"Apapun penyesalan kamu saat ini, Airin ... tidak merubah segalanya yang sudah terjadi. Aku sangat menyayangkan semua ini. Seharusnya kamu lebih menyadari dari bahaya yang akan terjadi setelah meninggalkan anak saya!" Qenna terpancing emosi. "Maafkan saya, Nyonya." Ucap Airin tertunduk. Manik mata Qenna berputar penuh. Tidak memperdulikan Airin, Qenna mendarat duduk. Menutup wajahnya yang berlinang air mata, buliran bening itu kembali berjatuhan. Sedetik kemudian, ia merogoh ponsel yang ada di dalam tas jinjingnya. Menekan nomor sang suami yang berada jauh darinya saat ini. "Assalamualaikum, Mas," ucap Qenna, berusaha meredam tangisannya. "Walaikum salam," sahut Armand dari balik ponsel."Baru saja aku mau mengabarkan kalau aku sudah menuju rumah, sayang." "Syukurlah kalau gitu. Mas u

