Manisnya Babang Darren

1321 Kata
“Hadirmu seperti lentera dalam hidupku, menyinari setiap langkahku... Yang membawa terang dalam gelapku... Dan selalu menghiasi hari-hariku... dengan warna indah duniamu. Kini duniaku tak lagi sunyi... tak lagi sepi...” Naomi Alora Oksana. . . Darren sedang melajukan mobilnya menuju ke sebuah Mall untuk menjemput Naomi yang pergi bersama teman-temannya, tetapi ketika tiba di tempat yang Naomi beritahu lewat sebuah pesan. Dia di buat geram karena melihat Naomi yang di rangkul pundaknya oleh seorang pria muda yang seumuran dengan Naomi. Naomi saat ini sedang makan bersama dengan teman-temannya di salah satu Restoran lantai dasar Mall, satu perempuan dan dua laki-laki. Mereka berempat terlihat seperti pasangan double date... Darren seketika teringat akan ucapan sahabatnya Arion. Lo yang susah-susah jagain, cowok lain yang ambil enaknya... BRENGSEKK...! BAJINGANN...! Enak aja lo grepe-grepe Naomi, gue yang jagain dia setengah mati. Elo yang seenak jidatnya modusin dia... Umpat Darren dengan geram. “Lepasin tangan lo dari pundak Naomi, BRENGSEKK!!” Pekik Darren membuat keempat orang tersebut langsung terperanjat, lalu mendongakkan kepala mereka melihat ke arah Darren yang agak jauh berada di belakang meja mereka. “KAKAKKK...” Teriak Naomi bangkit berdiri dan langsung berlari menerjang Darren dalam pelukannya, sampai Darren sedikit terhuyung dengan pelukan adik tirinya itu. “Kak Al kenapa yang jemput? Apa kerjaannya Kakak udah selesai?” Tanya Naomi beruntun setelah melepas pelukannya. Darren hanya diam menatap datar Naomi dengan raut wajah menahan amarah. “Ayo pulang...” Ajak Darren tanpa menjawab seraya memegang pergelangan tangan Naomi, dengan cepat dia menyeret pulang Naomi tanpa berpamitan dengan teman-temannya. “Ih... Kakak, kan Nao belum pamit sama teman-teman Nao!” Protesnya, tapi Darren tak bergeming. Dia terus berjalan di ikuti Naomi yang berjalan sedikit terseok di belakangnya. “Kakak, lepasin... Tangan Nao sakit.” Rengek Naomi. Mendengar kata sakit, seketika itu Darren sadar bahwa amarahnya malah membuat dia menyakiti Naomi. Darren langsung berhenti dan dengan cepat melepaskan tangannya, pandangannya berubah sendu ketika melihat pergelangan tangan Naomi yang terlihat memerah akibat kerasnya cengkeraman tangannya. Dia merasa bersalah karena secara tidak sengaja telah menyakiti Adik tirinya. “Apa sakit?” Tanya Darren pelan dengan tatapannya yang mulai melembut. “He’em...” Naomi mengangguk lucu. “Maafin Kakak, habisnya bandel sih!” Gemas Darren. “Kenapa nggak bilang pergi sama cowok? Kakak kan sudah pernah bilang, jangan pergi sama cowok sembarangan kecuali sama Agam, Sisil dan Hana!” Lanjutnya mengomeli Naomi seperti seorang Ibu yang memarahi Anaknya, sedangkan yang di omeli hanya diam menunduk. Bukan karena Naomi takut tapi dia justru terlihat tersenyum dengan hati yang berbunga-bunga, aneh bukan? Tapi begitulah Naomi, dia justru terlihat sangat senang ketika melihat Darren mengomeli dirinya. Baginya itu terlihat sangat menggemaskan karena kakak tirinya sangat mengkhawatirkannya, dan itu membuat jantungnya terasa berdebar kencang. Entah sejak kapan Naomi merasakannya? Tapi setiap kali Kakak tirinya itu memberi perhatiannya dia merasa sangat senang seperti ada jutaan kupu-kupu yang beterbangan di Hatinya. “Ayo... Biar kakak gendong! Pasti capek kan?” Ucap Darren lagi ketika melihat adik tirinya itu hanya diam menundukkan kepalanya, membuat dia makin merasa bersalah karena berpikir bahwa Naomi sedih karena sikap kasarnya. Tentu saja Naomi langsung mendongakkan kepalanya dengan tatapan berbinar lalu menganggukkan kepalanya, Darren sedikit berjongkok agar Naomi dapat naik ke punggungnya dan tentu saja tak akan Naomi sia-siakan... Dengan hati yang berbunga-bunga Naomi langsung naik ke Punggung Darren. Rupanya pemandangan manis itu menjadi pusat perhatian semua orang yang berlalu-lalang, baginya mereka terlihat sangat romantis yang membuat hati Kaum Hawa jadi meleleh dan tentunya kaum jomblo yang merasa iri ingin mendapat pasangan seperti mereka. “Kak Al, jangan marah lagi ya sama Nao! Agam kan sedang kencan berdua dengan Sisil kak, masak Nao ngikut... Nanti malah ganggu mereka terus Hana lagi ada acara dengan keluarganya. Makanya Nao ikut deh di ajak Kak Vicky, Heni sama cowoknya.” Ucap Naomi mencoba memberi penjelasan pada Darren. “Hemm...” Darren hanya mengangguk dan masih terus berjalan dengan Naomi yang berada dalam gendongannya. “Ih... kak Al, kok Nao di cuekin sih! Kak Al jelek tau kalo cemberut. Lebih ganteng kalo lagi senyum, bikin hati cewek-cewek pada meleleh deh... Makanya kakak harus sering-sering senyum. Eh.. tapi jangan deh! Kakak cuma boleh senyum di depan Nao aja.” Oceh Naomi membuat senyum di wajah Darren terbit, adik tirinya itu memang selalu bisa meredakan amarahnya hanya lewat celotehannya. “Makanya nurut kalo di bilangin kakak!” Ketus Darren, padahal itu hanya alibinya untuk menutupi rasa groginya karena di puji tampan. Babang Darren bisa salting juga ya besti... “Iyaa... Nao janji deh, kalo mau keluar sama siapa pun Nao bakal bilang sama kak Al. JANJI... Sumpah!” Ucap Naomi menyodorkan jari kelingkingnya, yang di balas Darren dengan mengaitkan jari kelingkingnya ke jari tangan Naomi. “Sekarang ayo turun!” Darren sedikit berjongkok ketika sudah sampai di parkiran. “Kok sudah sampai... Cepat sekali, perasaan Nao tadi jaraknya jauh banget deh kak. Kaki Nao sampai pegal.” Keluhnya. “Tentu saja cepat, orang Kamu-nya di gendong sama kakak. Ya nggak berasa lah! Tapi kakak yang capek... kamu tambah berat aja.” Sahut Darren. “Nao gendut ya? Nao kan kecil nggak kayak gentong masak di bilangin berat sih!” Kesal Nao mengerucutkan bibir. “Emang... Baru sadar!” Jawab Darren santai. “Huaaa... Kakak jahat...” Suara tangis Naomi mulai pecah di Area parkiran. “Astaga... Malah mewek!” Darren menggaruk kepalanya yang tidak gatal, padahal dia tadi hanya menggodanya saja. “Sttt... Diam ya! Bisa-bisa nanti kakak di gebukin orang karena mengira mau culik kamu.” Tenangnya pada Naomi, membuat Naomi langsung terdiam. “Sudah... Nao nggak nangis lagi.” Cicit Naomi dengan mata yang mengedip lucu, membuat Darren sangat gemas lalu mengacak rambutnya. “Pintarnya... ayo sekarang kita pulang!” Darren membukakan pintu mobil untuk Naomi. *** Darren sedang berdiri di Balkon kamarnya, terlihat menyesap sebatang rokok di sebelah tangannya dan sebelahnya lagi dia gunakan untuk menumpuh badannya di Pinggir pagar balkon hingga badannya sedikit membungkuk. Tapi tiba-tiba saja seseorang dengan tangan mungilnya memeluk Darren dari belakang, dia hanya diam karena dia tau siapa pemilik tangan mungil itu. Darren kemudian mematikan rokok dan membalikkan badannya, dan benar saja... Dia adalah Naomi dengan sebelah tangan memeluk boneka kesayangannya Oddbods dan sebelahnya lagi memegang Ponsel. “Kenapa belum tidur hemm?” Tanya Darren lembut sambil mengelus pucuk kepala Naomi. “Temani Nao nonton Bubbles... Nggak bisa bobok, matanya Nao masih belum ngantuk.” Cicitnya. “Ayo...” Darren merangkul pundaknya Naomi dan membawanya masuk ke kamar, lalu Naomi naik ke Atas ranjang Darren di ikuti Darren setelahnya. Terlihat mereka sedang duduk bersandar di kepala ranjang dengan Naomi yang menyandarkan kepalanya di d**a bidang Darren, dengan kedua tangannya yang memeluk boneka kesayangannya. Sedangkan Darren memegang Ponsel Naomi yang menayangkan serial kartun favoritnya Naomi Oddbods, memang di usianya yang menginjak 20 tahun... Naomi lebih menyukai serial kartun di bandingkan drama korea ataupun film romantis ataupun horor. Apa yang menarik coba? Dari awal sampai selesai gak ngomong apa-apa, apa yang mau di dengar coba? Batin Darren, tapi dia tetap sabar menemani Naomi menonton meskipun dia lebih sibuk menonton ekspresi wajah Naomi yang baginya terlihat lebih menarik karena tiba-tiba saja tersenyum dan tertawa cekikikan ketika sedang menontonnya, hingga tak sadar dia begitu terpesona dan memuji Adik tirinya. Cantik... Tak butuh waktu lama Naomi akhirnya tertidur pulas dalam dekapan Darren, sebenarnya bukan Dia tidak bisa tidur tapi karena memang Naomi yang terbiasa tidur dalam dekapan Kakak tirinya. Baginya... Dekapan Darren merupakan tempat yang paling nyaman dan hangat yang pernah dia rasakan selain Ayahnya. Darren dengan hati-hati mengangkat Naomi ke Dalam gendongannya lalu memindahkan Naomi kembali ke Kamarnya, ini bukanlah pertama kali baginya bahkan hampir sering tapi entah kenapa dia tidak keberatan untuk melakukannya. Hatinya selalu tergerak tanpa ada paksaan bahkan hatinya terasa hangat dan nyaman ketika melakukannya, lalu dengan hati-hati Darren meletakkan Naomi di Atas ranjangnya karena takut membangunkan Adik tirinya dan menyelimuti Naomi hingga sebatas leher. “Good night Baby... Mimpi indah.” Ucapnya seraya mengecup dahi Naomi dengan sayang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN