“Dulu bersamamu adalah keterpaksaan dan tanggung jawab, tapi sekarang... Bersamamu adalah keharusan dan keterbiasaan... Karena tanpa dirimu aku merasa ada yang kurang dari diriku...”
Darren Alcander.
.
.
SETAHUN KEMUDIAN
Dalam sebuah ruangan yang tertata epic bergaya minimalis, terdapat 3 pria tampan sedang bercengkrama dan saling meledek. Tapi di tengah asyiknya perbincangan mereka tiba-tiba pintu ruangan itu di buka dengan kasar, dan masuklah seorang gadis mungil berambut ikal panjang.
“KAKAKKKKK...” Teriaknya, hingga ketiga Pria kece yang ada di dalam ruangan tersebut menutup kedua telinga mereka karena suara cempreng gadis itu.
“Bisa nggak? Nggak usah teriak! Budek telinga kakak.” Sarkas salah satu Pria yang tak lain adalah Darren.
“Maaf deh... Janji Nao nggak akan ulangi lagi.” Ucap gadis itu yang langsung duduk di pangkuan Darren, sembari menjewer kedua telinganya sendiri dengan kedua tangannya dengan raut wajah menyesal. Kebiasaan yang sering Naomi lakukan jika dia merasa bersalah dan meminta maaf pada orang-orang yang di sayanginya.
Darren yang melihat adik tirinya yang tak lain adalah Naomi merasa sangat gemas dengan ekspresinya yang baginya terlihat sangat imut, kemudian mencubit hidungnya pelan.
Sedangkan kedua pria lain yang ada di sana hanya memperhatikan Darren dengan raut wajah heran dan penasaran, pasalnya Darren terlihat begitu berbeda. Ya.. Arion dan Dino heran kenapa Darren tidak merasa risih ketika adik tirinya bermanja dan duduk di pangkuannya bahkan dia tersenyum gemas melihat adik tirinya itu, padahal dulu dia selalu risih jika di dekati oleh perempuan ataukah dalam setahun belakangan ini ada hal yang mereka tidak tahu karena jarangnya mereka bertemu.
FLASHBACK
Malam hari Darren terlihat duduk menyendiri di teras Rumah untuk menghilangkan penat setelah seharian sibuk dengan acara Akad nikah Bundanya dan juga Adik tirinya yang terus menempelinya.
“Ren...” Panggil seseorang menepuk pundak Darren, membuat sang empunya menoleh mendongakkan kepalanya.
“Om... Kenapa belum tidur? Lebih baik Om masuk, Bunda pasti lagi nungguin. Ini kan malam pertama kalian...” Sahut Darren setengah menggoda Ayah tirinya itu.
“Masih kaku aja Ren, belajarlah memanggil saya dengan sebutan Papi seperti Naomi...” Balasnya tersenyum melihat Anak tirinya yang terlihat masih membatasi diri dengannya.
“Papi tidak akan memaksa kamu menerima Papi untuk menggantikan sosok Ayah kandungmu karena selamanya dia akan tetap menjadi orang tuamu... Tapi ijinkan Papi memberikan kasih sayang selayaknya seorang Ayah kepada anaknya meskipun kita tidak ada ikatan darah.” Lanjutnya.
“Belum terbiasa, tapi aku akan mengusahakannya. Sekarang Om... Em maksudku Papi kembali saja, Bunda pasti nungguin.” Sahut Darren dengan datar, meskipun dalam hatinya dia merasa terharu dengan ucapan Papi tirinya yang terlihat begitu tulus tapi Darren tetaplah Darren yang tidak begitu bisa mengekspresikan perasaannya.
“Bunda kamu sudah tidur, dia terlihat lelah sekali... Jadi Papi tidak tega membangunkannya. Biar kamu Bunda istirahat... ”
“Ren... Sebelumnya Papi minta maaf atas kelakuan Naomi yang sedari tadi mengganggumu, Papi tahu kamu risih dan tidak nyaman tapi Papi harap kamu memakluminya. Memang sejak kecil dia menginginkan Saudara agar dia tidak kesepian, seperti yang kamu tahu almarhumah Istri Papi sakit dan tidak bisa memberikan Papi keturunan lagi. Papi juga sibuk mengurusi Mami Naomi yang sakit dan juga Perusahaan di waktu yang bersamaan, jadi... Naomi sering merasa kesepian seorang diri di Rumah hanya di temani pembantu dan pengasuhnya.” Lanjut Papi Pandu.
“Hemm... Nggak papa, hanya belum terbiasa aja.” Jawab Darren singkat.
“Boleh Papi minta tolong sesuatu?” Tanya Papi Pandu dengan lembut yang membuat Darren menoleh menatap Papi tirinya dengan penuh tanda tanya.
“Tolong ambil tanggung jawab Papi untuk menjaga Naomi, cuma kamu yang bisa Papi andalkan untuk menjaganya. Dia butuh sosok yang kuat untuk menjaga dan melindunginya, karena seperti yang kamu tau, Naomi sosok perempuan yang lemah.” Pinta Papi tirinya.
“Darren nggak bisa berjanji... tapi akan Darren usahakan.” Jawab Darren.
“Terima kasih... Papi masuk dulu, kamu juga Ren cepatlah tidur! Papi tahu kamu juga pasti lelah.” Ucap Papi tirinya bangkit dan menepuk pundak Darreni lalu dia melangkahkan kakinya masuk ke dalam Rumah.
Flashback. Off
“Ehmm...” Dino berdehem, dia serasa jadi obat nyamuk karena melihat kemesraan mereka.
“Eh... Ada kak Dino sama kak Arion. Kakak dari tadi di sini ya? Maaf Nao nggak sadar.” Cengir Naomi dengan polosnya, membuat Dino dan Arion menggelengkan kepalanya.
Busyet dah... Dia kira kita penampakan apa? Segede ini nggak kelihatan. Astagfirullah... Nih anak kelewat polos apa kelewat onengnya sih?
Cibir Dino yang hanya bisa dia ucapkan dalam hati karena Dino tidak ingin jadi samsak hidup karena mencibir Adik tiri Darren secara terang-terangan, secara kan bodyguard-nya sangar macam Herder.
“Dedek Babang Dino yang caem... Yang imutnya pake banget, Babang saranin tuh periksa matanya kali aja rabun. Sampe Babang Dino yang gantengnya nauzubillah ini nggak kelihatan.” Celetuk Dino, membuat Darren mendelik tidak terima.
“Mata Nao nggak minus kak Dino, kan Nao nggak pake kacamata. Tapi kadang suka buram juga kak Dino kalau kelamaan baca buku... Nanti deh Nao periksa, Kak Dino pintar banget sih kalau kasih saran. Makasih Kak...” Kata Naomi berbinar sambil mengacungkan jari jempolnya ke arah Dino, Sang empunya hanya bisa menepuk jidatnya. Darren dan Arion hanya bisa tersenyum melihat Dino kalah telak dengan kepolosan Naomi.
“Sudah.. Nggak usah pedulikan dia, Nao kesini mau apa hemm?” Tanya Darren menatap lembut Naomi.
“Oh iya lupa... Nao minta uang kak Al, tadi di kampus teman-teman Nao ngajakin ke Mall tapi dompet Nao ketinggalan di Rumah jadi Nao mampir ke sini aja deh.” Jelasnya.
“Terus ke sininya sama siapa, di antar teman kamu?” Tanya Darren lagi.
“NO...” Naomi menggelengkan kepalanya lucu.
“Nao ke sini naik taksi Kak, tadinya mau pinjam sama satpam kantor untuk bayar taksinya tapi satpamnya nggak punya uang, cuma pegang Dua puluh ribu doang Kak, kasihan kan? jadinya Nao pinjam deh sama Kakak resepsionis.” Lanjutnya bercerita, membuat Darren yang sekarang gantian menepuk dahinya.
Astaga... Malu-maluin banget deh Adek gue, masak Anak pemilik Perusahaan malah hutang sama Resepsionis kantor. Untung sayang...
Batin Darren.
“Ayo Kak... Nao sudah di tungguin teman-teman Nao di Mall!” Rengeknya pada Darren yang membuat Darren mengeluarkan dompet dari saku celananya dan menyerahkan black card padanya.
“Kok Nao di kasih ini sih kak Al? Kan gak bisa di buat beli apa-apa.” Kata Naomi mengerucutkan bibirnya, membuat Darren mendelik.
Gak bisa di buat beli apa-apa katanya? Isinya saja bisa di buat membeli seluruh isi Mall.
Batinnya.
“Emang kamu mau beli apa sih? Kok belinya gak bisa pakai kartu Kakak.” Tanya Darren dengan sabar.
“Beli cimol...” Sahut Naomi cepat, membuat Dino langsung terbahak.
“Eh Nao... Ngapain jauh-jauh ke Mall buat beli cimol, Noh... Di Depan kantor sini juga ada yang jualan cimol.” Sahut Dino.
“Ish... Kak Didin, Nao kan juga mau nonton film sama teman-teman.” Sahutnya sambil mengerucutkan bibir.
“Ya salam... siapa lagi Didin?” Kesal Dino.
Habis V sekarang Didin, gak elit banget dah...
“Sudah... Ini uang kakak, udah sana berangkat suruh antar Asisten kakak. Nanti pulangnya jangan lupa hubungi Kakak! Biar nanti Kakak jemput.” Kata Darren menyerahkan uang seratus ribuan sepuluh lembar.
“Kebanyakan Kakak... Nao cuma mau beli cimol sama Nonton bukan mau beli Mall-nya!” Protes Naomi lalu mengambil Dua lembar saja dari tangan Darren.
“Makasih Kak... Nao berangkat dulu, jangan kangen Nao ya!” Ucapnya lagi dengan bibir yang mengecupi wajah Darren, lalu bangkit berdiri dan pergi dari ruangan kakak tirinya.
“Nao sayang kakak...” Pekik Naomi sebelum menutup pintu.
“Wow... Benar-benar membagongkan!” Celetuk Dino tersenyum miring ke arah Darren yang masih menatap ke arah pintu.
“Kamu-Aku?” Ejek Arion menyunggingkan sudut bibirnya.
“LO BERDUA BISA DIAM NGGAK? Kalo masih mau ngoceh, tuh... Pintunya di sana. Kalian boleh keluar!” Ketus Darren melengos membuat kedua sahabatnya itu tertawa.
“Lo kok tahan sih? Menye-menye gitu Anaknya, kalo Aileen sih udah gue telentangin di sofa.” Ucap Arion setelah meredakan tawanya.
“Iya loh... Atau jangan-jangan! Sekarang lo jadi belok karena kelamaan menyandang status JODI lo.” Sahut Dino enteng yang tentu saja membuat Darren langsung mendelik.
“GUE MASIH NORMAL BAMBANK!” Hardik Darren.
“Tapi gue harus realistis, yang ada di hadapan gue itu Adik tiri gue. Gak mungkin lah gue makan Adik tiri gue sendiri, bisa kena omel Bunda gue..” Omelnya lagi dengan kesal.
“Kasihan, kasihan, kasihan...” Cibir Dino.
“Sabar Bro...” Sahut Arion yang membuat Darren kembali tenang karena Arion tidak ikut membullinya, tapi setelah mendengar ucapan Arion selanjutnya membuat Darren kembali kesal.
“Tapi modus dikit nggak apalah, daripada Naomi di modusin cowok lain. Secara kan tuh anak polos banget... Rugi bandarlah kalo udah di grepe orang lain, lo yang susah-susah jagain cowok lain yang ambil enaknya.” Lanjutnya mengompori Darren.
“Tangan gue KRAM nih, lama nggak nabok orang!” Sarkas Darren menatap tajam mereka yang bisa-bisanya memberi ajaran se sat padanya.
“Woi... santai Bro.” Sahut mereka terkekeh.