Perasaan yang Menghangat

1095 Kata
Pagi ini hujan turun dengan sangat deras. Padahal Nadin ingin sekali berangkat kuliah. Nadin menunggu hujan yang tak kunjung reda. Matanya terus menatap keluar dari jendela. Entah kenapa hari ini seakan sangat sial baginya. Semalam bermimpi dengan mimpi yang masih sama. Nadin sampai tidak tidur sampai dini hari. Dan sekarang dia terjebak di rumah karena hujan. Tiba-tiba sebuah mobil yang tidak asing memasuki halaman rumahnya. Nadin mencoba melihat apakah memang mobil itu dan ternyata benar. Itu mobil Arya yang biasa lelaki itu pakai. Nadin segera keluar dan melihat kedatangan Arya dirumahnya. Entah apa yang membuat lelaki itu sampai datang ke rumahnya. "Pak Arya. Ngapain kesini ya?" Tanya Nadin antusias. "Sebenarnya buku saya tertinggal Minggu lalu. Saya lupa mau ambil dan baru ingat." Ucapnya. Nadin tersenyum. Karena memang benar buku lelaki itu tertinggal dirumahnya. "Lho, ada pak Arya. Masuk pak." Ucap Sisi. "Nadin, ada pak Arya kok malah kamu gak suruh masuk sih?" Ucap Sisi. Nadin benar-benar lupa untuk menyuruh dosennya itu masuk. "Nadin, kamu gak ke kampus? Bukannya nanti ada satu mata kuliah?" Ucap Arya. "Sebenarnya mau, pak. Cuma mobi mama lagi di bengkel. Dan hujan lebat banget. Saya lagi nunggu hujan reda." Kata Nadin. "Kalau begitu berangkat sama saya aja." Kata Arya. "Boleh, pak?" Tanya Nadin "Tentu saja boleh." Kata Arya. Arya menatap kalung yang Nadin kenakan. Kalung yang Mamanya berikan pada Gadis pilihan. Gadis yang mamanya pilih sendiri. Entah kenapa mamanya sangat suka pada Nadin. Keduanya kini telah berangkat menuju kampus. Keduanya diam tanpa banyak bicara. "Nadin, sebenarnya Minggu ini saya mau datang ke acara pertunangan seorang teman, mau tidak kamu nemenin saya?" Tanya Arya. Nadin diam untuk sejenak. Tak mampu menolak karena memang dia yang mau. "Boleh, pak." Jawab Nadin. "Kalau begitu akan saya jemput di rumah kamu." Kata Arya. Nadin tersenyum. Karena keadaan di luar hujan membuat Nadin merasa mengantuk dan akhirnya tertidur di dalam mobil. Melihat itu Arya tidak menuju kampus tapi malah meminggirkan mobilnya. Dia tadi sempat bicara dengan mama Nadin. Dia mendengar jika Nadin akhir-akhir ini selalu saja mengalami mimpi buruk. Bahkan sampai tidak pernah tidur malam hari. Arya kemudian mengirim kabar bahwa Nadin tidak akan masuk kuliah hari ini. Nadin terlihat sangat lelah. Arya kemudian membawa Nadin ke sebuah tempat. ... Nadin terbangun dan melihat dirinya sudah ada disebuah ranjang. Di luar masih sama. Hujan belum reda. Nadin melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul dua belas. Nadin lalu bangun dan berdiri. Dia mendapati dirinya berada di sebuah Villa. Nadin duga Villa itu pasti milik Arya. "Kamu sudah bangun?" Ucap Arya. Nadin sontak memundurkan tubuhnya. Bagaimana bisa tujuan pergi ke kampus justru dia berakhir disebuah ranjang. "Nadin, jangan salah paham dulu. Kamu tadi ketiduran di mobil. Sudah sampai kampus tapi kamu gak bisa dibangunin. Kamu kayak enggak tidur berhari-hari. Jadi aku terpaksa bawa kamu kesini. Kamu tenang aja. Saya sudah izin sama mama kamu. Ini juga dia yang suruh. Katanya biar kamu relaks." Kata Arya. Nadin akhirnya lega. Dia pikir Arya mempunyai sebuah niat buruk padanya. Sekali lagi Nadin sudah curiga tanpa bukti. Wajahnya justru bersemu merah karena malu. "Maaf, pak." Jawab Nadin. Arya tersenyum. Sedikit gemas melihat tingkah Nadin. Bahkan pipi merona nya membuat Arya semakin suka. Nadin menatap sekeliling. Sudah lumayan lama dia tertidur. Tanpa tahu kalau jam menunjukkan siang hari. "Ayo makan. Saya sudah masak buat kamu." Ajak Arya. Nadin mengangguk dan mengikuti kemana Arya pergi. Arya mengambilkan makanan yang dia masak sendiri. Ayam goreng dan segelas teh hangat. Nadin menatap keluar jendela. Melihat bunga-bunga yang terkena tetesan air hujan. Dia baru sadar kalau tempat itu sangat indah. "Pak, ini rumah bapak?" Tanya Nadin. "Iya, ini rumah saya. Rumah yang saya bangun dengan hasil jerih payah saya sendiri. Rumah ini nantinya akan saya tempati dengan orang yang saya cintai." Kata Arya. Nadin tersenyum. Menatap lelaki itu. Bisa-bisanya pada awalnya Nadin mencurigai lelaki sebaik dia. Lelaki yang bekerja keras untuk hidupnya. "Bapak emang suka sekali sama bunga ya?" Tanya Nadin. Melihat bagaimana rumah kediaman ibu Arya, Nadin bisa menduganya. Bahkan Villa ini tak kalah bagusnya dengan bunga-bunga yang sangat indah. "Iya, menanam bunga termasuk salah satu hobi saya." Kini Arya mulai mensejajarkan dirinya dengan Nadin. Menatap hujan yang tak kunjung reda sedari pagi. Tiba-tiba Nadin mengingat sesuatu yang sangat familiar. Melihat sebuah tangan di kala hujan dan tangan itu menariknya ke dalam sebuah pelukan. Nadin dapat mengingat wangi dari tubuh itu. Wangi tubuh yang memeluknya dengan erat. Nadin mendongakkan kepala, tanpa dia sadari dia justru memeluk Arya tanpa sadar. Keduanya saling menatap cukup lama. Nadin hilang kesadaran dan terlena untuk sesaat. Entah karena apa, kini bibir keduanya sudah saling menempel. Namun Arya segera mengingat bahwa tujuan keduanya kesini bukan untuk itu. Melainkan untuk menenangkan pikiran Nadin. Gadis yang di percayakan ibunya kepadanya. Arya segera menghentikan ciuman itu sebelum dia tidak bisa mengendalikannya lagi. "Ayo, makan dulu." Pinta Arya. Nadin segera duduk kembali di atas kursi. Memakan dengan lahap makanan yang di masak Arya. Nadin baru tahu kalau Arya juga pandai dalam hal memasak. Buktinya makanan itu sangat lezat. "Nadin, kita pulang besok sore ya?" Ajak Arya. "Mama kamu yang nyuruh. Katanya biar kamu sedikit tenang. Kamu jangan khawatir karena nanti malam Alisa akan kesini. Jadi kamu gak perlu takut saya apa-apain." Kata Arya. Nadin tersenyum. Ada satu perasaan yang menghangat kala itu. Entah pesona apa yang diberikan oleh Arya sampai bisa memikat hati seorang Nadin. Bahkan saat semuanya menganggapnya aneh, hanya Arya yang percaya kalau Nadin itu berbeda dan spesial. Setelah selesai makan, bersamaan dengan itu hujan mulai reda. Kini Nadin mulai melihat sekeliling. Melihat keindahan dari Villa itu. "Ini sebenarnya daerah mana, pak?" Tanya Nadin. "Daerah Pandaan. Disini memang terkenal dengan pemandangannya." Jawab Arya. Nadin tak henti-hentinya mengulas sebuah senyuman. Ingin sekali dia berteriak kala itu. Melepaskan apa yang selama ini dia pendam dan menjadi beban. Tiba-tiba suara bel berbunyi. Keduanya menduga jika yang datang adalah Alisa. Dan benar saja jika dia sudah datang. Dia datang dengan lebih cepat. "Aku kangen banget sama kamu." Ucap Alisa. Keduanya lalu berpelukan. Melihat itu Arya tersenyum. Alisa menatap keduanya seolah senang atas kebahagiaan keduanya. Alisa sadar kalau kini keduanya saling menyukai. Alisa tidak akan menolak hubungan keduanya. Dia akan menyetujui itu. Dia juga berharap kalau nanti Nadin akan bahagia. Dia yakin kalau Arya akan menjaga dan melindunginya. Terlihat seorang wanita tengah berdiri menatap kebersamaan ketiga orang. Dia menatap ketiganya seolah-olah ingin menyampaikan sesuatu. Namun segera dia urungkan niatnya itu. Dia ingin waktu yang pas untuk berbicara empat mata hanya dengan Nadin seorang saja. Dia ingin meminta bantuan Nadin. Karena dia tahu hanya wanita itu yang bisa membantunya saat ini. Perempuan itu adalah sosok roh yang mati penasaran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN