"Hidup itu seperti air sungai yang mengalir...
Aku tak tahu ke mana arus membawaku bermuara?
Seberapa terjal dan panjang aliran yang harus aku terjang?
Yang ku lakukan hanya bisa mengikuti alurnya..."
Naomi Alora Oksana.
.
.
“Naomi... Kemarin lo nggak papa kan?” Tanya seorang pria yang datang menghampiri Naomi.
Saat ini Naomi sedang makan di Kantin kampusnya bersama sahabatnya Sisil dan Hana, tak lupa ada bodyguard sekaligus sepupunya Naomi yaitu Agam yang selalu setia mengawal ketiga cewek yang menjadi Most Wanted kampus karena paras mereka yang cantik dan mempesona. Sisil cantik dengan gayanya yang dewasa dan anggun, Hana cantik dengan gayanya yang kasual dan tomboi tapi mempunyai otak yang cerdas. Dan terakhir Naomi yang terlihat cantik dan manis dengan wajah imutnya, sejak pindah kuliah di Indonesia mereka berdua lah yang menjadi sahabat dekat Naomi.
“Emang Nao kenapa Kak Vic?” Tanya Nao mengernyit lucu.
“Gue khawatir sama lo Nao, cowok yang kemarin asal bawa pulang lo aja... Emang siapa sih cowok yang kemarin?” Tanya Pria itu yang tak lain adalah Vicky, Teman kampusnya yang mengajak Naomi pergi kemarin.
“Nao gak papa kok... Yang kemarin itu kakak Naomi.”
“Gue kira cowok lo... Kok kayaknya dia jealous lihat kita, sampai dia marah-marah dan tarik paksa lo pulang.”
Terdengar nada kelegaan dari Vicky ketika mendengar bahwa yang membawa Naomi kemarin adalah Kakaknya sendiri, berarti Dia masih mempunyai kesempatan untuk mendekati Naomi.
“Enggak kok, kak Al memang gitu... kelihatannya aja galak mukanya garang tapi aslinya baik kok Kak Vic. Dia hanya khawatir karena Nao nggak bilang mau pergi sama siapa, jadinya gitu deh.” Jelasnya.
“Syukurlah...” Terdengar helaan nafas dari Vicky.
“Oh ya... Gue duluan ya Nao soalnya masih ada kelas lagi.” Lanjutnya pamit pada Naomi.
Sebenarnya itu hanya alibi Vicky saja karena di samping Naomi ada sepupunya yang sejak tadi melototi dia terus, entah kenapa Agam selalu tidak suka jika dia mendekati Sepupunya itu? Padahal Agam tahu bahwa dia benar-benar menyukai Naomi.
“Iya Kak... Makasih ya Kak Vic, kemarin sudah traktir Nao.” Ucap Naomi tersenyum manis pada Vicky, membuat sang empunya langsung menganggukkan kepalanya dan berlalu pergi dari hadapan mereka.
Sedangkan mulut ketiga sahabatnya itu sudah gatal ingin bertanya pada Naomi.
“Sekarang jelasin sama gue Nao, kenapa lo bisa pergi sama Dia? Lo kan tau Dia terkenal dengan predikat Playboy-nya. Elo-nya malah pergi sama dia?” Tanya Agam dengan nada menuntut atau lebih tepatnya mengomeli Naomi karena mau-maunya di ajak pergi sama modelan Buaya buntung macam Vicky, memang di Kampus Vicky terkenal Playboy karena hobinya yang bergonta-ganti cewek, karena parasnya yang tampan dan juga anak konglomerat.
“Ih... Agam, apa hubungannya coba? Kan Nao cuma pergi ke Mall nonton terus makan, ada Heni sama cowoknya juga..."
“Lagian kalian pada sibuk, Nao jadi kesepian tau! Ya mending Nao ikut aja deh waktu di ajak sama Kak Vicky.” Gerutu Naomi dengan bibir yang mencebik kesal.
“Lo gak di apa-apain kan sama tuh buaya darat?” Tanya Hana menyelidik.
“Buaya darat? Siapa?” Tanya Naomi dengan tampang cengonya.
“Astaga... Ya siapa lagi yang ngajakin lo jalan kemarin kalo bukan Vicky.” Sahut Hana menepuk dahi Naomi.
“Oh... kak Vic.” Ucap Naomi membeo.
“Vac vic, Vac vic... Lo kira Vic pelega tenggorokan.” Cibir Hana yang membuat Naomi terkikik.
“Hana nggak boleh gitu, dosa tau! Tapi ya... Nao penasaran sejak kapan kak Vic namanya ganti buaya darat?” Tanya Naomi dengan watados.
“Ya salam...” Kompak mereka bertiga.
Rasanya mau gue di karungin aja nih Anak...
Batin mereka.
“Eh... Nao, kenapa lengan tanganmu memar sampai biru gitu?” Tanya Sisil waktu melihat lengan Naomi yang memakai kaos lengan pendek, terlihat memar kebiruan.
“Mana?” Tanya Naomi sambil memeriksa bagian lengannya satu persatu, yang sepertinya Naomi sendiri tidak menyadarinya.
“Itu Nao sebelah kanan atas.” Tunjuk Sisil, karena posisinya yang berada di seberang meja.
“OMG... Lo benar Sil, ini kenapa Nao?” Tanya Hana yang tadi ikut memeriksa lengan Naomi.
“Lo bilang sama gue Nao, siapa yang melakukannya? Apa Vicky nyakitin lo” Tanya Agam menggeram, Naomi hanya menggelengkan kepalanya.
“Agam jangan suudzon dong! Vicky nggak jahat kok, gak ngapa-ngapain Nao. Mungkin Nao hanya kecapekan kok... Memang sering seperti ini tapi nanti juga hilang sendiri.” Jawaban Naomi membuat mereka mengernyit heran.
“Lo nggak bohong kan?” Tanya Agam menyipitkan matanya.
“Enggak... Suer deh! Nao gak bohong Gam.” Yakinnya.
“Nao, lo bilang sering... Memangnya sejak kapan kayak gini?” Tanya Sisil dengan penasaran.
“Emm... Nao lupa deh Sil, mungkin... beberapa bulan yang lalu deh.” Tampak Naomi sedang berpikir dan mengingat.
“Wah... Kayaknya lo harus periksa deh, takutnya lo punya penyakit serius.” Pekik Hana.
“Hana ih... Doanya jelek banget sih!” Keluh Naomi mengerucutkan bibirnya.
“Yang di bilang Hana benar Nao, pokoknya lo harus periksa ke dokter! Gue temani atau enggak lo suruh temani Darren.” Sahut Agam yang lebih mirip perintah.
“Eh... jangan! Nao enggak papa kok, memang akhir-akhir ini Nao sering kecapekan karena tugas kampus. Kan kalian tau sendiri otak Nao nggak encer seperti kalian. Jadi Nao harus ekstra kerja keras buat belajar terus...”
“Jangan beritahu Kak Al atau Papi Bunda ya Gam! Please... Beneran deh Nao enggak papa.” Jelasnya pada Agam sekaligus membujuknya agar tidak memberi tahu keluarganya dengan tatapan memelas, dia tidak ingin membuat semua orang khawatir. Membuat sepupunya itu menghela nafas berat, walau dalam hatinya sedikit cemas tapi dia selalu tidak bisa menolak permintaan Naomi.
“Baiklah... Tapi lo harus janji sama gue harus jaga kesehatan lo sendiri, kalau lo kesulitan lo bisa cari gue.” Pintanya pada Naomi.
“Siap Bos...” Naomi mengangkat tangannya seperti seorang tentara memberi hormat, tak lupa dengan senyumnya.
***
“Mending Nao pakai piyama panjang aja deh, biar nggak kelihatan.” Ucap Naomi pada dirinya sendiri setelah mandi sore setelah pulang dari kampus.
“Bobok sebentar ah... Nao ngantuk, tapi kenapa ya akhir-akhir ini Nao sering merasa capek? Padahal kan Nao cuma pergi ke kampus aja nggak kerja juga, di Rumah juga nggak ngapa-ngapain. Apa mungkin Nao makannya kurang banyak ya? Kali aja makan banyak badan Nao jadi kuat nggak gampang capek.” Monolognya lagi sambil merebahkan badannya di atas ranjang.
Naomi mengambil ponselnya lalu menonton kartun kesayangannya, sambil sebelah tangannya memeluk boneka Bubbles-nya hingga dia ketiduran.
Di sudut lain, terlihat Darren baru pulang dari kantor pukul Tujuh malam, dan langsung menghampiri Bundanya ke dapur.
“Bunda masak apa? Kelihatannya enak. Baunya kecium sampai depan.” Ucap Darren mencium telapak punggung Bundanya.
“Tentunya kesukaan Anak Bunda dong, sana cepat mandi dan ajak adikmu turun untuk makan malam!” Perintahnya pada Darren.
“Hemm... Darren ke atas dulu Bun.” Pamitnya lalu berlalu pergi dari hadapan Bundanya.