Rafa membaringkan Qiara di tempat tidur. Menyelimuti sebagian tubuh anak perempuan itu. Sejenak matanya terpana akan wajah lelap sang anak. Sebelum kemudian, sudut matanya teralihkan dengan gambar yang menempel di dinding. Lukisan itu menggambarkan ayah, ibu serta seorang anak di tengah mereka. Perlahan langkah kaki Rafa mendekati lukisan tangan sang anak yang tampak tidak begitu bagus. Namun, penuh makna. Rafa tersenyum kecut. Hatinya tersentuh oleh lukisan itu. Lukisan yang menggambarkan keluarga yang bahagia. Tetapi yang di rasakan sang anak, tidaklah seperti yang ada di gambar tersebut. Inilah yang ada dalam pikiran Rafa. "Maafkan Papa, sayang," gumamnya pelan. Saat hendak pergi, ekor mata Rafa kembali tertarik untuk melihat bingkai foto yang menempel di dinding. Rafa menolehkan t

