Arya terkejut mendengar jawaban dari Diego yang berarti Aisyah bukan hamil anak mereka. Aisyah hamil oleh orang lain. Tapi, Siapa Dia? Yang tega menyakiti perempuan polos itu? Yang membuat dia menjadi tertekan dan Depresi?.
"Sumpah, pak. Kami gak tahu kalau ternyata waktu itu Aisyah hamil. Kalau tahu, saya akan berusaha menghentikan mereka. Saya juga punya hati, pak." Kata Diego.
"Diego, apa kamu mau menebus kesalahan kamu?" Tanya Arya.
"Saya mau, pak." Jawab Diego.
Setelah selesai berbicara, Arya kembali pulang. Besok adalah puncaknya. Semua kejahatan orang-orang itu akan terbongkar. Keadilan akan segera di tegakkan. Arya berjanji akan menebus kesalahannya. Andai waktu dapat diputar kembali, semuanya takkan terjadi.
Arya memastikan besok semuanya akan terungkap. Masalah siapa yang menghamili Aisyah, polisi pasti bisa mengusut semuanya.
"Nadin, saya sudah membereskan semua. Besok mereka akan segera di tangkap." Ucap Arya melalui sambungan telepon.
Diseberang telepon, Nadin tersenyum. Dia kagum akan sosok Arya. Walau awalnya dia salah menduga, tapi ternyata Arya yang mampu menolongnya. Membantu Nadin dan Alisa mengungkap segalanya.
...
Nadin menonton acara berita pagi ini. Semua berita memuat kasus pembunuhan Aisyah. Kini beritanya menjadi viral. Pelakunya sudah di tangkap semua.
"Berita pagi ini tentang kasus bunuh diri seorang Mahasiswi Inisial AH beberapa tahun lalu ternyata bukan bunuh diri melainkan pembunuhan. Pelaku dengan jumlah empat orang, diantaranya Arya, Mantan Dosen di kampus itu sendiri, Ferdi, Direktur utama di sebuah perusahaan ternama dan Antonie, selebgram yang cukup terkenal. Satu lagi pelaku berinisial DM dan dialah yang turut memberikan saksi atas kasus ini. Polisi menegaskan jika ini murni pembunuhan dengan meninjau barang bukti yang ada."
Siaran berita itu membuat Nadin tersenyum. Di sana Nadin melihat Alisa dan mamanya. Keduanya nampak sangat sedih atas kasus pembunuhan Aisyah terutama mama Alisa. Dia tak menyangka kalau keponakannya bukan bunuh diri melainkan dibunuh oleh para lelaki b***t itu.
"Kamu hebat sayang, mama bangga sama kamu." Kata Sisi.
Nadin memeluk mamanya dengan erat. Merasakan kepuasan setelah menyelesaikan sebuah kasus.
"Kayaknya malam ini Nadin bakalan tidur nyenyak, ma." Kata Nadin tersenyum.
"Selamat ya Sayang. Dibalik kelebihan kamu, ternyata kamu bisa membantu orang lain." Kata Sisi.
Malamnya Nadin tertidur dengan lelap. Namun sesuatu kembali terjadi. Dia kembali bermimpi dia tenggelam dalam air dan seseorang menyelamatkannya. Nadin terbangun dengan keringat dingin yang membasahi sekujur tubuhnya. Nadin berdiri dan keluar kamar. Hendak mengambil air dingin di dalam lemari pendingin. Nadin mencoba mendinginkan pikirannya.
Nadin meneguk segelas air dingin. Dan itu sedikit mendinginkan tubuhnya yang bermandikan peluh. Saat kembali menutup kulkas, Nadin terkejut. Ada sosok Aisyah yang tengah menatapnya dengan seksama.
"Nadin." Ucap arwah Aisyah.
Nadin tak habis pikir kenapa Aisyah masih menampakkan dirinya. Padahal kasusnya telah diselesaikan.
"Aisyah, ada apa lagi?" Tanya Nadin.
Arwah Aisyah memberi satu petunjuk.
"Ini belum selesai Nadin." Kata Aisyah setelah itu dia menghilang.
"Apa lagi ini? Apanya yang belum selesai." Gumam Nadin.
"Nadin, kamu bicara sama siapa?" Tanya Sisi yang juga terbangun karena mendengar suara Nadin.
"Mama, bukan apa-apa kok. Nadin haus. Dan sekarang mau tidur lagi." Kata Nadin.
"Mama kira ada apa." Ucap Sisi.
"Nadin tidur sama mama, ya?" Pinta Nadin.
"Iya sayang." Jawab Sisi.
Keduanya kini berbaring di ranjang yang sama.
"Mama, kenapa sih papa itu sibuk banget. Jarang ada waktu buat kita berdua." Ucap Nadin.
"Papa kerja buat kita, sayang. Yang penting dia sayang sama kita berdua dibalik kesibukannya." Kata Sisi.
"Iya ma. Papa gak cerita kapan dia mau pulang, ma?" Tanya Nadin.
"Mungkin sebulan lagi, Sayang. Tugasnya belum selesai. Kamu doakan aja biar papa bisa segera pulang." Kata Sisi.
"Iya, ma. Nadin berharap papa akan segera pulang. Janji ya? Kalau papa pulang kita harus jalan-jalan." Ucap Nadin.
"Iya Sayang." Sisi tersenyum mendengarnya.
Tiba-tiba bayangan wajah Arya terlintas dibenak Nadin. Ciuman waktu itu kembali mengingatkan Nadin bahwa lelaki itu tidak selamanya kaku. Walau itu bukan kesengajaan, tapi Nadin merasa ada sesuatu dalam dirinya.
....
Nadin segera beranjak pergi ke kampusnya. Dia ingin menceritakan kejadian semalam pada Alisa. Nadin ingin memberi tahu Alisa bahwa Aisyah memberi petunjuk kalau masalahnya belum selesai.
"Nadin, bisa bicara sebentar?" Tanya Arya.
"Bisa, pak." Jawab Nadin.
Nadin heran saat melihat Arya yang ternyata menunggu kehadirannya. Bahkan tanpa sungkan Arya langsung mendatangi tempat duduk Nadin di kelas. Siska yang melihatnya merasa sedikit penasaran. Dia mengira ada hubungan antara keduanya.
"Segitu lupanya kamu ya? Sampai segampang itu kamu jatuh cinta." Gumam Siska.
Nadin kini sudah berada di ruangan Arya. Keduanya saling menatap untuk waktu yang lama. Nadin menjadi salah tingkah, begitu pula dengan Arya. Pagi ini Nadin terlihat begitu cantik dimatanya. Arya yang semula serius menjadi tidak fokus.
"Nadin, sebenarnya ada yang mau saya sampaikan."
"Pak, sebenarnya ada yang mau saya sampaikan."
Kedua mengucap secara bersamaan. Lalu kemudian saling tersenyum.
"Kamu duluan saja." Ucap Arya.
Nadin mengangguk.
"Pak, semalam saya dapat petunjuk. Arwah Aisyah menunjukkan diri lagi. Dia bilang kalau ini belum selesai." Ucap Nadin bercerita.
"Ini yang saya mau bilang, Nadin." Ucap Arya.
"Maksud bapak apa?" Tanya Nadin.
"Mereka berempat tidak menghamili Aisyah. Saat mereka melecehkannya, Aisyah memang sudah mengandung." Kata Arya.
Nadin terkejut mendengarnya. Jika Aisyah sudah hamil sebelum itu, berarti ada satu pelaku lagi dan dia belum ditemukan.
"Jadi, ada satu pelaku lagi, pak?" Tanya Nadin.
"Iya, kamu benar. Dan saya yakin kalau dia masih berkeliaran dengan bebas." Ucap Arya.
"Kasihan sekali Aisyah. Dia bukan hanya dilecehkan sekali, tapi berkali-kali. Dan naasnya, pelakunya bukan hanya satu orang." Kata Nadin.
"Saya juga gak nyangka. Wanita semuda dia menanggung beban yang sangat berat. Andai saja waktu itu saya mengerti keadaannya, mungkin tidak akan seperti ini jadinya." Kata Arya.
"Ini sudah takdir, pak. Kita harus mencari tahu semuanya. Siapa pelaku yang menghamili dia." Kata Nadin.
"Kamu benar. Kita harus segera menemukan dia." Ucap Arya.
Nadin menundukkan kepala. Rasanya jika dia jadi Aisyah, dia takkan sekuat itu.
"Nadin, mama bilang mau bertemu kamu. Ini penting katanya. Apa kamu mau menemuinya?" Tanya Arya.
"Tentu saja, pak. Kapan saya bisa bertemu?" Tanya Nadin.
"Nanti kamu pulang sama saya. " Ajak Arya.
Setelah selesai berbincang, Nadin segera menemui Alisa.
"Nadin, kamu kemana aja?" Tanya Alisa.
"Lis, sebenarnya aku sudah tahu." Ucap Nadin.
Alisa segera memeluk Nadin. Saat dimintai informasi kemarin di kantor polisi, Alisa mendengar kalau ternyata Aisyah sudah hamil saat ke empat pelaku melakukan kejahatan itu.
"Nadin, dia salah apa? Sampai harus bernasib seperti itu?" Tanya Alisa.
"Lis, semalam Aisyah datangin aku. Dia bilang kalau ini belum selesai." Kata Nadin.
"Jadi, benar. Dia mau kasih tahu pelaku yang sebenarnya. Tapi, siap dia? Pria b***t yang melakukan itu." Tanya Alisa.
"Sabar, Lis. Kita pasti akan segera mengetahuinya ." Kata Nadin.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Kini Nadin sudah ada bersama Arya dalam satu mobil. Keduanya menjadi kaku saat bersama. Namun segera Arya memulai pembicaraan.
"Nadin, kalau saya duga pelakunya pasti sangat dekat dengan Aisyah." Kata Arya.
"Bisa begitu, pak?" Tanya Nadin.
"Apa kamu tahu siapa lelaki yang bisa dekat dengan Aisyah?" Tanya Arya balik.
Nadin berfikir sejenak. Tidak ada kandidat yang pas untuk itu.
"Kayaknya gak ada, pak." Ucap Nadin.
Tiba-tiba Nadin mengingat sesuatu.
"Enggak mungkin. Apa itu dia? Tapi apa mungkin dia bisa melakukan itu? Apa mungkin dia setega itu?" Batin Nadin.
"Tunggu dulu, pak. Saya mencurigai seseorang." Kata Nadin.
"Siapa, Nadin?" Tanya Arya.
Nadin semakin memperkuat dugaannya saat ingat kejadian tempo hari saat dia menyusuri gudang rumah Alisa. Lelaki itu terlihat marah dan tidak suka.
"Papanya Alisa." Ucap Nadin.
"Apa yang membuat kamu meyakini itu?" Tanya Arya.
"Waktu itu saya pernah mengunjungi gudang rumah Alisa. Di sana beberapa barang Aisyah disimpan. Tapi, saat Papa Alisa tahu, dia marah dan segera mengunci tempat itu." Kata Nadin.
"Kamu yakin?" Tanya Arya sekali lagi.
"Dia pemabuk, pak." Ucap Nadin.
Arya terperanjat kaget mendengar ucapan Nadin. Jika papa Alisa memang seorang pecandu alkohol, besar kemungkinan lelaki itu melecehkan Aisyah. Dan Arya juga yakin kalau dialah yang menghamili Aisyah.
Keduanya sudah sampai. Mama Dewi menyambut Nadin dengan senyuman. Dia sangat senang karena Nadin mau menemuinya lagi.
"Kamu datang, nak?" Ucap Dewi.
"Iya Bu." Nadin menyalami mama Dewi.
"Ibu punya sesuatu untuk kamu." Ucap Dewi.
Kini Nadin sudah berada di kamar Dewi.
"Dia masih mengikuti kamu." Ucap Dewi.
"Biarkan saja Bu. Jika urusannya selesai dia pasti akan pergi dengan sendirinya." Ucap Nadin.
Dewi tersenyum mendengarnya.
"Ibu punya sesuatu untuk kamu." Ucapnya.
Dewi memberikan sebuah kalung liontin miliknya.
"Ini untuk apa, Bu?" Tanya Nadin.
"Karena ibu menyukai kamu. Ibu harap kamu menyukainya. Kalung itu turun temurun dari keluarga ibu. Tapi sayangnya tidak ada yang memiliki kemampuan seperti ibu. Arya ataupun kedua saudaranya tidak ada yang memiliki keistimewaan itu. Kamu yang punya, jadi ibu pikir kalung ini cocok untuk kamu. Terima ya, nak? " Ucap Dewi.
Dengan terpaksa Nadin menerimanya. Sebenarnya dia ingin menolak karena dia bukan siapa-siapa di keluarga itu.
"Arya, kamu ajak Nadin keliling rumah. Dia belum tahu kan?" Ucap Dewi.
Arya kemudian membawa Nadin berkeliling.
"Hebat ya kamu, mama suka sama kamu. Kamu juga perempuan pertama yang betah bicara sama dia." Ucap Arya.
Arya membawa Nadin ke halaman rumahnya. Nadin terkejut saat mengetahui halaman itu sangat luas dengan banyak tanaman di sana.
"Emangnya sebelumnya ada yang pernah kesini, pak?" Tanya Nadin.
"Ada. Dia kekasih-kekasih saya. Tapi mereka mundur saat tahu mama saya berbeda." Kata Arya.
"Jadi sebenarnya bapak itu.." ucap Nadin terpotong.
"Saya jomblo karena gak ada yang mau nerima mama. Mereka bilang mama saya itu gila. Aneh dan suka bicara sendiri." Kata Arya.
"Menurut saya dia baik, pak." Ucap Nadin.
"Itu yang buat mama suka sama kamu." Kata Arya.
Nadin tersenyum saat melihat bunga melati di taman. Bunganya mekar dan harum semerbak.
"Bunga melati, pak. Wangi sekali." Ucap Nadin.
Nadin menundukkan kepala dan mulai menghirup wangi bunga itu.
"Nadin, tunggu dulu." Kata Arya.
Arya kemudian memetik sebuah bunga melati dan menyelipkannya di rambut Nadin. Membuat wanita di depannya terlihat semakin cantik. Di perlakukan seperti itu membuat Nadin menjadi salah tingkah. Keduanya diam dan hanya saling menatap.
Tanpa mereka ketahui Dewi menatap mereka dengan bahagia. Dewi menjadi yakin kalau Nadin adalah orang yang dia tunggu.
"Dialah orangnya. Dia sudah datang." Ucap Dewi dibalik jendela.
"Nadin, makan siang dulu ya? Mama masak buat kamu." Kata Arya.
"Baik." Jawab Nadin.
Arya merasa senang karena Nadin tidak menolak. Sebelum Nadin, semua wanita yang datang kerumahnya tidak ada yang betah berlama-lama di sana. Hanya Nadin wanita pertama yang ada dirumahnya berjam-jam.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *