Maja, September 2018.
Pagi itu di Desa Maja Selatan, Kabupaten Majalengka, tepatnya di Blok Kamis, semburat warna biru muda tampak menghiasi cakrawala, membentang indah hingga mencapai garis horizon di ujung barat.
Lewat jendela, seorang gadis berusia empat belas tahun terlihat sedang merapatkan seragamnya berwarna putih-biru miliknya ketika angin mendadak secara lembut menampar kedua pipi mulusnya. Gadis itu tersenyum saat manik matanya mengamati setiap sudut langit yang menunjukkan tanda-tanda akan turunnya hujan.
"Avika, cepat atuh!" suara tersebut terasa begitu familiar bagi seorang gadis bernama Avika itu.
"Muhun, Mak! Sebentar!" Avika merapihkan kerudungnya dan segera bergegas ke dapur untuk membawakan nasi goreng sekaligus beberapa cangkir teh hangat yang baru saja ia buat, ia membuat ini untuk ayahnya yang bernama Hasan dan neneknya yang bernama Sri.
Di rumah yang sederhana ini, Avika hanya tinggal dengan ayah dan neneknya. Ayahnya bekerja sebagai penjaga fotocopy sedangkan neneknya bekerja juga sebagai penjual kue serabi di depan rumah setiap pagi dan malam. Ibu Avika entah berada dimana, katanya Ibu Avika sudah meninggal dunia, tetapi tak jelas bagaimana itu sampai terjadi bahkan pemakamannya tidak ada. Sejak kecil Avika memang tidak pernah mengetahui wajah Ibunya, ataupun kisah-kisah Ibunya.
"Ini, Mak, Pa." Avika menyajikan sarapan di meja makan, Nenek Avika berdiri dan langsung membawa sarapannya ke luar.
"Duh, ieu keur ripuh, Neng. Bantuan atuhh!" ucap Nenek Sri, kerepotan membawa nasi goreng dan secangkir teh karena tenaganya sudah tidak terlalu kuat memegangnya, Nenek Sri memang selalu ribut atau 'rariweuh' dalam hal apapun.
"Eh, iya, Mak." Avika membawa nasi goreng dan teh ke luar, Nenek Sri memakan sarapan buatan Avika dengan lahap di luar rumah. Memang sudah menjadi kebiasaan Nenek Sri sarapan di luar sebari menunggu pelanggan yang datang untuk membeli kue serabi.
Avika memakan sarapan dan segera bergegas ke sekolah, sebelum bergegas ke sekolah Avika terlebih dahulu salam kepada Ayah dan Neneknya. Neneknya nampak memberikan uang sebesar 20 ribu rupiah kepada Avika, padahal Avika sudah diberi uang jajan 10 ribu oleh sang Ayah.
"Entos, Mak. Avika tos gaduh acis da, dipasihan tadi ku si Apa. Acisna disimpen wae, Mak," dengan penuh senyuman, Avika menolak pemberian Nenek Sri, ia tak mau merepotkan Nenek Sri saja.
"Ah, Emak maksa. Bawa, jang jajan di sakola!" Nenek Sri memaksa, dia sampai memasukkan uangnya ke dalam kocek seragam Avika langsung.
"T-tapi, Mak ..."
"Gage ka sakola, Neng! Kaburu telat!" suruh Nenek Sri, yang mengalihkan pembicaraan supaya Avika mau menerima uang pemberiannya.
Avika pun terpaksa menerima pemberian sang Nenek, Avika bergegas ke sekolah yang tidak jauh dari rumahnya. Avika bersekolah di SMPN 1 Maja, ia sudah duduk di bangku kelas 8. Avika sampai di sekolah tepat waktu, di kelas ia mendapati teman-temannya yang sedang terburu-buru mengerjakan tugas dari bu Ajeng, guru IPA, wali kelas 8H, kelas yang Avika dan teman-temannya tempati saat ini.
"Eh, kalian belum pada selesai nih ngerjain tugasnya? Duh, sebentar lagi kan sholat dhuha!" ujar Avika kepada teman-temannya yang ngebut mengerjakan tugas. Setiap hari, SMPN 1 Maja selalu mengadakan sholat dhuha yang wajib diikuti oleh seluruh siswa-siswi muslim. Bagi yang non-muslim maka akan mengikuti kegiatan literasi atau membaca buku di perpustakaan sekolah sampai jam 7.45.
"Belum, Vik. Bener-bener, aku lupa sama tugas ini. Aku kira nggak ada tugas rumah, ternyata ada," ungkap Aisyah, Aisyah adalah teman sebangku Avika, setiap hari mereka selalu berbagi cerita dan juga kunci jawaban bersama.
"Aku mah males banget sih nugas IPA, soalnya nggak ngerti, jadi mendingan liat punya si Beben aja di sekolah sebelum masuk jam pelajaran," kata Ikheu sebari menyalin jawaban dari buku tulis yang ia pinjam kepada Bentar atau yang kerap dipanggil dengan sebutan 'Beben'.
"Yaudahdeh, semangat nulisnya ya buat kalian. Jangan lupa dipahami juga, supaya pas ditanya sama Bu Ajeng nggak pada ngebug, hehe ..." Avika menyemangati teman-temannya, ia duduk di kursi dan mengeluarkan sajadah beserta mukena untuk sholat dhuha nanti.
"Ashiap, Vik. Bu Ajeng kadang kalo nerangin suka bikin pusing, kadang pas udah serius-serius, eh tau-tau rumusnya salah, jadi pening kepala," tutur Nena dengan suaranya yang sangat bergema, suara Nena memang paling besar dan bergema dibandingkan teman-teman perempuannya yang lain.
"Hehe, iya, Bu Ajeng mah memang gitu sih ngejelasinnya. Kuncinya supaya kita ngerti materi yang disampaikan Bu Ajeng tuh fokus aja, terus jangan lupa dicatet."
"Oh, iya dah, Vik," timpal Nena.
"Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh, bagi yang sudah di kelas atau di lingkungan sekolah, silahkan segera menuju ke lapangan basket sekarang karena kegiatan sholat dhuha akan segera dimulai. Untuk yang berliterasi silahkan sekarang, sudah ditunggu oleh pak Feri di perpustakaan sekolah, terimakasih ..." terdengar suara Pak Habib dari lapangan basket. Pak Habib adalah seorang santri yang mengabdikan diri pada SMPN 1 Maja, ia selalu membantu aneka ragam kegiatan yang dilaksanakan di SMPN 1 Maja. Pak Habib juga mempunyai warung kecil-kecilan di SMPN 1 Maja, warungnya ada di dekat kelas 7E. Warung Pak Habib atau yang bisa disebut Mang Habib oleh anak-anak SMP, terkenal dengan menu gorengan sausnya yang lezat, ada gorengan bakwan, tempe goreng, aci goreng, tahu tepung atau yang bisa dikenal sebagai gehu sampai aneka makanan lainnya(nugget, sosis, bakso).
"Eh, itu mang Habib udah manggil, ayo kita ke lapangan," ajak Avika, tersenyum.
"Hmm, duluan aja deh kamu, Vik. Kita nunggu jam 7 pas aja," Aisyah, yang masih terus mengerjakan tugas.
"Oke!"
"Yuk, kita ke lapangannya bareng, Vik," Syera.
"Yuk, Syer!"
Mereka berdua menuju ke lapangan. Beginilah keseharian Avika dan teman-temannya, Avika walaupun tidak memiliki seorang Ibu, tetapi dia bisa bahagia dalam menjalani kehidupannya. Namun, Avika selalu berharap suatu saat ia bisa mengetahui siapa Ibunya dan dimana keberadaan Ibunya sekarang, meski itu melalui mimpi sekalipun.
Setelah sholat dhuha selesai, ada pengumuman yang akan disampaikan oleh Pak Jahrudin selaku kesiswaan SMPN 1 Maja. Pak Jahrudin memanggil semua siswa-siswi yang sedang membaca juga dari perpustakaan untuk segera menuju lapangan basket. Pak Jahrudin adalah guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas 9, Pak Jahrudin terkenal sebagai guru yang galak dan sangat mematikan, tetapi di balik itu semua Pak Jahrudin adalah orang yang humoris dan penuh canda tawa, walau sesekali candaannya sangat membuat orang terkaget-kaget.
"Kira-kira apa pengumumannya ya, Syer? Kayanya serius banget Pak Jahrudin," Avika bertanya-tanya kepada Syera, siapa tahu Syera mengetahuinya.
"Nggak tau, Vik. Mungkin aja pengumuman soal siswa yang trek-trekkan lagi di lingkungan warga," tebak Syera.
"Oh, mungkin juga ya."
"Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh!" salam Pak Jahrudin.
"Walaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh ..." jawab siswa-siswi SMPN 1 Maja dengan kompak.
"Bapak di sini mau mengumumkan 1 hal yang sangat penting ya, berkaitan soal study tour yang akan dilaksanakan pada bulan Desember nanti ke Yogyakarta."
"Horeeee!" saat mendengar ada informasi yang berkaitan tentang study tour, seketika siswa-siswi kelas 8 SMPN 1 Maja langsung bersorak dan bersemangat sekali, Pak Jahrudin tersenyum.
"Sudah! Sudah!"
"Jadi untuk study tour kita akan ke Yogyakarta, untuk kelas 8 silahkan nabung sedikit-sedikit dari sekarang, jangan memberatkan orang tua! Jangan sampai nanti ketika hari-H kalian malah menyusahkan orang tua dengan meminta uang banyak dan menyebabkan kedua orang tua kalian ngeapeun. Nabung bisa dimulai dari sekarang dan langsung setorkan ke guru yang stay di koperasi, ada bu Lia, bu Evi, bu Lilis dan bu Yenyen ya. Jangan nabung di bendahara soal study tour, karena jika hilang akan brabe."
"Biaya study tour itu sebesar 580 ribu rupiah, itu lengkap ya dari makan pagi, siang, sore, penginapan di hotel, wisata dan lain sebagainya. Jadi dengan 580 ribu rupiah saja, kalian bisa bersenang-senang mengelilingi Kota Yogyakarta. Adapun tujuan destinasi tour atau wisatanya adalah ke candi borobudur, taman pintar, malioboro, benteng vrederburg, museum pahlawan dan masih banyak lagi, capek mun disebut hiji-hiji mah atuh, nya!"
"Yang terpenting kalian jangan lupa nabung, selain nabung di sekolah, kalian juga diwajibkan nabung di rumah. Untuk apa? Untuk bekal kalian, dari jajan, beli oleh-oleh, mencoba kuliner sampai menaikki area permainan yang ada di sana, paham?"
"Paham, Pak!"
"Bagus kalau begitu! Ingat, pesan Bapak jangan sampai menyusahkan kedua orang tua kalian, kalau misalkan sekiranya kedua orang tua kalian tidak mengizinkan karena biaya ataupun hal lainnya sudah, turuti saja! Jangan sampai kalian maksa ke kedua orang tua kalian, itu tidak baik."
"Sampai di sini, apa ada yang ingin ditanyakan?"
"Kalau tidak, Bapak akan mengakhiri pengumuman ini dan silahkan kalian masuk ke kelas masing-masing, wabillahitaufik walhidayah, wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh!"
"Waalaikumsalam warohmatullahi wabarokatuh ..."