“Kau sebersih dan seputih kertas kosong... Bukan hanya cantik rupa tapi juga cantik Hatimu.
Tetaplah indah seperti itu hingga hari ini, esok dan selamanya...”
Darren Alcander.
.
.
“Tenang aja Ren, nggak usah di pelototin terus... Nggak bakal hilang kok Naomi-nya.”
Goda Aileen pada Darren yang sedari tadi matanya tak pernah lepas dari Naomi yang sedang bermain dengan Twins dan kucing kesayangannya Aaron. Mereka bertiga tertawa lepas seakan punya dunia mereka sendiri tanpa menghiraukan Darren, Aileen dan Arion yang memilih duduk bercengkrama.
Darren mencebikkan bibirnya malas mendengar Aileen yang berusaha menyindirnya, memang penglihatannya sedari tadi tak lepas memandangi Naomi yang begitu bahagia bermain bersama dengan Twins. Dia sangat suka melihat Naomi yang tertawa lepas hanya karena hal-hal yang sederhana, tak perlu memberinya barang-barang yang mewah dan branded atau perhiasan untuk membuatnya bahagia. Itulah yang membuat Darren sangat kagum dan menyayangi kepolosan Adik tirinya itu.
“Siapa yang lihatin? Salah lihat kali!” Sangkal Darren.
“Dasar! Gengsi aja di gedein.” Ketus Aileen.
“Biarin aja Ay... Nanti kalau udah di ambil cowok lain baru tau rasa.” Timpal Arion yang dari tadi sibuk memeluk Aileen dari belakang sambil mengecupi bahu Aileen.
“Ck, makin lama omongan lo makin ngaco aja kampret. Mau gue tampol lo!” Hardik Darren.
“Emang kenapa gue?” Tanya Arion mengernyit.
“Gak usah kompori gue, Dia adik gue kalau lo ingat!” Sahut Darren melengos malas.
“Memang apa salahnya? Hanya Adik tiri dan nggak ada hubungan darah, asal lo merasa nyaman kenapa enggak? Dan untuk pertama kalinya gue lihat lo nyaman banget sama cewek bahkan cara tatapan lo buat Naomi terlihat beda, jadi gue sebagai sahabat lo akan dukung apapun yang bisa membuat lo bahagia.”
“Bukan hanya Arion yang melihat perubahanmu sejak kehadiran Naomi Ren, tapi aku juga. Sekarang kamu bisa tersenyum, tertawa bahkan cemas hanya karena kehadiran Naomi meskipun baru hari ini aku melihatnya langsung. Apa kamu gak sadar juga?” Aileen yang ikut mendukung apa yang di katakan Arion tadi.
“Gue sayang hanya sebatas dia Adik tiri gue, Enggak lebih!” Sangkal Darren.
Darren sebenarnya memang mulai sedikit menyadari perubahannya akhir-akhir ini, tapi sekuat tenaga dia mengenyahkannya karena dia tidak ingin perasaan aneh itu terus berkembang dalam hatinya. Dia tidak ingin mengecewakan Bunda dan Papi tirinya yang menginginkan Darren menjaga Naomi seperti Adik kandungnya sendiri.
“Terserah lo aja deh.” Sahut Arion malas, karena gedeg melihat Darren yang tidak peka dengan perasaannya sendiri.
“Gimana kalau kita kenalin sama Carlos? Kurasa mereka sangat cocok.” Usul Aileen yang sebenarnya hanya ingin mengetes reaksi Darren. Carlos adalah adik Carla yang tak lain adalah sepupu Arion.
“ENGGAK! Enak aja... Mau umpanin Naomi sama buaya kampret kayak Carlos!” Sentak Darren tak terima.
“Cih! Katanya cuma anggap Adik, tapi nggak rela kalau Naomi sama cowok lain.” Sindir Arion tersenyum mengejek.
“Si-apa bilang? Gue cuma nggak mau Naomi jatuh ke tangan cowok yang modelan nya kayak lo!” Ketus Darren yang sedikit salah tingkah.
“Jangan jadiin alibi Ren! Kalau nyatanya hati kamu tak bisa melepaskannya, jujur pada hatimu sendiri Ren.” Ucap Aileen yang memukul telak Darren hingga dia tak bisa berkata apa-apa.
“Ck! Hentikan omong kosong yang nggak jelas ini, makin lama omongan kalian makin kemana-mana. Bukannya mendukung malah menjerumuskan, arghh...!” Sentaknya frustasi.
Sepasang insan itu hanya terkekeh melihat Darren begitu kacau akan perasaannya sendiri.
“Jangan di Paksakan Ren! Jalani seperti air mengalir, ikuti saja ke mana arus akan membawamu. Kita nggak tahu takdir Tuhan ke Depannya akan seperti apa? Sekuat apapun kita menyangkal, jika Tuhan sudah menggariskan Kuasa-Nya... Kita sebagai hambanya nggak akan bisa menolak karena Tuhan tahu apa yang terbaik buat kita.”
Aileen berharap Darren tidak memaksa hatinya sendiri, karena hati tidak akan bisa kita kendalikan dan paksakan... Biarlah hati yang memilih rumahnya sendiri.
“Santai aja Ren, lihat story gue... Tuhan membolak-balikkan perasaan dan hidup gue untuk berada di Titik sekarang ini. Begitu banyak rintangan dan pengorbanan yang harus gue lewati agar gue benar-benar menemukan kebahagiaan sejati gue...” Timpal Arion.
“Begitu pun juga dengan lo Ren, gue harap lo juga akan menemukan kebahagiaan sejati lo. Semoga mudah dan nggak sesulit gue tapi jika kebalikannya, ingatlah... Kita bertiga akan selalu ada buat lo.” Lanjutnya yang berharap agar Sahabatnya Darren tidak mengalami hal yang sama dengannya, mengalami banyak pesakitan agar bisa bersama dengan Perempuan yang di Cintainya.
“Ck! Kenapa jadi kayak cewek? Melow gini...” Cibir Darren yang sebenarnya sedikit merasa terharu tapi dia berusaha untuk menutupinya, tapi yang namanya Darren tetap Darren... Orang yang bermuka kaku dan datar.
“Ngomong-ngomong soal bertiga, tuh Curut satu kenapa nggak ikut?” Lanjutnya bertanya.
“Biasa... Alih profesi dia, jadi Babysitter sekarang.” Jawab Arion.
“Gue nggak tau harus senang apa sedih sama tuh Curut satu?” Sahut Darren dengan datar meskipun terselip rasa prihatin.
“Rasanya pengen gue ruqyah tuh Curut! Antara begoo dan baik hati tapi kebanyakan begonya.”
“Bukan begoo Kamprett! Itu juga karena elo!” Sentak Darren menggeplak kepala Arion.
“Anjirr... Sakit Ogeb!” Keluh Arion mengelus kepalanya.
“Lagian bukan salah gue, gue tau Curut itu nggak pintar-pintar amat. Tapi juga nggak bodoh-bodoh amat...”
“Dia hanya berusaha menyelami perasaannya sendiri, gue yakin tuh Anak hanya sedikit terobsesi dan penasaran bukan benar-benar cinta. Dulu memang ada cinta tapi seiring berjalannya waktu gue yakin cintanya semakin pudar karena Dia sendiri juga tau kalau Barongsai itu bukan yang terbaik untuknya.” Lanjut Arion mengemukakan pendapatnya.
“SOK TAU LO!” Sentak Darren.
“Ck! Lihat sekarang... Buktinya fine-fine aja tuh Anak, baik sebelum dan sesudah menikah Dia selalu dalam mode tenang. Slow... Jadi biarkan saja, untuk sekarang kita hanya bisa melihatnya dari belakang.” Jawabnya sok bijak.
“Kalo gini kelihatan waras lo!” Cibir Darren.
“Tunggu... Curut siapa sih?” Tanya Aileen bingung karena dari tadi Dia sedikit tidak ngeh dengan percakapan mereka.
“Dino Ayang.” Jawab Arion cepat, Aileen hanya ber Oh ria mendengar jawaban Arion.
***
“Sebenarnya Nao agak bingung Kak, tentang hubungan kak Arion dengan kak Aileen? Bukannya Kak Arion..” Tanya Naomi tanpa melanjutkan kata-katanya sambil melirik Darren yang sedang fokus menatap ke depan.
Mereka sekarang sedang berada di mobil dalam perjalanan pulang, Darren yang mendengar Naomi yang tak melanjutkan kata-katanya langsung menolehkan kepalanya menatap sejenak Naomi lalu fokus lagi melihat jalanan ke depan.
“Kenapa bingung hemm? Kalau di jelaskan memang agak sedikit kompleks dan rumit, bagi orang awam yang baru melihat mungkin akan berpikiran dangkal tapi jika mereka mengetahui bagaimana lama dan beratnya kisah mereka... Maka mereka akan tahu besarnya cinta yang mereka punya satu sama lain. Mereka berhak bahagia...”
Darren tahu bahwa Adik tirinya itu bingung karena setahu dia sahabatnya Arion sudah menikah dengan Perempuan lain.
“Ih... Kak Al, makin buat Nao bingung aja.” Kesal Naomi dengan bibir yang mengerucut lucu, membuat Darren terkekeh.
“Nggak usah terlalu di pikirin... Nanti lama-lama juga Nao akan tau sendiri. Salah sendiri kemarin-kemarin nginap di Tempat Bibi-mu lama sekali, jadi nggak tau kan!”
“Nao kan ada keperluan di Sana buat menyelesaikan urusan yang belum sempat Nao urus di Kampus lama, lagian Nao kan bukan cenayang jadi Nao mana tau kalo Kakak nggak cerita,”
“Eh... Tapi ya Kak, Nao baru tau kalau Kak Arion tuh sweet banget.” Ucap Naomi gregetan, membuat Darren menatap Naomi sambil mengernyit tak suka jangan lupa komuknya yang mulai berubah jadi dingin.
“Sweet apa... Yang ada gila! Apalagi mulutnya cerewet kayak Ibu-ibu kompleks, sweet dari mananya coba!” Gerutu Darren yang sekarang fokus lagi pada jalanan, Naomi hanya terkikik geli mendengar gerutuan kakak tirinya itu.