Ada Bukti

1205 Kata
Nadin tersenyum saat Alisa dengan bangganya mengatakan kalau dia menemukan sesuatu lagi. Ayah Alisa pergi keluar kota. Alisa memiliki waktu untuk membuka gudang itu lagi. Alisa tak menyangka jika di sana dia menemukan sebuah bukti baru. Aisyah memang mencintai Arya, namun Arya menolaknya. Alisa menemukan catatan diary Aisyah yang mengatakan kalau Dosen itu menolaknya. 'aku gak nyangka kalau cintaku di tolak. Aku pikir perhatian bapak selama ini karena mencintaiku.' Nadin tak bisa berfikir kembali. Mau tak mau dia harus segera mencari tahu kebenaran dibalik semuanya. Sore ini Nadin akan benar-benar menanyakan masalah itu pada Arya. Nadin kembali membuat alasan agar mamanya pergi dan meninggalkan dia berdua bersama Arya. "Nadin, setelah ini saya rasa kamu gak perlu dapat bimbingan belajar lagi. Saya rasa kamu sudah cukup bisa dan mampu." Ucap Arya "Kenapa, pak? Bapak gak mau ngajarin saya lagi? Apa karena kejadian minggu lalu?" Tanya Nadin. "Bukan karena itu. Saya sudah minta maaf masalah minggu lalu. Dan kamu juga sudah berjanji akan melupakan itu, kan? Saya hanya merasa kamu sudah bisa dan sudah paham semuanya." Ucap Arya. "Apa karena bapak suka sama saya?" Tanya Nadin dengan tiba-tiba. "Maksud kamu apa, Nadin?" Tanya Arya. "Pak, Saya suka sama bapak." Ucap Nadin membuat Arya terkejut. "Nadin, jangan bercanda." Ucap Arya. "Saya gak bercanda, pak. Apa saya ini gak cantik di mata bapak? " Tanya Nadin . "Kamu cantik. Tapi ini salah. Saya disini untuk mengajar kamu. Bukan memacari kamu." Kata Arya "Apa saya lebih cantik dari Aisyah?" Tanya Nadin tiba-tiba. "Sudah saya bilang jangan bahas dia. Asal kamu tahu, Aisyah itu sakit jiwa." Kata Arya. "Maksud bapak apa? Sakit jiwa bagaimana?" Tanya Nadin tak mengerti. "Ya, dia sakit jiwa." Ucap Arya terbata "Apa bapak tahu kalau dia bukan bunuh diri? Dia dibunuh." Ucap Nadin. "Maksud kamu apa, Nadin? Dia jelas-jelas bunuh diri." Ucap Arya. "Ada hubungan apa bapak sama dia?" Tanya Nadin. Arya mendesah frustasi. Sebelumnya Nadin mengeluarkan beberapa catatan diary Aisyah. Saat membacanya, Arya terkejut. "Dia memang gila. Dia salah mengartikan segalanya." Kata Arya. "Maksud pak Arya bagaimana?" Tanya Nadin kembali. Akhirnya Arya mulai menceritakan semuanya. Semua yang dia ketahui tentang Aisyah. "Dia juga mengambil jurusan yang sama dengan kamu. Awal saya dekat dengannya saat saya sering melihatnya menangis sendirian. Saya tahu dia depresi. Dia menyembunyikan sebuah masalah. Dia juga tertutup pada orang lain. Saya mendekati dia dan berharap dia akan terbuka pada saya. Tapi dia salah tentang saya. Dia malah mengartikan semuanya dengan cinta. Saat saya menjauhinya, dia mulai bertingkah aneh. Dia meneror saya dan keluarga saya. Bahkan dia menganggap kakak dan keponakan saya itu istri saya. Dia pikir saya menolaknya karena saya sudah berkeluarga. Saya semakin yakin kalau dia mengalami halusinasi." Jelas Arya panjang lebar. "Bapak tahu kalau Aisyah hamil saat kejadian itu?" Tanya Nadin. "Apa? Hamil?" Tanya Arya kaget. "Iya, dia hamil tiga bulan." Kata Nadin. Nadin kemudian menunjukkan diary Aisyah yang menuliskan kalau dia ingin meminta pertanggung jawaban darinya. "Ini gila. Bahkan saya tidak pernah menyentuhnya. Percaya padaku Nadin. Bahkan saat kamu menggodaku minggu lalu, aku tidak melakukan apapun padamu." Kata Arya. "Lalu dia hamil dengan siapa?" Tanya Nadin. "Tunggu dulu. Aku ingat sesuatu. Setelah aku menolaknya, dia sempat dekat dengan satu dosen." Kata Arya. "Siapa, pak?" Tanya Nadi . "Namanya juga Arya. Tapi sayangnya dia berhenti dua tahun yang lalu." Kata Arya. Nadin tertegun mendengarnya. Dia tak menyangka jika ada Arya lain di kampusnya. "Bapak tahu dimana rumahnya?" Tanya Nadin. "Saya tahu. Tapi kamu mau apa?" Tanya Arya. "Saya mau tahu kayak apa orangnya." Ucap Nadin. Entah apa yang dikatakan Nadin, tapi kini Arya malah mengantarkannya untuk melihat rumah Arya yang lain. "Mau kemana?" Tanya Arya. "Mau masuk." Jawab Nadin. "Jangan gila. Kita tunggu disini. Biasanya sebentar lagi dia keluar." Kata Arya. Dan betul apa yang dikatakan Arya, Seorang lelaki yang cukup dewasa keluar. Bersama seorang anak perempuan yang diperkirakan masih SD. "Itu Arya. Sebenarnya saya tidak tahu apapun. Hanya saya sering melihat dia mengobrol dengan Aisyah beberapa kali. Sudah puas, kan? Saya kasih tahu lagi, saya tidak membunuh Aisyah." Kata Arya. "Ok, pak. Tapi bapak bantu saya ya?" Ucap Nadin. "Sebenarnya apa yang kamu lakukan Nadin? Kenapa kamu sampai ingin tahu mengenai kematian Aisyah?" Ucap Arya bertanya. " Entah Bapak percaya atau tidak, tapi saya akan menjelaskannya secara rinci." Ucap Nadin. Nadin mulai menceritakan semuanya pada Arya. "Saya bangun dari koma. Tapi ada yang berbeda. Saya bisa melihat makhluk gaib. Mereka meminta bantuan saya. Termasuk Aisyah. Saya melihatnya melompat dari lantai atas. Ternyata dia sepupu Alisa dari desa. Saya menduga dia dibunuh. Makanya saya berusaha mencari tahu kebenarannya. Bapak pasti gak percaya kan?" Tanya Nadin. Jawaban Arya malah membuat Nadin tak menyangka dengan apa yang dia dengar dari mulut dosennya itu. "Nadin, saya percaya itu. Keluarga saya malah masih mempercayai hal-hal gaib. Kata siapa saya tidak percaya. Saya percaya sama kamu." Kata Arya. Arya kemudian mengajak Nadin pergi ke rumahnya. "Mas Arya, kok udah pulang?" Seorang wanita muda menghentikan ucapannya saat melihat kehadiran wanita cantik disisi Arya. "Kenalkan, dia Andini, adikku. Masih SMA." Kata Arya. Nadin terkejut melihatnya. Dia sudah salah sangka dan mengira wanita itu adalah kekasih Arya saat melihatnya di Cafe tempo hari. "Maaf, perkenalkan. Saya Nadin." Ucap Nadin. Andini tersenyum melihat Kakaknya membawa seorang wanita. Ini pertama kalinya bagi kakaknya membawa wanita ke rumahnya. Nadin mulai memasuki rumah Arya yang cukup besar dengan desain kuno namun terkesan vintage. Bahkan Nadin dapat melihat beberapa perabotan kuno didalamnya. Nadin menatap seorang wanita paruh baya yang masih cantik dikala usianya yang tak muda lagi. "Mama, kenalkan ini Nadin." Ucap Arya. Nadin lalu mengenalkan dirinya dan berkenalan dengan mama Arya. Nadin baru mengetahui kalau namanya adalah Dewi. Keduanya kemudian duduk. Dewi menatap Nadin dengan senyuman. "Ada yang mengikuti kamu kemari. Tapi dia tidak berani masuk." Kata Dewi. "Maksud ibu, apa? Apa ibu bisa melihat?" Ucap Nadin. "Ini yang mau saya jelaskan." Ucap Arya. Andini membawa cemilan dan minuman lalu menaruhnya di atas meja. "Mas Arya. Biarkan mereka bicara berdua." Kata Andini. Arya kemudian meninggalkan Nadin dan mamanya berbicara berdua. "Saya bisa melihatnya tapi tidak bisa membantunya. Kamu berbeda. Kamu bisa melihat hanya jika dia menampakkan dirinya. Kamu juga bisa membantunya." Ucap Dewi. "Ibu, sebenarnya setelah saya koma." Ucap Nadin terhenti. "Itu penyebabnya. Kamu terpilih. Saat seseorang mengalami koma, dia berada di tengah-tengah antara kehidupan dan kematian. Saat itu semua makhluk halus mencoba menampakkan diri. Dan itu alasan kamu bisa melihatnya." Kata Dewi. "Tapi, Bu. Saya takut. Saya takut tidak bisa menolong mereka." Ucap Nadin. "Nadin, jangan lupakan Allah. Shalat dan meminta bantuannya. Dialah yang maha penolong. Isya'allah dia akan membantumu. Satu lagi, jauhi wanita dukun itu. Dia menganut aliran setan. Buang gelang itu." Ucap Dewi. Nadin menatap gelang yang dia pakai. "Benar gelang itu membantumu kuat. Tapi itu bantuan setan." Ucap Dewi. Mama Dewi lalu menyerahkan sebuah tasbih miliknya. "Ganti ini, nak. Ini yang akan melindungi mu." Ucap Dewi. "Terima kasih, bu." Ucap Nadin. "Sama-sama. Ibu tahu kamu itu gadis yang baik. Hati-hati ya? Tidak semua roh dan Arwah yang kamu bantu itu baik. Mereka ada juga yang berbahaya. Temui ibu kalau ada masalah." Kata Dewi Nadin mengangguk. Entah kenapa dia malah lebih suka dengan mama Dewi dari pada Aunty Sarah. "Nadin , jaga diri baik-baik. Kamu harus kuat." Pesan Dewi sebelum Nadin meninggalkan rumahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN