Bab 06 Kontrak Perjanjian

1332 Kata
"Harus pakai kontrak perjanjian juga?" Aku tercengang, bahkan Mas Aska sudah menyiapkan surat perjanjian disaat aku belum memutuskan ingin membantunya atau tidak. Saat ini kami berdua masih berada di cafe. Pria itu mengangguk. "Kalau gak ada kontrak perjanjian takutnya nanti ditengah jalan kamu tiba-tiba pengen berhenti dari sandiwara ini. Silahkan kamu baca dulu, ada persyaratan yang harus kamu penuhi selama jadi pacar aku." "Cuma pacar pura-pura." Aku mengkoreksi ucapan terakhir Mas Aska. "Iya, itu maksudnya." Aku mulai membaca isi kontrak. Poin pertama adalah aku sebagai pihak kedua wajib menemani piihak pertama yang tak lain adalah Mas Aska dalam acara sosial, keluarga, dan perusahaan yang memerlukan kehadiran pasangan. Kedua, selama kontrak berlangsung pihak kedua dilarang memiliki hubungan romantis dengan pria manapun, syarat ini tidak berlaku untuk pihak pertama. "Persyaratan kedua gak adil banget," ucapku sedikit kesal. "Kalau aku nggak pacaran gimana aku mau cari calon istri coba?" "Tapi masa aku ga boleh?" "Nanti kalau kamu pacaran sama cowok lain dan kelihatan sama keluargaku, sandiwara kita ini bisa ketahuan, sedangkan aku kan bisa jaga diri." Ah, tetap tidak adil rasanya. Kalau begini malah keenakan Mas Aska. Aku melirik Mas Aska tajam seraya menggurutu di dalam hati. "Ngapain kamu natap aku kayak gitu? Kalau kamu nggak suka yaudah kita pacaran sungguhan aja, lalu kamu jadi calon istri aku." "Enteng banget, ya, mulut Mas Aska ngomongnya. Emangnya Mas pikir hubungan itu main-main dan bisa dijalin tanpa melibatkan perasaan. Bukannya tadi Mas Aska yang bilang tidak ingin menikah dengan gadis pilihan kakek Mas karena tidak mencintanya, Mas takut pernikahan tersebut tidak bahagia. Lalu apa bedanya kalau aku yang jadi calon istri Mas Aska? Bukannya kita juga tidak saling cinta?" tuturku. Mas Aska tiba-tiba bengong dan menatapku dalam. Apa ucapanku barusan membuatnya sadar? Baguslah, dengan begitu dia tidak akan berani lagi bercanda soal perasaan. Setelah dipikir-pikir lagi poin kedua sepertinya juga tidak begitu berat bagiku. Toh, aku juga belum ada niatan untuk menjalin hubungan dengan pria lain. Aku melanjutkan membaca. Poin ketiga tertulis, kontak fisik diperbolehkan hanya saat keadaan mendesak. "Kontak fisik apaan ini maksudnya? Aku bukan pelampiasan nafsu Mas Aska, ya." Kuucapkan itu dengan pelan, tapi tegas, tak ingin orang lain mendengarnya. Tuk! "Aww!" Mas Aska tiba-tiba menyentil kepalaku. "Pikiranmu benar-benar kotor. Kontak fisik yang dimaksud di sini seperti pegangan tangan atau pelukan jika itu dibutuhkan saat di depan keluargaku. Nggak mungkin kan kita jaga jarak di depan mereka, bisa-bisa mereka tidak percaya kalau kita pacaran." Aku mengusap-usap keningku sembari menunduk malu. Oke, lanjut ke poin berikutnya tertulis bahwa kedua belah pihak wajib menjaga kerahasiaan hubungan ini dan tidak membocorkan isi kontrak kepada siapapun termasuk teman atau keluarga. Jika terjadi kebocoran informasi, pihak yang melanggar akan dikenakan sanksi sesuai perjanjian. Dan poin terakhir, kontrak ini berlaku selama enam bulan. Apabila salah satu pihak membatalkan kontrak, maka pihak tersebut wajib membayar denda sebesar 100 juta rupiah. Aku ternganga membaca nominal yang disebutkan, banyak sekali. Aku menurunkan map tersebut secara perlan. Mataku masih melebar karena keterkejutan. "Gila… ini seperti drama-drama di TV.” “Dan kita akan menjalankannya seperti profesional, bukan drama.” "Serius ini akan berhasil, Mas?” Mas Aska hanya mengangguk. “Tanda tangan saja, Salsa.” Aku menghela napas panjang, jari-jariku sedikit gemetar saat memegang pena. Keputusan besar ada di tanganku–menjalani enam bulan penuh kebohongan bersama pria yang dulu pernah dirumorkan berpacaran denganku. "Oh iya, Mas, kalau lagi di kantor boleh nggak kita bersikap biasa saja, seperti orang yang bukan pacaran. Kalau bisa, sih, mereka nggak usah tahu kita pacaran." Mas Aska terdiam sejenak, seolah sedang berpikir. "Baiklah, aku setuju kalau kamu nyamannya begitu. Nanti aku juga bakal jelasin ke keluarga aku kalau selama ini kita pacarannya diam-diam sehingga karyawan kantor nggak ada yang tahu tentang hubungan kita." Aku mengangguk-angguk setuju dengan ucapan Mas Aska. *** Pagi ini aku sudah tenggelam dalam tumpukan data dan laporan yang harus diproses. Meja kerjaku terasa penuh dengan dokumen dan monitor yang menuntut perhatian penuh. Aku duduk menatap layar, fokus, berusaha mengatur semuanya agar rapi sebelum rapat nanti. Aku berhenti sejenak lalu menoleh ke sekitar, semua orang tampak sibuk. Terkadang aku merasa bersyukur di tempatkan di divisi ini. Tim pengembangan produk kami memang kompak, solid, dan masing-masing punya tanggung jawab yang jelas. Ada Mas Fattah yang sering memberi ide cemerlang, Bima yang selalu mendalam dalam analisis, Mbak Sinta yang detail, Laras yang tak bisa diam dan selalu bikin suasana hidup, dan beberapa anggota lainnya, serta Erika yang sangat ramah dan asik jadi manajer kami. Tiba-tiba, aku dikejutkan oleh suara Laras yang datang dengan langkah riang. Wajahnya berseri-seri, penuh semangat. Sepertinya ada yang membuatnya begitu senang hari ini. “Gila, Salsa! Aku tadi disenyumin Pak Aska. CEO kita itu, senyum!” Laras berkata dengan nada yang tak bisa disembunyikan, terkesan sangat terharu. "Dia ramah banget hari ini. Biasanya kan... agak ketus." Aku mendongak sebentar. "Pak Aska? Pak Aska mana tuh yang bisa senyum?" tanyaku sedikit menggoda. Laras terkikik. “Sumpah, dia tuh beda banget deh hari ini. Tadi aku ketemu di lift, senyumnya manis banget! Jujur, hari ini dia emang beda, deh.” "Nggak mungkin, ah. Kamu salah lihat kali," ucapku. Biasanya Mas Aska jarang tersenyum, dia selaku jutek. Atau jangan-jangan dia sedang dalam tahap mencari calon istri, makanya jadi murah senyum sehingga Laras ikut disenyumin. "Yah, nggak percaya. Beneran woi! Hari ini auranya itu beda banget, sangat ramah dan makin ganteng. Aku jadi makin betah kerja di perusahaan ini, tiap hari bisa cuci mata." Laras cekikikan. Mas Fattah yang ada di meja sebelah, sambil mengetik, menimpali, “Kalian tuh, jadi asik kalau ngomongin Pak Aska. Ngomong-ngomong, kita ada rapat kecil siang ini kan? Siap-siap aja.” “Siap, Mas,” jawabku sambil tersenyum. Aku lalu mengusir Laras agar kembali ke mejanya. "Salsa, tolong antar berkas ini ke ruang Pak Aska." Erika menghampiri meja kerjaku dan meyerahkan map biru. Aku melihat berkas itu dengan ragu. “Kenapa bukan Laras aja yang antar?” jawabku mencoba mengelak, sambil menatap Laras yang sedang tersenyum lebar. Laras langsung angkat tangan, "Eh, aku nggak masalah, kok, Bu Bos disuruh antar dokumen." "Laras, selesaikan pekerjaan kamu," perintah Erika. Dia lalu menatapku dengan tatapan tegas. "Salsa, kamu yang antar. Ini dokumen penting, ada proposal, dan juga data performa produk terbaru yang Aska minta. Harus sampai tepat waktu." Aku menghela pelan. “Ya udah deh.” Aku memungut berkas itu dan melangkah keluar dari meja. Namun, sebelum aku benar-benar meninggalkan ruangan ini aku melirik ke belakang dan melihat Erika senyum-senyum. Sepertinya dia memang sengaja menyuruhku! Setibanya di depan ruangan Mas Aska aku mengetuk pintu pelan. "Masuk!" Aku membuka pintu perlahan setelah mendengar suara Pak Aska. "Permisi, Pak. Erika menyuruh saya mengantar berkas yang bapak minta." "Taruh di meja saya," jawab Mas Aska tanpa mengalihkan pandangan dari laptop di hadapannya. Aku mengangguk dan melakukan seperti apa yang Mas Aska perintahkan. "Saya permisi dulu, Pak." "Saya belum menyuruh kamu pergi." Mas Aska melepas kaca matanya lalu menoleh ke arahku. "Silahkan duduk, ada hal penting yang ingin saya sampaikan." "Baik, Pak." Aku lalu duduk di hadapan Mas Aska. Mas Aska tiba-tiba berdiri lalu berjalan ke arah pintu dan menguncinya. "Nanti malam apa kamu sibuk?" Aku menggeleng. "Bagus. Keluargaku ingin bertemu kamu nanti malam." Mataku terbelalak, jantungku kini berpacu kencang. Nyaliku seketika menciut karena disuruh bersandiwara di hadapan keluarga Mas Aska malam ini. "Mas Aska yakin, Mas? Gimana kalau kita ketahuan." "Tidak usah gugup, Sal. Santai aja, anggap saja kita beneran pacaran. Justru kalau kamu gugup yang bikin orang tua aku curiga tentang hubungan kita." Kalimat yang diucapkan Mas Aska sangat lembut, sehingga membuat dadaku berdebar, apalagi saat dia menyebut kalimat 'beneran pacaran' seolah menyuruhku menganggap hubungan kami ini serius. "Iya, Mas," jawabku singkat. "Oke, hanya itu saja. Nanti malam pukul tujuh aku jemput kamu ke kos." Aku mengangguk. "See you tonight, Darling." Aku mematung. Jantungku merasa seperti ingin melompat keluar ketika Mas Aska memanggilku sayang. Pria itu tidak gugup sama sekali. "Aku lagi latihan biar akting kita nanti kelihatan natural di depan keluargaku," ucap Mas Aska diiringi kekehan kecil. Kurang ajar memang! Suka sekali pria itu membuat jantungku terkejut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN