Titik Terang

2169 Kata
Nadin dan Alisa sedang duduk di sebuah Cafe tempat mereka biasa nongkrong. "Aku malu, Lis. Udah nuduh pak Arya yang bukan-bukan." Ucap Nadin. "Mana kita tahu ada dua Arya. Yang satu yang dia cintai, dan yang satunya lagi yang bisa di jadikan tersangka." Ucap Alisa. "Semalam aku mimpi." Kata Nadin. "Mimpi apa?" Tanya Alisa. "Dalam mimpi itu aku tenggelam didalam air. Dan di mimpi itu ada seseorang yang nyelametin aku." Ucap Nadin. Mendengar itu Alisa sedikit merasa terkejut. Seakan-akan dia menutupi sesuatu dari sahabatnya itu. Alisa tak menyangka Nadin akan bermimpi seperti itu. "Itu cuma mimpi. Jangan dipikirin." Kata Alisa. Nadin hanya mengangguk dan tak percaya juga dengan mimpinya. "Gelang kamu kemana, Nad?" Tanya Alisa. "Aku taruh. Gantinya aku bawa ini." Ucap Nadin. Dia mengeluarkan tasbih yang kemarin diberikan oleh mama Dewi. "Kok ganti itu? Emangnya dapat dari mana?" Tanya Alisa. "Dari Ibu Dewi." Jawab Nadin. "Siapa itu? Dukun baru." Ucap Alisa terkekeh. "Enak aja. Dia itu mamanya pak Arya." Kata Nadin menjelaskan. "Gila, jangan-jangan kamu beneran suka sama pak Arya ya?" Tanya Alisa. "Enggaklah, mana ada. Dia itu cuma dosen kita aja. Gak lebih." Kata Nadin mengelak. "Nadin, malam ini aku nginap di rumah kamu ya? Nyokap bokap aku lagi gak ada." Pinta Alisa. "Ok, boleh dong." Jawab Nadin tersenyum. Malamnya Alisa benar-benar menginap di rumah Nadin. Dia benar-benar takut jika harus tinggal di rumahnya sendiri. Sementara Arwah Aisyah bergentayangan. "Tante, papanya Nadin emang sering banget ke luar kotanya ya?" Tanya Alisa. Ketiga wanita itu sedang menonton film laga di salah satu stasiun televisi swasta. "Iya, memang begitu. Bisanya pulangnya bisa berbulan-bulan. Tapi Tante tahu kalau itu untuk kita berdua." Kata Sisi. "Tante enak. Kalau papa aku kerjanya cuma mabuk sama main judi. Untung aja mama aku karirnya bagus. Kalau enggak aku gak tahu makan apa. Semuanya berkat mama. Kadang aku juga bingung, kenapa mama gak ceraikan papa aja." Ucap Alisa. "Alisa, gak boleh bilang gitu. Itu juga papa kamu, kan? Mungkin aja ada alasan mama kamu masih pertahankan dia. Jangan lihat sisi buruknya saja." Ucap Sisi. "Papa aku cuma ada buruknya doang." Ucap Alisa . Nadin tiba-tiba berdiri. "Mama, aku ngantuk. Mau tidur dulu, deh." Ucap Nadin pamit. Karena takut, Alisa lantas pamit juga dan mengikuti Nadin ke kamarnya. "Nadin, kamu beruntung ya? Punya mama dan papa yang sayang sama kamu. Sedangkan aku, mama super sibuk. Papa cuma judi sama mabuk aja kerjaannya." Kata Alisa. Nadin yang disampingnya hanya diam. "Menurut kamu, Lis. Tapi aku ngerasa papa aku itu kurang perhatian sama aku. Jarang ada waktu. Bisanya cuma kasih hadiah aja. Aku gak butuh itu. Aku butuhnya kasih sayang dia." Kata Nadin panjang lebar. Tak ada pergerakan dan jawaban, Nadin menoleh. Ternyata Alisa sudah sampai ke alam mimpinya terlebih dahulu. "Padahal tadi yang ngantuk aku. Eh, dia yang tidur dulu." Gumam Nadin. Suara seseorang yang berjalan membangunkan tidur Alisa. Tanpa Alisa sadari, disebelahnya sudah tidak ada seseorang lagi. Entah kemana Nadin pergi, tapi Alisa ingin mencarinya. Alisa keluar menuju ruang tamu namun tak kunjung melihat Nadin. Tiba-tiba Alisa mendengar suara seseorang menangis. Alisa mencari sumber suara itu dan melihat Nadin yang tengah meringkuk di sudut jendela ruang tamu dengan menangis. Alisa langsung menghampirinya. Ingin menanyakan apa yang terjadi pada sahabatnya itu. "Nadin, kamu kenapa nangis?" Tanya Alisa. Nadin menatap Alisa dengan bola mata hitam yang menyala. Melihat itu Alisa menjadi takut. "Alisa, tolong aku. Ini aku." Ucap Nadin. "Ka-kamu ?" Ucap Alisa terbata. "Aku ini Aisyah. Bantu aku mengungkap semuanya." Kata Aisyah. "Bagaimana aku bisa mengungkap yang sebenarnya?" Tanya Alisa. Nadin kemudian memegang tangan Alisa dengan erat. Memperlihatkan kejadian yang sebenarnya. Hari itu Aisyah menangis karena cintanya ditolak oleh Arya. Dan saat itu pak Arya yang tua justru menghampirinya. Dia mulai melakukan pendekatan pada Aisyah "Kamu kenapa nangis?" Tanya Arya tua. "Gak ada pak. Saya hanya ada masalah saja." Ucap Aisyah. "Ingat, setiap masalah akan ada penyelesaiannya." Ucapnya Keduanya sudah mulai sangat dekat sampai-sampai Arya tua memperlihatkan niat aslinya. Suatu hari saat kampus sepi, Dosennya memberikan air yang di beri obat tidur pada Aisyah. "Kamu minum dulu. Dan kamu harus ceritakan masalah kamu. Saya akan mendengarkannya." Baru sekali teguk, Aisyah merasa kepalanya sangat sakit dan dia mulai tidak sadarkan diri. Tanpa Aisyah tahu lelaki itu sudah menodainya. Bukan hanya itu, Alisa dan Nadin juga melihat beberapa mahasiswa sedang mengejar Aisyah dan mereka juga melecehkan Aisyah. "Mau lari kemana kamu? Kamu sama pak Arya yang tua saja mau. Tapi sama aku yang muda begini gak mau. Dasar munafik." Aisyah terus berlari tanpa menghiraukan ucapan seseorang itu. Namun apa dayanya. Dia terlalu lemah untuk ketiga lelaki itu. Aisyah merasa hancur saat semua kehormatannya menghilang. Aisyah menjadi trauma. Setelah itu dia menemukan dirinya hamil dan saat itu juga Aisyah bingung. Dia tidak ingin Tante yang sudah baik padanya itu mengetahuinya. Aisyah menjadi depresi. Dia bahkan menganggap Arya muda yang telah menghamilinya. Dia mulai meneror Arya muda dan selalu meminta pertanggung jawaban darinya. Aisyah juga mulai stress. Keinginan bunuh dirinya semakin kuat saat itu. Dia merasa hina dan kotor. Jika dia harus kembali ke desa, dia akan menanggung beban yang teramat besar. Dia akan malu dan juga mengalami penghinaan. "Nadin, Alisa. Ngapain kalian ada disini? Bukannya tidur. Ini sudah malam." Kata Sisi. Ucapan Sisi membuyarkan penglihatan mereka berdua. Alisa dan Nadin menangis menyaksikan apa yang mereka berdua lihat. "Nadin." Ucap Alisa. "Kamu juga lihat?" Tanya Nadin. Alisa mengangguk. Sebagai adik dan juga sebagai wanita, Alisa merasa sakit hati. Walau Aisyah bunuh diri, tapi itu juga pembunuhan. Mereka dengan kejam menyakiti Aisyah. Padahal Aisyah sudah berkata jangan, mereka tetap tidak peduli tentang itu. Nadin dan Alisa saling memeluk saat ini . "Kalian kenapa? Kok nangis begini?" Tanya Sisi. Akhirnya Alisa dan Nadin menceritakan semuanya pada mama Sisi. Dan setelah mendengar cerita dari anaknya, Sisi juga ikut menangis. Dia bertekad untuk membantu kedua gadis itu mengungkap kejahatan Dosen dan Mahasiswa itu. "Nadin dan Alisa. Tugas kalian mencari tahu siapa nama Mahasiswa yang melakukan itu. Dan mama akan mencari bukti kalau Dosen itu juga bersalah." Ucap Sisi pada keduanya. ... Nadin kembali menemui Arya. Dan tentu saja dia pergi bersama Alisa. Keduanya ingin meminta bantuan Arya untuk mencari Data para pelaku itu. Keduanya menghampiri Arya di ruangannya. "Nadin, Alisa. Ada perlu apa?" Tanya Arya. "Pak Arya, tolong kami." Ucap Nadin tanpa basa-basi. "Duduklah, bicarakan dulu. Kalian tenang." Ucap Arya. Arya lalu mendengarkan cerita dari Nadin dan Alisa. Arya sudah mengira itu. Namun dia tak mengira kalau ternyata Tiga Mahasiswa juga melakukan itu pada Aisyah. Arya segera membantu Nadin dan Alisa. Mengidentifikasi siapa yang melecehkan Aisyah. Arya membawa keduanya menuju gudang tempat penyimpanan berkas-berkas para Alumni. Mereka melihat data alumni dua tahun lalu. Nadin tersenyum saat melihatnya. Dia mendapat salah satunya. Alisa juga begitu. Saat Arya melihat dua lelaki itu kini dia mengerti kalau yang satunya adalah Ferdi. Mereka bertiga selalu bersama. "Apa ini pelakunya?" Tanya Arya memperlihatkan data dari sosok Ferdi. "Betul, pak." Ucap Alisa dan Nadin bersamaan. "Jadi mereka bertiga." Ucap Arya. "Memang mereka siapa, pak?" Tanya Nadin. "Ferdi. Dia anak pejabat kaya raya. Sekarang dia jadi direktur utama disebuah perusahaan ternama. Yang kedua namanya Antoni, dia sekarang jadi selebgram terkenal dan jadi brand ambasador sebuah produk. Dan yang terkahir, dia adalah Diego dan dia ini yang belum ketahuan ada dimana. Bahkan setelah lulus, dia hilang jejaknya." Kata Arya. "Kalian ingat dimana tempat kejadiannya?" Tanya Arya. "Kayak di gudang gitu, pak." Ucap Alisa. Nadin menatap disekitarnya. Tiba-tiba Nadin tersenyum. "Tempatnya tidak salah lagi. Di gudang ini." Kata Nadin. "Mereka bertiga dulu sahabat. Mereka sering dapat masalah. Tapi, karena mereka kaya raya, mereka bisa lepas begitu saja. Dan sayangnya mereka hidup tanpa rasa bersalah." Kata Arya. "Ada yang aneh, pak. Bagaimana bisa keduanya hidup damai tanpa Diego. Kalau mereka sahabat, tentu mereka akan sering bertemu." Kata Nadin curiga. "Saya dengar, Diego tidak pernah terlihat lagi." Kata Arya. Kedua diam sejenak. Lalu Arya tiba-tiba teringat sesuatu yang dia lupakan. "Nadin, Alisa. Di gudang ini ada CCTV tersembunyi. Bahkan yang memasukinya tidak akan pernah tahu." Ucap Arya. Nadin dan Alisa tersenyum. Mereka berdua memiliki harapan yang besar dengan kejadian itu. Berharap Aisyah mendapat keadilan. Arya segera melihat rekaman CCTV mengenai kejadian beberapa tahun lalu. Megambil kaset rekaman dan memutarnya. Dan benar menurut cerita Nadin dan Alisa. Dia melihat ketiga lelaki itu menyiksa Aisyah kemudian melecehkannya. "Simpan ini. Kita jadikan bukti." Ucap Arya. Nadin kembali memeluk Aisyah dan menenangkannya. "Saya akan mencari dan mendatangi rumah Diego. Saya pastikan dia akan mengakui segalanya." Ucap Arya. Nadin pulang kembali ke rumahnya. Dia disambut dengan senyuman mamanya. "Sayang, mama sudah punya buktinya." Ucap Sisi. "Bukti apa, ma?" Tanya Nadin. Sisi kemudian memutar sebuah rekaman di Ponsel miliknya. "Kamu ingat, kamu dulu b******n. Kamu sering menipu wanita agar tidur denganmu." Ucap Sisi. "Sisi, Ayolah. Itu dulu. Sekarang aku sudah insyaf." Ucapnya. "Kamu lupa dengan Aisyah? Bukankah kamu pernah tidur dengan mahasiswa mu itu?" Tanya Sisi. "Hahaha, bagaimana bisa kamu tahu? Dia terlalu naif dan polos. Mudah sekali di tipu." "Jadi kamu benar-benar melakukannya?" Tanya Sisi "Iya. Aku melakukannya karena dia cantik." Sisi menghentikan rekamannya. Nadin masih bingung dengan rekaman itu. "Arya itu dulu teman kuliah mama. Dia dulu terkenal karena ketampanannya. Mencoba mendekati seluruh gadis. Dia dulu suka sama mama. Mama tahu kelemahan dia kalau dia mabuk pasti dia akan menceritakan segalanya." Ucap Sisi. "Mama. Terima kasih ." Ucap Nadin. Nadin kemudian memeluk mamanya. .... Arya menuju sebuah rumah yang terlihat tak terawat. Sudah berdebu dan kotor. Dia tak yakin kalau ada penghuni didalamnya. Arya mengetuk pintu rumah itu. Beberapa lama seorang nenek tua keluar dan menemuinya. "Cari siapa ya?" Tanya nenek tersebut. Arya tersenyum dan menjawab. "Saya mencari Diego." Kata Arya. "Ternyata masih ada yang mencarinya. Aku pikir dia sudah dilupakan ." Kata Nenek. "Maksud Nenek bagaimana?" Tanya Arya. "Lihat saja, nak. Aku juga sudah lelah menasehatinya." Kata Nenek. Nenek lalu mengantar Arya ke kamar Diego. Arya terkejut melihat penampilan Diego yang sekarang. Rambut panjang yang bertahun-tahun tak di potong dan juga jenggotnya yang amat panjang. "Diego, ini kamu?" Tanya Arya. "Pak Arya." Ucap Diego tak percaya. Setelah beberapa waktu, kini Arya dan Diego saling berbicara di ruang tamu. "Pak, kenapa tahu saya ada disini?" Tanya Diego. "Saya cari kamu di rumah lama kamu. Katanya kamu pindah. Ada yang ngasih alamat kamu disini. Makanya saya kemari." Ucap Arya. "Bapak tahu tentang itu, kan? Setiap malam saya gak bisa tidur gara-gara dia. Hidup saya hancur." Kata Diego. "Maksud kamu apa?" Tanya Arya. "Saya dihantui tiap malam. Saya gak tahu mau dia apa. Dia seakan meminta pertanggung jawaban. Saya menyesal." Kata Diego. "Apa ini tentang Aisyah?" Tanya Arya. Diego mengangguk. Dia kemudian menceritakan semuanya. "Saya beneran gak nyentuh dia, pak. Saya di ancam Ferdi dan Antonie. Mereka malah menjebak saya. Mereka membuat saya membantu mereka." Kata Diego. "Jadi ini sebabnya kamu menghilang selama beberapa tahun ini?" Tanya Arya. "Setelah kejadian itu, hidup saya gak pernah tenang. Hancur. Setiap malam saya mimpi buruk. Sosok arwah Aisyah menghantui saya. Saya sembunyi untuk menghindarinya." Kata Diego. "Apa kamu tahu dia bunuh diri dan mati?" Tanya Arya. "Dia gak bunuh diri. Dia dibunuh. Dan itu rencana pak Arya tua dan mereka berdua. Saya beneran gak terlibat, pak." Ucap Diego ketakutan. "Sialan, gue mergokin pak Arya lagi nidurin Aisyah." Ucap Ferdi. "Maksud loe Aisyah si cantik dari desa itu? Yang tubuhnya seksi?" Tanya Antonie. "Iya benar. Gue tadi lihat dia masukin obat ke minuman Aisyah." Tambah Diego. "Wah, gila. Beruntung banget dia. Mau gimana lagi, dia emang ganteng sih." Ucap Antonie. "Bukan yang muda. Tapi Arya tua." Kata Ferdi. "Apa? Tua bangka itu." Ucap Antonie tak menyangka. "Gue punya ide." Ferdi tersenyum. Dia kemudian merekam aksi b***t dosennya itu. Entah apa yang dia lakukan, dia sengaja mengancam Arya dan membuat lelaki itu melakukan kejahatan. Dia membantu Ferdi dan Antonie untuk melecehkan Aisyah dan menutupi kejahatan mereka. Setelah kejadian itu, Aisyah mengancam akan melaporkan mereka berempat. Jadi, dia mulai mengancam semuanya. Dengan pintarnya Aisyah mendapatkan rekaman saat Arya melecehkannya. Mereka yang takut kemudian mengejar Aisyah dan membuat Aisyah terpojok. "Mau kemana kamu? Serahkan rekaman itu." Ucap Ferdi. "Kalian semua binatang." Umpat Aisyah. "Diam kamu. Serahkan itu." Ucap Arya. "Gak semudah itu." Kata Aisyah. Tiba-tiba Ferdi yang kesal mendorong Aisyah sampai terjatuh dan meninggal. "Gila, ya Loe. Gue gak mau tahu." Ucap Diego. "Enak aja. Ini juga salah loe. Mau gak mau kita berempat harus kerja sama. Bikin ini seolah-olah bunuh diri." Kata Antonie. "Kamu keterlaluan Ferdi. Kenapa kamu mendorongnya?" Tanya Arya. "Saya kesal, pak." Jawab Ferdi. Mereka akhirnya bersatu. Mengambil rekaman di tangan Aisyah. Yang satu lagi merusak CCTV dan yang lainnya membalik tubuh Aisyah agar terlihat sebagai bunuh diri dan bukan di dorong. "Semenjak itu hidup saya hancur." Ucap Diego. Arya tak kuasa menahan haru. Dia menitikkan air mata. Jika saja waktu itu dia bersikap baik lada Aisyah, mungkin wanita itu masih hidup. "Kalian menghancurkan hidupnya. Kalian menghamilinya." Kata Arya. "Hamil? Gak mungkin pak. Apa mungkin dia hamil setelah seminggu dilecehkan. Dan dia dibunuh setelah itu." Ucap Diego. Arya terkejut. Nadin dan Alisa mengatakan kalau Aisyah hamil tiga bulan saat bunuh diri itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN