Pak Jahrudin menggunakan mikrofon. Semua rombongan study tour turun dari bus masing-masing, mereka semua segera membeli oleh-oleh di malioboro. Rombongan Dita membeli bakpia banyak sekali, ada bakpia cokelat, strobery, bluebery, vanilla dan lain sebagainya. "Banyak banget beli bakpianya kamu, Dit. Yakin mau dimakan sendiri?" tanya Nena. "Kagak, ini untuk orang rumah juga weee, bukan untuk dimakan sendiri. Sok tau banget sih lo, Nen!" "Ah, biasa aja kali!" "Aku pengen beli baju untuk adek aku, ayo anter ihh!" Aisyah. "Ayo-ayooo!" ucap mereka dengan sangat semangat. Avika dan kawan-kawan pergi ke toko baju yang menyediakan berbagai baju khas Kota Yogyakarta. Ada baju polos dengan sablon candi borobudur ataupun tulisan Yogyakarta yang sangat indah. Aisyah yang melihatnya langsung membeli baju itu untuk adiknya yang masih kecil. Aisyah memborong 6 baju untuk adiknya, tak lupa ia juga membeli blangkon dan baju adat khas Yogyakarta untuk adiknya. "Wihh, banyak banget, Syah! Sini biar kita bantu bawanya." Avika, Syera dan Nena membawa salah satu kresek yang dipegang oleh Aisyah. "Iya, makasih-makasih! Kalian mau beli apa nih?" tanya Aisyah. "Bakpia! Hehe ..." Nena ternyata diam-diam ingin juga bakpia setelah melihat Dita, Ilma, Levina dan Desti membelinya. Nena membeli 4 box bakpia beraneka rasa, begitupula Avika dan Syera. "Yuk, mau kemana lagi nih kita?" tanya Avika. "Ke gantungan kunci sama mainan-mainan aesthetic yuuk! Aku sempet lupa, ternyata adek aku pesan juga!" "Ayo!" Mereka semua bergegas ke toko mainan, di sana Aisyah membeli gantungan kunci Yogyakarta, gantungan kunci berbentuk alat-alat perang dan lain sebagainya. Selain itu, Aisyah juga membeli kereta api yang terbuat dari kayu, siapa tahu adiknya suka dengan barang bawaannya nanti. "Copeett!! Copeettt!" terdengar suara teriakan Bu Ani yang ternyata dompetnya kecopetan oleh pencuri yang langsung berlari. "Copettt! Ada copettt!" teriak Bu Ani, lagi. Aisyah, Avika, Syera dan Nena yang baru saja selesai berbelanja di toko kerajinan langsung kaget. Mereka berempat seketika langsung mengejar pencopet itu dengan membawa banyak sekali kresek yang berisi belanjaan mereka tadi, begitupula anak-anak sampai guru yang lain. Malioboro menjadi heboh, orang-orang yang ada di saja mengejar pencuri yang memakai masker hitam tersebut. Pak Jahrudin ada di garda terdepan saat mengejar pencuri tersebut. Braaag! Pencuri tersebut melemparkan pot bunga ke arah belakang. Aisyah terjatuh karena tangannya terkena pot bunga, tangan Aisyah mengeluarkan darah. "Ya Allah! Aisyahh!" jerit Avika. Aisyah seketika pingsan setelah terkena pot tersebut dengan darah yang terus mengucur dari tangannya. "Aisyah, Nak! Bangun!" Bu Ajeng dan Bu Mimin langsung kepanikan. "Ayo bawa saja Aisyah ke bus 8, ayo!" suruh Bu Mimin yang akan berusaha mengobati Aisyah di dalam bus. Avika, Nena dan Syera membawa Aisyah ke dalam bus. Di sisi lain, Pak Jahrudin masih terus mengejar pencuri tersebut, Pak Jahrudin semakin emosi dengan pencuri itu karena telah melukai anak muridnya. Beberapa kali pencuri itu merobohkan dagangan-dagangan yang ada di malioboro, pedagang-pedagang mengalami rugi yang besar akibat pencuri itu. Brukkkk! Akhirnya setelah dikejar beberapa lama pencuri yang mencuri dompet Bu Ani terjatuh dan Pak Jahrudin berhasil menangkapnya! Polisi pun datang untuk menangkap pencuri tersebut dan dompet Bu Ani berhasil diselamatkan! Di dalam bus 8, luka Aisyah diobati oleh Bu Mimin dan Bu Ajeng dengan menggunakan alkohol. Para siswa-siswi bus 8 dan bus lain ada di sana, melihat Aisyah yang sedang diobati, masing-masing dari mereka juga menenteng belanjaan yang begitu banyak apalagi para guru. Aisyah mulai siuman, dia sangat lemas sekali. Aisyah langsung diberikan air do'a dan nasi gudeg yang berisi telur, gudeg dan daun singkong untuk Aisyah supaya Aisyah memiliki tenaga kembali. 16.00 Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, semua siswa-siswi masuk ke dalam bus masing-masing setelah puas berbelanja oleh-oleh dan jalan-jalan di Malioboro. "Diharapkan rombongan siswa-siswi SMPN 1 Maja, segera masuk ke dalam bus masing-masing karena bus akan melakukan keberangkatan." "Sekali lagi, diharapkan rombongan siswa-siswi SMPN 1 Maja, segera masuk ke dalam bus masing-masing karena bus akan melakukan keberangkatan!" Setelah dirasa siswa-siswi rombongan study tour sudah masuk ke dalam bus masing-masing, bus pun berangkat meninggalkan malioboro. Saat Dita, Ilma, Levina dan Desti sedang memilih-milih baju khas Malioboro, mereka berempat terkejut ketika bus mereka sudah melaju meninggalkan mereka, sedari tadi mereka terus memilih baju sampai tidak mendengar pengumuman dari Pak Jahrudin. "Allahuakbar! Kita ditinggalin, Guys." Dita, mulai panik. "Ayo, cepetan kejarrr!" mereka berempat langsung mengejar bus yang sudah berangkat itu, mereka berempat berlari terbirit-b***t sebari berteriak-teriak memanggi Bu Ajeng dan Pak Joko yang ada di bus mereka. "Bu Ajenggg!" "Pak Joko!" "Tolonggg! Tolongggg!" "Kami ketinggalan bus!" teriak mereka sekencang-kencangnya. Semua orang yang ada di malioboro terus memperhatikan mereka berempat, orang-orang kebingungan kenapa Dita, Ilma, Levina sampai Desti berlari terbirit-b***t mengejar bus. "Waduh, gimana ini, Dit? Masa iya sih kita harus nyusul busnya? Orang pasti busnya udah jauh banget!" Levina, panik karena sudah ditinggal bus. "Duh, kalau jalan juga capek banget, apalagi kita belum hafal sama jalan ini." Desti yang panik setengah mati. "Aduh, kita harus apa nih, Ya Allah. Hiks-hiks-hiks ..."Ilma, menangis karena ditinggal bus. "Kita kejar aja, InsyaAllah bisa!" ajak Dita. Mereka berempat pun mengejar busnya lagi, mereka berlari dan terus berlari. Hingga akhirnya mereka keluar dari area malioboro dan jalan raya ke sebuah jalan yang sangat sepi yang di pinggirnya hanya ada pepohonan saja, tak ada rumah sama sekali. Bus sudah tidak kelihatan lagi, bus sudah melaju sangat jauh meninggalkan mereka berempat. "Tolongg!" "Tolongg! Berhentii!" Tak patah semangat, mereka terus meminta pertolongan. "Pak, Buu! Berhenti!" "Tolongg!" Mereka berempat berteriak meminta tolong, tetapi busnya terus melaju. "Buuuu!" Mereka sangat lelah, mereka begitu ingin pingsan karena berteriak terus-menerus. "Tolongg! Huh-hah-huh-hah!" Akhirnya karena sangat kelelahan, mereka berhenti. Desti menyuruh yang lainnya untuk menelepon pak Joko. "Dit, coba telepon bu Ajeng atau pak Joko, bilangin kita ada di sini." Suruh Desti, yang sudah sangat lelah. Dita membuka ponselnya, tapi tidak ada sinyal sama sekali. "Astaghfirullahaladzimm, kagak ada sinyalnya sama sekali, Des!" ujar Dita, kebingungan. "Hiks-hiks-hiks ..." Ilma menangis karena ditinggal bus. "Sabar, Il. Jangan nangis, sekarang kita mendingan jalan kaki aja, siapa tahu kita bisa ketemu sama bus-busnya lagi," ucap Levina yang menenangkan Ilma. Mereka memutuskan untuk berjalan kaki saja, mereka bisa berbuat apa-apa lagi selain jalan kaki. Baru 45 menit, mereka semua menembus ke jalan raya. Mereka sangat lelah, di sana akhirnya mereka menemukan bus rombongan study tour, mereka langsung mengetuk pintu. Bu Ajeng kaget, pintu ia buka dan menyuruh Dita, Ilma, Desti dan Levina untuk masuk. Mereka berempat menceritakan semuanya kepada Bu Ajeng dan Pak Joko.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN