Study Tour(3)

1147 Kata
Keesokan harinya, sebelum subuh rombongan study tour sampai di masjid dengan bedug terbesar se-Asia yang ada di sekitaran Yogyakarta untuk melaksanakan sholat subuh. Avika terbangun dan segera melakukan sholat shubuh di masjid tersebut secara berjamaah. Sholat subuh ini dipimpin oleh Mang Habib juga yang ikut rombongan study tour. Setelah melaksanakan sholat subuh, rombongan study tour kembali masuk ke bus masing-masing. Saat ini mereka sudah ada di wilayah Yogyakarta, mungkin jam 7 atau jam 8 pagi, mereka akan sampai ke hotel dan menuju ke candi borobudur sebagai tempat destinasi wisata yang pertama mereka kunjungi. Perjalanan mereka berlanjut ke hotel astor, hotel yang akan mereka tempat. Di dalam bus 8, Avika nampak lemas, sama seperti Andra. "Vik, kamu udah mendingan belum? Ini ada teh hangat, minum dulu supaya kamu bertenaga," Bu Ajeng memberikan segelas teh manis hangat yang gelasnya terbuat dari kertas. "Belum, Bu. Setelah kejadian tadi, nggak tau kenapa saya jadi lemas, seakan-akan tenaga saya diserap sama makhluk yang merasuki saya." Timpal Avika, sebari meminum teh hangat pemberian Bu Ajeng. "Tapi saya bisa kok ngelanjutkan perjalanan." "Kamu kuat nggak ke candi? Takutnya kondisi kamu malah makin buruk gara-gara memaksakan diri ke candi karena di candi borobudur kita semua bakalan naik tangga ke atas." "InsyaAllah, kuat, Bu." "Terimakasih banyak ya, Bu, tehnya. Maafkan saya juga yang sudah mencekik Ibu, saya kira Ibu adalah sosok perempuan i-itu." "Sudah, tidak apa-apa, Avika. Itu kan di luar kendali kamu, jadi tenang aja, Ibu nggak akan marah kok. Yang terpenting kamu istirahat aja dulu, pulihkan lagi tenaga kamu. BTW, kamu udah makan?" "Belum, Bu." "Hmm, sebentar Ibu buatkan pop mie ya untuk mengganjel perut." "Eh, nggak usah repot-repot, Bu. Biar teman-teman saya saja yang membuatnya," ucap Avika, tidak mau merepotkan Bu Ajeng. "Nggak apa-apa, Vik." Bu Ajeng memberikan Avika pop mie, Avika sangat berterimakasih banyak kepada Bu Ajeng karena sudah memberikan pop mie kepada Avika sekaligus membuatnya sendiri, Avika jadi merasa tidak enak hati pada Bu Ajeng. Avika memakan pop mie dengan lahap dan meminum teh hangat pemberian Bu Ajeng, badan Avika yang tadinya dingin karena perutnya kosong menjadi hangat da merasa agak mendingan. "Oh, emang iya? Kayanya kagak mungkin Desa Zahreela itu Desa Chudail, mungkin Desa Chudail cuman mitos doang, palingan karangan jurnalisnya supaya blognya banyak yang baca. Kan lumayan tuh duitnya," kata Dita pada teman-temannya di jok. "Tapi beritanya nggak cuman nongol 1 kali, Dit, tapi udah nongol beberapa kali. Lagian ngapain juga sih si jurnalis sampe buat artikel segini banyaknya, pake kisah-kisah mistis sampai ada dialog juru kunci yang dimasukin, kan kurang kerjaan," pikir Levina. "Ah, zaman sekarang mana ada sih yang kaya gituan, itu mah mitos, jangan dipercaya sebelum tahu kebenarannya. Coba deh, kan nanti kita bakalan ke Desa Zahreela, kita tanya ke juru kunci, berita itu benar adanya atau nggak, supaya pasti, jangan tau-tau heboh ujung-ujungnya bohong," Desti yang ikut bicara juga. "Woy, kalian lagi ngomongin apa deh? Kok serius bener," tanya Nena, penasaran. "Ini, kita lagi ngomongin tentang Desa Zahreela yang katanya Desa Chudail." "Chudail? Apaan tuh?" "Chudail itu desa yang dihuni sama siluman kelelawar tapi warnanya ungu, siluman kelelawar itu ketawanya kek kuntilanak gitu, ih jadi takut dah." Jawab Levina, sebari bergidik ketakutan. "Oh, kirain hal serius. Huhh, ngaget-ngagetin aja kalian." "Ih, emang hal serius lah, Nen! Katanya chudail itu suka menghisap darah manusia, mirip kaya vampire, liat nih kasus di sana udah ada puluhan warga yang ngaku pernah dihiasap sama chudail dan malamnya mereka jadi chudail." "Bingung dah, ngomong apa sih kamu, Vin! Jangan ngawur, udah aku nggak mau denger lagi." Kata Nena. "Huuuu, bilang aja takut!" "Ada apa, Nen?" tanya Avika yang kini berpindah posisi tempat duduknya di jok dekat jendela. "Itu, kata mereka Desa Zahreela itu Desa Chudail. Di desa sana katanya sih banyak chudail yang selalu menghisap darah manusia dan siapa aja yang kena hisap langsung jadi chudail. Kalian percaya, nggak? Nggak lah ya! Ini udah zaman modern, kan nggak ada tuh hal-hal kaya begitu." "Kita jangan ngusik kehidupan mereka, Nen. Kita hormat aja, hormat. Dalam artian menjaga tatakrama dan tingkah laku. Kamu mau kejadian di gunung bungur yang dialami sama Muadzin and the gank tahun lalu keulang di study tour?" Aisyah. "What? Nggak-nggak, amit-amit! Astaghfirullah!" "Jujur sih kejadian tahun kemarin hebohnya minta ampun, tapi alhamdulilah pada selamet semua." Ujar Syera, merapihkan kerudungnya. "Tapi kalo itu beneran gimana? Aku jadi penasaran deh," ungkap Avika. "Vik, jangan nyari masalah, nggak ada yang kamu dapetin dengan nyari tau tentang desa itu. Nanti kita kesana tapi jangan kulik lebih dalam," "Hmm, iya deh, Syah." 08.30 Mereka sudah sampai di candi borobudur setelah sebelumnya sudah singgah untuk menyimpan barang-barang bawaan di hotel astor. Sesampainya di candi borobudur, mereka semua sangat senang sekali. Mereka langsung membuat video dan berfoto selfie dengan sahabat, guru bahkan dengan turis-turis yang ada di sana. Avika berhasil ikut dan sampai di titik tertinggi candi borobudur walaupun dia sampai terakhir bersama teman-temannya. Di candi borobudur, para guru terlihat menjelaskan berbagai candi dan sejarahnya. "Pengen selfie sama turis ihh," Nena ingin selfie juga dengan turis mengikuti teman-temannya. "Ayo!" Avika. "Eh, tunggu! Siapa nih yang bakal ngomong ke turisnya?" tanya Nena. "Kamu, Nen." "Aduh, aku nggak bisa. Kamu aja, Vik!" "Aku juga nggak bisa, Nen! Gimana sih, kan kamu tau kalo aku lemah di pelajaran Bahasa Inggris!" ucap Avika. "Yaudah deh, sebisa-bisa aku aja!" Nena datang menemui sepasang suami istri yang merupakan turis dari luar negeri. Saat mereka sudah dekat dengan turis, mendadak Nena sangat bingung. "Excusme ..." ujar Nena tanpa pelafalan bahasa inggris yang benar. Kedua orang itu menengok ke arah Nena dan kawan-kawan, "yes? What's wrong?" tanya turis itu. "Mister, Misis, we selfie with you," Nena, cengengesan. Bahasa Inggris Nena sangat kacau dan membuat kedua turis kebingungan, mereka berdua sedikit tertawa kecil. "Maybe what you mean is that you want to take a selfie with us?" "Yes, Mister! Yes!" "Oh, yes, you can." Mereka berempat pun berselfie bersama dengan 4 pose yang berbeda. Cekrek! "Thanks you very much, Mister, Misis! Hehe, I am sorry my english ugly," kata Nena, cengengesan lagi. "Hoho, no problem, Children." Mereka berempat pun pergi dengan senyuman kepada sepasang suami istri turis itu. "Akhirnya kita bisa foto sama turis juga walaupum bahasa inggrisnya eungga-eunggeu ..." ujar Nena sebari menatap ponsel yang berisi foto bersama turis tadi. "Hehe, iya, Nen. Malu-maluin aja sii!" Syera, tertawa lepas. "Hooh, jadi nggak enak sama turisnya, turisnya kebingungan," Aisyah. "Nggak apa-apa ah, itung-itung pengalaman," Rombongan study tour SMPN 1 Maja mengeksplor candi borobudur, ada pemandu wisata di sana yang membimbing tour SMPN N 1 Maja tetapi ia baru saja datang, ia telat karena bangun kesiangan. Para guru pun memakluminya dan kembali melanjutkan eksplor candi borobudur. Selama 4 jam lebih mereka ada di sana, jam 12 siang saat adzan dzuhur berkumandang para rombongan study tour selesai mengeksplor candi borobudur. Masing-masing rombongan study tour masuk ke dalam bus, bus langsung menuju ke masjid besar yang ada di Kota Yogyakarta, masjid ini tidak jauh dari candi borobudur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN