Selalu Cinta

1721 Kata
Nadin dan Alisa menikmati pemandangan sambil melihat senja. Keduanya terlihat bahagia tanpa beban. "Pak Arya kok gak bilang sih kalau ternyata punya rumah sebagus ini?" Tanya Alisa. "Emangnya kalau pak Arya bilang kenapa, Lis?" Tanya Nadin. Alisa tersenyum. Dia tahu kalau sahabatnya itu sedang mengintimidasinya. Dia terlihat sedikit cemburu. "Enggak ada, Nad. Cuma kalau tahu kan aku bisa aja kesini bareng kamu." Kata Alisa. Arya tersenyum. Melihat Nadin dan Alisa yang sedang berdebat. "Sudah, nanti saya bawa kalian kesini lagi." Kata Arya. "Malam ini kita makan apa, ya?" Tanya Alisa. "Kalian tenang aja. Saya sudah belanja. Biar saya saja yang masak." Kata Arya. Nadin tersenyum. Menatap sosok Arya yang begitu sempurna di matanya. Namun sayangnya di usianya yang sudah hampir kepala tiga dia masih sendiri. Nadin jadi ingin mengisi kekosongan hati lelaki itu. Tapi, apakah dia pantas untuknya? Sedangkan dia sendiri termasuk wanita yang aneh dengan keadaannya yang berbeda. Kini Arya berkutat di dapur. Memasak sesuatu untuk mereka bertiga malam ini. "Mau saya bantu, pak?" Tanya Nadin mendekat. "Boleh, kamu bantu potong sayuran itu ya? Wortelnya di potong serong saja." Kata Arya. Nadin segera mengambil pisau dan memotong sayuran itu. Alisa yang menyaksikan itu justru tersenyum. "Wah, udah cocok nih kalian." Kata Alisa menggoda. "Apaan sih." Kata Nadin malu-malu. "Wah, bau makanannya enak sekali sih." Kata Alisa. Dia tidak berbohong. Aroma makanan itu membuat perutnya lapar. Sejak siang tadi Alisa belum makan apapun. Menunggu hampir sejam dan kini makanan itu telah selesai di masak. Arya menyiapkan piring dan menatanya di atas meja. Ketiganya makan dengan lahap. Apalagi cuaca di tempat itu sangat dingin malam ini. Saat tengah asyik makan. Nadin melihat sekelebat bayangan melintas di depan matanya. Namun dia pikir itu hanya matanya yang salah melihat. Malam menunjukkan pukul sembilan. Nadin menatap Alisa yang sudah berbaring dan tertidur dengan cepat. Sementara Gadis karena sudah tertidur dari siang, dia mulai sulit untuk tidur lagi. Apalagi suara hujan yang menggema membuat Nadin malah semakin sulit saat tertidur. Nadin lalu keluar kamar. Menuju jendela dekat Balkon dan melihat keluar. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dibelakangnya. Nadin menatap ke belakang dan tak ada seorangpun di sana. Nadin sangat yakin kalau ada yang mengawasinya sedari tadi. "Nadin." Tiba-tiba sosok wanita memakai gaun merah berada tepat di hadapannya. Nadin sedikit takut melihatnya. Dia tahu kalau dia bukan manusia, melainkan arwah yang penasaran. "Ka-kamu siapa?" Tanya Nadin terbata. "Nadin, aku butuh bantuan mu." Ucapnya. "Kamu tahu aku dari mana?" Tanya Nadin tak percaya. "Aku mengembara untuk mencari seseorang yang mampu menolongku. Waktu itu aku hadir di sebuah makam dan melihat kamu bersama teman kamu itu sedang menabur bunga. Aku dengar kalau kamu mampu melihat arwah sepertiku." Katanya. "Baiklah, aku juga tidak tahu aku bisa membantumu atau tidak. Jelaskan semuanya padaku." Kata Nadin. "Yang aku ingat aku bernama Zara. Aku lupa apa penyebab kematian ku. Awal aku ingat aku berada di rumah sakit. Lalu mengembara mencari tujuan. Tapi tiba-tiba aku merasakan sesuatu. Aku mengingat seorang pria. Aku yakin kalau dia itu kekasihku. Dia orang yang mencintaiku. Tapi, sayangnya aku tidak tahu namanya. Aku hanya ingat wajahnya." Ucap Zara menjelaskan. Nadin menghembus nafas panjang. Meminta bantuan tapi tentang dirinya saja tidak ingat. Nadin bukan paranormal yang bisa tahu segalanya. "Kamu ingat kamu tinggal dimana?" Tanya Nadin. Arwah Zara menggelengkan kepala. Baru kali ini ada Arwah yang lupa dengan identitasnya sendiri. Tidak tahu dimana dia tinggal. Nadin merasakan suatu keanehan. "Aku pikirkan saja besok. Ini sudah malam. Aku ingin beristirahat dulu." Kata Nadin. Zara tersenyum. Setidaknya ada seseorang yang ingin membantunya. Zara kemudian menghilang. Tiba-tiba Nadin merasakan kepalanya sangat pusing. Hampir saja Nadin jatuh pingsan tapi Arya dengan sigap menahannya. "Kamu kenapa?" Tanya Arya. "Kepala saya sakit." Kata Nadin. "Ini malam, kenapa belum tidur?" Ucap Arya. "Saya gak bisa tidur." Ucap Nadin. "Tunggu disini. Saya ambil obat sakit kepala dulu." Kata Arya. Arya menuju kamarnya. Sebelumnya menyuruh Nadin duduk di sofa. Sesaat setelah itu Arya datang dan membawa segelas air dan obat sakit kepala. Nadin kemudian meminumnya. "Makasih ya, pak?" Ucap Nadin. Arya mengangguk. "Gimana ya, pak? Saya sudah tidur tadi dan sekarang malah sulit untuk tidur lagi." Kata Nadin. Keduanya kemudian berbincang semalaman. Saling bercerita dan tertawa bersama. Sampai keduanya sama-sama terlelap di sofa. ... "Nadin, bangun." Seseorang membangunkan Nadin. Nadin terkejut menatap Zara dengan gaun merahnya. "Ya Ampun, kamu ngagetin aku aja." Kata Nadin. "Kamu sudah janji mau bantuin aku, kan?" Tanya Zara. Nadin menatap Arya yang masih tertidur di bawah. Dia lupa kalau semalam lelaki itu menemaninya ngobrol sampai mereka berdua sama-sama tertidur. "Aku dan dia juga begitu. Mengobrol sepanjang malam sampai terlelap." Ucap Zara. "Kamu tahu? Atau jangan-jangan kamu mengawasi ku sepanjang malam." Ucap Nadin. Zara terdiam. Dugaan Nadin memang benar adanya. Dia bahkan selalu mengawasi Nadin kemanapun wanita itu pergi. "Nadin, semalam kamu kemana sih? Kok gak tidur di kamar?" Ucap Alisa. Alisa bengong karena melihat Nadin dan Arya yang jaraknya cukup dekat. Alisa menyimpulkan keduanya mungkin tidur di sofa semalaman. "Eh, sorry. Aku gak tahu." Ucap Alisa tersenyum. Senyuman Alisa membuat Nadin mengira kalau sahabatnya itu sudah salah paham. "Kamu salah paham, Lis. Ini bukan yang kamu kira." Kata Nadin. Nadin beranjak dan ingin menjauh, namun Zara menghalanginya membuat keseimbangan Nadin runtuh dan terjatuh. Yang akhirnya menimpa tubuh Arya yang masih tertidur pulas. "Aw..." Ucap Nadin. Arya membuka mata dan kini keduanya saling menatap. Namun tatapan keduanya kini berpindah pada Alisa yang tersenyum bahkan bukan tersenyum lagi melainkan tertawa. "Parah, ya?" Ucap Alisa. Nadin segera berdiri. Sedangkan Arya masih bingung dengan apa yang terjadi. Dia tak mengerti kenapa tubuh Nadin bisa berada di atasnya. "Maaf, pak. Ini gak sengaja kok." Kata Nadin. "Aduh, kenapa ya? Kok bisa begitu barusan?" Tanya Arya yang kini juga berdiri. "Nadin jatuh, pak." Kata Alisa tersenyum. Nadin menatap Zara. Jika bukan karena dia, ini semua takkan terjadi. "Udah, ah. Aku mau ke kamar mandi." Kata Nadin Nadin ingin membersihkan diri dan mandi. Namun baru saja memasuki kamar mandi, sosok Zara datang dan mengikutinya. "Jangan ulangi hal kayak tadi. Aku gak suka." Kata Nadin. "Maaf Nadin. Aku salah." Kata Zara. "Baiklah, kamu keluar dulu. Jangan mengikuti aku terus menerus seperti ini." Kata Nadin. "Tunggu di kamar. Kita bicara setelah ini." Lanjut Nadin. Nadin keluar dan menemukan wanita itu tengah duduk di atas ranjang. "Ceritakan apa saja yang kamu ingat." Ucap Nadin. "Namaku Zara. Pertama kali aku jadi Arwah aku udah ada di rumah sakit. Terus aku ingat cuma punya kekasih. Dia tampan, dan juga baik banget." Ucap Zara. Nadin mendengus kesal. Bagaimana bisa wanita itu mengatakan dia punya kekasih yang tampan dan baik, padahal bukan hanya kekasihnya saja. "Cuma itu yang kamu ingat?" Tanya Nadin. Zara mengangguk lalu tersenyum. Tanpa mengatakan apapun lagi. "Nama panjang kamu apa kamu juga tidak ingat?" Tanya Nadin. Zara mengangguk karena ingat namanya saja sudah beruntung untuknya. Nadin kemudian mengambil Ponselnya. Mencari nama Zara di sosmed. Dan ada banyak sekali nama Zara. Nadin menyebutkan banyak nama namun bukan Zara yang ada di depannya. "Nihil. Kalau yang kamu ingat cuma itu kayaknya aku gak akan bisa bantu kamu." Kata Nadin. "Nadin, Please. Jangan seperti itu. Tolong aku. Aku memang gak ingat apapun tentang aku. Aku hanya ingat tentang dia. Aku ingat semuanya. Saat berlari di tengah hujan. Saat menatap langit malam bersama. Aku ingat semuanya. Aku hanya ingin bertemu dengannya untuk terakhir kali setelah itu aku akan pergi." Kata Zara menangis. Ucapan Zara mengingatkan Nadin pada bayangan tangan seorang lelaki yang menariknya di tengah hujan dan mengajaknya berteduh. Nadin jadi tidak tega dan masih ingin membantunya. "Apa kamu ingat dimana rumah sakit pertama kali kamu jadi Arwah?" Tanya Nadin. Zara mengangguk. Karena hanya itu yang dia ingat. Sayangnya rumah sakit itu ada di kota dan Nadin harus kembali terlebih dahulu agar bisa pergi ke sana. .... Nadin sudah sampai di kota kembali. Setelah selesai kuliah, Nadin mendatangi rumah sakit yang Zara sebutkan. Namun sayangnya tidak ada hasilnya. Bahkan tidak ada pasien meninggal dua tahun lalu yang bernama Zara. Zara menjadi sedih. Sepertinya selamanya dia akan gentayangan seperti itu. Tanpa arah dan tujuan. Padahal tujuannya hanya ingin melihat kekasihnya itu untuk terakhir kalinya. Zara menundukkan kepala. "Jangan menyerah. Aku yakin nanti pasti ada jalannya." Kata Nadin. Zara tersenyum dengan paksa. Nadin ingin membantunya saja dia sudah senang. Nadin dan Zara kembali ke rumah. Sore ini Nadin harus bersiap pergi ke pesta pertunangan yang ia dan Arya akan datangi bersama. Nadin berdandan dan Zara melihatnya. Nadin sangat cantik dengan gaun biru muda yang dia kenakan. "Andai saja aku bisa ganti baju." Kata Zara. "Kamu mau ganti baju?" Tanya Nadin. "Gimana caranya?" Ucap Zara. Nadin pernah mendengar jika hantu ingin berganti pakaian, kita harus membakar baju itu untuknya. Akhirnya Nadin mengambil satu gaun yang masih bagus, menuju halaman samping dan membakarnya. Sisi yang melihat itu tak habis pikir. Putrinya membakar gaun mahal yang masih bagus. Nadin melihat Zara yang kini telah berganti pakaian. Untung saja ukuran tubuh Zara sama dengannya. "Nadin, Pak Arya sudah datang." Kata Sisi. Nadin segera beranjak ke depan. Sedangkan Zara mengikutinya. "Zara, kamu disini aja ya? Aku mau pergi." Ucap Nadin. Zara hanya mengangguk. Dia juga tidak ingin mengganggu acara keduanya. Zara tahu kalau keduanya saling suka saat ini. Nadin memasuki area pesta yang sangat mewah. Semua tamu yang hadir dari kalangan berada. Terbukti dari pakaian bermerk yang mereka kenakan. "Nadin, itu namanya Zein. Dia yang akan bertunangan dengan Amel hari ini." Kata Arya. Nadin menatap kedua pasangan yang akan bertunangan hari ini. Lelaki tampan dan juga wanita yang cantik. Nadin menatap keduanya. Arya lalu mengajak Nadin untuk bertemu dengan dua orang itu. Zara yang bosan dengan diam-diam mengikuti kemana Nadin dan Arya pergi. Dia mengikuti keduanya tanpa mereka tahu. Zara hanya ingin mengetahui seperti apa pesta pertunangan orang kaya. Zara ingin masuk kedalam. Namun terhalang oleh jimat penangkal. Dia tak menyangka kalau ada yang akan melakukan hal seperti itu. "Katanya ada jimat penangkal setan disini. Supaya acaranya berjalan dengan lancar dan baik." Kata salah satu tamu. Mendengar itu Zara tersenyum sinis. Ternyata benar kalau mereka masih percaya akan hal seperti itu. Zein keluar karena menerima sebuah telepon. Zara menatap sosok itu dari jauh. Yang terlihat hanya punggung lelaki itu. Zara penasaran dan berdiri. Namun tanpa sengaja sosok lelaki itu berbalik dan menabrak melewati Zara. Saat itu Zara merasakan sesuatu. Hatinya menghangat kala itu. Zara menatap sosok lelaki itu. Dia yang selama ini Zara cari keberadaannya. Hati Zara bergetar saat ini. Semua ingatannya perlahan-lahan mulai kembali.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN