"Pagi Mbak Salsa. Mau berangket kerja, Mbak?"
Aku yang sedang memakai helm menoleh ke sumber suara dan melihat Rere, penghuni di kamar di sebelahku, gadis itu terlihat rapi.
"Pagi, Re. Iya, Nih. Kamu mau ke kampus?"
"Iya, Mbak. Berangkat sendiri aja, Mbak?"
Aku sedikit terkekeh, basa-basi jenis apa itu, Rere seperti tidak ada topik pembicaraan lain saja. "Ya iyalah, kan biasanya juga sendiri. Emangnya mau bareng siapa lagi?"
"Siapa tahu dijemput pacar Mbak yang ganteng itu." Gadis yang usianya masih 19 tahun itu terkikik. Sedangkan aku memasang ekspresi kaget sekaligus heran.
"Pa–pacar ...."
"Nggak usah disembunyiin lagi, Mbak. Aku udah tahu kok Mbak Salsa punya pacar ganteng. Semalam saat aku pulang aku lihat cowok di depan kos kita. Saat aku tanya dia lagi ngapain, katanya lagi nunggu pacar namanya Salsa. Serius, pacar Mbak ganteng banget dan kelihatannya baik juga. Kalian serasi, aku doain kalian langgeng sampai pelaminan."
"Iyakah?" Senyumku tiba-tiba saja mengembang saat Rere menyebut aku dan Mas Aska serasi. Betapa beruntungnya aku jika ucapan Rere itu menjadi nyata jika seandainya aku dan Mas Aska menikah.
Astaga!
Apa yang aku pikirkan? Berharap apa aku dari hubungan pacar pura-pura ini? Aku dan Mas Aska tidak mungkin bersama. Memiliki Mas Aska itu bagai mimpi di malam hari. Seperti bintang di langit, dia juga mustahil untuk aku miliki.
Sepertinya aku harus tahu batasan dan berhenti menghayal yang tidak-tidak, takutnya aku malah jatuh cinta pada Mas Aska dan kecewa lagi seperti dulu. Dulu saat ada rumor pacaran antara aku dan Mas Aska membuat kami berdua sering dicie-ciein, hal itu membuatku baper lalu sadar bahwa aku menyukai Mas Aska. Bagaimana aku tak terbawa perasaan? Setiap hari aku bertemu Mas Aska di kampus, kami sering mengobrol berdua ketika sama-sama tidak ada kelas. Dia juga baik dan sering membantuku. Kebaikannya yang paling aku ingat adalah ketika dia memberiku uang 500 ribu karena tahu aku belum makan. Saat itu beasiswaku belum cair, ayah dan ibu juga belum mengirim uang sehingga aku tak punya pegangan sepeserpun.
Aku tak tahu apa yang membuatku jatuh cinta pada Mas Aska. Entah karena kebaikan, ketampanan, atau kepintarannya? Tapi menurutku Mas Aska berbeda dengan pria lain. Dulu dia adalah sosok yang sempurna menurutku, sekarang dia agak sedikit ngeselin.
Namun sayangnya, perasaanku terpaksa aku kubur dalam-dalam saat merasa Mas Aska tidak nyaman dirumorkan berpacaran denganku. Saat itu aku langsung sadar diri, Mas Aska malu digosipkan pacaran dengan gadis jerawatan. Aku pun mulai menjaga jarak dari Mas Aska. Hatiku makin sedih saat Mas Aska juga menjauhiku. Dia bahkan tidak bilang kepadaku kalau dia akan melanjutkan S2 nya keluar negeri, kami benar-benar putus komunikasi.
Aku sempat membenci Mas Aska saat itu. Namun, beberapa hari kemudian aku sadar bahwa Mas Aska tidak bersalah, justru aku yang salah karena berani jatuh cinta padanya. Sejak saat itu aku menjadi perempuan yang selalu sadar diri dan tidak membenci Mas Aska lagi, aku mulai bisa menerima kalau dia tidak akan menyukaiku. Seiring berjalannnya waktu perasaanku pada Mas Aska sepertinya memudar, aku berharap rasa itu tidak pernah datang lagi.
"Udah, ah. Mbak mau berangkat kerja. Kamu buruan berangkat ke kampus. Semangat! Yang benar kuliahnya, jangan kebanyakan pacaran."
"Iya-iya. Lama-lama Mbak kayak ibu aku, cerewet banget." Rere memasang wajah cemberut, sementara aku nyengir lebar.
Diantara penghuni kos yang lainnya, Rere adalah yang paling dekat denganku. Usia gadis itu seumuran dengan adikku Karin, kehadiran Rere di sini sedikit membantu mengobati kerinduanku pada adikku.
***
Aku menghentikan motor karena ada lampu merah.
"Kak, aku lapar!"
"Sabar, ya. Nanti kita beli makan setelah botol bekasnya kita jual."
Aku melirik ke arah pohon besar yang terdapat dua anak kecil berbeda jenis kelamin di sana. Pakaian mereka lusuh, wajah kusam, mereka masing-masing membawa karung yang aku tebak berisi barang bekas.
"Aku sudah tidak kuat jalan, Kak. Aku capek dan lapar." Sang adik perempuan menangis.
"Yasudah, kamu istirahat di sini saja. Tunggu kakak di sini dan jangan ke mana-mana," ucap kakak laki-laki.
"Tapi aku takut sendirian."
Hatiku tiba-tiba teriris. Dibalik helm yang aku kenakan, aku meneteskan air mata. Aku merasa malu karena semalam mengeluh lelah bekerja, sementara di dekatku ada anak yang tidak bersekolah dan dipaksa bekerja dengan perut yang masih kosong. Nasibku lebih beruntung dari mereka, tapi mengapa aku tak bisa bersyukur.
Setelah lampu menunjukkan warna hijau aku memajukan motorku beberapa meter, memarkirkannya di pinggir jalan. Aku menghapus air mata lalu menghampiri kedua anak kecil tersebut.
"Dek, ini kakak ada uang untuk kalian beli makanan." Aku menyerahkan dua lembar uang ratusan.
Wajah kedua anak kecil itu berbinar, mereka berdua tersenyum lebar yang membuatku terharu karena melihat mereka senang.
"Terima kasih banyak, Kak."
"Sama-sama."
"Yeay, akhirnya kita bisa makanan." Sang adik berhenti menangis, dia terlihat senang karena akhirnya bisa membeli makan.
"Nama kalian siapa?"
"Aku Dimas, dan adik aku Nina."
"Oh iya, kalau kakak boleh tahu ayah dan ibu kalian ke mana?"
"Kami tidak punya ayah, sedangkan ibu kami sakit dan tak bisa jalan," jawab bocah laki-laki.
Mataku berkaca-kaca. Ya Tuhan, malang sekali nasib kedua anak ini. Andai saja aku punya banyak uang, mungkin aku akan membantu mereka lebih banyak lagi.
Karena harus pergi bekerja aku tak bisa mengobrol dengan kedua anak itu terlalu lama.
Kejadian barusan mengajarkanku untuk terus bersyukur. Aku tak boleh lagi mengeluh karena di luar sana ada hidupnya yang mungkin tidak seberuntung aku.
"Semangat, Salsa! Kamu nggak boleh nyerah, kamu harus terus berjuang demi ayah, ibu, Dhava dan Karin!" Aku teriakan itu dengan lantang untuk membangkitkan semangatku, tak peduli jika orang lain mendengar suaraku, toh aku tak kenal mereka, jadi tak perlu malu.
Tin!
Aku kaget, hampir saja jantungku copot karena suara klakson mobil yang mengagetkanku. Aku mengusap d**a lalu menoleh ke samping.
"Mas Aska! Ngagetin aja pagi-pagi!" sentakku pada Mas Aska yang berada di dalam mobil.
"Ngapain masih di sini? Awas ya kalau tekat aku pecat."
"Dari kemarin-kemarin pecat mulu ancamannya, tapi Mas Aska gak pecat-pecat aku, tuh. Aku tahu itu cuma ancaman aja, sebenarnya Mas Aska nggak mau kan kalau kehilangan karyawan serajin aku, sayang lho Mas kalau resign."
"Sayang banget ... yang kayak kamu cuma ada satu di kantor."
Aku salting dan tersenyum malu. "Makasih pujiannya."
"Aku belum selesai ngomong ... cuma ada satu yang gilanya kayak kamu di kantor. Yasudah, lanjutkan saja teriak-teriaknya. Bye-bye, Sayang ...." Mas Aska melajukan mobilnya.
"SAYANG-SAYANG KEPALA KAKEKMU PEYANG!"
Dasar bos kampret! Kulanjutkan dalam hati.
Mobil Mas Aska langsung berhenti, kepalanya menyembul dari jendala mobil, dia menatapku.
Waduh, gawat! Mati aku!
"Kamu sepertinya punya dendam pada aku dan kakekku? Ah, tidak. Bisa-bisanya kami berdua disumpah-serapahi oleh gadis yang sama."
"Kecoplosan, Mas. Maaf ...." Aku menampar mulutku pelan karena telah berbicara berlebihan.
Tidak baik sebenarnya menyumpahi orang tua, apalagi di depan cucunya. Seharusnya aku lakukan itu saat di belakang Mas Aska, hehe.
"Mulutmu sepertinya perlu dipasang rem."
Dih, keterlaluan sekali hinaannya.
"Emangnya mulut aku kendaraan?" gerutuku pelan. Sabar Salsa, Sabar ....
"Kali ini kamu aku maafkan. Lain kali jangan diulangi lagi. Kamu mau jadi calon cucu menantu durhaka karena menyumpahi kakekku?"
Hah?