Bukan Salah Mama

1282 Kata
Nadin baru saja keluar dari pelataran kampus. Untuk beberapa hari Alisa masih belum masuk kuliah karena persidangan mengenai kasus Aisyah. Nadin sangat bosan karena sudah lama tidak nongkrong. "Nadin." Panggil Lestari. "Mbak Lestari. Apa kabar mbak?" Tanya Nadin. "Baik, kamu gimana? Baik juga, kan?" Tanya Lestari. Kini kehidupan lestari telah berubah. Toko bunganya semakin maju dan ramai pembeli. Dia juga pindah ke rumah mewah milik Andika. Kehidupannya berubah drastis karena Nadin. "Aku juga baik, mbak." Jawab Nadin. Kemudian Lestari mengajak Nadin untuk makan di sebuah restoran. Lestari ingin mengajak Nadin berbicara. Dia juga membawakan Nadin banyak hadiah karena dia ingin membalas jasa Nadin. Bagaimanapun juga, semua terungkap atas bantuan Nadin. "Nadin, aku punya sahabat. Sudah sepuluh tahun sejak kematian putranya, dia hidup dalam rasa bersalah. Dia merasa jika kematian anaknya disebabkan karena dirinya. Aku ingin kamu membantunya." Kata Lestari. "Tapi, mbak. Kalau bukan Arwah itu yang menampakkan diri, aku gak bisa melihatnya." Kata Nadin menjawab. "Ayolah, Nadin. Cobalah. Mungkin saja Arwah putranya masih berkeliaran di rumahnya." Kata Lestari. Nadin menarik nafas dengan panjang. Kemudian mengangguk dan menyetujui ucapan Lestari. Kini keduanya sudah datang ke sebuah rumah besar. Rumah dengan nuansa Vintage yang sangat indah di pandang. Nadin bahkan mengagumi rumah itu. Di depan pintu, seorang anak lelaki tersenyum menyambut kehadiran Nadin. Dua anak lelaki itu sama-sama tersenyum pada Nadin. Dia kira usia keduanya hanya terpaut dua tahun. Keduanya sama-sama terlihat tampan. "Hai, tampan. Siapa nama kamu?" Tanya Nadin. "Vero, mana mama kamu?" Tanya Lestari. Keduanya lalu beranjak masuk kedalam. Melihat tingkah mereka berdua, Nadin sontak tersenyum. "Lestari." Ucap seorang wanita. Dia nampak cantik walau kini usianya sudah memasuki kepala tiga. Dia kaya dan tentu saja terawat. Membuat dia menjadi awet muda. "Linda, ini Nadin. Yang aku ceritakan sebelumnya padamu. Berkat dia aku tahu segalanya." Kata Lestari. "Hai Nadin. Aku Melinda." Ucapnya memperkenalkan dirinya. "Hai, mbak. Aku Nadin." Jawab Nadin tersenyum. Ketiganya kini menyelusuri seluruh sudut rumah. Tidak ada sosok arwah siapapun. Sepertinya memang arwah putra Linda tidak ada di sana. Yang berarti dia telah sampai ke surga. "Bagaimana Nadin? Apa kamu melihat sesuatu?" Tanya Lestari. "Gak ada yang aneh mbak. Rumah ini bersih." Kata Nadin. "Mungkin ini hanya perasaanku, Tar. Aku pikir dia berada disini, padahal tidak ada. Aku hidup dalam rasa bersalah selama sepuluh tahun ini dan mengira dia berada disini karena sebuah kebencian." Kata Linda. "Jangan bilang begitu, Lin. Kamu harus ikhlas. Ini bukan kesalahan kamu." Kata Lestari. "Aku sudah mencoba segalanya. Namun rasa itu masih ada. Dan itu selalu menghantui diriku." Ucap Linda. Karena merasa tak ada yang aneh, Lestari dan Nadin memutuskan untuk pulang. Sebelumnya, Nadin sempat tersenyum dan melambaikan tangan pada kedua anak lelaki tersebut. "Mereka akrab sekali ya? Tidak pernah bertengkar sepertinya" Ucap Nadin. "Nadin, kamu lucu sekali. Tentu saja mereka kan ibu dan anak." Ucap Lestari mengira yang Nadin maksudkan adalah Vero dan Linda. "Maksudku kedua anak itu. Siapa nama kakaknya mbak?" Tanya Nadin. Lestari langsung saja menghentikan mobilnya. Nadin yang melihat itu kaget seketika. "Mbak Tari. Hati-hati." Kata Nadin. Lestari menatap Nadin dengan mata yang tajam. "Kamu melihat ada berapa anak tadi?" Tanya Lestari. "Dua anak. Yang satu mungkin umur sepuluh tahun dan satu lagi mungkin delapan atau sembilan tahunan." Kata Nadin. "Nadin, tidak ada dua anak. Hanya satu saja. Vero saja yang ada di sana." Ucap Lestari. Nadin tiba-tiba membeku. Dia tak menyangka kalau ternyata hanya ada satu anak. Nadin tidak curiga sedikitpun karena dia pikir kalau mereka berdua manusia. Melihat penampilan satu anak lagi baik tanpa luka sedikitpun. Akhirnya Nadin dan Lestari kembali memutuskan untuk menemui Linda. Mereka ingin mengatakan sesuatu pada Linda. Saat kembali memasuki rumah, sosok anak kecil itu berlari karena kehadiran Nadin. "Lestari, Nadin. Kalian kembali kesini?" Tanya Linda. "Melinda, dia ada disini." Ucap Lestari. "A-apa? Dia ada disini? Maksudnya Farel ada disini." Kata Linda tercekat. Ketiganya kembali berbincang mengenai awal kematian Farel. "Aku memiliki insomnia waktu itu. Tanpa obat tidur aku takkan bisa tidur. Jadi aku selalu mengkonsumsinya setiap ingin tidur. Waktu itu aku meminum obat itu tanpa tahu kalau anakku dalam bahaya. Farel membangunkan aku dan mengajak bermain, tapi karena aku tidur, aku tidak menghiraukannya. Farel bermain seorang diri dan dia terjatuh dari tangga. Saat aku bangun, dia sudah dalam keadaan mati. Memang tidak ada luka apapun, tapi hasil otopsi mengatakan kalau otaknya mengalami pendarahan dalam." Ucap Lestari. Itu sebabnya saat melihatnya Nadin merasa anak itu seperti manusia. Nadin segera menghampiri Vero dan di sampingnya ada Farel. Nadin tertegun saat melihat keduanya. Nadin baru mengerti kalau ternyata Vero bisa melihat Farel. "Farel." Ucap Nadin. "Kakak bisa lihat kak Farel?" Ucap Vero. Nadin tersenyum. Sedangkan Farel hanya memberikan tatapan yang sangat tajam padanya. "Farel pasti sayang sama Vero, ya?" Tanya Nadin. Farel mengangguk. Sebenarnya dia sudah tahu sedari tadi kalau ternyata Nadin bisa melihatnya. "Farel juga sayang sama mama, kan?" Tanya Nadin. Farel mengangguk seketika itu juga. "Kalau begitu apa Farel mau mengatakan sesuatu?" Tanya Nadin. Farel kembali mengangguk. Kemudian Nadin mengajak Farel untuk menemui mamanya. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * "Apa dia ada disini?" Tanya Linda. Nadin mengangguk. Farel mendekati mamanya dan menggandeng tangannya. "Farel sayang sama mama. Sayang juga sama Vero. Mama, sebenarnya ini bukan salah mama. Itu karena kesalahanku sendiri. Aku yang kurang hati-hati. Jadi aku terjatuh." Ucap Farel. Nadin kemudian mengatakan sesuatu yang persis seperti apa yang dikatakan anak itu. Linda langsung menangis seketika itu juga. Kini dia sendiri mampu merasakan kehadiran Farel disisinya. "Apa kamu mau pergi?" Tanya Nadin. Farel mengangguk. Setelah mengungkapkan segalanya, dia merasa kini dia harus pergi dari rumah itu. "Farel, dengarkan mama. Mama juga sayang sama Farel. Maafkan mama. Kalau saja waktu itu mama tidak tidur, pasti kamu bisa diselamatkan." Kata Linda. "Tidak, ma. Mama tidak boleh merasa bersalah. Mulai sekarang mama harus hidup bahagia. Jaga Vero dengan baik. Setelah ini aku tidak bisa menjaga mama lagi. Aku akan pergi." Kata Farel "Mbak, dia bilang mulai sekarang jangan hidup dengan rasa bersalah. Mbak harus hidup bahagia. Setelah ini Farel akan pergi. Dia tidak bisa menjaga mbak dan Vero lagi. Dia berkata kalau mbak harus jaga Vero dengan baik." Ucap Nadin. Melinda tambah terisak mendengarnya. Ternyata selama ini putranya berada di rumah itu untuk menjaganya dan Vero. "Nadin, bilang padanya. Apa dia mau memelukku untuk yang terakhir kalinya?" Tanya Linda. "Kamu mau kan?" Tanya Nadin pada Farel. Anak itu menunduk. Merentangkan tangannya dan memeluk mamanya untuk yang terakhir kalinya. Melinda dapat merasakan itu. Untuk kali ini dia baru merasakan putranya benar-benar ada disisinya. Setelah itu Nadin melihat sosok Farel perlahan menghilang. "Dia sudah pergi." Kata Nadin. Melinda akhirnya tersenyum. Kini dia sudah merasa lega. Setelah hidup sepuluh tahun dengan rasa bersalah, kini dia merasa beban itu telah pergi. Nadin dan Lestari ikut senang. Akhirnya Melinda bisa merasakan ketenangan. Melinda segera memeluk Vero. Melinda tidak pernah tahu kalau sebenarnya Vero bisa melihat arwah Farel. Dia pikir karena anak kecil memang sering bicara sendiri. "Nadin, tunggu dulu. Aku punya sesuatu untuk kamu." Kata Melinda. Melinda segera menuju kamarnya. Mengambil sesuatu di sana. "Ini untuk kamu. Sebagai ucapan terima kasihku." Kata Melinda. Nadin terkejut saat menerima sebuah cincin berlian yang sangat mahal. Namun Nadin tak bisa menerimanya. "Enggak mbak. Tidak perlu. Aku ikhlas membantumu." Kata Nadin. "Tidak Nadin. Ambil saja. Ini untuk kamu." Kata Melinda. "Ambil saja Nadin. Kamu bisa menyimpannya." Kata Lestari. Akhirnya Nadin mengambil hadiah yang di berikan oleh Melinda. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN