“Entah sejak kapan? Rasa ini mulai tumbuh mengakar dalam Hatiku...
Bukan hanya indahnya warna bunga yang bermekaran, tapi juga durinya yang tajam...
Mereka selalu berjalan beriringan, memberikan rasa bahagia dan sakit di saat yang bersamaan...”
Naomi Alora Oksana.
.
.
POV NAOMI
“Astaga Ay, Aku kan udah bilang... Kamu-nya duduk aja! Bandel banget sih.” Ucap Kak Arion dengan cepat memapah perempuan itu, bukan hanya terlihat kesal tapi juga terlihat sangat panik dan khawatir... Aku bisa melihatnya.
“Gak usah lebay deh Ion! Aku nggak pa pa.” Ketus perempuan itu.
Wow... Baru pertama kali ini Aku melihat seorang Perempuan berani jutekin Kak Arion, di saat banyak Perempuan sibuk cari perhatian karena tertarik dengan ketampanannya yang jauh di atas rata-rata tapi dia malah ketus banget sama kak Arion. Tapi mereka terlihat sangat manis, terlihat tatapan Kak Arion yang begitu dalam pada Perempuan itu. Apakah Dia kekasih Kak Arion? Entahlah... Pusing juga aku jika terus menebak-nebak tapi ada sedikit kelegaan dalam hatiku kalau benar perempuan itu adalah kekasih kak Arion.
“Kenapa Aku merasa Adikku yang satu ini tambah kece aja ya?” Godanya pada Kak Al dengan senyumannya yang begitu cantik.
Tapi tunggu... Adik?
Aku hanya bisa membola, apa Aku tidak salah dengar?
“Adik? Kamu kali... Badan kayak Liliput!” Ketus kak Al melengos, membuat perempuan itu mendelik tapi justru terlihat lucu dan imut dengan ekspresinya.
“Enak aja lo panggil Liliput, yang boleh panggil Liliput cuma gue!” Decak kesal Kak Arion.
OMG... Benarkah Dia Kak Arion yang selalu memasang tampang cool dan dingin? Eh... Sama kali ya cool sama dingin.
“Astaga... Nih dua Aki, nggak ingat umur apa!” Cibir perempuan cantik itu, yang membuat Kak Al berdecak kesal dengan muka juteknya.
“Jadi... Sekarang kamu mau apa Darren Alcander? Nggak terima ku panggil Adik!” Lanjutnya lagi menantang Kak Al, dengan tangan yang bersedekap d**a dan mendongakkan wajahnya dengan tatapan tajam.
Bukankah itu terlihat keren? Meskipun badannya mungil seperti diriku tapi dia begitu berani seolah tak takut apapun. Aku saja tidak berani kalau Kak Al dalam mode garang, meskipun komuknya itu-itu aja deh... Mau senang, sedih dan marah tetap aja tampangnya nyeremin tapi ganteng parah.
“Sini... Peluk!” Titah Kak Al dengan datar.
Ucapannya langsung membuatku tersentak, Aku pikir kak Al akan marah karena Perempuan itu begitu pongahnya menantang kak Al tapi justru...
Dan yang lebih membuatku terkejut lagi Perempuan itu langsung berhambur memeluk Kak Al, Hatiku sedikit nyeri melihatnya... Terasa sesak rasanya. Entah perasaan apa ini? Lagi-lagi Aku tidak suka melihatnya bahkan Dia memeluk kak Al dengan erat, itu membuat hatiku sakit.
“Udah, enggak usah lama-lama! Modus banget sih lo Ren.” Lerai Kak Arion tak terima, membuat pelukan mereka terputus.
“Lo aja yang kelewat bucin!” Ejek Darren menyunggingkan sudut bibirnya.
“Tau nih Ion, resek banget sih!”
“Astaga Ay... Kalo kamu masih belum puas aku pelukin seharian, nanti aku ungsikan anak-anak ke kamar pengasuhnya. Biar nanti malam kamu boboknya bisa puas peluk Aku-nya, heran aku! Udah punya aku yang kece gini masih aja ganjen sama cowok lain.” Omel kak Arion membuat perempuan itu mendelik mendengarnya, terlihat sangat lucu tapi tunggu Anak-anak Kak Arion bilang? Oh... Ayolah! Aku sudah pusing karena hanya aku di sini yang dari tadi jadi kambing congek tidak tahu apa-apa.
Pov End.
Darren memutar matanya malas mendengar drama mereka yang tidak pernah berubah, makanya Darren tidak mau berurusan dengan yang namanya Cinta, baginya cinta membuat orang tampak bodoh. Belum saja Dia merasakannya sendiri bukan? Sedangkan Naomi sudah menatap mereka dengan tampang cengonya, dia masih belum paham dan mengerti situasi ini. Dia sangat bingung siapa perempuan itu dan ada hubungan apa di antara mereka bertiga? Darren yang melihat raut wajah Naomi berusaha menahan tawanya karena Naomi terlihat seperti anak kecil yang bingung karena mendengarkan pembicaraan orang dewasa.
“DIAM NGGAK KAMPRET! Gedeg gue dengarnya...” Hardik Darren.
“Nao bukankah kamu ingin berkenalan dengan Anak ceweknya Bunda?” Tanya Darren mengusap pucuk kepala Naomi dengan lembut, yang menyadarkan Naomi dari kebingungannya. Membuat Aileen dan Arion mengalihkan perhatiannya ke arah mereka.
“Iya Kak, mana Kak Aileen? Apa Kak Aileen berada di sini juga?” Tanya Naomi bersemangat.
“Depan kamu.” Darren mengedikkan dagunya ke arah Aileen, sontak saja netra Naomi langsung membola dengan tangan yang menutup mulutnya yang menganga.
Dia Kak Aileen? Hampir saja Nao salah paham.
Batinnya.
“Hai cantik... Apa kamu Naomi?” Sapa Aileen tersenyum manis ke arah Naomi.
“Iya... Benarkah Kakak, Kak Aileen? Nao sangat senang ternyata Nao juga punya kakak lagi yang sangat cantik” Puji Naomi dengan mata berbinar.
“Kau juga sangat cantik Adik kecil... Aku juga senang mempunyai adik lagi.”
Naomi langsung berhambur memeluk Aileen karena senang mendengar ucapan Aileen, tentu saja Aileen dengan senang hati membalas pelukan Naomi seraya mengelus rambut Naomi dengan sayang.
“Dasar cewek!” Cibir Darren.
“Sekali lagi berani mencibir kita... Awas aja bakal aku sumpel mulutmu DARREN ALCANDER!” Ancam Aileen setelah melepas pelukan mereka, membuat Darren langsung kincep.
Sebenarnya Darren bukan takut dengan ancaman Aileen tapi lebih ke rasa menghargai dan menghormati sosok yang banyak membantu Bundanya, karena itu Bundanya sangat menyayanginya dan sudah menganggap Aileen seperti Putri kandungnya sendiri begitu pun dirinya. Apa yang menjadi kebahagiaan Bundanya, pasti akan menjadi kebahagiaannya juga.
Sedangkan Arion terlihat berusaha menahan tawanya agar tidak meledak, jarang-jarang dia melihat sahabatnya yang garang itu diam tak berkutik di hadapan Pujaan hatinya.
“JANGAN... Nggak boleh!” Pekik Naomi yang membuat mereka langsung menoleh ke arah Naomi lalu sesaat kemudian terdengar suara tawa dari Aileen, dia tidak menyangka bahwa Naomi begitu polos dan menggemaskan seperti Ara anak perempuannya.
“Lucu banget sih kamu.” Cubit Aileen dengan gemas pada pipinya Naomi yang terlihat chubby.
“Tenang aja Kakak cuma bercanda.” Lanjut Aileen, membuat Naomi tercengir malu.
Tiba-tiba dari arah belakang terdengar tangisan anak kecil, yang membuat mereka menoleh ke arah sumber suara. Ternyata yang sedang menangis adalah Ara, terlihat dia berlari ke arah mereka di ikuti anak laki-laki yang tak lain adalah saudara kembarnya Aaron.
“Huaaaa... DADDYYY...”
“Ada apa sayang? Kenapa hemm... Apa Ara terluka?” Tanya Arion cemas sambil mengangkat Ara dalam gendongannya.
“No Dad, Ala ndak pa pa. Tapi Akak nakal... Akak malahin Ala.” Tunjuknya pada Aaron, membuat sang empunya mendelik. Bisa-bisanya adiknya mengatainya nakal padahal adiknya itu yang sudah buat ulah pada kucing kesayangannya, kucing Persia jenis Peaknose yang berwarna putih bersih.
“Jangan pitnah Dek! Olang dedek yang nakal.” Bantah Aaron dengan bersedekap d**a.
“Memang apa yang di lakukan Dedek Kak?” Tanya Arion.
“Kitten mau di cebulin di Kolam ikan.” Jawab Aaron.
“Ala ndak cebulin, Ala mau mandiin Kitten kok.” Sanggahnya, Aaron hanya diam melengos.
Sedang Aileen sudah memijit pelipisnya yang mulai berdenyut karena tingkah Putrinya yang tidak bisa diam, ada-ada saja ulahnya.
“Hai Twins... Apa kalian nggak merindukan om sampai nggak mau menyapa om?” Sapa Darren pada Ara dan Aaron karena gemas melihat tingkah mereka.
“Om danteng...”
Pekik Ara yang berusaha turun dari gendongan Arion lalu berlari memeluk kaki Darren.
“Oh... Princess-nya Om,” Darren mengangkat Ara dalam gendongannya.
“Makin gembul aja pipinya... Di kasih makan apa sama Daddy-mu hemm? Gemes banget Om jadinya.” Lanjut Darren sambil menciumi pipi Ara dengan gemas.
“Ih... Ala ndak demuk.” Protes Ara merengut lucu.
“Tuh kan apa kakak bilang... Makana jangan kebanakan mimik cucu! Jadi demuk kan kayak dentong.” Cibir Aaron.
“Huaaa... Akak dahat om, natai Ala demuk tayak dentong.” Rengek Ara pada Darren.
“Ck! Dasal otak choco chips! Belaninya cuma mengadu.” Cibir Saudara kembarnya Aaron.
“Sudah, sudah... Apa kalian tidak bisa tidak ribut terus, pening kepala Mommy lihat kalian...” Tegur Aileen, membuat keduanya langsung kincep.
“Sekarang ayo sapa tante Naomi!” Lanjutnya memberikan titah pada kedua Anak kembarnya.
“Halo Onti tantik...” Sapa Ara setelah turun dari gendongan Darren dan mencium telapak punggung Naomi, di ikuti oleh Aaron.
Sedangkan Naomi hanya bisa tercengang dengan tampang cengonya, oh ayolah.. Dia sangat bingung dengan situasi sekarang.
Darren yang mengerti gelagat Naomi hanya tersenyum dan mengusap pucuk kepala Naomi dengan lembut, membuat Naomi menatap Darren sangat dalam seolah bertanya lewat tatapan matanya.
“Nanti kakak jelasin.” Ucap Darren yang seolah mengerti arti tatapan Adik tirinya yang membuat Naomi akhirnya tersenyum dan mengangguk padanya.
“Gemes banget sih, siapa nama kalian?” Tanya Naomi dengan wajah berbinar.
“Ala Onti... Kalo Dia kakak Ala namanya Alon.” Jawab Ara.
“Onti?” Naomi mengernyit, lalu menatap Darren.
“Kak Al mereka memanggilku Onti?”
“Kenapa? Onti ndak cuka kita panggil Onti?” Sahut Aaron melengos.
“NO... Itu terlihat keren, Onti suka.” Jawab Naomi antusias menatap Twins.
“Boleh Onti memeluk kalian?” Lanjutnya bertanya penuh harap.
“Tentu Onti Nom Nom.” Jawab Ara, membuat Naomi langsung memeluk mereka dengan erat setelah mengecup pipi keduanya.
“Cudah Onti, Aalon cesak.”
“Maaf...” Sesal Naomi cengengesan setelah melepas pelukannya.
“Sekali lagi Onti minta maaf ya... Tadi Onti terlalu senang karena sekarang Onti punya dua keponakan yang sangat lucu dan menggemaskan seperti kalian.” Lanjutnya menatap mereka dengan gemas.