Berbeda

2086 Kata
Nadin mulai tidak konsen dengan materi kuliahnya. Pak Arya menjelaskan beberapa hal di papan tulis. Nadin sama sekali tidak menyimak materi itu. Pikirannya masih terbayang-bayang tentang kematian Aisyah yang sangat tidak wajar baginya. Nadin menatap ke sekeliling kelas. Semuanya serius mendengarkan materi yang diberikan kecuali dirinya sendiri. Pandangan Nadin tertuju ke arah pintu keluar. Tiba-tiba Nadin merasa ada yang aneh. Suasana menjadi gelap dan sepi. Tak ada suara apapun yang dia dengar. Sunyi dan sepi yang ia rasakan. Nadin keluar dari kelas dan berusaha mencari seseorang untuk dia ajak bicara. Nadin terus berlari dan pandangannya seketika tertuju pada seorang wanita yang duduk di sebuah bangku. Nadin berlari dan ingin sekali bertanya padanya. "Mbak, kok tiba-tiba sepi, ya? Kemana semua orang?" Tanya Nadin. Perempuan itu menoleh dan alangkah terkejutnya Nadin. Sosok perempuan itu sangat menyeramkan. "Hentikan semuanya. Sebelum terlambat." Ucap perempuan itu. Nadin berteriak histeris di dalam kelas. Semua menatap aneh padanya. Alisa dan pak Arya menghampiri Nadin. Mereka berdua mulai menyadarkannya. "Nadin, sadar. Kamu kenapa?" Tanya Alisa. Nadin membuka matanya. Menatap Alisa dan Pak Arya yang sudah ada di depannya. Nadin melihat tangannya yang menggenggam sebuah bunga yang dia bawa dari mimpinya barusan. Dia yakin kalau barusan itu nyata. Setelah itu Nadin pingsan dan tidak sadarkan diri. Pak Arya dan beberapa orang lainnya membawa Nadin ke UKS. Mama Sisi sangat khawatir. Setelah Nadin sadar dia justru membawa Nadin ke tempat Sarah. "Ada apa?" Tanya Sarah. "Nadin sering sekali pingsan." Ucap Sisi "Kemari Nadin. Aku ingin memberi tahu kamu sesuatu." Kata Sarah. Nadin mendekat. Dan mulai menatap Sarah. "Kamu baik-baik saja. Hanya saja kamu belum terbiasa dengan semuanya. Makanya kamu mudah pingsan. Aku hanya bisa memberimu saran ketika kamu melihat sesuatu, jangan takut lagi. Setelah itu kami tidak akan pingsan lagi." Ucap Sarah. Nadin mengangguk. "Aku akan mencobanya, Tante." Ucap Nadin. "Panggil aku Aunty Sarah." Kata Sarah. "Baik Aunty Sarah." Kata Nadin. Sarah kemudian mengambil sebuah gelang dan memberikannya pada Nadin. "Ini untuk kamu. Aku rasa kamu membutuhkan ini. Gelang ini akan membuatmu tidak takut lagi. Aku berharap kamu tidak akan pingsan lagi. Ingat Nadin, kamu harus melawan. Jangan takut." Kata Sarah. "Baik, Aunty. Aku akan berusaha sebisaku." Kata Nadin menjawab. Nadin mulai memakai gelang pemberian Sarah. Dan dia mulai merasa tenang setelah memakainya. •• Nadin yang duduk santai di rumahnya mendapat telepon dari Alisa. Dia berkata pada Nadin kalau ponsel yang mereka perbaiki telah selesai. Nadin dengan segera datang ke tempat reparasi ponsel itu. Di sana juga Alisa telah menunggunya. Nadin sangat antusias saat tahu kalau sebentar lagi akan ada satu petunjuk untuknya. Nadin dan Alisa mencoba menghidupkan ponsel itu. Dan ternyata tidak sia-sia. Ponsel itu kembali hidup. Alisa mencari sesuatu dalam ponsel itu dan menemukan foto pak Arya. Namun di foto itu dia sendiri. Bukti itu kurang menguatkan kecurigaan mereka. Ponsel itu hanya berisi foto-foto Arya yang di ambil secara diam-diam. Kualitas foto itu juga masih dengan resolusi yang rendah. Ada foto saat Arya mengajar. Ada pula foto saat Arya berdiri di lapangan. Ada pula foto saat Arya duduk di sebuah Cafe. "Cuma foto doang, Lis. Itupun cuma foto pak Arya yang lagi sendiri." Ucap Nadin. "Sia-sia dong, kita." Ujar Alisa. "Gimana kalau kita ke rumah kamu lagi. Aku yakin kita akan dapat petunjuk lagi." Ajak Nadin. Alisa mengangguk. Mereka berdua kemudian pergi ke rumah Alisa. Sesampainya di sana, tujuan keduanya adalah gudang. Mereka saat itu mencari dalam keadaan gelap, jadi tidak bisa mencari petunjuk dengan teliti. Alisa memasuki gudang. Tercium bau debu yang menyengat saat pintu di buka. Nadin melihat sekeliling ruangan. Banyak tumpukan barang-barang yang tidak terpakai di sana. Alisa pernah berkata kalau Ayahnya sangat melarang Alisa memasuki gudang. Dia tidak tahu apa alasannya. Tapi Alisa ingkar dan memasuki tempat itu. Nadin mulai mencari kembali di tempat mereka menemukan ponsel rusak itu. Namun tidak ada sesuatu. "Nad, aku nemuin sesuatu." Kata Alisa. Nadin mulai mendekati Alisa. Melihat apa yang sahabatnya temukan. Selembar kertas yang ternyata sobekan diary milik Aisyah. 'aku sangat takut sekarang. Dia mengancam ku. Aku harus bagaimana? Aku sangat takut sekali." Lagi-lagi Nadin dan Alisa dibuat penasaran dengan lanjutan diary itu. Nadin dan Alisa kembali mencari sobekan itu lagi. "Kalian sedang apa disini?" Ayah Alisa datang dengan tiba-tiba. Wajahnya menunjukkan raut yang sangat kesal. "Keluar. Ayah sudah bilang sama kamu jangan pernah kesini lagi." Ucapnya. Pak Deon menatap Nadin dengan tatapan tajam. Dia pikir Nadin yang membuat Alisa seperti ini. Menjadi gadis pembangkang. "Maaf, yah. Mama salah naruh. Dia pikir tugas kelompok aku gak dipakai. Dia lalu naruh di gudang. Dan sekarang Alisa lagi nyari." Kata Alisa mengalihkan. Dia tidak mau Ayahnya marah. Dia tahu sendiri seperti apa Ayahnya itu saat marah. Kerap kali dia sering menyiksa ibunya. Alisa tidak tahu kenapa ibunya masih bertahan dengan sosok Ayah yang jahat sepertinya. Nadin dan Alisa keluar dari gudang. Mereka melihat Deon yang sekarang justru menggembok gudang dengan gembok yang baru. Akan sangat sulit bagi mereka untuk memasukinya lagi. Nadin dan Alisa akhirnya pergi dari sana. Nadin pamit untuk pulang karena setelah ini pak Arya akan datang. Ini kesempatan Nadin untuk menggali informasi. Nadin terduduk di depan meja rias. Tiba-tiba Nadin tersenyum. Matanya mendelik tajam. Nadin kemudian keluar kamar dan menemui mamanya. "Mama, tadi Tante Dina telepon. Suruh mama ke sana. Nadin lupa baru kasih tahu." Ucap Nadin. "Mama lupa, sayang. Mama janji ada acara. Kamu gapapa kan mama tinggal?" Tanya Sisi. Nadin tersenyum lalu mengangguk. Nadin menatap tajam saat mamanya pergi. Memastikan Sisi pergi dan meninggalkan rumah. Nadin kembali ke kamar. Membuka lemari pakaian. Memakai tank top dan hot pant. Tak lupa dia merias dirinya dan menyemprot banyak parfum ke tubuhnya. Bersamaan dengan itu, ada suara bel berbunyi. Nadin berdiri dan membukakan pintu. Tidak salah lagi, yang datang adalah pak Arya. Lelaki itu datang untuk kembali mengajari Nadin dan mengecek tugas yang minggu lalu dia berikan untuk Nadin. "Masuk, pak." Suruh Nadin. Arya tercengang saat menatap Nadin yang berpenampilan terbuka. Bahkan lebih terbuka dari sebelumnya. Arya duduk di ruang tamu sambil menunggu Nadin yang membuatkannya minuman. Arya menunggu sambil mengecek tugas yang dia berikan. Nadin termasuk pandai. Walau selama setahun tidak kuliah, nyatanya dia dapat mengejar ketertinggalannya. Arya tersenyum saat tahu tugas yang dia berikan di kerjakan dengan benar. "Tugas kamu benar semua." Ucap Arya. "Saya selalu mengerjakan tugas dengan benar, pak." Ucap Nadin. Dia tersenyum dan menatap Arya dengan intens. Namun entah kenapa ucapan Nadin mengingatkan Arya pada seseorang. Arya mulai menjelaskan materinya. Nadin sedari tadi hanya menatap Arya tanpa berkedip. "Nadin, kamu dengar penjelasan saya?" Tanya Arya. Nadin kembali tersenyum. "Kapan saya pernah menghiraukan bapak? Saya selalu memperhatikan bapak setiap waktu." Ucap Nadin. Kali ini Arya merasa ada yang aneh dengan ucapan Nadin. Bukan seperti Nadin yang biasanya. Arya mulai grogi. Di rumah itu hanya ada mereka berdua. Arya salah tingkah saat Nadin dengan sengaja menggodanya. "Kenapa, pak? Cuaca hari ini cukup panas, kan?" Tanya Nadin. Ya, memang cukup panas untuk Arya. Walau rumah Nadin sudah ber-AC, tapi Arya merasa panas karena ulah Nadin. Tiba-tiba Nadin mulai mendekati Arya sambil mengikat rambutnya. Tentu saja Arya dapat melihat leher jenjang Nadin. Tanpa aba-aba, Nadin tiba-tiba melumat bibir Arya dengan rakus. Perlakuan Nadin membuat Arya tercekat sesaat. Lelaki itu mendorong tubuh Nadin ahar menjauh darinya. Namun Nadin semakin menjadi. Dia tak bisa melepaskan Arya. Dan anehnya, Nadin seakan memiliki kekuatan karena nyatanya sat ini Arya tak bisa melepaskan diri. Nadin mengunci tubuhnya. Nadin terus memberikan ciuman yang menggebu. Bagaimanapun Arya seorang lelaki Normal. Di depannya saat ini adalah sosok Nadin yang cantik. Hasrat lelakinya tak mampu menolak. Perlahan Arya mulai membalas ciuman Nadin. "Ini yang kamu mau?" Ucap Arya. "Apa yang dulu tidak bisa aku lakukan, akan aku lakukan saat ini." Balas Nadin. Ciuman itu terjadi cukup lama. Bahkan Arya mulai menarik tali tank top Nadin. Mencium tengkuk Nadin yang mulus. "Nadin, Sadarlah." Nadin mendengar bisikan yang menyuruhnya agar sadar. Nadin mulai terdiam. Melihat Nadin yang diam, Arya juga menyadari kesalahannya. Bagaimanapun yang mereka lakukan salah. Nadin tiba-tiba menangis. Dia tersadar dengan apa yang dia lakukan. "Nadin, maafkan saya." Ucap Arya. Arya merasa bersalah. Dia sadar bagaimanapun Nadin adalah mahasiswanya. Dia tak sepatutnya melakukan itu. "Pak, tolong pergi sekarang. Tinggalkan saya sendiri." Ucap Nadin. Menyadari perubahan sikap Nadin, Arya berdiri. "Maaf, saya hilang kendali." Kata Arya. Arya lalu pergi dan meninggalkan rumah Nadin. "Kenapa kamu lakuin ini? Kenapa?" ucap Nadin marah. Nadin kembali menangis. Bajunya sudah hampir terbuka. Bahkan Nadin melihat bekas merah yang ditinggalkan oleh Arya di lehernya. Nadin segera ke kamar dan mencoba menutupinya dengan foundation. Dia takut mamanya menanyakan itu. Nadin sadar. Aisyah merasuki dirinya dan membuatnya melakukan itu. Nadin tidak tahu kenapa Aisyah melakukan itu. Nadin hampir saja kehilangan kehormatannya karena Aisyah. Dan untuk saat ini Nadin tidak dapat melihatnya. Dia ingin menanyakan itu semua pada Aisyah. Alasan apa yang membuat Aisyah sampai mendorong Nadin berbuat hal itu. Nadin juga mendengar dengan jelas ucapan seseorang yang menyuruhnya sadar. Jika tidak ada suara itu, Nadin tidak tahu lagi apa yang akan dia lakukan. bisa saja hal yang lebih jauh dari itu. Nadin berangkat ke kampus seperti biasanya. Sebenarnya dia tak mampu jika harus bertemu Arya sekarang. Namun bagaimanapun dia berkewajiban untuk tetap kuliah. Nadin kembali ke lantai atas. Berharap bisa melihat Aisyah di sana. "Kamu dimana? Tunjukkan dirimu." Ucap Nadin. Nadin duduk terdiam cukup lama. Bahkan agar bisa bertemu Aisyah, Nadin berangkat lebih pagi. Krek... Nadin mendengar sebuah suara. Menatap sumber suara. Menatap sosok perempuan yang dia cari. Nadin berlari dan mengejarnya. "Apa yang kamu lakukan kemarin? Kenapa kamu seperti itu?" Tanya Nadin. Sosok perempuan di depan Nadin menatap Nadin. "Aku mencintainya." Jawab sosok Arwah itu. "Jangan lakukan itu lagi. Kalau tidak, aku tidak mau membantumu lagi." Ucap Nadin. Belum selesai, tiba-tiba seseorang memanggilnya "Nadin." Arya datang dan memergoki Nadin yang sedang berbicara sendiri. Nadin menatap Arya. Setelah itu sosok di depannya telah pergi. "Nadin, masalah yang kemarin maafkan saya." Ucap Arya. Plaakk... Sebuah tamparan mendarat di wajah Arya. "Itu buat bapak karena sudah kurang ajar sama saya." Kata Nadin. Walaupun tahu dia yang memulai semuanya, Nadin tetap menyalahkan Arya. "Nadin, saya gak akan melakukan itu kalau bukan kamu yang memulainya." Ucap Arya. "Maaf, pak. Saya tahu itu. Tapi itu bukan kemauan saya." Ucap Nadin. "Lalu kemauan siapa?" Tanya Arya. "Setelah saya koma, saya sering kali melakukan sesuatu dibawah kesadaran saya sendiri." Kata Nadin. Arya terdiam. Jadi kemarin dia sudah salah paham mengira bahwa Nadin menaruh hati padanya. "Pak, saya harap bapak melupakan itu. Kita kayak biasanya aja kalau ketemu. Bapak tetap jadi dosen private saya seperti biasa." Kata Nadin. "Baiklah kalau itu mau kamu." Kata Arya. Arya hendak pergi namun Nadin segera mencegahnya. "Pak tunggu dulu. Saya mau bertanya sesuatu." Kata Nadin. "Apa?" Tanya Arya penasaran. "Apa benar disini, hanya kasus bunuh diri? Bapak kenal siapa Aisyah, kan?" Tanya Nadin. "Nadin, dengarkan aku. Jangan ungkit hal ini." Kata Arya lalu kembali meninggalkan Nadin sendirian. Nadin kemudian menemui Alisa. Menceritakan apa yang terjadi kepadanya kemarin. Alisa terkejut lalu menutup mulut. "Jadi hampir aja, Nad?" Tanya Alisa. "Hampir kalau aku gak dengar suara orang ngingetin aku." Kata Nadin. "Aduh, kayaknya mbak Aisyah semasa hidupnya cinta sekali sama pak Arya." Kata Alisa. "Entahlah, aku berharap ini gak akan terjadi lagi." Kata Nadin. "Nadin, cuma satu caranya. Kamu jangan menggoda pak Arya. Pura-pura mencintainya saja. Aku yakin kalau dia sudah mencintaimu dia akan mengatakan segalanya. " Kata Alisa. "Sebenarnya mau ku juga begitu. Tapi arwah Aisyah merasuki aku." Jawab Nadin. "Sabar ya, Nad. Aku yakin kamu bisa." Kata Alisa. Nadin tersenyum. Cepat atau lambat dia akan mengetahui segalanya. Misteri tentang kematian Aisyah apakah bunuh diri ataukah pembunuhan. ... Malam harinya Nadin menatap dirinya di cermin. Setelah ini dia akan segera tidur. Gelang yang Sarag berikan tempo hari ternyata mampu membuatnya bertahan. Nadin mulai mematikan lampu dan menarik selimut lalu tertidur. Dalam mimpinya, Nadin melihat bayangan masa lalu Aisyah. "Saya cinta sama pak Arya. Kenapa bapak tega sama saya?" Ucap Aisyah. "Tapi saya gak cinta sama kamu. Kamu salah paham terhadapku." Ucap Arya. "Kalau bapak menolak saya, maka saya akan bunuh diri." Ucap Aisyah. Aisyah menangis dan terus berlari. Menaiki lantai atas dan berdiri sambil menatap ke bawah. Setelah itu dia hendak melompat. Nadin terbangun dengan keringat dingin di sekujur tubuhnya. Nafasnya terus memburu seakan dia menyaksikan apa yang terjadi. Tiba-tiba Nadin menangis. Perlahan-lahan dia mendapatkan apa yang dia mau. Mendapat sebuah petunjuk yang dia inginkan. Namun ternyata Nadin kini tidak pingsan. Gelang itu benar-benar berguna untuknya. Nadin kembali ingin tertidur. Berharap agar dia kembali bermimpi. Karena Nadin tahu kalau dirinya berbeda. Nadin dan tubuhnya mulai bisa menerima segala hal yang terjadi. Ia juga menyadari dalam setia perbedaan ini adalah sebuah kelebihan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN