“Mencoba meraba Rasa yang kini telah menjalar ke Seluruh sudut hatiku...
Mencoba mengenal dan mengerti tentang Rasa itu... Apakah benar itu Cinta?”
Naomi Alora Oksana.
.
.
“Sekarang apalagi? Perasaan setiap hari dan setiap waktu yang lo bicarakan isinya Kak Al semua.” Jengah Hana.
“Benarkah?”
Naomi malah balik bertanya, dia menatap Hana dengan matanya yang mengerjap lucu.
“Hemm... Sampai gue eneg.” Ketusnya.
“Padahal Nao mau curhat.” Keluh Naomi dengan bibir mengerucut.
“Yaelah... Bercanda, buruan mau curhat apa? Kuping gue udah siap dengarin ini.”
Hana yang mulai menghadap Naomi dengan tatapan serius, bukannya memulai session curhatnya malah Naomi memberikan protes pada Hana.
“Ih... Hana, mukanya jangan gitu. Nao cuma mau curhat bukan mau sidang skripsi.”
“Ya Gusti... Ribet banget sih Nao! Mau curhat aja pakai banyak aturan.” Kesal Hana.
“Tuh kan... Hana marah.” Cicit Naomi dengan raut wajah sedih.
“Astaga... Gue nggak marah Nao, nggak mungkin kan gue harus ketawa-ketawa nanti malah di sangkain sedeng alias gila lagi.” Ketusnya yang membuat Naomi malah terkikik geli.
“Iya... Ya”
“Jadi gini... Nao itu lagi kepikiran soal perjodohan kak Al, Bunda mau jodohin Kak Al sama anak temannya Bunda.” Lanjutnya yang memulai bercerita.
“Bukannya itu bagus?” Tanya Hana sedikit mengernyit.
“Rasanya Nao nggak rela...” Keluhnya dengan lemas.
“Itu merupakan hal yang wajar sih, secara kan lo udah terbiasa bareng kakak tiri lo terus... Bahkan elo kekepin mulu tuh bujang kece. Kalo Kakak tiri lo udah punya cewek berarti mau nggak mau lo harus siap berbagi dengan calon kakak ipar, tentunya pasti ada rasa nggak rela dan takut kehilangan karena memang udah terbiasa bersama. Tapi... lambat laun elo pasti akan terbiasa.” Hana yang mulai berbicara dengan bijaknya.
“Benarkah?” Terdengar helaan nafas berat dari Naomi.
“Tapi kenapa ini rasanya sakit sekali Hana? Terasa sesak seakan terhimpit oleh sesuatu yang membuat Nao susah untuk bernafas."
Naomi menepuk dadanya dengan raut wajah sedih dan kosong, membuat Hana mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari mulut sahabatnya tersebut.
“Nao... Jangan bilang, jantung lo selalu berdebar dengan kencang setiap berdekatan dengan kakak tiri lo?” Tanyanya pada Naomi dengan sedikit cemas.
“Bagaimana Hana bisa tau? Apa terdengar segitu kerasnya ya hingga Hana bisa dengar? Kalau iya... Berarti Kak Al juga bisa dengar dong.” Tanya Naomi balik dengan polosnya.
“Apa lo juga ingin selalu dekat dan tidak ingin berjauhan dengan Kakak lo terus? Ketika berada di sisinya... Lo merasa seakan ada jutaan kupu-kupu yang menggelitik dalam diri lo?” Cecar Hana lagi tanpa menjawab pertanyaan Naomi.
Naomi mengangguk dengan yakin dengan raut wajah berbinar karena berpikir bahwa sahabatnya Hana itu sangat hebat seperti cenayang karena bisa tahu tentang apa yang di rasakannya.
“OMO...! Jangan-jangan lo jatuh cinta lagi sama Kakak tiri lo sendiri?” Tanya Hana dengan nada kaget dan setengah tak percaya.
“Kok Hana tanya Nao sih? Kalau Nao tau nggak mungkin Nao tanya Hana?” Kesal Naomi.
“Oke-oke... Dengar ya! Kalo pendapat gue sih. Lo lagi jatuh cinta sama kakak tiri lo sendiri, tapi lebih baik kamu pastikan dulu perasaan lo sendiri itu cinta atau hanya rasa ketergantungan aja...”
“Takutnya rasa yang elo punya malah menghancurkan apa yang sudah terjalin dengan baik dengan kakak lo sekarang, ngerti?”
Naomi terlihat diam mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Hana.
Nih bocah... Ngerti kagak penjelasan gue? Tapi kayaknya udah ngeh deh.
Pikir Hana dalam hati ketika terdengar helaan nafas dari Naomi.
“Belum.” Jawab Naomi setelah beberapa saat.
