“CINTA... Cuma susunan huruf yang membentuk sebuah kata, tapi percayalah satu kata itu memberi kita banyak Rasa...”
Naomi Alora Oksana.
.
.
“Pagi semua...” Sapa Naomi pada keluarganya yang sudah berkumpul di meja makan, dia mencium pipi mereka satu persatu lalu langsung duduk di kursi.
“Ayo makan! Semalam kamu belum makan Nak.” Bunda Eva menyodorkan sepiring nasi goreng ke hadapan Naomi membuat sang empunya tersenyum.
“Siapa bilang Bun? Tadi malam ada tuh kuntilanak kecil yang obrak-abrik kulkas.” Sindir Darren tersenyum mengejek Naomi dan sudah melupakan kecanggungan mereka tadi malam.
“Ih... Kakak mah gitu!” Naomi berdecak kesal.
“Tuh Bun... Kakak nakal, masak Naomi di katain kuntilanak!” Adunya manja pada Bunda Eva dengan bibir yang mengerucutkan, membuat kedua orang paruh baya yang berbeda jenis kelamin itu terkekeh karena Darren sudah lebih dulu menceritakannya.
“Kenapa tidak bangunin Bunda sih sayang? Bunda tadi malam sudah siapkan makanan buat Nao loh... Takut Nao bangun karena lapar. Eh... ternyata benar kan.”
“Enggak ah... Kasihan Bunda-nya capek, jadi Nao cari sendiri makanan di kulkas. Hanya ada cake ya Nao makan itu aja... Eh ternyata ada kakak yang ke bawah.” Ucap Naomi terkikik geli karena mengingat kejadian tadi malam, kakaknya yang ketakutan karena melihatnya.
“Apa hari ini Nao ada acara atau mau pergi karena hari ini hari libur?” Tanya Papi Pandu pada Naomi.
“Nao nggak tau Pi, nggak ada acara. Mungkin di Rumah aja kali ya.” Tampak Naomi sedang menimbang.
“Ikut Kakak aja, hari ini kakak mau ke Rumah Arion.” Ajak Darren.
“Mauuuu...” Ucap Naomi bersemangat.
“Oh ya... Bagaimana kabar Aileen Nak? Bunda kangen sama kakakmu.” Tanya Bunda Eva sendu.
“Tunggu... Aileen siapa? Bunda bilang Kakak? Apa Bunda punya anak lagi?” Tanya Naomi beruntun dengan mata membola.
“Bukan Nak, dia teman Kakakmu dan sudah Bunda anggap seperti Anak sendiri... Bunda menyayanginya seperti Bunda menyayangi Nao.”
Bunda Eva yang berusaha menjelaskan dengan bahasa yang sederhana dan bisa di mengerti oleh Naomi, jika tidak dia akan terus bertanya.
“Oh... Gitu ya Bunda, terus sekarang Kak Aileen tinggal di mana? Kok gak sama Bunda di sini?” Tanya Naomi lagi, membuat Bunda Eva menghela nafas. Padahal dia berharap Naomi tidak akan bertanya lagi karena ceritanya panjang jika harus bercerita sekarang.
“Kepo banget sih anak Papi?” Sahut Papi Pandu mengacak rambut Putrinya dengan gemas.
“Nao kan cuma ingin tau!” Ucap Naomi yang mengerucutkan bibirnya.
“Nggak usah manyun gitu, JELEK...” Goda Darren, membuat Naomi mengambil telapak tangan Darren lalu menggigit jari telunjuknya.
“Auw... Sakit Dek.” Pekik Darren mengibaskan tangannya.
“Syukurin... Wleee!” Kesal Naomi sambil menjulurkan lidahnya, membuat Bunda dan Papinya terkekeh.
“Nao! Tidak boleh nakal sama Kakakmu, kasihan kan. Cepat minta maaf!” Titah Papinya.
“Abis Kak Al sih nyebelin! Tapi iya deh... Nao minta maaf kakak, Nao janji deh gak bakal gigit Kakak lagi. Tapi kalo Kakak nakal lagi, Nao gigit loh tangan satunya.” Ucap Naomi meminta maaf sambil menjewer kedua telinganya dengan tidak ikhlas.
Lagi-lagi ucapan dan tingkah Naomi membuat Darren terkekeh, meskipun minta maaf tapi sempat-sempatnya dia mengancam. Bukan ancaman yang membuat dia takut tapi justru ancaman yang membuat dia gemas setengah mati, lihatlah ekspresinya yang lucu seperti kelinci kecil yang merajuk.
“Ah... Pintarnya, sekarang dengarkan Kakak oke! Nanti Kakak kenalin sama Aileen, bukannya kamu ingin tau siapa Anak cewek Bunda selain kamu kan?”
Darren memberi pengertian pada Naomi seperti seorang Ayah yang memberi pengertian pada anaknya, untuk menjelaskan siapa Aileen dan latar belakangnya sepertinya tidak untuk sekarang. Dia membutuhkan waktu lebih panjang untuk menceritakan agar Naomi mengerti karena Adik tirinya itu sedikit lola dalam berpikir, bukan berarti Dia idiott hanya saja kapasitas otaknya sangat terbatas.
“Siap Bos...” Hormatnya pada Darren.
“Apa Bunda ikut saja dengan kami? Karena dalam waktu dekat ini, Aileen mungkin tidak bisa ke sini karena masih dalam proses penyembuhan Bun.” Ajak Darren pada Bundanya.
“Kalau sekarang Bunda tidak bisa Nak karena nanti Bunda dan Papi kamu ada acara, Bunda ada janji mau ke rumah sahabat Bunda. Sampaikan salam Bunda saja buat Aileen.” Darren hanya menanggapi dengan anggukan kepala.
***
POV NAOMI
Aku sekarang berada di depan sebuah rumah yang begitu besar dan mewah meskipun memiliki desain yang simpel dan minimalis, sangat cantik dan memanjakan mata siapa pun yang melihat. Kalau kalian ingin tahu kenapa Aku bisa mengetahuinya? Itu karena Aku sering memperhatikan kak Al ketika sedang bekerja bahkan tak jarang Aku bertanya jika Aku melihat desain gambar yang sangat membuatku berdecak kagum karena keindahannya.
Aku tidak tahu ini rumah siapa? Karena ketika Aku bertanya pada kak Al, dia akan selalu menjawab 'Nanti kamu akan tau sendiri...’ Menyebalkan bukan?
Apa mungkin ini rumah Kak Arion? Tapi bukankah rumah kak Arion bukan di sini? Tentu saja Aku mengetahuinya karena kak Al, ah maksudku Kak Darren pernah mengajakku ke Rumah kak Arion atau lebih tepatnya rumah orang tuanya. Lalu apakah mungkin ini adalah rumah Kak Arion sendiri? Kalau benar... Bukankah Kak Arion sangat kaya raya seperti seorang sultan, berapa banyak ya hartanya? Ah... Jadi kepo kan.
Sebenarnya sangat lelah berjalan, karena untuk masuk ke Dalam rumahnya saja harus menaiki beberapa anak tangga atau Aku-nya saja yang akhir-akhir ini cepat merasa lelah. Tapi ketika Aku melihat pemandangan di sekelilingku yang sangat cantik dan indah, Aku seakan lupa dengan rasa lelahku. Apalagi ketika kak Al menggandeng tanganku dengan erat, rasanya jantungku terus saja berdisko ria.
“Tuan Darren, selamat datang... Tuan Arion sedang menunggu Anda di taman belakang.” Sambut salah satu pelayan yang membukakan pintu, dan benar kan seperti dugaanku jika ini adalah rumah Kak Arion.
Ketika masuk lagi-lagi aku di suguhi pemandangan yang sangat indah, setiap sudut ruangannya tertata epic yang membuat siapa saja ingin betah berlama-lama di sana. Dan lebih mengejutkan lagi halaman rumah itu terlihat sangat menakjubkan, sangat luas dan terlihat sangat asri. Kolam renang yang sangat besar terlihat tidak terlalu dalam, rasanya jadi pengen renang. Tempat bersantai dengan alas lantai kayu dan kolam ikan dengan taman bunga kecil yang sangat indah, membuat Aku selalu menganga di buatnya.
“Tutup mulut Nao! Ilernya netes ke mana-mana tuh.” Kata Kak Darren membuyarkan rasa kagumku.
Tentu saja Aku langsung menghapusnya, oh... Bukankah itu terlihat sangat memalukan? Tapi tunggu... Tidak ada apa-apa di Bibirku? Dan sialnya Aku tertipu. Dan benar saja waktu Aku menoleh wajah Kak Al terlihat sedang menahan senyum dan tawanya langsung pecah ketika melihatku manyun karena sudah berhasil di kerjai.
“Lama banget sih lo?”
Terdengar suara seseorang yang ternyata adalah Kak Arion, lihat lah... Tawa Kak Al seketika itu langsung reda dan raut wajahnya dengan cepat berubah menjadi datar dan cuek lagi. Benar-benar... Orang ini? Sungguh menyebalkan, tapi sayangnya Aku suka.
“Nih, ngajakin Bocil.” Sahut kak Al datar.
Bocil katanya?
Oke... Kali ini Aku memang benar menyebutnya menyebalkan, Ah... Tapi Kak Al orangnya memang seperti itu bukan? Tapi tetap saja Aku tidak terima.
“Ih... Kak Al, Nao sudah besar tau!” Protesku.
“Hai Ren... Sudah datang? Dari tadi Aku menunggumu, I really miss you.”
Seorang perempuan yang sangat cantik datang menghampiri kami, dia terlihat jalan agak tertatih dan pelan-pelan. Entah kenapa dengan kakinya, padahal sayang sekali dia sangat cantik seperti boneka hidup apalagi dengan mata Ambernya terlihat berkali-kali lipat lebih cantik. Aku perempuan saja terpesona dengan kecantikannya apalagi cowok, bikin insecure deh.
Tapi kata Rindu yang Dia ucapkan pada Kak Al membuatku sedikit tidak nyaman, entahlah... Aku tidak tahu siapa Perempuan itu dan apa hubungan mereka? Tapi hatiku rasanya tidak rela jika ada Perempuan lain dekat dengan Kak Al.