Perjodohan

1157 Kata
“Melihatmu... Mendengar suaramu... Dekat denganmu... Dan bersandar padamu... Merupakan ingin dan harapku. Rela kah aku melepasmu?” Naomi Alora Oksana. . . Sinar pagi masuk menyinari ruangan yang bernuansa pink pastel dan perabotan ruangannya yang juga di Dominasii warna pink, sehingga membuat pandangan mata Naomi yang semula tertutup menjadi sedikit terganggu. Naomi membalik badannya menjadi tengkurap di atas tempat tidurnya, dia masih malas dan enggan untuk beranjak bangun. “Badan Nao rasanya sakit semua padahal belum ngapa-ngapain.” Gumamnya. Tepat beberapa detik kemudian ponsel di Atas nakas berbunyi dengan nyaringnya. “Siapa sih? Ganggu Nao aja... Nggak tau apa kalo Nao masih pengen rebahan.” Gerutunya tapi tak ayal dia tetap bangun dari posisi tengkurapnya. Lalu dia mengambil ponselnya dan membukanya dengan malas, tapi ketika dia membaca pesan yang baru saja masuk dari sahabatnya seketika netra matanya membola. “OMG... Nao lupa, hari ini kan ada bimbingan Dosen killer.” Naomi langsung meloncat dari tempat tidurnya dan bergegas masuk ke Kamar mandi, setelah hampir dua puluh menit dia bersiap akhirnya dia selesai dan langsung turun ke bawah dengan terburu-buru. “NAO COMINGGG...” Serunya dengan langkah cepat ketika menuju ruang makan, membuat semua yang duduk di Ruang makan menoleh padanya tapi karena tidak memperhatikan langkah kakinya membuat Naomi jatuh terjerembap dengan posisi tidak elitnya. Darren yang melihatnya langsung bergegas menghampiri Naomi dan membantunya. “Astaga sayang... Apa Nao nggak pa pa?” Bunda Eva juga ikut menghampiri Naomi dengan cemas, sedangkan Papi Pandu cuma bisa menggelengkan kepalanya pelan dan tetap tidak beranjak dari tempat duduknya. Sedangkan yang di tanya hanya cengengesan menutupi rasa malunya karena jatuh dengan posisi tengkurap, bukankah itu pose yang begitu memalukan? “Nao nggak papa Bun.” “Apa ada yang sakit?” Tanya Darren yang memeriksa kondisi tubuh Naomi dengan cemas. “Lihat kak... Yang ini sakit.” Rengeknya dengan manja kepada Darren seraya menunjukkan telapak tangannya yang sedikit memerah, yang malah mendapat cibiran dari Papinya. “Giliran yang tanya Kak Darren aja langsung ngadu sakit.” “Ih... Papi syirik aja sama Nao.” Rajuknya. “Ya sudah, ayo... Kita sarapan. Nanti Bunda olesin salep tangannya.” Ajak Bunda. “Eh... Jangan Bun! Naomi nggak pa pa. Di tiupin aja sama Bunda pasti langsung sembuh.” Tolaknya dengan bergelayut manja di lengan Bunda Eva. “Dasar kamu... Lain kali hati-hati ya, Nao buat Bunda khawatir.” Ada perasaan hangat yang memasuki relung hati Darren ketika melihat Dua perempuan yang dia sayangi begitu saling menyayangi dan bergantung satu sama lain. “Buruan sarapan! Kakak ada meeting pagi ini, nanti kakak anterin kamu dulu.” Suruh Darren yang berjalan kembali ke Meja makan di ikuti Naomi dan Bunda Eva. “Nak, nanti malam jangan lupa! Pulangnya jangan terlalu malam!” Pesan Bundanya pada Darren setelah mereka selesai sarapan. “Iya Bun... Bunda udah puluhan kali bilang itu, lagian ini bukan jaman Siti Nurbaya yang harus di jodoh-jodohin segala Bun.” Jengahnya. Deg... Naomi tersentak ketika mendengar kata Di jodohin dari mulut Kakaknya, perasaannya seketika menjadi gelisah. Kenapa hatinya sangat tidak rela jika memang benar terjadi? “Bunda nggak jodohin kamu Nak, Bunda hanya ingin mengenalkan Anak teman Bunda. Dia perempuan yang baik, sopan dan anggun. Dia juga mempunyai wajah yang sangat cantik... Kamu pasti suka.” Jelasnya pada Putranya. “Sama aja.” Kesal Darren. “Benar kata Bunda kamu Ren, kami tidak ada niat sedikit pun untuk menjodohkan kamu. Apa salahnya hanya berkenalan? Siapa tau kalian saling cocok jika mengenal satu sama lain, kalau tidak ya kalian bisa berteman biasa.” Sahut Papi Pandu. Darren mengangguk dengan terpaksa karena tidak tega melihat wajah Bundanya yang memelas padanya. “Baiklah...” Pasrahnya. *** Naomi menyanggah dagunya dengan kedua tangannya di atas meja, menatap ke depan dengan pandangan gamang tanpa menatap buku yang telah terbuka di depannya. Sekarang dia ada di Perpustakaan kampus untuk mencari referensi buku mata kuliahnya, tapi pikirannya justru tertuju pada pembicaraannya dengan Kakak tirinya ketika dalam perjalanan ke arah kampusnya. FLASHBACK “Kak...” Panggil Naomi dengan pelan kepada Darren yang terlihat fokus menyetir. “Hemm...” Jawabnya dengan datar tanpa menoleh ke arah Naomi karena memang perasaan kesalnya masih belum hilang sejak pembicaraan tadi di Meja makan. “Ih... Kakak, Nao kok di cuekin sih!” Rengeknya yang membuat Darren menoleh ke arah Naomi, melihat Adik tirinya yang mengerucutkan bibirnya lucu membuat Darren tersenyum. “Ada apa... Hemm?” Tanya Darren kembali dengan nada yang lebih lembut seraya mengelus kepala Naomi dengan sayang. “Emm... Apa benar Kakak mau di jodohin sama Bunda?” Tanya Naomi dengan hati-hati. “Seperti kata Bunda dan Papi... Bukan di jodohin tapi di kenalin sama Anak temannya Bunda” Jelasnya. “Terus kakak mau?” “Hemm...” Darren mengangguk mengiyakan walaupun sebenarnya tidak suka tapi demi membuat Bundanya senang, dia akan melakukannya. “Apa Kak Al senang? Bukankah Bunda bilang perempuan itu sangat cantik?” “Hemm...” Darren lagi-lagi hanya mengangguk karena kembali fokus ke depan. “Jadi... Kakak akan menerimanya?” “Hemm...” Lagi-lagi Darren hanya mengangguk tanpa melihat wajah Naomi yang sekarang sudah merengut kesal. “Iih... KAKAK NYEBELIN.” Pekik Naomi dengan kesal tak lupa kedua tangannya yang di silang di Depan dadanya seperti anak kecil. Darren yang mendengarnya sontak saja menoleh ke arah Naomi, dia heran dan bertanya-tanya? Apa yang membuat Adik tirinya kesal? Darren merasa tidak berkata kasar atau membentaknya tapi kenapa adik tirinya terlihat marah? Darren hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Flashback end. Di tengah lamunannya seseorang datang menghampirinya dan menepuk pundak Naomi sedikit keras. “Woi... Di cariin malah ngelamun di sini.” “Apaan sih Han? Ngagetin aja.” Sentak Naomi yang melihat sahabatnya Hana datang dan mengagetkannya. “Habisnya dari tadi lo diam aja kayak patung waktu gue panggil, mikirin apa sih sampai ngelamun gitu? Hati-hati loh nanti kesambet apalagi duduknya di Pojokan.” Cerocosnya. “Mulutnya Hana ih... Cablak banget, pake sumpahi Nao kesambet lagi...” Kesal Naomi dengan muka bertekuk. “Nao itu lagi mikir tau.” Lanjutnya yang membuat Hana mengernyit heran. Tumben... Tuh otak di buat mikir, biasanya malas mikir karena loadingnya lama. Batinnya lalu mencoba bertanya perihal kegundahan dan kegalauan sahabatnya yang otaknya hanya seperempat ons itu, bukannya Hana menghina atau ada maksud merendahkan... Tapi memang sahabatnya Naomi itu punya otak yang pas-pasan dan lambat berpikir. Tapi di balik kekurangannya tersebut Naomi memiliki kelebihan dari segi parasnya yang sangat cantik dan imut bak boneka, tak hanya itu saja... Dia mempunyai hati yang masih tulus dan suci. Kepolosan dan keceriaannya mampu membuat suasana yang ada di sekitarnya menjadi lebih hidup dan berwarna. “Mikir materi pelajaran?” Tanya Hana yang mendapat gelengan kepala dari Naomi sebagai jawaban. “Tugas dari Dosen?” Lagi-lagi mendapat gelengan kepala dari Naomi. “Terus apa?” Tanya Hana dengan geregetan setengah gemas. “Kak Al...”Jawabnya dengan singkat yang membuat Hana mendelik di buatnya, dia mengira sesuatu yang serius dan penting. Eh... Taunya malah soal Kakak tirinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN