Thrilling Incident

1287 Kata
Daaarrrrrr! "Tidaaakkkkkkk!" jerit Avika, yang terbangun dari mimpinya. Namun, Avika mengingau sedari tadi, dia mencekik Bu Ajeng yang ia kira adalah sosok wanita yang dilihat di dalam mimpinya. "Ya Allah, Avika! Lepasin Bu Ajeng, Vik! Lepasin dia! Sadar! Sadarr, Vik!" ujar Aisyah, berusaha melepaskan cekikan kuat Avika pada Bu Ajeng yang sudah sangat kesulitan bernapas. "Avika, sadar, Avikaa! Nyebut!!" Pak Joko juga ikut berusaha membuat Avika sadarkan diri, Pak Joko kebingungan harus berbuat apa karena sangking paniknya. "Jangan lakukan itu, dasar silumannn! Kamu telah membuat semua teman-temanku dan juga guruku tewas, sekarang aku akan membalasmu, harrghhh!" Avika semakin jadi, dia kesetanan! "Avika, itu Bu Ajeng, Vik! Itu Bu Ajeng!" jerit Nena, yang tak kalah panik dengan semuanya yang ada di sana. "Bawa air do'a! Bawa air do'a!" suruh Syera. Dita, Ilma, Levina dan Desti membacakan air do'a pada botol air minum yang mereka bawa, lalu dengan sigap mereka berempat menyiramkan air do'a pada wajah Avika sampai basah kuyup. Byuurrrr! Avika yang sudah terkena air do'a langsung pingsan di tempat, bersyukur Nena dan Syera menopang tubuh Avika sehingga Avika tidak terjatuh. "Alhamdulilahhirobbilalamin!" "Uhuk! Uhukkk!" Bu Ajeng lega, akhirnya cekikan Avika terlepas juga. "Kasih Avika minyak angin cepetan!" Bu Ajeng yang baru saja lega, mencoba mengondisikan keadaan Avika. Avika ditidurkan di jok, lalu Dita membawa minyak angin. Bu Ajeng memberikan minyak angin di kening dan perut Avika agar Avika lekas sadar dan membaik. "Kondisinya stabil, mungkin beberapa menit lagi Avika akan sadar. Kalian semua kalau tidur jangan lupa baca do'a ya, baca ayat kursi, al-ikhlas, al-falaq sampai an-nas, supaya nggak ngigau kaya Avika, Avika malah bukan ngigau lagi tapi kesurupan ini mah kasusnya." "Iya, Bu!" "Sekarang, kalian kembali duduk di jok masing-masing. Untuk Nena, Syera dan Aisyah terus bacakan dzikir dan ayat kursi untuk Avika." "Baik, Bu!" Brukkk! "Harghh! Huaarghhhh!" Chandra yang sedang melamun mendadak bertingkah aneh, nampaknya dia yang malah sekarang kesurupan! "Ya Allah! Chandraaa!" teriak Rijal Kahpi, ketakutan melihat Chandra. Semua orang yang mendekati Chandra langsung menjauhi Chandra, mata Chandra terlihat hanya putih saja tidak ada bola mata hitamnya sedikitpun. "Chandraa!" "Hueekkkk! Hueeekkkkk!" saat Chandra sedang kesurupan, mendadak Andra muntah-muntah di saat yang tidak tepat. Chandra yang sedang dirasuki langsung menengok ke Andra, Chandra langsung mencekik Andra dengan keras. Alhasil Andra pun muntah-muntah di tangan Chandra sampai tangan Chandra dipenuhi muntahan Andra. "Uhuk! Uhuk!" "Chandra, sadar, Channn!" jerit Bentar berusaha melepaskan cekikan Chandra dari leher Andra. "Chandra! Udah, Chandra! Kasihan Andra, Chan!" bentak Pak Joko, yang sama berusaha melepaskan tangan Chandra dari Andra. "Ayoo, bantu!" suruh Bu Ajeng kepada seluruh anak muridnya yang ada di dalam bus. "Hueekkkk!" Muntah Andra semakin menjadi, Andra sudah tidak tahan lagi, mungkin ia akan pingsan. "Pak, siram Chandra dengan air do'a!" suruh Bu Ajeng kepada Pak Joko. Pak Joko pun langsung mengambil air 1 ember dari kamar mandi dan ia bacakan do'a. Byuurrrr! Pak Joko menyiram Chandra menggunakan air do'a sampai-sampai Chandra pingsan juga sama seperti Avika. "Ya Allah! Serem banget!" ucap Dita, ketakutan. "Iya, pada kesurupannya massal begini. Kalian kahade nya ulah ngalamun, bisik kasambet jurig." Ucap Pak Joko, tegang. "Iya, Pak." Mendadak bus berhenti, "ada apa, Pak Tamrin?" tanya Pak Joko yang kebingungan, lagi-lagi ada masalah yang menimpa mereka. "Saya juga kurang tau, Pak. Tadi busnya aman-aman aja, tapi sekarang tau-tau macet, nggak bisa digerakkin!" kata Pak Tamrin, yang sama bingungnya seperti Pak Joko. Ada keanehan muncul, pintu bus terbuka dengan sendirinya padahal pintu terkunci. Kleekkk! "Lho, k-kok kebuka sendiri?" tanya Bentar, ketakutan. "Hahh!" Ripal, kaget bukan kepalang, ia menutup mulutnya karena sangking kagetnya. Kleekkkk! Pintu bus kembali tertutup, ada apa sebenarnya? Dreettt! Dreettt! Ponsel Bu Ajeng mendadak berbunyi, Bu Mimin memanggil telepon Bu Ajeng, Bu Ajeng pun menerima panggilan dari Bu Mimin. "Assalamualaikum, Bu." "Waalailkumsalam, Bu. Ada apa ya?" "Bu, kata Dini, salah satu siswi 8A yang mempunyai kemampuan melihat hal ghaib, kata dia ada sundel bolong dan rombongan tuyul masuk ke bus 8, nggak tau ini benar apa nggak, tapi dari tadi Dini terus memaksa untuk memberitahukan ini kepada Bu Ajeng yang ada di bus 8 cenah mah." "Astaghfirullah! Ada sundel bolong dan rombongan tuyul? Aduh! Yaudah, saya kondisikan situasi di sini dulu ya, Bu." "Iya, Bu." Bus kembali berjalan dengan lancar, tapi di sisi lain semua siswa-siswi di bus 8 sangat panik karena 'katanya' ada sundel bolong dan rombongan tuyul yang masuk ke dalam bus 8, entah bagaimana ini bisa terjadi. Di bus 8 semuanya ricuh, mereka panik. Apalagi Dita, Levina, Ilma dan Desti, mereka berempat langsung mengeluarkan selimut dan langsung bersembunyi jika ada sundel bolong dan rombongan tuyul yang datang. Hawa bus menjadi sangat panas dan pengap, tidak seperti tadi, seakan-akan bus itu dipenuhi dengan banyak sekali orang. Alhasil Pak Joko menulis pesan di group chat, menyuruh para siswa-siswi bus 8 untuk bepura-pura tidur karena mungkin para rombongan tuyul beserta sundel bolong telah memadati bus. Nena, Syera, Aisyah dan para siswa-siswi lainnya membawa selimut dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Dita, Levina, Ilma dan Desti. Mereka semua bersembunyi di balik selimut. Pak Joko mematikan lampu bus dan menutup batas antara supir dan penumpang. Pak Joko kembali ke jok paling belakang dan berpura-pura tertidur pulas. Beberapa lama kemudian, Dita membuka matanya karena penasaran, dari selimut, Dita melihat banyak sekali tuyul yang berkeliaran kesana-kemari dan ada sundel bolong yang sedang berdiri. "Astaghfirullah! I-Ituuu!" Dita pun menutup matanya karena sangat ketakutan dan kembali untuk berpura-pura tidur. Nena membuka matanya, dia melihat ada tuyul-tuyul yang sedang begelantungan di langit-langit bus, mereka semua ada yang melihat ke arah Nena seakan-akan mereka tahu bahwa Nena sedang terjaga. Wurshh! Bus terhenti lagi, para sundel bolong beserta rombongan tuyul keluar dari bus. Nena mengintip dari kaca mobil jikalau sundel bolong dan para rombongan tuyul itu menuju ke pemakaman. Bus kembali jalan, semua siswa-siswi yang ada di bus membuka selimut mereka masing-masing, mereka semua sangat tegang karena ulah sundel bolong dan rombongan tuyul yang masuk ke dalam bus. Bu Ajeng mendapatkan telepon dari Bu Mimin, Bu Mimin menyatakan pesan dari Dini. "Bu, kata Dini, sundel bolong dan rombongan tuyul yang masuk ke dalam bus tadi adalah arwah rombongan study tour Taman Kanak-Kanak yang kecelakaan berpuluh-puluh tahun lalu, biasanya mereka semua akan menumpang ke bus yang lewat, lalu mereka akan berhenti di pemakaman mereka masing-masing. Eh, tapi apa benar ada sundel bolong dan rombongan tuyul yang masuk ke bus 8?" "Iya, Bu, kata anak-anak mah ada dan saya juga sedikit merasakan. Saya merasakan bus di sini tadi sangat pengap, seperti ada orang banyak, Bu, padahal sebelum-sebelumnya nggak kok aman-aman aja, Bu." "Ohh, berarti apa yang dikatakan Dini barusan benar, Bu." "Muhun, Bu. Terimakasih atuh sudah memberitahukan, sampein juga ke Dini." "Baik, Bu." Wushhh ... wushhh ... Angin berhembus kencang disertai kilatan petir yang menggelegar di seluruh penjuru Desa Maja. Nenek Sri merasakan firasat yang sangat buruk, ia merasakan akan ada sesuatu besar yang menimpa Avika di Yogyakarta. "Astaghfirullah! Semoga firasatku tidak benar, semoga Avika tidak tertimpa masalah apapun di sana, apalagi dia sampai mengetahui kalau ada sesuatu yang ada sangkut pautnya dengan Laksmi, aamiin ya rabbal alamin ..." "Mak, Avika dan babaturannya itu tidak ke desanya Laksmi, kan?" mendadak Hasan datang, mendekati Nenek Sri yang tengah melihat hujan lewat jendela. "Urang sigana hilap eh, sugan wae henteu. Urang hilap teu nanya ka si Avika, tapi teu nyaho nya, da hilap! Duh, pohoan!" jawab Nenek Sri. "Mak, kalau dia sampai datang kesana, maka 99% dia akan mengetahui Laksmi dan kebenarannya yang selama ini ku tutup-tutupi." "Jang, Laksmi téh geus eweuh, kan?" tanya Nenek Sri yang sering memanggil Hasan dengan sebutan 'Ujang' yang artinya anak laki-laki. "Laksmi tidak mati sebelum umurnya 100 tahun, Mak, atau bisa juga sebelum ada remaja yang memiliki tanda bulan sabit menusuk jantungnya." "Ya Allah! Wanita sileman mah beda! Jang, telepon wae si Avika sateuacan katimu Laksmi! Buruan, geh!" "Nya, Mak!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN