Nisa Kirania

1164 Kata
“Selama tangan ini bisa menggapaimu... Selama itu Aku akan terus mendekapmu dalam pelukanku...” Naomi Alora Oksana. . . Di Ruang makan terlihat Bunda Eva sibuk menyiapkan berbagai menu makan malam di bantu oleh Naomi yang terlihat tidak bersemangat, sedangkan Papi Pandu sedang bersantai di Ruang tengah. “Sayang, kalau lelah istirahat saja... Biar Bunda sama Bibi yang menyiapkan. Lagian semua sudah selesai tinggal di pindahin saja.” Ucap Bunda Eva yang melihat Naomi terlihat lesu, Bunda Eva berpikir Putri tirinya itu kelelahan karena dari tadi sibuk membantunya di Dapur. “Nao enggak capek kok Bun, tadi kan udah bobok siang sebentar.” “Kalau gitu panggil Kakakmu di Kamar, suruh siap-siap! Mungkin sebentar lagi mereka sampai.” Titah Bunda Eva yang mendapat anggukan kepala dengan pelan. Tumben... Tidak biasanya dia terlihat tidak bersemangat, apa Putriku sedang sakit? Monolognya dalam hati setelah melihat punggung Naomi yang berlalu naik ke atas. Sedangkan Naomi terlihat termenung di Depan pintu kamar Darren dengan kepala tertunduk, terlihat enggan untuk mengetuk pintu kamar Kakak tirinya. Kak... Nao sebenarnya kenapa? Kenapa hati Nao sakit banget? Bolehkah Nao egois? Menginginkan Kakak untuk terus di sisi Nao seumur hidup... Lirih Naomi dalam hati hingga tidak terasa setetes air mata jatuh di Pipinya. Tok tok tok... Naomi mencoba menguatkan hatinya, dia tidak ingin terlihat lemah. Naomi segera menarik kenop pintu kamar Kakak tirinya setelah menghapus air matanya. “Kak...” Panggil Naomi menyembulkan kepalanya ke Dalam, Naomi melihat Kakak tirinya sedang duduk bersandar di atas ranjang dengan laptop yang berada di pangkuannya. “Masuklah.” Titah Darren yang menutup laptopnya dan menaruhnya di atas nakas. “Bunda menyuruh Kakak siap-siap karena sebentar lagi teman Bunda datang.” Ujar Naomi dengan pelan, dia berusaha untuk menormalkan ekspresinya dan perasaannya yang sedang kacau. “Baiklah, Kakak ganti baju dulu.” Darren bangkit lalu melangkahkan kakinya ke arah Lemari pakaiannya untuk mengambil baju ganti, tapi tiba-tiba saja dia tersentak hingga sedikit terhuyung ke Depan karena pelukan seseorang dari belakang. “Ada apa hemm?” Tanya Darren dengan lembut ketika tahu siapa pelaku yang mendekapnya erat dari belakang, Naomi hanya menggelengkan kepalanya yang membuat Darren tersenyum tanpa Naomi tahu. “Kakak mau ganti baju dulu, bukankah kata Nao Bunda menyuruh Kakak siap-siap.” Lanjutnya dengan nada yang masih melembut, membuat Naomi semakin tidak rela untuk melepaskan Kakaknya. “Kak...” Panggil Naomi lagi dengan nada lirih tapi masih bisa di dengar oleh Darren. “Hemm...” “Nao sayang Kakak...” Lirih Naomi. “Kakak tau, Kakak juga sayang Adik kakak ini.” Balas Darren yang mengambil tangan mungil Adik tirinya yang melingkar pada perutnya untuk dia kecup. Naomi memejamkan matanya menahan rasa sesak di Dadanya karena mendengar kata Adik. Bukankah Aku memang adiknya? Tidak ada yang salah, tapi kenapa hati Nao sakit mendengarnya? Ucap Naomi dalam hati seraya melepaskan pelukannya. “Cepatlah kak! Nao tunggu di luar.” Ucap Naomi yang mengubah mimik wajahnya kembali menjadi ceria, lalu dengan cepat keluar dari kamar Darren dan terdiam di Luar pintu kamar Darren dengan air matanya yang kembali menetes. Sedangkan Darren sedikit terkejut ketika Naomi melepaskan pelukannya dan langsung keluar dari kamarnya, seolah ada sesuatu yang hilang. Dia juga merasa sedikit aneh dengan sikap Naomi tadi, Darren merasa adik tirinya itu sedang dalam masalah. *** “Bu... Tamunya sudah datang.” Ucap Bi Yati, wanita paruh baya yang sudah lama bekerja sebagai Pembantu di keluarga Hidayat. Bunda Eva terlihat antusias mendengar kedatangan temannya, dia bergegas pergi ke Ruang tamu bersama suami dan juga Naomi yang ikut menyambut kedatangan mereka. “Selamat datang di Rumahku Asma, Hardi... Meskipun kecil tidak sebesar rumah kalian tapi aku harap kalian betah dan nyaman.” Sapa Bunda Eva pada temannya lalu bercipika-cipiki. “Kamu terlalu merendah Ev, justru Aku yang berterima kasih karena mau mengundangku dan sekeluarga datang ke Rumahmu.” Balas wanita paruh baya yang merupakan teman semasa sekolah Bunda Eva dulu. “Oh iya... Ini Putriku, Nisa beri salam pada Tante Eva dulu.” Lanjutnya. Nisa menghampiri Bunda Eva dan mencium telapak tangan Bunda Eva dan Papi Pandu secara bergantian. “Wah... Cantik sekali anakmu As.” Pujinya pada Perempuan yang ingin di jodohkan dengan Putranya. “Tante terlalu memuji... Tante juga nggak kalah cantik kok dari Nisa.” Sahut Nisa dengan wajah malu dan merona, apalagi suaranya yang terdengar sopan dan lemah lembut membuat Bunda Eva semakin menyukai calon menantunya tersebut. Sedangkan Naomi sedari tadi netranya tak pernah lepas memandangi Perempuan yang bernama lengkap Nisa Kirania yang usianya lebih tua beberapa tahun darinya, matanya seperti mesin Scan yang meneliti setiap inchi penampilan Perempuan yang akan di jodohkan dengan kakak tirinya tersebut. Bola matanya terus bergerak naik turun ke bawah berulang kali, mulai memindai dari kulitnya yang putih dan bersih. Cih! Kulit Naomi juga nggak kalah putih dan kinclong kayak lantai porselen... Sombongnya dalam hati yang membuat Naomi begitu percaya diri mampu menyaingi Nisa. Pandangannya lalu terarah pada wajah ayu Nisa yang terlihat cantik dengan pipi tirusnya, terlihat dewasa dan matang. Cantik... Nao juga nggak kalah cantik kok, oh no... Tapi wajahnya terlihat matang dan pas. Batinnya yang mulai gelisah terlihat dari gestur tubuhnya, Naomi takut kalah saing dalam hal penampilan. Lalu netranya bergerak melihat keseluruhan penampilan Nisa. Tinggi... Badannya bagus banget seperti model, penampilannya juga begitu anggun dan dewasa. Dia juga sangat santun dan lemah lembut... Batinnya lagi yang membuat nyalinya semakin menciut karena kalah telak dengan dirinya yang pendek dan kekanakan. “Oh ya... Mana si Bungsu?” Tanya Bunda Eva yang memecah lamunan Naomi. “Dia tidak ikut, si Bungsu ikut Kakakku di Bandung karena kuliahnya di sana...” Jawab Nyonya Asma. “Oh iya... Mana Putramu Ev?” Lanjutnya bertanya. “Dia di dalam dan ini putriku Naomi...” “Nak... Beri salam sama Tante Asma.” Lanjutnya menyuruh Naomi. “Halo Tante Asma... Om Hardi... Aku Naomi, Anak bontot yang paling cantik di Rumah ini.” Sapa Naomi dengan ceria, tak lupa Naomi mencium telapak punggung tangan keduanya secara bergantian. “Putrimu sangat lucu dan menggemaskan Ndu.” Ujar Hardi yang membuat Papi Pandu tersenyum mendengarnya. “Tuh kan Pi... Om Hardi aja bilang Nao itu lucu dan menggemaskan, Cuma Papi aja yang bilang Nao itu bandel dan cerewet.” Sahut Naomi yang menyuarakan protes pada Papinya dengan bibir yang mengerucut lucu. “Memang itu kenyataannya Princess.” Balas Papi Pandu dengan santai seraya terkekeh pelan ketika melihat Putrinya semakin menekuk wajahnya. Percakapan mereka terjeda ketika terlihat seorang Pria melangkah menghampiri mereka, siapa lagi kalau bukan Darren yang hari ini terlihat tampan dengan pakaian kasualnya. Celana jeans hitam panjang dengan atasan kaos polonya yang berwarna putih, membuat mereka kagum dengan ketampanan Darren yang begitu bersinar. Tak terkecuali Nisa yang terpesona dan jatuh cinta pada pandangan pertama dengan sosok Pria yang akan di jodohkan dengannya, dia tidak menyangka bahwa Pria tersebut begitu tampan dan gagah membuat jantungnya berdetak dengan kencang walaupun baru pertama kali melihatnya. “Kemarilah Nak...” Titah Bunda Eva dengan antusias. “Kenalkan dia Putraku Darren Alcander.” Lanjutnya memperkenalkan Putranya pada mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN