Bab 10 Patah hati?

1800 Kata
Lama-lama aku semakin tidak tahan melanjutkan sandiwara dengan Mas Aska. Sebab bercandanya sering keterlaluan, bagaimana kalau aku baper? Emangnya dia mau tanggung jawab dengan menikahiku? Tidak, kan. Emang dasar bos menyebalkan! Aku berharap enam bulan cepat berlalu supaya sandiwara kami segera berakhir. "Kayaknya semua cewek single di kantor kita udah kena pelet Pak Aska, kecuali kamu dan Erika, soalnya kalian berdua yang terlihat biasa aja," ucap Bima teman divisiku. Kami berdua duduk bersebelahan di kantin kantor. Sebelumnya juga ada Laras bersama kami, tapi gadis itu selesai lebih cepat dan pergi duluan, katanya ingin ke toilet merapikan penampilan. Sebelum membalas perkataan Bima aku menoleh ke kiri-kanan depan-belakang, memastikan bahwa di sekitarku sedang tidak ada Mas Aska. Kan, gak lucu kalau aku ketangkap basah sekali lagi karena gosipin dia. "Bener banget. Lagian aneh banget mereka, bos menyebalkan kayak gitu kok dikagumi," ucapku pelan, takut di dengar karyawan lain. Di mataku, wajah tampan Mas Aska itu sudah tak dapat menolong untuk menutupi perilaku menyebalkannya. Aku bingung apa yang terjadi padanya selama tujuh tahun ini. Mengapa sekarang dia selalu menyebalkan, tapi kadang juga baik, sih. Tapi tetap saja aku kesal! "Hush! Walaupun kayak gitu, dia tetap bos kita." Perkataan Bima ada benarnya. Berdosa sekali mulutku karena sering mengatai Mas Aska di belakang. Pucuk dicinta ulam pun tiba! Baru saja aku dan Bima menggosipkan Mas Aska, orang itu langsung muncul. Dia duduk sendiri di meja yang tak jauh dari hadapan kami. Mengapa selalu ada dia di saat aku sedang menggosipkannya?! "Jangan bahas Pak Aska lagi, nanti dia dengar lalu kita dimarahin," tegur Bima. Aku mengangguk. Mengabaikan Mas Aska, lalu kembali fokus makan soto di hadapanku. Ngomong-ngomong hari ini aku tidak ke kantin bersama Erika karena dia sedang sibuk. Sehingga aku harus makan bersama Bima karena malas makan sendirian. Takutnya ada kamera yang diam-diam merekamku lalu dijadikan konten bersyukur. Hidupku memang sedikit menyedihkan, tapi aku belum siap untuk viral. "Sal, Pak Aska dari tadi natap kita tajam banget." Bima berbisik pelan dan tak berani lagi menoleh ke depan. Aku melirik sedikit ke arah Mas Aska. Bosku itu masih menatap ke arah kami, tatapannya seolah ingin memangsa kami hidup-hidup. Buru-buru aku menundukkan kepala karena takut dengan lirikannya. "Pekerjaan kamu nggak benar kali, makanya dia natap kita kayak mau makan orang." Aku menyalahkan pria yang duduk di sebelahku. "Nggak mungkin, lah. Selama ini pekerjaan aku selalu baik. Kamu mungkin?" "Nggak kayaknya, pekerjaan aku juga benar." Aku tiba-tiba terdiam dan baru menyadari sesuatu. Apa mungkin karena aku menyumpahi kakeknya tadi pagi sehingga Mas Aska masih marah? Tapi bukankah tadi dia juga bilang sudah memaafkanku. Aishh, kenapa pria itu susah sekali ditebak? Sebentar jutek, sebentar baik. Mood-nya mirip perempuan. "Atau jangan-jangan kamu ada hubungan sama Pak Aska, makanya dia natap kita tajam karena cemburu." Uhuk! Kuah soto yang baru saja masuk ke mulutku tersembur keluar. Untung saja di depanku sedang tidak ada orang, bisa berabe kalau dia terkena semburan dari mulutku. Aku masih terbatuk. Sementara Bima sedikit panik lalu memberiku minum. "Ngomong apa, sih, kamu? Ya enggaklah!" Aku menatap Bima karena dia telah berbicara sembarangan. Aku melirik sekali lagi ke Mas Aska, dia masih menatap kami. Ngapain, sih, begitu? Bikin aku merasa tidak nyaman saja. Rasa ingin aku congkel kedua bola matanya. Lama-lama aku semakin tidak tahan ditatap terus. "Apa lihat-lihat?" Ya Tuhan, mulutku kelepasan lagi. Langsung saja aku pukul mulut berdosa ini. Dasar Salsa bego! Entah kenapa kalau sedang kesal mulutku seperti tidak ada remnya. Aku langsung menatap Bima saat karyawan yang ada di kantin menoleh padaku, agar mereka mengira bahwa aku barusan berbicara pada Bima. Jangan sampai mereka tahu kalau barusan itu aku meneriaki bos. Aku tak tahu bagaimana ekspresi Pak Aska saat ini karena aku tak berani lagi melirik ke arahnya. "Aku tahu aku cantik, jadi kamu nggak usah natap aku begitu, Bim!" ucapku asal agar aktingku ini terlihat sedikit natural. Sementara Bima malah bengong menatapku. "Ciee, bakal ada yang cinlok, nih, di kantor. Semangat terus ngejar Salsanya, Bim," sorak salah satu karyawan. Lah, kenapa jadi begini? *** Begitu sampai di kos aku langsung merebahkan badan di ranjang. Aku berdecak, merutuki ucapanku di kantin kantor tadi siang. Ucapan Mas Aska sepertinya benar, mulut perlu dipasang rem supaya tidak kebablasan terus. Aku berharap ucapanku ke Bima tidak menimbulkan gosip berkelanjutan bahwa kami lagi PDKT. Capek banget aku tuh dicie-ciein mulu. Ting! Ponselku tiba-tiba berbunyi. 'Siap-siap, setengah jam lagi aku jemput' Hah? Aku kaget membaca pesan dari Mas Aska. Baru juga sampai di kos, tapi dia langsung menyuruhku siap-siap. Beliau sepertinya tidak membiarkan aku untuk istirahat sebentar setelah seharian bekerja. 'Mau ke mana, Mas? Aku capek' 'Gak usah banyak tanya. Selama kontrak kerja belum berakhir kamu harus nurut sama aku.' Kenapa sekarang dia jadi menyiksaku begini? Tiga puluh menit kemudian Mas Aska sampai di kosku. Dia langsung menyuruhku masuk ke mobil . Kamu berdua lalu pergi. Entah ke mana dia akan membawaku? Aku merasakan hawa dingin di mobil, suasananya sedikit merinding. Ada yang aneh dengan Mas Aska. Sejak aku masuk mobil, bosku itu tidak pernah berbicara, raut wajahnya terlihat seperti orang yang sedang bad mood. "Kita mau ke mana, Mas?" tanyaku, membuka topik agar suasana di mobil tidak hening dan kaku. Mas Aska menarik napas panjang lalu mengeluarkan perlahan, deru napasnya seperti orang yang sedang meluapkan kekesalan. "Ke mall. Temani aku mencari kado ulang tahun untuk Tiffany," jawabnya lembut. "Ohh." Aku mengangguk-angguk. "Mas Aska lagi badmood, ya?" "Tidak. Oh iya, sebaiknya kamu sering-sering baca kontrak perjanjian kita, apalagi persyaratan nomor 2 yang harus selalu kamu ingat." "Iya-iya, aku nggak akan lupa, kok. Mas Aska ngingetin kayak aku lagi ada hubungan romantis aja sama seseorang," ucapku. "Baguslah kalau kamu ingat." Beberapa menit kemudian aku menangkap Mas Aska tersenyum tipis. Tuh, kan. Heran aku tuh. Cepat sekali mood pria ini berubah. Kami berdua akhirnya sampai di mall. Cukup lama kami berjalan menelusuri tempat tersebut, hingga akhirnya aku menyarankan Mas Aska membeli boneka panda berukuran besar. "Boneka ini lucu, Mas. Aku yakin Tiffany pasti suka banget," ucapku seraya tersenyum gemas menatap boneka panda tersebut. "Bonekanya sama tinggi dengan kamu." Apakah itu ledekan? Aku tahu jika tubuhku ini pendek, hanya 151 cm, bahkan jika berdiri di sebelah Mas Aska tinggiku hanya sebatas d**a pria itu. Tapi haruskah Mas Aska berlebihan menyamakan tinggiku dengan boneka panda ini yang panjangnya mungkin tak sampai 100 cm. "Biarku pendek tapi nyaman dipeluk," balasku, mengutip lirik yang ada di lagu Miniatur karya Suara Kayu. "Aku nggak percaya sebelum buktiin sendiri." "Buktiin gimana, emangnya Mas Aska mau peluk aku?" Ups! Sepertinya aku salah bicara lagi. Apa yang sudah aku katakan? Bisa-bisanya aku bicara begitu pada bosku. Seketika aku dan Mas Aska sama-sama terdiam. Aku menunduk malu, tak berani lagi menatap Mas Aska. Aku menggaruk tengkuk yang tak gatal, merasa kikuk. Beberapa saatvkemudian aku merasakan telapak tangan mendarat di puncak kepalaku. "Dasar pendek," ucap Mas Aska sambil mengacak-acak rambutku pelan. Deg! Aku terdiam membeku, jantungku berpacu cepat. Perasaan apa ini? Rambutku yang diacak, tapi kenapa hatiku yang rasanya berantakan? Mas Aska terlihat biasa saja, dia lalu menuju kasir sambil membawa boneka panda tersebut, meninggalkanku yang masih termenung di tempat. Aku lalu menyusul pria itu. "Kamu mau beli sesuatu?" tanya Mas Aska ketika kami keluar dari toko boneka. "Hah ... emm belum kepikiran pengen beli apa, Mas. Kayaknya nggak ada." Jujur aku masih sedikit salah tingkah karena Mas Aska mengusap kepalaku. "Aska!" Kami berdua menoleh ketika mendengar suara perempuan melafazkan nama Mas Aska. Seorang perempuan cantik ... bukan, sangat cantik, berdiri di dekat kami. Aku sampai dibuat kagum dengan perempuan tersebut. Pasti biaya perawatannya sampai ratusan juta. Kulit gadis itu putih dan mulus, tubuhnya tinggi, rambutnya panjang dan indah, body-nya terlihat perfect mirip seperti gital Spanyol. Dia bbagaikan bidadari yang turun dari kayangan. "Dia siapa, Aska?" Aku tersentak ketika Mas Aska tiba-tiba menggenggam tanganku. "Dia Salsa, pacar aku." Aku tak menyangka kami akan bersandiwara di tempat ini. Ekspresi gadis di depanku berubah, seperti tidak suka melihatku dan Mas Aska bersama. "Aku mungkin bisa terima kalau kamu pacaran dengan gadis yang lebih cantik dari aku. Tapi dia .... Aku nggak yakin kamu udah move on dari aku lalu pacaran sama dia." Gadis itu mendengus. Dia melirikku dari atas hingga bawah, seolah meremehkan penampilan. Kurang ajar memang! "Kenapa? Kamu mau bilang aku nggak cantik? Aku nggak cantik aja Mas Aska lebih mau sama aku dibanding sama kamu, apalagi kalau aku cantik mungkin Mas Aska akan makin cinta mati sama aku!" Lagian sebenarnya aku ini nggak jelek-jelek banget, cuma kurang duit saja. Kekagumanku pada gadis tersebut seketika sirna. Percuma dia cantik kalau mulutnya berbisa. "Jangan bikin keributan di sini, Zea. Kamu nggak lihat di sini banyak orang? Tolong jangan ganggu waktu kencan kami!" Wajah perempuan bernama Zea itu terlihat merah padam. Tunggu! Bukankah itu nama yang pernah disebut kakek Mas Aska. Jadi dia gadis yang akan dijodohkan dengan Mas Aska. Zea pergi dengan wajah kesal. Hatinya mungkin panas karena Mas Aska mengatakan kami sedang kencan. "Udah pergi, lepas dong genggamannya." Mas Aska tersadar dan berhenti menggangdeng tanganku. "Maaf." "Jadi itu cewek yang mau dijodohin sama Mas Aska?" "Iya." "Tadi dia nyebut kata 'belum move on' emangnya Mas Aska pernah pacaran sama dia?" Mas Aska membalasnya dengan anggukan pelan. Semasa kuliah aku tak pernah mendengar Mas Aska pernah punya pacar. Apa mungkin gadis tadi adalah pacar Mas Aska saat dia tinggal di Singapore? "Dia mantan aku waktu SMA." Mas Aku melanjutkan, dia seolah bisa membaca pikiranku, jawabannya sesuai dengan pertanyaan yang ada di kepalaku saat ini. "Ohh." Aku tak lagi bicara. Entah kenapa hatiku tiba-tiba sedikit sedih. Pantas saja dulu Mas Aska malu digopsipkan pacaran denganku, ternyata tipe pria itu adalah gadis yang cantik dan kaya, wajar jika dulu dia menjauhiku. Tapi anehnya, jika Mas Aska memang malu punya pacar sepertiku, mengapa kini dia menjadikanku pacar pura-puranya padahal sudah jelas aku ini miskin dan tidak secantik mantannya. "Pasti mantan terindah, ya, Mas. Dia berhasil bikin Mas Aska jomlo sampai sekarang." "Kalau terindah nggak bakalan jadi mantan. Aku jomlo sampai sekarang bukan karena dia, tapi karena sudah ada gadis yang aku suka." Aku terkejut, lalu kenapa Mas Aska tidak menjadikan gadis yang ia suka itu sebagai pacar sungguhan. Mengapa harus memakai pacar pura-pura untuk menipu keluarganya? "Tapi sayangnya gadis yang aku suka, tidak menyukaiku," lanjut Mas Aska. Wajah pria itu seketika datar, tergambar kekecewaan di sana. "Menurutmu apa aku harus melupakan gadis yang aku cintai? Atau terus menyukainya?" "Cinta tidak bisa dipaksakan, Mas. Kamu hanya akan tersakiti jika gadis itu tidak akan pernah menyukaimu. Sebaiknya lupakan dia." Aku masih merasa tak percaya jika ada perempuan di dunia ini yang berani menolak pria se-perfect Mas Aska, padahal dia termasuk perempuan beruntung karena disukai oleh bosku ini. "Tidak bisa, aku tidak bisa melupakan gadis itu. Aku ingin tahu alasan mengapa dia tidak menyukaiku." Ya Tuhan ... ada apa dengan perasaanku sekarang? Kenapa aku merasa seperti kecewa? Tolong ... jangan biarkan hatiku jatuh cinta pada Mas Aska. Aku mohon.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN