Keadilan

1766 Kata
Seorang polisi sedang menginterogasi para pelaku pembunuhan Aisyah. "Pengkhianat loe. Diego brengsek." Ucap Ferdi. Yang mendapat hukuman paling ringan adalah Diego. Karena selain karena terpaksa, dia tak melakukan apapun lagi. Karir Ferdi hancur seketika. Antonie yang sedang naik daun langsung kehilangan ratusan ribu followers di i********:. Sedangkan Pak Arya di pecat dari kampus tempatnya mengajar. Bahkan kini di tak di hormati lagi. "Sudah kami bilang. Bukan kami yang menghamilinya." Teriak Antonie. "Apa saja yang korban katakan sebelum meninggal?" Ucap Polisi bertanya. "Tidak ada." Jawab Ferdi. "Bohong. Kalian bohong. Aisyah mengatakan sesuatu kan? Saat itu aku tidak mendengarnya. Tapi sepertinya dia mengatakan sesuatu." Kata Diego. "Ok, Ok. Dia hanya memohon pada kami untuk tidak mendorongnya. Dia bilang kami harus membiarkannya hidup karena dia hamil." Ucap Ferdi. "Apa lagi yang kalian ketahui." Kata Polisi. "Tunggu dulu. Dia sempat bercerita kalau dia ada masalah. Dia di lecehkan. Itu sebabnya saya mengambil kesempatan dalam kesempitan itu." Ucap Pak Arya. "Tapi, sungguh. Saya tidak tahu siapa yang menghamilinya." Jelas Pak Arya. Polisi itu keluar setelah memberikan pelajaran pada ketiganya, kecuali Diego karena sudah banyak membantu dan memberikan kesaksian. "Bagaimana? Sudah ada petunjuk?" Tanya Arya. "Pak Arya bilang kalau Aisyah bercerita kalau dia di lecehkan sebelumnya. Tapi dia tidak tahu siapa itu." Jawabnya. Arya mendesah frustasi. Jalan satu-satunya adalah memberi tahu Alisa secara langsung. Walau mungkin ini menyakiti hatinya, tapi dia harus tahu segalanya. Bahwa kemungkinan Papanya yang telah melakukan pelecehan itu. Seseorang datang dan ikut bergabung bersama Arya. "Bagaimana, pak? Ada hasilnya?" Tanya Nadin. "Nihil. Semua tidak ada yang tahu." Kata Arya. "Lalu bagaimana?" Tanya Nadin. "Kita terpaksa harus mengatakan ini pada Alisa." Ucap Arya. Keduanya kini duduk di sebuah Cafe yang biasa Nadin kunjungi bersama Alisa. Tanpa sengaja Siska melihat kedekatan mereka berdua. Dan itu menambah rasa bencinya pada Nadin. Dia lalu memotret keduanya. "Nadin, ada apa? Hal penting apa yang mau kalian bicarakan?" Tanya Alisa. "Duduk dulu, Lis." Suruh Nadin. Alisa menuruti ucapan Nadin. Dia kemudian duduk dan menenangkan diri sejenak. "Alisa, kami terpaksa harus memberi tahu kamu." Kata Arya "Apa itu, pak?" Tanya Alisa. "Kami curiga kalau sebenarnya yang menghamili Aisyah adalah Papa kamu." Kata Arya pelan. Hati Alisa seakan hancur saat mendengarnya. Apa yang dia takutkan seolah menjadi nyata. Dia sudah curiga, dan kini keduanya juga sama. Menduga kalau Papanya yang melecehkan Aisyah. "Kamu. Cuma kamu yang bisa menyelesaikan kasus ini secara tuntas, Lis." Ucap Nadin. Alisa meneteskan air mata. "Aku gak kebayang aja kalau mama sampai tahu. Dia pasti sakit hati. Mbak Aisyah itu keponakannya. Dia yatim piatu dan dia menjadi tanggung jawab mama." Kata Alisa. Nadin lalu memeluk Alisa. Dia tahu rasanya sangat sakit saat keluarga sendiri yang menjadi pengkhianatnya. "Tenang aja. Aku pasti selesaikan kasus ini. Biar Arwah mbak Aisyah bisa tenang menuju surga." Ucap Alisa . ... Alisa memandangi Papanya yang tengah sibuk menonton televisi. Melihat itu dia segera bergegas masuk ke kamarnya. Mencari dimana kunci gudang berada. Alisa membuka lemari dan membuka laci namun tak kunjung menemukan kunci itu. Alisa kemudian duduk sejenak. Dia ingat kalau Papanya pasti menaruh kunci itu di tempat yang tersembunyi yang orang lain tidak akan terpikirkan. Alisa membuka vas bunga dalam kamar, dan setelah itu benda itu terjatuh. Alisa segera mengambilnya dan segera menuju gudang . Saat ini Alisa telah memasuki gudang. Mencari sesuatu yang bisa menjadi bukti. Alisa segera mencari dalam kotak saat dia menemukan HP milik Aisyah. Alisa terus mengacak-acak kotak itu dan akhirnya menemukan sebuah kartu memory. Alisa yakin kalau memory itu milik Aisyah. Alisa segera keluar dan menutupnya lagi. Setelah itu mengendap-endap masuk kamar dan mengembalikan kuncinya. "Alisa, kamu ngapain dikamar papa?" Ucapnya. "Aku mau pinjam charger mama, pa." Ucap Aisyah. Kemudian mengambil Charger dan pergi secepat mungkin. "Untung saja tidak ketahuan." Kata Alisa. Alisa lalu menuju kamarnya dan menguncinya rapat-rapat. Segera memasang memory card yang dia temukan. Alangkah kagetnya Alisa saat melihat video Papanya sedang melecehkan Aisyah. Alisa menangis melihat itu. Alisa segera bergegas keluar dan menuju rumah Nadin. Dia tak peduli lagi jika papanya akan tahu segalanya. Alisa mengetuk pintu rumah Nadin. Masih dengan tangis yang sama. Dia tak menyangka papanya akan se-b***t itu. "Alisa. Kamu kenapa?" Tanya Nadin. "Nadin, kamu benar. Papa pelakunya." Kata Alisa. Alisa kemudian duduk. Nadin menenangkan Alisa. Sesaat setelah itu dia memberikan rekaman itu pada Nadin. Melihat itu Nadin juga sedikit kaget. Mendengar jeritan dan rintihan wanita itu. Bahkan saat mabuk, papa Alisa menganiayanya. Tiba-tiba Nadin memejamkan mata. Dia mendapat sebuah penglihatan lagi. Aisyah datang dari Desa dan tinggal di rumah Alisa setelah di terima di universitas ternama di kota ini. Kedatangan Aisyah membuat Alisa dan mamanya senang. Namun ada yang aneh, papa Alisa sedikit diam semenjak kedatangan Aisyah. Dia hanya sering menatap Aisyah dengan diam-diam. Setelah itu, puncak kejadian itu terjadi. Istrinya sedang bekerja di luar kota. Alisa sengaja dia titipkan di rumah ibunya. Hanya dia dan Aisyah yang ada di rumah itu. Malam itu dia mabuk berat. Pikiran jahat mulai merasuki pikirannya. Dia mengetuk pintu kamar Aisyah. Dan gadis itu tak menaruh curiga sedikitpun. "Aisyah, om boleh minta tolong? Buatkan kopi." Pintanya. Aisyah yang polos tanpa curiga membuatkan dia kopi. Namun setelah itu, dia memasuki kamar Aisyah. Mulai memaksa gadis itu melayani nafsu bejatnya. Aisyah yang lemah tak bisa melawan. Dia merasa hancur saat melihat kehormatannya telah di renggut. Gadis itu memohon agar lelaki itu tidak menyentuhnya. Tangisnya tak lagi di dengar. "Tolong, Om. Jangan lakukan ini." Ucap Aisyah masih dengan tangisnya. "Jangan bilang ini sama Alisa atau Tante kamu. Kalau tidak, kamu akan tahu akibatnya. Aku bisa menyiksa Alisa. Dan Tante kamu akan kecewa sama kamu. Aku akan bilang kalau kamu yang menggodaku." Ancamnya. Setelah itu malam-malam Aisyah selalu di hantui rasa takut. Lelaki itu bahkan memiliki kunci duplikat kamar Aisyah. Jika dia mau, dia akan selalu melecehkan Aisyah. Hingga entah darimana keberanian itu muncul. Aisyah sudah tak sanggup lagi. Dia depresi dan sudah tidak bisa membedakan yang benar dan juga khayalan. Diam-diam Aisyah merekam perbuatan b***t lelaki itu tanpa sepengetahuannya. Namun sayangnya belum sempat mengungkapkan , wanita itu di lecehkan oleh lelaki lain. Ponselnya rusak saat dia terjatuh waktu itu. Nadin membuka matanya. Dia menangis menyaksikan itu semua. Derita yang Aisyah rasakan teramat dia mengerti. Sebagai sesama wanita, dia juga merasakan sakit yang sama. Bahkan bukannya mendapat keadilan, wanita itu justru meninggal dengan cara di bunuh. "Nadin, kamu kenapa?" Tanya Alisa. "Aku tahu semuanya." Jawabnya. Kemudian Nadin menceritakan segalanya. Menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Tangis Alisa semakin menjadi. Sekarang dia yakin kalau dia harus memberi tahu mamanya. Alisa kemudian menelepon mamanya yang sedang bekerja. "Mama, tolong kesini. Aku lagi di rumah Nadin. Ini penting." Ucap Alisa. "Ada apa, sayang? Kenapa? Baiklah mama ke sana sekarang juga." Jawab mamanya. Setengah jam kemudian, mamanya benar-benar datang. Melihat Alisa yang menangis dia menjadi curiga. "Ada apa sayang?" Tanya Mamanya. Alisa diam tak menjawab. Dia justru memberikan rekaman itu pada mamanya. Melihat rekaman itu membuat mamanya syok. Dia tak menyangka kalau suaminya sendiri yang melakukan itu pada keponakannya. "Mama, papa jahat banget." Ucap Alisa. "b*****t. Dia memang lelaki kurang ajar. Tega sekali dia melecehkan Aisyah. Aku akan membunuhnya." Mama Alisa bangkit namun Alisa dan Nadin mencegahnya. Mereka lebih memilih untuk melaporkannya ke polisi. "Tante jangan lakukan itu. Tante lagi emosi sekarang. Kita serahkan semuanya pada pihak yang berwajib saja." Ucap Nadin. "Iya, ma. Nadin benar. Kita pasrah saja." Ucap Alisa kemudian memeluk mamanya. "Alisa, kamu tahu apa alasan mama tidak menceraikan papa kamu? Karena mama takut kamu tidak mendapatkan kasih sayang seorang ayah. Tapi nyatanya dia seorang ayah yang tak berperasaan. Bagaimana bisa dia melakukan itu pada gadis yang semestinya dia perlakukan seperti anak." Mendengar itu Alisa terkejut. Kini dia tak mau diam lagi. "Ceraikan dia, ma. Alisa sama mama aja udah cukup. Alisa gak butuh papa seperti dia." Ucap Alisa. Mereka akhirnya memutuskan untuk memberikan rekaman itu pada polisi. ... Suara sirine polisi menggema di depan rumah Alisa. Polisi segera memborgol papanya. "Apa-apaan ini. Apa salahku? Kenapa aku di tangkap." Ucapnya. "Alisa , tolong papa sayang." Pintanya. "Kamu bukan papaku lagi mulai sekarang." Jawab Alisa. "Anita, tolong aku. Bebaskan aku. Panggil pengacara terbaik. Kamu sendiri juga bisa." Katanya. "Dendi, tega sekali kamu melakukan itu pada Aisyah yang seharusnya kamu anggap anak. Mulai detik ini kamu bukan suamiku lagi. Aku akan segera menceraikan kamu." Ucap Anita. "Sayang, maafkan aku. Aku khilaf. Aku mabuk saat melakukannya." Ucapnya sambil bersimpuh di hadapan Anita. "Kamu pikir aku bodoh? Tidak. Aku tahu kamu bukan sekali melakukannya. Tapi berkali-kali. Kamu bahkan mengancam dia dengan berkata akan membunuhku dan Alisa. Biadab kamu. Kamu bukan manusia tapi iblis." Kata Anita. "Bawa dia, pak. Hukum dengan seberat-beratnya. Akan aku pastikan dia tidak akan bisa keluar. Dia harus menebus kesalahannya." Ucap Anita. Anita sendiri bekerja sebagai seorang pengacara yang handal. Dia bahkan memenangkan banyak kasus. Itu sebabnya dia sering ke luar kota untuk menangani kasus kliennya. Dendi telah dibawa. Kini Anita memeluk Alisa dengan erat. Dia tak menyangka kalau suaminya yang menjadi penyebab utama masalah yang menimpa Aisyah. Anita kembali mengingat betapa mirisnya hidup Aisyah. Di tinggal mati oleh kedua orang tuanya sejak kecil karena sebuah kecelakaan. Harus tinggal di desa dengan ibunya. Namun sayang neneknya meninggal dan Aisyah justru menjadi tanggung jawabnya. Anita mengutuk dirinya sendiri. Dia tak menyangka kalau rumah yang harusnya menjadi pengganti tempat tinggalnya justru menjadi neraka baginya. "Mulai sekarang kamu ikut Tante. Nenek sudah meninggal. Tante yang akan biayai seluruh biaya kuliah kamu. Di sana kamu juga bisa menjadi teman sekaligus kakak untuk Alisa." Sosok Aisyah tersenyum. Mulai saat itu dia berharap kalau hidupnya akan lebih baik. Tapi di kota ini hidup semakin mempermainkannya. Anita mulai memejamkan mata berharap malam ini dia bisa tidur walau sekejap. Anita bermimpi. Dalam mimpinya dia bertemu dengan sosok Aisyah. "Terima kasih, Tante. Kamu jangan menganggap kamu salah. Kamu sudah menjadi ibu terbaik untukku. Aku harap kamu dan Alisa bisa bahagia. Sampaikan ucapan terima kasihku pada Nadin." Aisyah melambaikan tangannya pada Anita. Dalam mimpinya, Aisyah memakai gaun putih yang sangat indah. Menatap Anita dengan senyuman. Seakan dia puas karena telah mendapat keadilan. Anita terbangun dari tidurnya. Menatap jam dinding yang menunjukkan jam empat subuh. Dia sudah tertidur selama dua jam lamanya. Keesokannya dia, Alisa, Nadin dan Arya mengunjungi makam Aisyah. Menabur bunga di atasnya. Berharap Aisyah mendapat tempat terbaik. "Selamat jalan, Aisyah. Semoga kamu mendapat tempat terbaik di surga." Ucap Anita. Anita menatap Nadin. Dia tersenyum sesaat lalu berkata padanya. "Terima kasih, Nadin. Alisa sudah cerita semuanya. Kamu yang sudah membantu kasus ini. Dan satu lagi, Aisyah berterima kasih padamu." Ucap Anita. "Maksud Tante apa?" Tanya Nadin. "Dia berterima kasih lewat mimpi Tante semalam." Jawab Anita. Nadin tersenyum. Dia bersyukur bisa membantu masalah Aisyah sampai tuntas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN