"Maaf ya, Mas, gara-gara aku kamu harus bolak-balik Jakarta-Malang," ujar Qenna bersalah. Ia butuh waktu untuk ikut dengan sang suami. Entah kapan bayangan trauma ini akan hilang dalam dirinya. Qenna juga tidak enak hati pada sang mertua yang berada jauh dari anak satu-satunya mereka. "Tidak sayang, jangan menyalahkan diri kamu. Kamu doa kan saja, biar Mas cepat selesai dengan masalah di kantor. Setelah itu Mas akan kembali," Armand merangkul pinggang Qenna. "Bagaimana Mama dan Papa di sana, Mas? Mereka terpisah jarak dengan kamu. Aku enggak enak dengan mereka," "Semua ada waktunya, sayang. Mama dan Papa bisa kemari. Ngumpul bersama kita," Armand tidak ingin membebani Qenna dengan pikiran kalutnya itu. "Tidak, Mas! Kalau seperti itu aku merasa egois pada orang tua kamu. Aku janji, perl

