The Child of Avika (Chudail)(2)

1005 Kata
Hari itu, minggu ke 3 Avika masuk ke TK. Avika masuk ke kelas B, yang di dalamnya ada Bu Ebah, Bu Tri dan Bu Tantri. Avika sangat senang, guru-gurunya sangat baik sekali dan ramah-tamah. Sesekali guru-guru memberikan hadiah permen cokelat ataupun semacamnya kepada siswa-siswi yang berprestasi di kelas seperti mendapatkan nilai ulangan yang bagus dan lain sebagainya. Di kelas, Avika menemukan ada seorang anak yang sangat nakal, dia bernama Carlos. Dari lagakmya, dia adalah anak orang kaya raya. Carlos ini selalu membuat onar di kelas, dia juga suka memukuli teman-temannya begitu saja dengan kasar. Suatu hari, jam pelajaran telah dimulai. Setiap siswa-siswi diharapkan untuk mengisi ulangan yang sudah disediakan oleh para guru, dimulailah pengisian ulangan. Avika sangat bersemangat karena dia tahu semua jawabannya gara-gara sudah mengapalkan buku pelajaran, sedangkan Carlos(teman Avika yang duduk di depan Avika) kebingungan dengan jawaban ulangan. Alhasil karena ego Carlos yang begitu tinggi, Carlos mengambil paksa kertas ulangan milik Avika. Avika sangat kesal dia langsung mengambil kembali kertas ulangannya dari Carlos, seenaknya saja Carlos mengambil hasil jerih payahnya mengapalkan materi pembelajaran selama 1 malam. Carlos ikut marah dan ingin membalas Avika, Carlos berdiri lalu mendorong Avika yang baru saja mengambil kertas ulangan dari tangan Carlos. Brrukkkk! Semua siswa-siswi kaget, sedangkan para guru sibuk mencatat prestasi akademik siswa-siswi di buku mereka masing-masing. Mereka tidak sadar bahwa Avika terjatuh, didorong Carlos. Avika tidak terima, mendadak mata Avika berubah menjadi ungu bercahaya, tangan dan kakinya juga berubah menjadi tangan dan kaki kelelawar. Ia terbang mendekati Carlos. Melihat Avika yang berubah mirip seperti chudail, teman-teman Avikan pun shock terutama Carlos, ia sampai bergidik ketakutan karena melihat Avika yang seperti ini. Sreett! Wajah Carlos dicakar hingga berdarah, Carlos melawan, tapi belum sempat ia melawan, Avika malah sudah mencakar wajahnya lagi sampai Carlos kesakitan dan membuat para guru sadar. Para guru langsung panik, mereka bertiga mendekati Carlos dan Avika yang sedang ribut. Avika mendadak berubah lagi menjadi manusia biasa, tidak ada cakar apalagi mata ungu. "Ada apa ini? Ada apa?" tanya Bu Ebah, tegang. "Hiks-hiks-hiks, Avika mencakar saya, Buu!" ucap Carlos sebari menangis. "Hah, Avika?" Bu Tantri yang kenal betul dengan sikap Avika, tidak mempercayai perkataan Carlos. "Kayanya nggak, Carlos. Avika kan anak yang baik, jadi dia nggak mungkin kan mencakar kamu, Nak. Mungkin kamunya saja yang berulah, ya?" "Tidak, Bu. Dia benar mencakar saya! Tadi tangan dan kakinya berubah jadi tangan dan kaki kelelawar terus--terus matanya jadi warna ungu! Carlos takut, Bu!" kata Carlos, yang masih menangis tersedu-sedu. Bu Ebah, Bu Tantri dan Bu Tri saling bertatapan, mereka bertiga menggeleng-gelengkan kepala, mereka tidak percaya dengan perkataan Carlos yang cenderung ngawur atau mengada-ngada saja, itu mungkin imajinasi anak kecil karena keseringan menonton film aksi di televisi ataupun di ponsel. "Yasudah, Carlos. Sekarang ayo-ayo, ikut Ibu ke ruang guru, Ibu traktir permen ya." Bu Tri memilih mengajak Carlos ke ruang guru untuk ditenangkan terlebih dahulu daripada harus menganggu anak murid yang lain. Avika tidak percaya, dia sangat senang dia memiliki kekuatan super seperti yang ada di film televisi-televisi! Saat jam istirahat, Avika duduk bersama Neneknya di luar kelas, Avika menceritakan semuanya kepada Neneknya. Neneknya terkejut mendengar semua cerita dari Avika. "Hah? Eta téh nyaanan, Neng?" tanya Nenek Sri, tidak percaya. "Iya atuh, Mak! Incuna saha atuh, boga kakuatan super, hihihihi!" suara tertawa Avika mirip sekali dengan suara tertawa chudail, Nenek Sri sangat ketakutan. "Avika!" Nenek Sri menutup mulut Avika dengan wajah yang penuh kekhawatiran. "A-aya naon, Mak?" "Eta téh lain kakuatan super! Tapi kakuatan jurig, Neng!!" ucapnya dengan pelan. "Caca! Ca!" panggil Nenek Sri yang melihat Caca yang baru saja jajan telur gulung, Caca dekat rumahnya dengan Nenek Sri, dia juga satu kelas dengan Avika. "Emang bener kitu Avika di kelas tadi berubah?" "Muhun, Mak, bener. Tangan sama kakina siga kelelawar, teras panon na warna ungu, hebat Avika ngalawan si Carlos, Mak! Hehe ..." Caca, cengengesan. "Inalilahiwainalilahirojiun!" Saat Nenek Sri panik, ada bel masuk kelas. Avika dan Caca pun segera masuk ke dalam kelas untuk mengikuti jam pelajaran. Selama Avika masuk ke dalam kelas, Nenek Sri berpikir dengan keras untuk solusi yang harus ia dapatkan. Karena tidak kunjung mendapatkan solusi, Nenek Sri pun mencoba membicarakan ini semua saja kepada Hasan. 17.00 "Enya, Jang! Kitu emang caritana! Moal mungkin si Avika bobohongan, leuwih-leuwih si Caca! Teu mungkin ngabohong. Jang, bawa si Avika ka kyai, ubaran si Avika, Jang!" "Mak, coba tunggu beberapa tahun lagi, kalau Avika memang berubah jadi chudail kita segera bawa doa ke pak kyai, tapi kalau nggak ya berarti itu cuman salah paham aja, Mak." Hasan menolak untuk memperiksakan Avika ke pak kyai, Hasan tidak punya waktu yang lebih untuk memperiksakan Avika, ia harus bekerja dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Hasan saat pagi bekerja sebagai petani di persawahan dan saat malam bekerja di terminal menjual nasi kuning, gorengan, kopi, mie dan lauk-pauk lainnya. "Jang, dengekeun atuh Emak! Lamun sahiji poe Avika jadi chudail nyaanan kumaha? Chudailna oge anu chudail sautuhna, kumaha hah?" "Tong sampe, Mak. Arurang, ngado'a wae samoga Avika teu kunanaon." "Si Ujang, mah ..." Maja, Agustus 2015 6 tahun kemudian, Avika sudah duduk di bangku kelas 5. Avika sangat senang karena mempunyai teman baru setelah ada penggabungan SD antara SD 1,2,3 dan 4 menjadi satu karena wilayahnya tergabung. Avika mempunyai teman di kelas barunya ini dibandingkan kelas lama yaitu kelas 4. Avika sekarang akrab dengan Nazwa dan Annisa. Mereka semua 1 geng sekarang, gengnya dinamakan geng 'Fantastic Ten' karena saat itu sedang trend-trendnya membuat geng. Mereka bisa dibilang tidak dapat dipisahkan, mereka kemana-mana bersama. Jajan bersama, makan bersama, kelompok bersama dan sering sekali mengobrol. Dalam kurun 6 tahun ini, Avika sudah tidak menjadi chudail lagi. Avika sangat sedih karena dia tidak bisa menjadi super hero seperti yang ada di televisi, tapi itu tidak penting bagi Avika. Dalam kurun 6 tahun pula, Avika selalu menjadi siswi yang berprestasi di sekolah. Avika selalu menjadi juara kelas dan juara umum, dia pula selalu menjadi juara dalam bidang biologi, dia tidak bisa jauh-jauh dari ilmu biologi. Ia menjadi juara lomba cerdas-cermat biologi se-kacamatan, se-kabupaten, se-daerah dan nasional, banyak piala serta medali prestasi Avika yang menumpuk di rumah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN