“'Kau adalah duniaku, entah sejak kapan... Hati dan pikiranku hanya ada tentang dirimu...’”
Darren Alcander.
.
.
Darren bergegas mandi setelah sampai di kamarnya karena badannya sudah terasa lengket semua dengan keringatnya, setelah selesai dia langsung menghampiri Naomi di kamarnya. Dia mencoba mengetuk pintu berulang kali tapi tidak ada jawaban, Darren berpikir mungkin adik tirinya itu sudah turun ke bawah. Lalu dia berbalik dan memutuskan langsung turun ke bawah saja tapi baru beberapa langkah dia berhenti dan berbalik lagi ke kamarnya Naomi.
Dengan ragu Darren membuka pintu kamar Naomi dengan perlahan dan pemandangan yang pertama kali dia lihat, Naomi yang sedang tertidur pulas di atas ranjangnya dengan posisi tangan yang memegang Ponsel yang masih menyala.
“Pules banget sih... Sampai Kakak ketuk berulang kali gak dengar.” Gumam Darren meskipun Naomi tidak mendengar karena dia tertidur dengan nyenyaknya, Darren mengambil Ponsel yang ada di tangan Naomi lalu mematikannya dan menaruhnya di atas nakas. Dengan pelan dia mengelus pucuk kepala Naomi dan mengecup dahinya cukup lama.
Darren terus memandangi wajah Naomi yang terlihat cantik dan imut menurutnya, apalagi dalam kondisi tidur terlihat berkali-kali lipat lebih cantik. Entahlah... Darren tak pernah bosan memandangi wajahnya meskipun setiap hari bertemu karena tinggal di Bawah satu atap, bahkan tak jarang mereka tidur di Ranjang yang sama. Meskipun di dunia ini ada jutaan perempuan yang lebih cantik daripada Naomi, dia akan tetap memilih Naomi sebagai perempuan tercantik di hatinya selain Bundanya.
Kenapa gue jadi merasa aneh ya? Tapi memang rasa nggak bisa bohong, gue merasa nyaman dekat dengannya. Apalagi waktu dia tidur peluk gue, bikin torpedo gue langsung tegang aja... Gue kira gue nggak normal karena torpedo gue nggak pernah konek kalo dekat sama cewek.
Batin Darren bermonolog.
Astaga... Apa yang lo pikirin Darren? Ingat dia adik tiri lo sendiri!
Peringatnya pada dirinya sendiri, lalu dia bergegas turun ke bawah sebelum banyak setan yang datang berkeliaran di Otaknya.
“Naomi mana Nak?” Tanya Bundanya waktu melihat Darren hanya turun sendiri dan menghampiri meja makan.
“Tidur Bun, pules banget... Darren nggak tega bangunin. Padahal pintu kamarnya tadi udah Darren ketuk berulang kali tapi tetap nggak bangun.”
“Biarin aja Adikmu tidur Ren, ayo sekarang makan dulu!” Sahut Papi Pandu.
“Iya Nak... Memang akhir-akhir ini Adikmu sering ketiduran habis pulang dari kampus katanya capek.” Jelas Bunda Eva pada Putranya sambil mengambilkan nasi untuk Darren dan Suaminya.
“Benarkah? Ah... Maaf Bun, akhir-akhir ini Darren sibuk dengan proyek baru jadi tidak sempat memperhatikan Naomi.” Sesal Darren.
“Tidak apa Nak, Papi tau kamu sibuk... Naomi sudah besar dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri karena yang Papi lihat akhir-akhir ini Naomi sudah tidak menempeli dan membuntutimu, mungkin di sini Adikmu sudah punya banyak teman baru.”
“Betul Nak apa kata Papimu, sekarang kamu bisa tenang karena tidak ada yang menempelimu lagi. Bukankah itu yang dulu selalu kamu keluhkan pada Bunda?” Bundanya yang ikut menimpali.
Ya... Itu dulu, tapi sekarang kenapa malah jadi aneh ya? Gue merasa ada yang kurang.
Batin Darren.
***
Darren yang terbangun tengah malam merasa haus, memutuskan turun ke bawah untuk mengambil minum. Waktu sampai di dapur dia mengernyit heran karena pintu kulkas di dapur terbuka.
Apa Bunda atau Bibi lupa nutup? Tapi gak mungkin lah! Apa jangan-jangan ada maling?
Batin Darren membola.
Darren lalu jalan mengendap perlahan sedikit membungkukkan badannya di belakang meja konter dapur, waktu menengok depan kulkas Dia terperanjat karena melihat perempuan berambut panjang duduk bersila di depan kulkas.
“Astagfirullah... Allahuakbar... Setan demit... Pergi, hus huss!” Usir Darren sambil memejamkan matanya.
“Kak Al kenapa?” Tanya perempuan yang sedang duduk bersila di depan kulkas itu, Ya.. siapa lagi kalau bukan Naomi yang memanggil Darren dengan panggilan nama tengahnya.
Darren yang mendengar suara Naomi langsung membuka matanya dan bergegas menyalakan lampu, terlihat Naomi yang mulutnya belepotan cokelat karena dia sedang makan blackforest yang dia ambil dari kulkas. Ruang dapur tadi memang dalam kondisi gelap sehingga dia tidak memperhatikan dengan jelas siapa sosok perempuan yang duduk di depan kulkas dan ternyata setan kecil itu berhasil membuat dia ketakutan, dan juga lihatlah tampang polosnya yang seolah tidak punya dosa karena sudah menakutinya.
“Astaga Nao, kakak kira kuntilanak.” Ucap Darren mengelus dadanya, membuat Naomi terkikik geli.
“Kak Al, takut ya... Ayo ngaku!” Godanya.
“Kamu lagi apa malam-malam nangkring depan kulkas hemm?” Tanya Darren yang tak menghiraukan cibiran Naomi.
“Laper...” Ucapnya cengengesan lalu bangkit berdiri.
“Astaga... Sampai belepotan gini, kayak anak kecil aja sih.” Darren mengambil tisu yang berada di meja dan membersihkan mulut Naomi yang belepotan cokelat.
Naomi hanya terdiam karena jarak mereka yang begitu dekat, membuat jantungnya terasa berdetak kencang begitu pun dengan Darren yang mulai menyadari posisi mereka yang begitu intim membuat jantungnya ikut berdetak kencang.
“Tunggu di sini! Biar kakak buatkan nasi goreng.” Titah Darren yang mencoba mengalihkan perhatiannya karena respon tubuhnya yang terlihat gugup.
“Ah... I-ya.” Sahut Naomi dengan terbata yang juga merasa gugup.
“Nao pengen yang pedas Kak, pasti enak malam-malam gini makan yang pedas. Yummy...” Lanjutnya meminta request pada Darren, sebenarnya itu hanya celetuknya dengan asal untuk memecah suasana canggung tadi.
“NO... Nggak ada pedas! Apa kamu mau pagi-pagi keluar masuk kamar mandi karena perutnya sakit?” Peringatnya lalu tanpa aba-aba langsung mengangkat Naomi dan mendudukkannya di atas meja konter dapur, lalu dia menyiapkan bahan-bahan yang akan di olahnya.
“Apa Nao boleh membantu?”
“Tidak, lebih baik Nao duduk diam oke. Jangan ganggu kakak dan buat ulah biar cepat selesai!” Perintahnya lagi yang mendapat anggukan patuh dari Naomi.
“Sudah selesai, ayo sekarang makan!” Ucap Darren ketika sudah selesai lalu menurunkan Naomi dari meja konter, dia menggandeng tangan Naomi mengajaknya makan di meja makan.
“Enak?” Tanya Darren ketika melihat Naomi makan dengan lahap, Naomi hanya menganggukkan kepalanya karena mulutnya penuh dengan makanan.
“Ck... Pelan-pelan Nao! Sini biar kakak suapin!”
Darren mengambil alih sendok dan piring yang di pegang oleh Naomi, dia takut Naomi tersedak dengan cara makan Naomi yang tidak elit sama sekali dan terkesan bar-bar. Entah karena enak apa memang karena dia yang kelaparan karena tadi belum makan malam? Darren menyuapi Naomi dengan telaten seperti seorang ibu yang sedang menyuapi anaknya.
“Ah... Nao kenyang.” Monolognya setelah Darren menyuapinya sepiring nasi goreng ludes tak tersisa.
Naomi menyenderkan punggungnya ke Belakang dengan tangan yang mengelus perutnya, Darren hanya tersenyum melihat tingkah Naomi yang tak ada jaim-jaimnya. Tak seperti perempuan lain yang selalu mencari perhatiannya dengan sikap manis mereka.
“Sekarang ayo tidur!” Titah Darren.
“Kakak, Nao gak bisa jalan. Lihat perut Nao gede banget kan!” Tunjuk Naomi pada perutnya, tak lupa dengan tampang memelasnya.
“Dasar, bilang aja minta gendong... pake alibi perut lagi!” Cibir Darren yang mendapat cengiran dari Naomi.
“Ayo!”
Darren berjongkok agar Naomi bisa naik ke punggungnya, Naomi tentu saja langsung berbinar dan tak membuang kesempatan langsung naik ke Punggungnya.
Naomi rasanya begitu nyaman dan menikmati setiap langkah kaki Kakak tiri yang membawa dia dalam gendongannya, rasanya ingin memberhentikan waktu agar dia bisa menikmati keadaan ini lebih lama lagi.
“Terima kasih Kak, Nao sayanggg banget sama kak Al.” Ucap Naomi yang tersirat akan makna yang dalam.
Setelah Darren menurunkannya di Depan pintu kamar, Naomi berjinjit lalu mencium pipi Darren dengan dalam dan berlalu masuk ke dalam kamarnya. Meninggalkan Darren yang terdiam mematung dengan detak jantungnya yang bergenderang.
Bukannya sudah biasa ya? Tapi kenapa... Sekarang rasanya jantung gue pengen meledak? Astaga Darren... sadar woi! Pasti nih gue terpengaruh virus Dua kampret sialan.
Batin Darren menggelengkan kepalanya.
Tanpa mereka sadari ada setitik rasa yang mulai tumbuh di Hati keduanya, meski logika selalu menolaknya. Entah takdir akan membawa mereka ke mana? Hanya Tuhan lah yang tahu karena Dia lah Pemilik hati dan suratan takdir.