"Sebenernya nenek Sri ngasih tau ke aku kalau jangan sesekali dekat sama warga di Desa Zahreela, apalagi mengulik lebih jauh tentang apapun yang ada di Desa Zahreela."
"Desa Zahreela? Itu kan desa yang banyak cagar alamnya dan salah satu destinasi wisata yang bakalan kita kunjungi," Aisyah, sangat serius.
"Iya, itu tempatnya. Nggak tau kenapa, nenek aku pesan itu, nggak yang lain. Ini bukan pertama kalinya Nenek aku bilang begitu, tapi udah beberapa kali, malahan sejak aku kecil."
"What? Jangan-jangan ada rahasia yang berhubungan sama kamu di sana, Vik? Itu mungkin nggak sih? Karena secara nenek Sri kan ngewanti-wanti banget kamu untuk datang kesana." Tebak Syera, yang asal menebak saja.
"Kayanya iya, tapi aku nggak mau ngulik itu terlalu jauh, takut nenek marah."
"Hmm, iya, ada benernya juga. Apalagi kita ada di daerah orang, nggak etis rasanya kalo kita main ngulik gitu aja, nggak sopan," pikir Aisyah.
Desa Zahreela adalah salah satu desa yang ada di Yogyakarta, Zahreela berasal dari bahasa India yang artinya Desa Racun. Entah mengapa bisa disebut sebagai Desa Racun, padahal di desa itu banyak sekali cagar alam yang dilindungi oleh pemerintah.
Sudah beberapa jam mereka berangkat, hujan sudah reda, tinggal ada petir yang terus menggelegar sesekali. Agar tidak bosan, mereka semua menyayi-nyayi bersama, membut konten t****k sampai Rijal dan Chandra berpura-pura menjadi pengamen bus hingga menimbulkan gelak tawa 1 isi bus.
"Hadehh, dasar, Sultan Jerawat, bikin ngakak aja!" Bentar yang terus tertawa. Rijal kerap dipanggil sultan jerawat karena Rijal mempunyai jerawat yang begitu banyak di wajahnya, tetapi Rijal tidak pernah marah akan sebutan itu, Rijal menganggapnya sebagai bahan candaan belaka.
"Apa lu bilang!" Rijal melotot pada Bentar.
Bentar seketika serius.
"Eh, nggak kok, kalem! Kalem!" Rijal mengajak salam Bentar.
Dita dan gengnya, sedang membuat vlog tentang bekal makanan apa saja yang mereka bawa. Terlihat Dita duduk dengan Ilma, Levina dan Desti di jok paling tengah.
"Jadi, Guys. Ada pop mie, ya! Ini gue bawa 5 box, takut kehabisan aja sih ya, hehe. Terus ada lagi ini, yoghurt, ada 10 botol di kresek. Nggak cuman itu, gue juga bawa 4 bungkus roti strobery yang rasanya enak banget! Ada lagi, gue bawa snack jagung, kentang, oreo dan masih banyak lagi! Pokoknya sebelum hari-H, gue udah belanja di mini market, buanyak buanget!" ucap Dita di hadapan kamera yang ada di depannya.
"Banyak amat, Dit. Kamu mau study tour atau jualan di sini?" Bu Ajeng yang melihat Dita, menggodanya sedikit.
"Jualan, Bu!" jawab Desti, spontan, refleks Dita langsung mencubit tangan Desti.
"Study tour, Bu, hehe ..."
Di jok paling depan, Andra sangat lesu dan tidak b*******h. Dia masih saja mual, perutnya tidak enak. Rasanya ia ingin kembali saja tidur di rumah dibandingkan harus terus mual seperti ini, perlahan Andra tertidur pulas. Di pinggirnya, ada Bentar, Ripal, Rafli dan Ilham.
"Ben, nggak tau kenapa. Aku ngerasa bakalan ada sesuatu yang terjadi nanti," kata Rafli.
"Ah, cuman perasaan aja kali. Udah, berdo'a, dzikir, Pi! Supaya nggak terjadi apa-apa."
"Iya, Ben. Tapi ya, aku ngerasaian kalau memang ada sesuatu yang bakalan terjadi, ini sama perasaan aku waktu sebelum kejadian gunung bungur waktu itu!" ungkap Rafli dengan sangat begitu serius.
"Hmmm, kecelakaan?"
"Amit-amit, astaghfirullah! Jangan sampe! Aku nggak mikir kesitu, Ben!"
"Jadi apa dong?"
"Aku juga nggak tau, cuman nggak enak doang perasaan."
"Yeee, kamu mah!"
Malam tiba, Avika tertidur pulas di jok setelah makan terlalu banyak snack dari Aisyah, Nena dan Syera. Avika terbangun, dia melihat keadaan sekeliling bus yang dipenuhi asap berwarna ungu, Avika berpikir mungkin asap itu berasal dari lampu dalam bus saat malam karena saat ini bus sangat canggih dan memiliki lampu yang unik-unik. Terlihat tak ada siapapun yang terjaga, semua orang tidur, kecuali pak supir yang sedang sibuk menyupir bus.
"Hmm, aku lanjut tidur aja deh." Avika memutuskan untuk kembali tidur karena rasa kantuknya juga kembali lagi, tetapi Avika ingin pipis sebentar. Dia masuk ke dalam toilet, setelah keluar ia melihat sesosok wanita berbaju putih dengan rambut panjang menjuntai sampai ke bawah, di kepalanya dipenuhi dengan paku tajam, wajahnya ungu, matanya juga berwarna ungu, wajahnya juga dipenuhi banyak sekali paku yang menancap dan dia menggendong boneka perempuan yang sudah dipenuhi dengan debu sama seperti dirinya. Wanita itu menunduk di jok paling belakang yang di sampingnya ada Bu Ajeng yang sedang tertidur pulas sendirian. Mengetahui bahwa sosok itu bukanlah manusia, Avika berusaha untuk tenang dan kembali ke joknya lagi.
Avika menutup mata dan tidur kembali, bus masih terus berjalan. Saat menutup kedua matanya, Avika mendengar suara langkah kaki yang menuju ke jok paling depan. Karena penasaran, Avika membuka matanya sedikit dan melihat siapa yang berjalan. Ternyata yang berjalan ke jok paling depan adalah wanita yang ia lihat tadi, wanita itu menangis dan merintih kesakitan.
"Hiks-hiks-hiks ..."
"Hiks-hiks-hiks ..."
"Hiks-hiks-hiks ..." suara tangisannya begitu pilu, ia nampaknya sangat menderita, tetapi entah apa yang sedang ia tangisi.
"Anakku, bangun, Nak! Bangunn ..."
"Siapa saja, tolong periksa keadaan Anakku! Tolong! Hiks-hiks-hiks, aku menyesal sudah membuangnya ke aliran sungai waktu itu, aku tidak sadar atas perbuatanku yang b***t itu. Tolonglah, bantu Anakku untuk bangun, mungkin dia sedang sakit, hiks-hiks-hiks ..."
"Oh, mungkin dia semasa hidupnya sudah membuang anaknya sendiri ke aliran sungai dan dia nyesel sampai sekarang," duga Avika di dalam hati.
"Kenapa kalian tidak ada yang peduli dengan Anakku, hah? Kenapa kalian semua berpura-pura tidur? Dasar! Kalian semua manusia yang tidak punya hati, dengan teganya kalian tidak mempedulikan seorang Ibu yang sedang membawa anaknya yang sakit! Aku tidak terima!"
"Aku akan membuat kalian habiss!" teriak wanita itu dengan nada tinggi dan penuh amarah.
"Haaarghh!" mendadak bus 8 oleng tidak karuan, sampai-sampai semuanya yang ada di jok(tanpa sabuk pengaman) berjatuhan ke bawah, tetapi tak ada siapapun yang terbangun. Ternyata wanuta tersebut yang menyebabkan bus oleng, Avika terus berusaha menahan dirinya sekuat tenaga untuk tidak bergerak sedikitpun dari joknya, dia juga berusaha untuk menutup mata serapat-rapatnya.
"Harrghhh!" wanita berbaju putih itu terus mengeluarkan semua kekuatan yang ia punya dan akhirnya bus akan menabrak pohon beringin besar yang di rantingnya terdapat banyak janin bergelantungan.
Ini sudah tidak bisa dibiarkan lagi, Avika harus bertindak demi keselamatan teman-temannya. Avika terbangun dan mencekik wanita dalang semus kejadian ini.
"Jangan kamu lakukan ituuu!" teriak Avika, dia begitu panik. Avika melotot pada sosok itu, dia begitu emosi tidak karuan, dia tidak mau nyawa teman-temannya harus melayang dengan begitu konyol.
Brukkkk!
Daaaarrrr!
Seketika saja karena menabrak pohon beringin dengan kencang, membuat bus 8 mengalami ledakan yang luar biasa sampai semua orang yang ada di dalamnya hangus. Tidak hanya itu, bus 1 sampai bus 9 juga menabrak bus 8 secara bertubi-tubi dan meledak sekaligus, hingga terjadi kecelakaan beruntun.
Daaarrrrrr!
"Tidaaakkkkkkk!" jerit Avika, yang terbangun dari mimpinya. Namun, Avika mengingau sedari tadi, dia mencekik Bu Ajeng yang ia kira adalah sosok wanita yang dilihat di dalam mimpinya.
"Ya Allah, Avika! Lepasin Bu Ajeng, Vik! Lepasin dia! Sadar! Sadarr, Vik!" ujar Aisyah, berusaha melepaskan cekikan kuat Avika pada Bu Ajeng yang sudah sangat kesulitan bernapas.