“ASTAGA...” Hana menepuk dahinya dengan kasar karena kelemotan sahabatnya.
“Tapi Nao ingat kok kata-kata Hana, mungkin Nao hanya butuh waktu untuk berpikir.” Sahut Naomi.
“Emm... Gini aja deh, gimana kalo gue kasih tips buat ngeyakinin perasaan lo sendiri?”
“Apa Hana? Cepat kasih tau Nao.” Sahut Naomi dengan cepat dan antusias.
“Sini gue bisikin!”
Hana melambai pada Naomi untuk mendekatkan telinganya dan membisikkan sesuatu pada Naomi.
***
Di Perusahaan PT. Hidayat Konstruksi, Perusahaan milik Pandu Hidayat yang kini di pimpin dan di kelola oleh Putra tirinya Darren Alcander. Terlihat beberapa orang sedang berdiskusi dengan serius di Ruang meeting.
“Senang bisa bekerja sama dengan Anda tuan Alcander.” Jabat seorang pria paruh baya pada CEO perusahaan PT. Hidayat Konstruksi yang tak lain adalah Darren.
“Justru saya senang bisa bekerja sama dengan Perusahaan Anda Tuan Syahreza, Anda lebih memilih Perusahaan kecil saya di bandingan Perusahaan besar lainnya. Tentu saja saya tidak akan mengecewakan kesempatan yang sudah Anda berikan ini.”
“Saya percaya dengan pilihan dari Tuan Putra Nagendra, apalagi setelah bertemu langsung dengan Anda Tuan Alcander. Saya merasa yakin dan cocok. Saya menyukai pemuda pekerja keras dan penuh semangat seperti Anda.” Ucap Pemilik beberapa Hotel dan Restoran besar di Singapura yaitu Baron Syahreza.
“Anda terlalu berlebihan Tuan, saya masih harus banyak belajar...”
“Dan Panggil saja saya Darren Tuan Syahreza, jangan terlalu formal.” Lanjut Darren dengan senyum lembut.
“Tentu Darren... Kau juga bisa memanggilku Tuan Baron saja dan Paman ketika di luar lingkup Perusahaan.” Timpalnya.
“Dengan senang hati Tuan Baron...” Jawab Darren.
“Untuk pertemuan selanjutnya, proyek ini akan di ambil alih oleh Anak saya Bara Syahreza karena saya masih ada keperluan penting yang harus saya selesaikan di sini Darren. Jadi mohon kerja samanya dengan Anak saya.”
“Tentu Tuan Baron, jangan khawatir... Kalau boleh saya tau ada urusan penting apa Tuan Baron?” Tanya Darren penasaran.
“Sedikit pribadi karena menyangkut masalah keluarga Ren, jadi saya juga belum bisa banyak cerita mungkin lain kali karena saya tidak bisa berlama-lama di sini. Setelah ini saya masih ada urusan.” Pamit Tuan Barron pada Darren.
“Baiklah Tuan Baron... Semoga urusan Anda lancar di permudah, sekali lagi terima kasih dan senang bisa bekerja sama dengan Anda.”
Setelah kepergian Tuan Baron dan asistennya, kini tinggallah Darren dan sekretarisnya yang bernama Anna sedangkan Asisten pribadinya Elang sedang mengantarkannya klien barusan ke Depan lobi Perusahaan.
“Ternyata Tuan Baron orang yang sangat ramah Pak, tidak seperti gosip yang selama ini beredar...” Ucap Anna yang hanya mendapat kernyitan dan sebelah alis Bosnya yang terangkat.
“Itu Bos... Desas-desus yang beredar kalau Keluarga Syahreza itu sangat dingin dan tertutup.” Jelasnya karena terbiasa dengan sikap Bosnya yang tidak banyak bicara kecuali dengan klien dan keluarganya.
“Itu urusan mereka Anna.” Balas Darren dengan datar.
“Iya deh Bos...”
Pasrah Anna yang tahu bahwa Bosnya tidak suka dengan orang yang terlalu cerewet dan banyak omong, tapi ketika teringat bahwa ada pesan dari sahabat Bosnya... Anna kembali berbicara.
“Bos... Tadi dapat kiriman undangan dari Tuan Dino, kalau tidak salah undangan Reuni sekolah Bos. Kata Tuan Dino Jangan lupa bawa gandengan... Gitu Bos katanya”
“Kapan ke sini?” Tanya Darren.
“Pagi-pagi banget Bos ke sininya.”
Darren mengangguk lalu bangkit berdiri untuk kembali ke Ruangannya.
Yaelah... Di tinggalin, untuk ganteng jadi gue betah kerja jadi sekretarisnya. Kalo nggak udah kabur gue dari dulu, Bos... Bos... Jutek banget sih jadi orang.
Batin Anna.