Cinta Selamanya

1749 Kata
Nadin melenguh dalam tidurnya. Nafasnya berat. Tidurnya seakan tidak tenang. Dia kembali mengalami sebuah mimpi yang amat menyeramkan. Lagi-lagi dia bermimpi dirinya tenggelam dalam keadaan pingsan. Dia tak bisa bergerak namun seseorang justru menarik dan membawanya kembali ke atas. Nadin terbangun dengan keringat dingin di sekujur tubuhnya. Nadin kemudian keluar dan mengambil air dingin. Mimpi yang sama terjadi padanya. Saat menutup lemari pendingin, Nadin terkejut dengan sosok lelaki memakai pakaian yang basah kuyup sedang menatapnya. Nadin menyadari sosok itu bukan manusia. Dia tidak punya cara lain. Satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah pura-pura tidak melihat. "Ingat, Nadin. Kalau ada sosok yang mengganggumu, berpura-puralah melihatnya. Dengan itu mereka tidak akan tahu kalau kamu bisa melihat mereka. Semakin lama, mata batin kamu akan terbuka sepenuhnya. Mereka akan menampakkan diri. Kamu tidak boleh takut. Mereka biasanya menampakkan diri dengan dua wujud. Ada wujud biasa saja ada pula wujud yang menakutkan." Kata Bu Dewi. Nadin beranjak ke kamar dan pura-pura tidak melihatnya. Lelaki itu terus saja mengikuti Nadin. Terpaksa Nadin menuju kamar mamanya. Dia ingin tidur bersama mamanya malam ini. "Kamu bisa melihatku, kan?" Tanya arwah lelaki itu. Nadin diam dan membenarkan selimut. Lelaki itu diam dan mengira kalau Nadin tidak bisa melihat sesuatu seperti yang dia dengar. Esok paginya Nadin bangun. Menatap ke samping alangkah terkejutnya Nadin melihat arwah lelaki itu masih menatapnya. Nadin terkejut sampai-sampai dia menutup wajahnya. "Kamu bisa melihatku, kan? Tolong aku. Aku butuh bantuan kamu." Ucap arwah lelaki itu. Nadin beranjak pergi ke kamar mandi. Segera mencuci mukanya berharap kalau dia salah melihat. Namun setelah mencuci wajah, lelaki itu tetap ada di sampingnya. Justru mengikuti Nadin. "Stop, Ok. Aku bisa melihatmu. Tapi jangan ikuti aku seperti ini." Ucap Nadin. "Tolong aku, Nona." Ucapnya memohon. "Keluar dulu. Biarkan aku membersihkan diri. Setelah itu kita bicara." Kata Nadin. Lelaki itu tersenyum dan mengangguk lalu keluar. Setelah selesai mandi, Nadin menemui arwah lelaki itu. Ingin menanyakan maksud dan tujuannya. "Baiklah, katakan padaku apa tujuanmu kemari." Kata Nadin. Nadin menatap lelaki itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Memakai sepatu bagus dan juga lengkap dengan setelan jas. Hanya saja pakaiannya basah. "Tolong aku Nona. Tolong bilang pada istriku kalau sebenarnya aku bukan mengkhianatinya. Tapi aku kecelakaan dan tubuhku tak pernah di temukan." Katanya. "Kamu ceritakan semuanya dari awal." Suruh Nadin. Lelaki itu kemudian menatap dengan sendu. "Namaku Andika. Aku baru saja menikah waktu itu. Dan saat aku meninggal, istriku sedang hamil muda. Tidak ada kabar mengenai meninggalnya aku. Dia mendengar kabar kalau aku tinggal di luar negeri dengan selingkuhan ku. Padahal aku tidak pernah selingkuh. Ada yang berusaha merebut kekayaan milikku. Jadi dia membuat berita itu. Semenjak itu, hidup istriku menjadi kacau. Dia hidup sulit sambil membesarkan anakku. Setiap hari aku selalu memandanginya tanpa dia tahu kalau aku ada di sampingnya dan akan selalu mencintainya." Jelasnya. Nadin sedikit iba saat mendengar ceritanya. Dia harus menolong lelaki itu segera. Agar dia bisa pergi dengan tenang. "Dimana rumah istrimu?" Tanya Nadin. "Toko bunga Melati, dia pemilik toko bunga itu." Ucapnya. Kemudian Andika mengantar Nadin agar bisa menemui istrinya. Nadin menatap toko bunga yang dia maksud. Toko bunga kecil dan sangat sederhana. Namun bunganya sangat wangi dan bagus. Seorang wanita cantik keluar dan menghampiri Nadin. "Mau cari bunga apa, Nona?" Ucapnya Ramah. "Bunga mawar ungu dengan bunga Krisan. Jadikan satu." Ucap Nadin. Wanita itu terkejut mendengar bunga pesanan Nadin. Dan itu mengingatkannya pada seseorang. Nadin sengaja memesan bunga itu karena sebenarnya bunga itu adalah bunga favorit si wanita. Si wanita yang bernama Lestari itu sangat fokus merangkai dan membuat buket pesanan Nadin. "Mbak Lestari." Ucap Nadin. "Nona tahu namaku?" Tanya Lestari. "Bisa aku bicara sebentar setelah ini?" Ucap Nadin. Lestari mengangguk. Kini keduanya duduk di sebuah kursi yang ada dalam toko bunga itu. "Apa mbak ini benar istri Andika Suhardjo?" Tanya Nadin. Lestari langsung menunjukkan ekspresi kesal saat mendengar ucapan Nadin. "Bukan. Aku tidak punya suami. Aku seorang janda." Ucap Lestari. "Mbak, tolong dengarkan aku. Ini tentang suami kamu, mbak." Ucap Nadin. "Siapa yang kamu bilang suami? Lelaki itu berselingkuh dan sekarang dia tinggal bersama selingkuhannya di luar negeri. Dia menelantarkan aku dan putraku." Ucapnya. "Enggak mbak. Kamu salah paham." Ucap Nadin. "Silahkan pergi. Aku tidak mau mendengar omong kosong tentangnya." Ucap Lestari. "22,Juni,2020 dia mengalami kecelakaan dan meninggal. Mobil dan jasadnya tidak di temukan. Ada yang memfitnahnya dengan menyebar gosip dia berselingkuh. Padahal tidak. Sampai detik ini dia tetap mencintai kamu." Kata Nadin. Dia terpaksa langsung mengatakan itu agar wanita itu tahu dan tidak mengusir Nadin. "Apa maksud kamu?" Tanya Lestari. "Dia meninggal dua tahun lalu. Itu alasan dia tidak pernah pulang." Kata Nadin "Kamu bohong, kan? Apa buktinya kalau dia meninggal? Bagaimana kamu bisa tahu?" Tanyanya. "Entah kamu mau percaya atau tidak. Sekarang dia bersamaku disini. Arwahnya yang memberi tahu aku." Kata Nadin. "Pergi kamu. Kamu pembohong. Aku tidak bisa percaya." Ucapnya. "Waktu itu kamu dan dia akan merayakan Anniversary pernikahan yang pertama. Kamu ingin memberinya kejutan dan mengatakan kalau kamu hamil. Tapi sampai tengah malam dia tidak datang. Esok paginya kamu justru di kirimi foto suami kamu sedang berbicara dengan wanita." Kata Nadin. Kini Lestari mulai percaya. Yang dikatakan Nadin memang benar. Saat itu dia memang menunggunya sampai tertidur. "Wanita itu bukan selingkuhannya. Wanita itu pemilik toko perhiasan. Sebelumnya suamimu membelikan kamu sebuah Kalung permata berbentuk kunci. Lalu seseorang mengambil fotonya diam-diam. Saat akan kembali kesini, dia mengalami kecelakaan. Percaya padaku. Dia sangat mencintaimu. Bahkan selama dua tahun ini dia terus mengawasi kamu dan putramu." Ungkap Nadin. Wanita itu jatuh duduk terkulai. Tangisnya pecah. Nadin kemudian mulai menenangkannya. Setelah itu dia menceritakan segalanya. "Jadi, dia ada disini sekarang?" Tanya Lestari. "Nadin tolong bilang padanya kalau aku masih mengingat janji kita dulu. Untuk selalu mencintainya. Dan aku memegang janji itu. Sekarang katakan padanya bahwa dia harus bahagia." Kata Andika. "Dia bilang kalau dia masih mencintaimu. Dia juga ingat dengan janjinya untuk selalu mencintaimu. Dan dia bilang kalau sekarang kamu harus bahagia." Kata Nadin. Lestari menangis. Tak menyangka kalau suaminya ternyata tak pernah mengkhianatinya. Cintanya tak pernah berkurang sedikitpun. Dia masih menepati janjinya. "Aku juga mencintaimu, sayang. Maafkan aku karena sempat membencimu." Ucap Lestari. "Mbak, dia berharap setelah ini dia bisa pergi dengan damai. Kita harus segera temukan mayatnya dan kubur dengan layak." Suruh Nadin. Ketiganya kemudian melapor polisi. Cukup lama meyakinkan polisi sampai akhirnya mereka percaya. Mereka lalu mengerahkan semuanya untuk mendatangi sebuah danau yang Andika katakan. Dimana mobilnya jatuh di sana. Cukup lama menyusuri danau itu. Lalu kemudian seorang petugas menemukan sesuatu. "Pak, kami menemukan sebuah mobil." Katanya. Sebuah alat berat di pakai untuk mengangkat mobil itu ke darat. Lestari menangis saat itu. Dia kenal betul dengan mobil suaminya. Kini dia benar-benar percaya kalau suaminya meninggal. "Pak, ada kerangka manusia di dalamnya." Ucap petugas. Lestari segera berlari dan melihatnya. Dia terisak saat melihat pakaian dalam mobil itu. Kerangka itu telah di masukkan dalam peti. Dia melihat kotak cincin berwarna hitam yang sudah usang. Membukanya dan menemukan sebuah kalung berbentuk kunci yang Nadin ucapkan tadi. Ternyata semua yang Nadin katakan benar. Lelaki itu tidak lupa bahkan meyiapkan hadiah untuknya. "Maafkan aku, sayang. Aku terlalu bodoh dan mempercayai segalanya." Ucap Lestari. Polisi membawa kerangka itu untuk di otopsi. Mereka heran karena posisi kerangka itu masih menggunakan sabuk pengaman. Mereka menduga korban pingsan dan tewas di dalam air. "Mbak, kita pulang ya?" Ajak Nadin. Nadin mengantar Lestari pulang. Kemudian menanyakan sesuatu yang penting padanya. "Mbak tahu siapa Reza? Dia yang merencanakan kecelakaan suami mbak. Dia menyabotase mobil suami mbak agar remnya blong. Dia juga yang mengirim foto itu. Dia ingin menguasai harta suami mbak." Kata Nadin. "Harta apa? Suamiku hanya karyawan biasa. Di tidak punya apapun untuk di perebutkan." Ucap Lestari. "Dia punya, mbak. Dia kaya. Hanya saja dia tak mengatakan itu. Dia sengaja menutupinya dan ingin memberi tahu kamu setelah membereskan para musuhnya. Sayangnya sebelum memberi tahu kamu dia meninggal." Kata Nadin. "Maksud kamu apa?" Tanya Lestari tak mengerti. "Dia pewaris tunggal Suhardjo. Kekayaan keluarga itu diwariskan pada cucu kandungnya. Dia pikir dia tak punya cucu. Tapi ternyata dia baru tahu kalau putranya ternyata punya anak biologis dari seorang wanita. Wanita itu meninggal dan menitipkan Andika di panti asuhan. Suhardjo memiliki anak angkat. Dan dialah Reza Suhardjo yang mengetahui itu dan tak terima karena kekayaan itu di berikan pada suami mbak." Kata Nadin. "Suami mbak sudah menjadi pewaris Syah. Bahkan dia sudah mendapat semua hartanya." Lanjut Nadin. "Apa itu benar?" Tanya Lestari. "Itu benar, mbak. Semua kekayaannya dia simpan di sebuah tempat rahasia." Kata Nadin. "Mbak kalung itu kuncinya." Kata Nadin. Lestari kemudian menatap kalung yang kini tengah dia pakai. Melihat kalung itu dia mulai mengerti. Dia akhirnya menuju ruangan rahasia yang Nadin ceritakan. Dibalik lemari buku ada satu ruangan. Lestari membukanya dengan kunci itu. Dan saat terbuka, dia terkejut karena di sana ada banyak emas batangan. Dan ada satu kotak dimana di dalamnya tertulis pernyataan bahwa jika dia meninggal harta kekayaannya jatuh pada istri dan anaknya. Lestari menangis lagi. Perlahan-lahan ingatan ucapan suaminya terngiang di telinganya. "Percaya padaku sayang. Aku akan membuatmu menjadi ratu. Sebentar lagi. Aku akan menunjukkannya padamu." Ucap Andika. "Menunjukkan apa, mas? Sudahlah, cepat berangkat kerja." Ucap Lestari. "Baiklah. Aku berangkat dulu. Aku mencintaimu." Ucapnya. "Aku juga mencintaimu." Ucap Lestari. "Aku mencintaimu." Ucap Lestari masih dengan tangisnya. Kasus kecelakaan itu terungkap. Dugaan itu benar, semua rencana Reza dan kini dia telah di tangkap. Hasil otopsi mengatakan kalau Andika meninggal karena sebuah benturan di kepala dan pingsan dalam air. Kekurangan oksigen lalu meninggal tanpa bisa keluar dari mobil. Nadin menemani Lestari melakukan pemakaman terkahir. "Mbak, dia akan segera pergi." Ucap Nadin. Lestari menangis. Menatap putranya yang juga dia beri nama Andika. Walau selama ini dia bilang membenci suaminya, nyatanya itu hanyalah kebohongan. Dia tak bisa membencinya. Dia bahkan memberi nama putranya Andika. "Nadin, bilang padanya dia dan putraku harus bahagia. Aku akan pergi. Aku selalu mencintainya. Cinta untuk Selamanya" Ucap Arwah Andika. Nadin menyampaikan ucapan itu. Lestari terisak. Dia baru merasakan kehadiran suaminya. "Selamat jalan, sayang. Aku juga sangat mencintaimu. Aku janji akan menjaga anak kita. Selamat tinggal. Sampai jumpa di surga." Ucap Lestari. Sosok bayangan Andika mulai menghilang dalam cahaya terang. Nadin tak bisa melihatnya lagi. Nadin tersenyum. Dia bahagia karena bisa membantu lagi. Dari sini dia belajar kalau perpisahan tidak lantas membuat cinta itu bisa menghilang. Cinta akan tetap hidup walau orang yang di cintai telah tiada sekalipun. Sekalipun seseorang itu telah mati, akan tetapi cintanya tetap hidup. Raga boleh tiada, tapi cinta selamanya akan selalu ada. Seperti ombak yang tak pernah meninggalkan laut... Seperti air yang tak pernah meninggalkan tanah. Dan seperti kehidupan yang tak pernah meninggalkan kematian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN