Bab 07 Penghinaan

1472 Kata
Aku berdiri di depan cermin kecil di kamarku, menatap pantulan diriku sendiri. Dress navy selutut yang kupakai terasa pas di tubuhku, dengan potongan sederhana namun elegan. Aku memilih mengenakan kalung perak kecil dengan liontin berbentuk bulan sabit, dan rambutku kubiarkan tergerai dengan sedikit sentuhan curly di ujungnya. Aku menarik napas dalam, memastikan semua terlihat sempurna. Aku tahu ini hanya pura-pura, tapi entah kenapa aku tidak ingin mengecewakan Mas Aska. Dia sudah mempercayaiku untuk menjadi pacar pura-puranya, jadi setidaknya aku harus tampil layak di hadapan keluarganya. Ponselku tiba-tiba bergetar di atas meja. Aku meraihnya dengan cepat. 'Aku udah di depan kos kamu.' Pesan singkat dari Aska. Aku meraih clutch kecilku dan melirik cermin sekali lagi sebelum berjalan keluar. "Ini cuma pura-pura, Salsa," gumamku pelan, mencoba menenangkan diri. Tapi, entah kenapa aku merasa gugup. Bertemu keluarganya, berpura-pura menjadi pacarnya—semuanya terasa seperti beban yang tak pernah kubayangkan akan kupikul. Aku berusaha mengabaikan kegelisahan yang merayap di dadaku, mengingatkan diriku bahwa semuanya pasti akan berjalan lancar sesuai ucapan Mas Aska. Saat aku telah keluar kos aku melihat Mas Aska sudah berdiri di dekat mobilnya. "Mas Aska?" panggilku, mencoba memecahkan keheningan. Mas Aska menoleh dan langsung terdiam menatapku. "Kenapa, Mas?" Tatapan pria itu tidak biasa sehingga aku berpikir ada yang salau dengan penampilanku. "Enggak, enggak apa-apa." Mas Aska berdeham, nada suaranya terdengar sedikit gugup. Tatapan matanya yang sempat kosong kini kembali fokus, meski aku tahu ia masih menyembunyikan sesuatu. "Penampilan aku aneh, ya? Apa aku ganti baju dulu?" Aku jadi ikutan panik. Aku tak ingin membuat malu Mas Aska di hadapan keluarganya. "Nggak usah, nggak usah. Kamu ... cantik banget." Mas Aska tiba-tiba menggaruk tengkuknya dengan canggung. Deg! Aku merasa pipiku memanas. Seketika aku jadi salah tingkah. Cara Mas Aska menatap dan memujiku membuatku gugup. Rasanya ini baru pertama kali dia memujiku cantik. Wajar saja, soalnya dulu saat masih kuliah aku jelek dan jerawatan. "A-ayo berangkat," ajak Mas Aska. Tindakan Mas Aska selanjutnya membuat dadaku makin berdebar, padahal dia hanya membukakan pintu mobil untukku. "Makasih, Mas." Mas Aska hanya mengangguk singkat sambil tersenyum. *** Begitu turun dari mobil mulutku sedikit ternganga, terpukau oleh rumah Mas Aska. Rumah itu luar biasa besar. Dengan pilar-pilar tinggi yang menjulang, lampu-lampu terang memantulkan kilauan dari dindingnya yang putih. Halamannya luas, mungkin tiga kali ukuran rumahku—mungkin lebih. Ada taman yang tertata rapi, lengkap dengan air mancur kecil di tengahnya. Aku tahu Mas Aska orang berada, tapi aku tak pernah menyangka sejauh ini. Rumahnya seperti keluar dari majalah properti mewah yang tak pernah bisa kubeli. Sementara itu, bayangan rumahku yang kecil dan sederhana tiba-tiba berkelebat di pikiranku—dindingnya yang mulai memudar, suara pintu yang berdecit, dan ruang tamu yang hampir menyatu dengan dapur. Rasanya seperti bumi dan langit. Aku menelan ludah, mencoba menyembunyikan keterkejutanku agar tidak terlihat terlalu norak di depan Mas Aska. "Ayo masuk, Sal!" "Tunggu, Mas. Aku tiba-tiba nervous." Tanganku keringat dingin, aku kehilangan rasa percaya diri. Mas Aska sepertinya telah salah memilih orang untuk menjadi pacar pura-puranya. Walau kami hanya bersandiwara, tapi keluarga Mas Aska akan menganggap kami benar-benar pacaran. Bagaimana jika mereka marah karena memacari gadis yang tidak selevel dengan mereka? "Kamu tenangin diri dulu. Tarik napas yang panjang, lalu buang perlahan." Aku mengikuti instruksi Mas Aska. Kuambil napas perlahan, lalu membuangnya pelan, kulakukan berkali-kali. "Udah tenang sekarang?" "Dikit." "Tidak usah takut, Sal. Keluarga aku nggak makan orang, kok. Rileks ...." "I–iya, Mas." Mas Aska tiba-tiba memberikan lengannya yang membuatku bingung. "Kita harus gandengan, biar keluargaku semakin percaya kalau kita pasangan kekasih." Aku bengong, otakku mendadak berhenti bekerja. Aku menatapnya, lalu mataku beralih ke tangannya yang masih terulur. Mas Aska tiba-tiba mengambil inisiatif. Ia perlahan-lahan meraih tanganku, meletakkannya dengan lembut di telapak tangan pria itu. Napasku tertahan, dadaku kini berdebar semakin kencang. "Sekarang, ayo kita masuk," ucap Mas Aska. Aku hanya mengangguk-angguk saja. Kami berdua melangkah beriringan memasuki rumah. Sesampainya di dalam kami langsung disambut oleh keluarga Mas Aska; ada Pak Bagaskara, Pak Arga dan istrinya Ibu Betari. Aku dapat menyaksikan wajah terkejut Pak Raharga saat menatapku. Aku langsung menunduk, tak berani menatap mata ayah bosku itu. "Kenalin ini Salsa pacar Aska, Mah, Pah, Kakek," tutur Mas Aska. Kami berlima kini duduk di sofa. Aku dan Mas Aska duduk bersebelahan. "Jadi selama ini Salsa pacar kamu?" Pak Arga masih tidak bisa menyembunyikan wajah terkejutnya. "Kamu kenal dia, Arga?" Pak Bagaskara menyela. "Salsa ini salah satu karyawan di perusahaan kita, Pah." Aku memberanikan diri mendongak lalu melirik ke Pak Bagaskara. Pria dengan rambut putih itu menatap tajam ke arahku. "Kamu jangan coba-coba untuk membohongi kakek, Aska!" Mati aku! Sandiwara kami pasti akan terbongkar. Kelihatannya Pak Bagaskara adalah orang yang tidak mudah untuk ditipu. "Aska tidak berbohong, Kek. Kami berdua memang pacaran." "Tidak mungkin. Kamu baru dua minggu di Jakarta, dan belum sampai satu minggu kamu bekerja di perusahaan. Tidak mungkin kalian bisa jatuh cinta secepat itu." Mas Aska terdiam, dia pasti sedang mencari alasan, sedangkan aku sejak tadi memang tidak berani untuk membuka suara. "Kami sudah lama saling kenal. Salsa dulu juga anggota UKM Robotik di kampus. Sebelum Aska melanjutkan S2 ke Singapore kami berdua berpacaran, tapi sempat putus karena tidak sanggup LDR. Begitu kembali ke Indonesia, Aska langsung menemui Salsa dan mengajaknya balikan karena Aska masih mencintainya." Aku menatap Mas Aska terkejut. Ternyata benar kata pepatah 'Satu kebohongan akan melahirkan kebohongan-kebohongan yang lain'. Aku dan Mas Aska tidak pernah berpacaran sebelumnya, hubungan kami berdua murni hanya teman, lalu tiba-tiba dirumorkan berpacaran. Sekarang Mas Aska menganggap rumor tersebut seolah benar, padahal itu hanya gosip. "Apa pekerjaan orang tuamu?" Kakek Mas Aska menatapku. "Apapun pekerjaan orang tua Salsa tidak akan menghentikan niat Aska untuk menikahinya, Kek." Nada Mas Aska pelan, tapi penuh penekanan. "Jangan menyela ucapan kakek, Aska. Kakek tidak bicara denganmu!" Perdebatan Mas Aska dan kakeknya terasa makin panas. Bibirku tiba-tiba kelu untuk bicara. Kakek Mas Aska kembali melirikku. "A–yah saya hanya seorang kuli bangunan, dan ibu saya bekerja sebagai penjahit rumahan, Kek." Suaraku sedikit bergetar. Nyatanya aku tak mampu untuk menyembunyikan kegugupan ini. Wajah Pak Bagaskara terlihat makin merah padam setelah tahu pekerjaan orang tuaku. Dia jelas tak setuju cucunya berpacaran denganku. Inilah alasanku mengapa tak ingin menjalin hubungan dengan pria kaya, termasuk juga tidak berani untuk jatuh cinta pada Mas Aska. Status kami jauh berbeda sehingga hanya akan menciptakan konflik nantinya. "Kakek tidak setuju kamu menjalin hubungan dengannya, Aska! Sudah benar kakek menjodohkan kamu dengan Zea, tapi kamu malah memilih gadis ini! Seharusnya kamu cari tahu dulu bibit dan bobot gadis yang ingin kamu pacari, bukan malah sembarangan menyukai orang." “Salsa adalah wanita yang baik. Apa salahnya dia hanya karena latar belakang keluarganya?” “Salahnya?” Pak Bagaskara menekankan suaranya, memukul tongkatnya ke lantai marmer. “Keluarga ini memiliki reputasi, Aska! Kamu adalah CEO Djaya Technology. Apa kata orang jika tahu cucu saya menjalin hubungan dengan perempuan dari keluarga seperti itu?” “Mas Aska…” Salsa akhirnya membuka mulut, namun suaranya nyaris tidak terdengar. Ia ingin menghentikan debat itu, tapi kata-katanya seakan terhenti di tenggorokan. Aska berbalik ke arah Salsa, menatapnya lembut. “Salsa, kamu tidak perlu takut. Kamu tidak salah apa-apa di sini.” “Salsa tidak salah. Tapi kamu yang salah, Aska!” Suara Pak Bagaskara kembali memenuhi ruangan. “Kamu punya tanggung jawab besar! Seharusnya kamu memilih pasangan yang setara, yang bisa menopang posisimu. Bukan seseorang yang hanya akan menjadi beban!” "Cukup, Pah. Tidak perlu mengekang, Aska. Jika Salsa benar-benar wanita yang Aska cinta, biarkan saja mereka bersama." "Mas Arga benar, Pah. Biarkan Aska yang menentukan jodohnya sendiri." Bu Betari ikut menimpali. Aku terkejut saat kedua orang tua Mas Aska membela anaknya, tadinya aku pikir mereka akan berada di tim Pak Bagaskara. "Kakek terlalu terpaku pada status sosial. Seandainya kakek sadar bahwa Salsa adalah perempuan yang baik, pekerja keras, dan penuh dedikasi. Dia pantas mendapatkan penghormatan, bukan penghinaan seperti ini. Salsa tidak akan pernah menjadi beban. Justru dia adalah alasan kebahagianku, yang membuatku tidak menyerah untuk memperjuangkannya. Aku mencintainya, Kek. Dan aku yakin dia pasti juga akan mendukungku dengan caranya sendiri" Ini hanya sandiwara, tetapi kenapa aku merasa perkataan Mas Aska itu tulus? Tidak Salsa! Kamu tidak boleh bawa perasaan, jangan sampai kamu jatuh cinta pada Mas Aska. “Bagaimana cara dia mendukungmu? Dengan menjahitkan kemeja untukmu? Dengan uang receh hasil kerja ayahnya di proyek pembangunan?” Tubuhku gemetar. Perkataan itu menusuk hati. Tanganku mencengkram ujung dress erat-erat. Aku menggigit bibir bawah, mencoba menahan air mata yang kini mulai menggenang di pelupuk mata. Tidak, aku tidak boleh menangis di sini. “Aku tidak akan pernah mau menikah dengan Zea! Kalau kakek tidak bisa menerima Salsa, aku akan tetap bersamanya. Karena aku tahu dia adalah orang yang tepat untukku, terlepas dari apa pun latar belakang keluarganya,” tutur Mas Aska. Pak Bagaskara mendesah panjang, namun tidak berkata apa-apa. Sementara itu, Mas Aska meraih tanganku, menggenggamnya erat, lalu mengajakku keluar dari rumah ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN