Selama di mobil Aska aku lebih banyak diam, menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong. Pikiranku sibuk berkelana, memikirkan ayah dan ibu, lalu memikirkan ucapan kakek Mas Aska tadi. Itu menyakitkan, aku sungguh sedih saat mendengar ada orang yang menghina pekerjaan kedua orang tuaku. Walau ayahku hanya kuli bangunan dan ibuku penjahit rumahan, tapi uang yang mereka hasilkan halal.
Aku seketika membayangkan bagaimana selama ini kedua orang tuaku berjuang untuk membesarkan aku dan kedua adikku dengan susah payah. Mereka rela bekorban dan tak pernah mengeluh.
Salah satu kenangan yang paling membuatku sedih adalah ketika usiaku 13 tahun. Aku masih ingat hari itu dengan sangat jelas. Langit di minggu pagi saat itu begitu mendung, seolah ikut menanggung beban keluargaku. Ayah baru saja kena tipu, gajinya selama dua minggu bekerja di proyek belum diberikan oleh mandor. Sedangkan ibu sudah seminggu tak mendapat pelanggan yang menjahit di tempatnya. Keluarga kami tak memiliki uang sepeser pun.
Ayah pergi sejak subuh untuk mencari mandor yang membawa kabur gajinya. Aku duduk di pojok rumah, memperhatikan ibu yang berusaha keras menyembunyikan kesedihannya. Karin, adik perempuanku yang masih berusia tujuh tahun saat itu menangis, memegangi perutnya yang kosong. "Ibu, aku lapar…" suaranya bergetar, penuh harapan. Tapi ibu hanya bisa mengusap kepalanya, mengucapkan kata-kata, "Sabar, Nak. Sebentar lagi kita makan."
Aku tahu ibu berbohong. Di rumah tidak ada beras atau sesuatu yang bisa dimasak.
Sementara itu, Dhava, adik laki-lakiku yang saat itu berusia 9 tahun, tak terlihat sejak pagi. Aku mengira dia pergi bermain seperti biasa, mengabaikan kenyataan pahit yang harus kami hadapi. Tapi ketika siang tiba, dia berlari pulang ke rumah dengan wajah bahagia sambil memamerkan 3 ekor lele.
"Ibu! Mbak! Lihat ini! Aku dapat ikan di sungai!" serunya riang. Tubuhnya basah kuyup, wajahnya kotor, tapi ada kebanggaan di sana.
Aku tidak tahu harus tertawa atau menangis. Dhava yang baru berusia sembilan tahun rupanya tidak bermain, dia berusaha mencari makanan untuk kami.
Siang itu, dengan tiga ikan hasil tangkapan Dhava, kami bisa makan. Hanya ikan tanpa nasi. Tapi setidaknya, perut kami tidak kosong.
Ayah baru pulang ketika malam tiba. Wajahnya lelah, langkahnya berat, tapi di tangannya ada dua bungkus nasi yang sudah dingin. Ayah bilang ada orang baik yang memberinya. Beliau menyuruhku dan kedua adikku untuk makan bersama.
Aku menatapnya heran. "Ayah sama Ibu?"
Ayah tersenyum tipis. "Kami sudah makan tadi."
Demi kami bertiga, ayah dan ibu berbohong. Mana mungkin mereka makan kalau sejak siang tidak ada apa-apa di rumah? Aku menoleh ke ibu, berharap menemukan jawaban, tapi ibu hanya mengangguk, seolah membenarkan perkataan ayah.
Aku menelan ludah, menatap nasi bungkus di depanku. Hatiku terasa sesak.
"Ayah… Ibu…" suaraku lirih. Aku mendorong nasi itu ke arah mereka. "Makan bareng, ya?"
Ayah dan ibu terdiam. Aku tahu mereka ingin menolak, tapi aku tidak akan membiarkan mereka melewatkan makan lagi. Akhirnya, dengan tatapan penuh haru, ayah mengambil sedikit nasi, ibu juga. Kami makan bersama malam itu.
Aku masih bisa merasakan rasa nasi bungkus itu sampai sekarang. Bukan karena enaknya, tapi karena aku tahu betapa berharganya makanan itu untuk kami sekeluarga.
"Salsa." Suara Mas Aska menyadarkanku dari lamunan. Mataku kini berkaca-kaca. Aku menarik napas panjang, lalu menghembuskan perlahan, berusaha menahan diri agar tak menangis.
Karena terlalu lama melamun, aku tak sadar bahwa mobil Mas Aska sudah berhenti di depan Kiyomi Kitchen, ini merupakan salah satu restoran Jepang favoritku. Aku sering datang ke sini bersama Erika.
"Kenapa kita di sini, Mas?"
"Aku tahu kamu belum makan malam. Ayo kita makan dulu, setelah itu aku antar kamu pulang."
"Aku nggak lapar, kita langsung pulang saja."
"Aku tidak akan mengantar kamu pulang dengan perut lapar," tegas Mas Aska, dia lalu keluar dari mobil lebih dulu. Mau tak mau aku menyusulnya.
"Saya pesan ramen dua dan green tea-nya dua, Kak," tutur Mas Aska pada waiters.
Aku belum mengatakan apa-apa, tapi Mas Aska langsung memesan, dan yang lebih mengejutkan itu adalah menu favoritku. Apakah ini kebetulan aku dan Mas Aska memiliki selera yang sama.
"Mas Aska pernah ke sini sebelumnya?"
"Belum. Ini pertama kali, kebetulan lewat sini jadi sekalian mampir."
Aku cuma mengangguk-angguk setelah itu menoleh ke jendela kaca, mengamati orang-orang yang ada di luar.
"Aku minta maaf atas perkataan kakek."
Aku memgalihkan pandang, menatap Mas Aska yang duduk di hadapanku. Wajahnya terlihat merasa bersalah, padahal bukan dia yang menyakitiku, Mas Aska justru membelaku di hadapan kakeknya.
"Tidak apa-apa, Mas. Lupain aja," ucapku, tersenyum tipis sebentar, lalu kembali memasang wajah datar. "Sepertinya rencana ini tidak berhasil, kakek Mas Aska tidak menyukaiku. Jadi percuma aku jadi pacar pura-pura Mas Aska. Apa kita akhiri saja sekarang sandiwara ini?"
"Sesuai kontrak perjanjian, tidak bisa di akhiri sekarang. Aku harap perkataan kakek tadi tidak membuatmu menyerah. Kakekku memang begitu, omongannya kadang menyakitkan, tapi sebenarnya dia juga baik. Kita hanya perlu merayu dan mengambil hatinya, agar dia bisa menerimamu."
Ekpresiku datar, menyembunyikan kekecewaan. Awalnya aku pikir rencana Mas Aska ini sangat mudah untuk dilakukan–hanya menperkenalkanku sebagai pacarnya lalu kakeknya membatalkan perjodohan, tapi ternyata malah tidak sesuai dugaanku. Sekarang aku diminta untuk membujuk kakeknya, aku bahkan ragu dia akan menerimaku sebagai pacar cucunya. Rasanya berat bagiku ntuk melanjutkan sandiwara tersebut. Namun, aku sudah terlanjur tanda tangan kontrak dan tak bisa berhenti, kini aku bingung apa yang harus aku lakukan.
Setelah dipikir-pikir harusnya saat itu aku menolak tawaran Mas Aska untuk membantunya. Bodoh sekali, mengapa aku begitu mudah luluh dan kasihan padanya sehingga mau membantunya bersandiwara? Aku menyesalinya sekarang. Aku takut sandiwara ini akan membangkitkan perasaan yang sudah lama aku buang, lalu menyakitiku untuk yang kedua kali.
***
Setelah sampai di kos aku langsung merebahkan tubuh di ranjang. Wajah ayah dan ibu terlintas di kepalaku. Aku rindu mereka, sangat. Rasanya aku ingin berhenti bekerja, kembali ke Semarang, lalu tinggal bersama ayah dan ibu.
Menjadi anak pertama perempuan terkadang berat, aku merasa dituntut oleh banyak hal. Orang tuaku memang tak pernah menuntutku untuk menjadi orang sukses, tapi melihat keadaan ekonomi keluargaku membuatku tak bisa diam saja, aku harus sukses agar ayah dan ibu bisa berhenti bekerja. Aku tak ingin keluargaku kembali hidup susah, selama ini aku berjuang sangat keras hanya demi mereka.
Sayangnya, tidak selamanya pundakku selalu merasa kuat. Terkadang aku juga lelah. Keinginan untuk berhenti bekerja hanya berakhir di kepalaku. Hidup susah membuatku harus terus sadar diri, aku harus tetap bekerja.
Aku melirik jam di ponsel menunjukkan pukul setengah sepuluh. Rindu pada ayah dan ibu tak dapat lagi kutahan. Aku menelepon nomor ibu.
Aku senang karena ibu mengangkat panggilan.
"Hallo, Bu. Ibu dan ayah apa kabar?"
"Hallo, Salsa. Kami berdua baik. Kamu baik-baik saja, Nak?" tanya ibu, nada suaranya terdengar khawatir.
"Salsa baik-baik aja, Bu."
"Syukurlah, ibu cemas karena kamu nelpon malam-malam. Ibu pikir kamu kenapa-napa di sana."
Bibirku bergetar. Apa ini yang dinamakan ikatan batin antara ibu dan anak sangat kuat? Ibuku seolah merasakan bahwa aku sedang tak baik-baik saja, aku sedang bersedih saat ini, tapi aku terpaksa berbohong agar tidak membuat ibu khawatir.
"Ayah, ini Salsa nelpon. Katanya ayah rindu putri ayah."
"Mana, Bu. Ayah pengen ngomong." Itu adalah suara ayah.
"Salsa, ayah kangen banget sama kamu. Dari kemarin ayah pengen nelpon kamu, tapi takut kamu lagi sibuk. Ayah juga gak berani nelpon kamu malam-malam karena takut ganggu waktu istirahat kamu, kamu pasti capek karena seharian bekerja. Ayah punya kabar baik, rumah kita udah selesai di renovasi."
Air mataku yang sejak tadi menggenang di peluluk mata luruh begitu saja, antara sedih dan juga terharu karena impian terbesarku untuk merenovasi rumah kami sudah tercapai. Selama ini aku sering menyisihkan sedikit gajiku dan menabungnya untuk renovasi rumah, aku mulai menabung saat masih bekerja di Semarang.
"Syukurlah kalau udah selesai di renov. Akhirnya rumah kita sekarang udah bagus."
"Terima kasih,ya, Nak. Semua ini berkat kamu."
"Sama-sama, Ayah. Ini juga kewajiban Salsa."
"Kamu nangis?"
Air mataku mengalir makin deras, tak mengerti kenapa aku jadi cengeng begini. Rasanya seperti ada batu besar yang menghimpit pundakku. Sempat terlintas di pikkranku, mengapa takdir hidupku seberat ini?
"Dikit, Yah. Salsa rindu rumah, kangen ayah, ibu, dan adik-adik juga," kilahku. Aku tak bisa berbohong karena ayah pasti merasakan suaraku yang bergetar.
"Rasanya nggak mungkin kalau cuma kangen doang kamu sampai nangis. Apa ada hal yang mengganggu pikiranmu?"
"Nggak ada, kok, Yah. Salsa di sini baik-baik aja, cuma kangen kalian makanya nangis."
"Kalau kamu capek kerja dan kepengen pulang, berhenti saja bekerja di Jakarta. Kamu bisa pulang ke Semarang. Selama ini kamu kerja keras demi keluarga kita, Ayah tahu kamu pasti sangat lelah."
"Salsa masih kuat, kok. Sayang gajinya kalau Salsa resign, di sini gajinya lumayan besar dan lingkungannya juga gak toxic."
"Tidak usah menipu ayah, jika memang capek kamu bisa istirahat dulu di rumah. Impian kamu punya rumah bagus udah tercapai, kamu tidak perlu gila kerja lagi, beban kamu udah gak ada. Ayah dan ibu masih kuat, kok, biar kami berdua saja yang kerja. Lagian uang yang selama ini kamu kirim selalu disisihkan sedikit demi sedikit dan di tabung sama ibu, sekarang sudah terkumpul 15 juta, rencananya kami berdua mau buka usaha."
"Ayah kamu benar, Sal. Kamu tak perlu lagi memikirkan tentang ekonomi keluarga kita dan juga biaya kuliah adik-adik kamu. Si Dhava sekarang sudah semester akhir dan bentar lagi juga lulus, kalau untuk biaya kuliah Karin saja, ayah dan ibu Insya Allah sanggup. Sekarang ekonomi keuarga kita sudah lumayan membaik, Nak. Semuanya berkat kamu."
"Salsa masih ingin bekerja, Yah, Bu. Lagian bosen juga kalau seharian Salsa cuma di rumah aja. Biaya kuliah Dhava dan Karin biar Salsa saja yang tanggung, ayah dan ibu tidak usah bekerja lagi." Karin pernah meneleponku dan mengatakan kalau ayah mulai sering sakit-sakitan, padahal usianya masih 56 tahun, mungkin itu adalah efek karena pekerjaannya yang terlalu berat diusianya yang mulai tua.
"Ayah dan ibu takut kamu jadi lupa diri kamu sendiri karena terlalu sibuk kerja. Usia kamu sudah 25 tahun, tapi karena sibuk kerja kamu tak punya waktu untuk mencari pasangan. Selama ini kamu udah banyak menderita, Nak. Sekarang ayah dan ibu kepengen lihat kamu menikah dan hidup bahagia," tutur ibu.
"Salsa belum minat menikah, Bu. Lagian umur Salsa belum terlalu tua."
Perkataan ibu membuatku makin sedih dengan diriku sendiri. Aku berpikir, apa ada pria yang tertarik padaku? Selama ini aku belum pernah berpacaran karena tak ada satupun pria yang mendekatiku. Mungkin ada satu ketika aku kelas tiga SMA, tapi itu cuma main-main karena pria itu hanya ingin memanfaatkanku untuk mengerjakan tugas sekolahnya, untung saja aku tahu tentang niat buruknya sehingga kami tidak jadi berpacaran.
Sejak itu aku trauma dan selalu merasa rendah diri. Aku tidak percaya jika ada pria yang mencintaiku, dan sepertinya itu benar, terbukti sampai sekarang aku masih jomlo.
Lalu bagaimana aku akan menikah jika pasangan saja tidak punya? Aku juga tidak ingin asal memilih jodoh. Aku hanya ingin menikah dengan pria yang mencintaiku, tapi sayangnya aku belum menemukannya.