Sindy membantu Qenna menaruh gelas kotor ke dapur. Qenna menduduki kursi sambil menyandarkan punggungnya. Tidak lama kemudian Sindy menghampiri Qenna. "Sin ..." "Huummm ..." Sindy melirik Qenna."Apa?" "Kamu pasti tahu apa yang di katakan dokter ketika itu," Qenna menatap lekat manik mata Sindy."Boleh aku tahu, dokter bilang apa setelah memperiksa aku?" Sindy tertegun. Tampak berpikir sejenak, jawaban apa yang pantas untuk pertanyaan Qenna. Sebab, ia juga ragu mengatakan hal sedikit intens itu."Tidak bicara apa, cuma bulang kamu kecapean." "Itu sih yang aku dengar," sambungnya. Keheningan menjeda dua perempuan. Tidak ada yang mau jujur pada Qenna. ia tidak puas dengan jawaban Sindy. Sorotan mata sahabatnya itu terbaca menyembunyikan sesuatu. Sindy tidak mampu membalas sorotan mata sah

