Qenna kembali menekan nomor telepon rumah. Menempelkan benda pipih itu di telinga, berharap ada jawaban segera. Tidak lama kemudian .... "Assalamau'alaikum bi," ucap Qenna."Kenapa lama bangat angkat telepon saya?" "Maaf Nyonya, tadi bibi ada di belakang. Ada apa Nyonya?" tanya Bi inem, ia tadi tidak mendengar telpon rumah bunyi. Kebetulan ia ingin menaruh baju yang sudah di setrika ke kamar Qiara. Saat ia melewati ruang keluarga, Bi Inem baru mendengar telepon rumah berbunyi. "Bi, Qiara lagi di mana?" tanya Qenna, keningnya berkerut penuh. Perasaannya teraduk-aduk. Dia tidak pernah merasakan firasat aneh ini sebelumnya. "Oh, non Qia sama Airin lagi ada di taman dekat danau Nyonya. Non Qia ingin bermain di sana," sahut bi Inem, sebab sampai sekarang mereka belum juga pulang. "Sudah lam

