Beginning of Story

1098 Kata
Maja, Agustus 2015 6 tahun kemudian, Avika sudah duduk di bangku kelas 5. Avika sangat senang karena mempunyai teman baru setelah ada penggabungan SD antara SD 1,2,3 dan 4 menjadi satu karena wilayahnya tergabung. Avika mempunyai teman di kelas barunya ini dibandingkan kelas lama yaitu kelas 4. Avika sekarang akrab dengan Nazwa dan Annisa. Mereka semua 1 geng sekarang, gengnya dinamakan geng 'Fantastic Ten' karena saat itu sedang trend-trendnya membuat geng. Mereka bisa dibilang tidak dapat dipisahkan, mereka kemana-mana bersama. Jajan bersama, makan bersama, kelompok bersama dan sering sekali mengobrol. Dalam kurun 6 tahun ini, Avika sudah tidak menjadi chudail lagi. Avika sangat sedih karena dia tidak bisa menjadi super hero seperti yang ada di televisi, tapi itu tidak penting bagi Avika. Dalam kurun 6 tahun pula, Avika selalu menjadi siswi yang berprestasi di sekolah. Avika selalu menjadi juara kelas dan juara umum, dia pula selalu menjadi juara dalam bidang biologi, dia tidak bisa jauh-jauh dari ilmu biologi. Ia menjadi juara lomba cerdas-cermat biologi se-kacamatan, se-kabupaten, se-daerah dan nasional, banyak piala serta medali prestasi Avika yang menumpuk di rumah. Nenek Sri dan Pak Hasan sudah tidak khawatir lagi dengan keadaan Avika yang sekarang, bisa terbukti kalau Avika bukan garis keturunan chudail. Dan Avika tidak ada sangkut pautnya dengan Laksmi yang terkena gigitan chudail. Senin yang cerah, setelah upacara yang sangat panas dan membakar pori-pori kulit, Avika duduk di bangku kelasnya, ia mengeluarkan LKS, buku paket dan buku tulis Matematika ke meja, dia sangat tidak sabar ingin memulai pelajaran Matematika dari Bu Eti. Di kelas, Avika mempunyai teman yang selalu mengejek neneknya, anak itu bernama Rahhael dan Denis. Mereka berdua biang ulah yang selalu membuat Avika naik pitam. Saat itu mood Avika sedang hancur, mendadak kedua anak yang selalu mengejek neneknya berulah. "Huu! Emak jualan serabi, serabina ge teu ngeunah-ngeunah acan malah bau runtah, tong meuli heh barudak!" sindir Rahhael di tempat duduknya. "Enya, ngeunah henteu mahal he'euh! Sok-sok'an make kotak, kotakna palingan nyokot ti runtah, pantesan wae bau runtah eta téh serabina, hahaha!" ucap Denis, tertawa terbahak-bahak. "Geus Emakna téh nyieun sarabina tutung kabina-bina, masih wae aya nu meuli, hahaha." "Hueekkk! Serabi runtah!" "Avika!" Nazwa mengelus pundak Avika supaya Avika bisa menahan emosi. "Jangan didengerin." "Sarabi runtah, harga 1 juta, meuli tah ka imah runtah!" "Heh, maraneh téh bisa teu cicing hah!" teriak Avika kepada Rahhael dan Denis yang terus menghina neneknya keterlaluan dibandingkan sebelum-sebelumnya. "Wiss, si tukang runtah emosi!" Denis tertawa terbahak-bahak. "Denis, Rahhael! Kalian berdua bisa nggak sih jangan menghina nenek Avika dan Avika, memangnya salah mereka berdua apa? Dulu nenek Avika memarahi kalian itu karena memang kalian salah! Tapi kalian jangan semena-mena seperti itu dong, dasar!" Annisa, memarahi Denis dan Rahhael. "Ah, tong ikut campur lah maneh téh, sok kenal jalma!" Rahhael, melotot pada Annisa. Avika mendekati mereka berdua secara perlahan-lahan, entah apa yang akan ia perbuat kepada Rahhael dan Denis. Mata Avika dipenuhi oleh kemarahan dan emosi yang membara, Avika sepertinya akan melakukan perlawanan kepada Rahhael dan Denis. Tap! Tap! Tap! Mendadak mata Avika berubah menjadi berwarna ungu bercahaya, tangan dan kakinya menjadi tangan dan kaki kelelawar. Avika pun mencakar Rahhael dan Denis secara bertubi-tubi sampai wajah mereka berdarah. SREEET! SREEETT! SREET! SREET! Semua orang yang ada di sana kaget, mereka semua berteriak-teriak sekaligus ketakutan melihat Avika yang menjadi sosok yang mengerikan seperti itu. Avika telah melakukan hal yang sama seperti yang ia perbuat saat masa Taman Kanak-Kanak 6 tahun yang lalu. Wajah Denis dan Rahhael berdarah, mereka berdua sudah tidak tahan lagi karena serangan dari Avika. Syukurlah, Bu Eti(wali kelas 5A) datang menghentikan Avika, Bu Eti menyiramkan air do'a pada Avika, seketika Avika pingsan(begitupula dengan Rahhael, Denis) dan tangan serta kakinya kembali normal seperti semula. Saat Avika pingsan, Nazwa menjelaskan semuanya kepada Bu Eti tentang bagaimana Avika, Rahhael dan Denis seperti ini. Bu Eti sangat menyayangkan perbuatan yang dilakukan oleh Rahhael dan Denis, mereka berdua tidak bisa menjaga ucapan mereka, mereka dijuluki mulut petasan oleh murid-murid 5A. Bu Eti menelepon Pak Hasan dan menjelaskan semuanya mengenai Avika. Pak Hasan yang mendengar perkataan Bu Eti seketika kaget. Apa jangan-jangan apa yang dikatakan nenek Sri bertahun-tahun yang lalu itu benar adanya? 16.30 Pak Hasan dan Nenek Sri mengobrol soal Avika. Mereka berdua sama-sama khawatir dengan kondisi Avika sekarang, entah mengapa Avika bisa menjadi seorang yang mempunyai garis keturunan chudail. "Tah apaning, naon Emak bilang di taun-taun kamari! Si Avika téh barubah jadi chudail, Jangg!" "Muhun, Mak. Hapunten pisan nya ieu, Mak. Hasan téh teu terang," "Teu nanaon, Jang. Ayeuna mendingan bawa si Avika ka pak kyai diubaran sangkan teu jadi jurig chudail deui! Jeung garis katurunan chudail bisa dihapus!" "Muhun, Mak. Wengi bakalan ka dinya." 20.50 Pak Hasan menemui pak kyai Rahman yang ada di pondok pesantren Ar-Rahman. Pak Hasan menjelaskan semuanya tentang Avika, Pak Hasan pun mencoba untuk meruqyah Avika agar Avika bisa terbebas dari darah chudail. Proses ruqyah dimulai, Avika mulai merasakan reaksi, Avika mulai kesurupan, matanya mulai berwarna ungu dan tangan beserta kakinya menjadi tangan dan kaki kelelawar. Avika kesana-kemari, dia mencekik Pak Hasan, dia juga mencekik Pak Rahman dengan keras, dia sangat kepanasan. "Allāhu lā ilāha illā huw, al-ḥayyul-qayyụm, lā ta`khużuhụ sinatuw wa lā na`ụm, lahụ mā fis-samāwāti wa mā fil-arḍ, man żallażī yasyfa'u 'indahū illā bi`iżnih, ya'lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum, wa lā yuḥīṭụna bisyai`im min 'ilmihī illā bimā syā`, wasi'a kursiyyuhus-samāwāti wal-arḍ, wa lā ya`ụduhụ ḥifẓuhumā, wa huwal-'aliyyul-'aẓīm!!" "Aaaaaaaa!" DAAARR! Terdengar suara ledakan di teriakan Avika. Avika pun pingsan setelah diruqyah oleh Pak Rahman. Beberapa lama kemudian, Avika sadar, dia merasakan pusing yang luar biasa dan mual. "Kenapa Avika bisa di sini, Pa?" "Avika habis diruqyah." Ujar Hasan. "Kenapa diruqyah?" "Karena kamu dirasuki oleh roh jahat, Kak." Ujar seorang wanita cantik bernama Naya, dia adalah anak Pak Rahman. "Hah? Roh jahat?" "Avika, kamu ingat kamu kan waktu itu tangan dan kakinya jadi kelelawar?" "Kelelawar? Nggak, Pa. Avika nggak inget, emang Apa baru liat film kartun kesukaan Avika, ya?" Avika mendadak tidak ingat dengan kenangan buruknya menjadi seorang chudail saat Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar. "Avika, jadi kamu lupa?" kaget Pak Hasan, tidak sangka. "Lupa apa, Pak? Avika nggak ngerti." "Ini mungkin efek diruqyah, Pak. Jadi dia lupa kenangan buruk saat menjadi chudail." "Tapi dia nggak jadi chudail lagi kan, Pak?" "InsyaAllah, tidak, Pak." "Alhamdulilahhirobbilalamin ..." Pak Hasan sangat bersyukur karena putrinya akan hidup seperti anak-anak normal pada umumnya. Sejak itu akhirnya Avika tidak lagi menjadi lagi seorang chudail, tetapi akankah sampai di situ saja petualangan Avika? Kisah ini baru dimulai, beberapa tahun lagi Avika akan kembali melanjutkan kisahnya di Kota Yogyakarta. Simaklah kisah Avika, di dalam kisah kilas balik 'Garis Keturunan Chudail' yang dilihat oleh pengelihatan Roshni.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN