Zara masih menatap sosok lelaki di depannya itu. Dan kini ingatannya telah kembali. Zara mengingat segalanya. Tentang bagaimana dia mati. Kecelakaan mobil yang menewaskan dia namun menyelamatkan Zein. Dia bukan lagi kekasihnya, tetapi tunangannya.
"Sayang, kamu mau kan menikah denganku? Menjadi istriku? Dan juga menjadi ibu dari anak-anakku kelak." Pinta Zein.
Zara mengangguk dan saat itu juga Zein menyematkan sebuah cincin di jari manis Zara. Pertunangan segera di adakan dan tiga bulan setelah itu mereka akan segera menikah. Namun semuanya gagal karena sebuah kecelakaan.
Zara melihat Zein duduk sambil menundukkan kepala. Membuka laya ponselnya. Menatap foto Zara yang sudah tiada setahun ini. Walau wanita itu tiada lagi, namun di hati Zein hanya ada dirinya. Dan kini kedua orang tua Zein memaksanya untuk menikah dengan wanita lain.
Zara menatap Zein dengan haru. Lelaki itu yang sangat amat dia cintai. Lelaki yang selalu memberinya segalanya. Lelaki yang membuatnya bagaikan ratu. Zara menangisi Zein. Memang sudah seharusnya lelaki itu bahagia dengan mencari penggantinya.
"Aku masih mencintai kamu, Zara." Gumam Zein sambil menatap foto Zara.
"Aku juga mencintaimu." Kata Zara menangis.
"Aku ikhlas jika kamu bersama orang lain. Kamu harus bahagia." Lirih Zara.
Namun sia-sia, sosok Zein sama sekali tidak mendengarnya.
"Mas, Ayo masuk. Acara sudah mau di mulai. Jangan di luar terlalu lama. Kata mama enggak baik lho, nanti ada Arwah jahat yang ngincar kamu."
Calon tunangan Zein datang. Zara mengamatinya. Dia kenal dengan sosok itu. Sosok wanita yang dulu memang sudah mengejar-ngejar Zein. Bahkan dia dari awal memang sudah menunjukkan ketidaksukaannya pada Zara.
"Kamu masuk aja, mas. Aku masih mau ke toilet." Nama perempuan itu Anita.
Zara mengikutinya menuju toilet. Anita membenarkan make-up yang dia pakai hari ini. Anita wanita yang cantik. Zara tersenyum karena takdir lebih mendukung wanita itu.
"Setelah ini aku akan menjadi wanita satu-satunya, Zein. Tidak sia-sia usahaku menyingkirkan Zara. Dan kini Zein menjadi milikku." Gumam Anita.
Kemudian dia keluar dengan senyumnya yang merekah. Sementara Zara tercengang menyaksikan segalanya. Zara terkejut saat tahu kecelakaan yang menyebabkan kematiannya adalah karena ulah Anita.
Perlahan-lahan kejadian setahun yang lalu membuat Zara mengingat segalanya.
"Anita, jangan ganggu Zein lagi. Dia hanya mencintaiku dan bukan dirimu." Ucap Zara.
Anita tersenyum kecut. Zara sangat menyombongkan dirinya.
"Aku heran, bagaimana bisa Zein memilih kamu sebagai calon istrinya dibandingkan aku yang kaya dan cantik? Kamu cuma anak Yatim piatu dari panti asuhan. Dan kamu yang dia pilih." Kata Anita.
"Terserah kamu mau bilang apa. Asal kamu tahu, aku yang dia cintai. Wanita yatim piatu ini yang dia pilih. Bukan kamu yang kaya raya dan juga cantik. Mungkin Zein tahu kalau yang cantik itu harus hati. Percuma cantik kalau hatinya busuk seperti kamu." Ucap Zara.
Plaakkkk...
Anita memberikan tamparan untuk Zara.
Plaaakkk....
Zein membalas tamparan Anita.
"Keterlaluan ya kamu, bukan salah Zara. Ini salah kamu. Berani sekali kamu menamparnya. Dia calon istriku. Aku dengan semuanya. Aku gak tahu ternyata kamu sejahat ini." Kata Zein.
"Maaf, mas. Bukan mau ku, tapi Zara yang mulai dulu. Aku cinta sama kamu, mas." Ucap Anita merengek.
"Tapi aku gak pernah cinta sama kamu. Kamu sudah aku anggap adik sendiri. Kamu harus menerima itu semua." Ucap Zein.
Zen kemudian merangkul Zara dan membawanya masuk. Meninggalkan Anita yang menangis meratapi nasib yang tak berpihak padanya.
Dendam Anita membuatnya melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Dia kemudian merencanakan kejahatan. Membuat rem mobil Zara blong dan membuat Zara mati dalam kecelakaan.
Acara pertunangan Zara dan Zein di adakan di sebuah Villa mewah di daerah pegunungan yang indah. Jalan menuju ke sana sedikit berbelok-belok. Setelah acara itulah Anita menyabotase mobil yang Zara tumpangi. Menyuruh orang agar membuat rem-nya blong. Dan Zein yang menyusul Zara setelah itu menemukan mobil yang Zara tumpangi jatuh dari tebing dan terbakar.
Zara menangis. Dia melihat Anita yang tengah menuju aula pertunangan. Dia tak bisa membiarkan ini terjadi. Dia harus memberi tahu Nadin segalanya. Namun jimat itu membuat Zara tidak bisa masuk. Zara menatap nanar ke arah Zein dan Anita yang kini telah bertukar cincin. Zara hanya bisa menangis saat ini.
"Jangan lakukan ini. Dia itu wanita jahat, sayang. Jangan memilih dia." Ucap Zara parau.
Zara juga melihat Nadin yang tengah sibuk menatap ke depan. Memperhatikan Zein dan Zara yang bertukar cincin. Andai saja tadi Zara terus terang dan bilang ingin ikut, mungkin Nadin akan menyadari kehadirannya.
Zein dan Anita sudah bertukar cincin. Zara hanya bisa menangis. Dia ingin menghentikan semua sebelum terlambat.
Acara sudah selesai. Nadin dan Arya sedang membicarakan kedua pasangan yang terlihat serasi itu. Saat keluar, Nadin melihat Zara yang tengah menangis. Nadin terkejut karena tanpa sepengetahuannya Arwah Zara mengikutinya. Nadin juga baru tahu kalau Arwah juga bisa menangis.
"Pak, aku ke toilet dulu ya?" Ucap Nadin.
Kemudian Nadin menarik Zara agar mengikutinya.
"Kamu kenapa disini? Bukannya aku bilang kamu di rumah saja?" Ucap Nadin kesal.
Zara tak menjawab. Dia hanya menatap Nadin. Matanya memerah kala itu lalu dia menangis sejadi-jadinya.
"Maafkan aku. Maaf kalau aku bikin kamu sedih." Ucap Nadin lalu memeluk Zara.
"Nadin, aku sudah ingat semuanya." Ucap Zara parau.
Nadin menatap Zara seakan meminta penjelasan. Baru tadi dia bilang tidak ingat apapun. Dan sekarang dia justru bilang ingat semuanya.
"Kamu ingat semuanya dan justru kamu menangis?" Tanya Nadin heran.
"Aku sudah ketemu dia, Nadin. Dia ada disini. Orang yang aku cintai ada disini." Kata Zara.
"Siapa? Dia tamu disini? Yang mana?" Tanya Nadin.
"Dia lelaki yang baru saja bertunangan itu. Namanya Zein." Kata Zara.
Nadin tercengang mendengarnya. Sama sekali tak menyangka kalau Zein adalah lelaki yang selama ini Zara cari.
"Ceritakan semuanya padaku." Kata Nadin.
"Tapi di rumah. Bukan disini." Kata Nadin.
"Baik, Nadin." Jawab Zara.
...
Sesampainya di rumah, Zara bercerita segalanya. Tentang dia dan Zein, juga dengan Anita dan bagaimana kematiannya terjadi. Zara mulai ingat tentang dia dan kehidupannya.
"Nama panjang ku Azara Clarista. Aku yatim piatu. Setelah remaja aku mulai ke kota dan belerja. Di tawari sebagai model dan di sana awal mula aku bertemu dengan Zein." Jelas Zara.
Nadin kemudian melihat sosmed dan mencari nama Zara. Dan akhirnya di temukanlah sosok Zara. Pengikut i********: Zara mencapai Lima ratus ribu lebih. Di sana terpampang foto Zara dan juga Zein.
Nadin juga membaca sebuah artikel dimana di tulis kalau model bernama Zara tewas dalam kecelakaan dan jatuh ke jurang. Mobilnya terbakar dan di temukan satu tubuh wanita yang hangus di dalamnya. Zara makin menangis saat tahu semuanya. Terutama karena Zara tahu kalau penyebab kecelakaan itu adalah Anita yang merencanakannya.
"Aku pasti bantu kamu ungkap segalanya." Kata Nadin.
"Aku gak rela kalau Zein nikah sama wanita iblis itu." Kata Zara.
"Besok aku akan coba bicara sama Zein." Kata Nadin.
"Gak semudah itu ketemu sama dia, Nad." Kata Zara.
"Kamu kenal Arya, kan? Dia teman Zein. Aku yakin dia bisa bantu kita berdua." Kata Nadin membuat Zara lega.
Keesokan harinya Nadin bercerita pada Arya. Tak perlu meyakinkan pria itu, Arya percaya pada Nadin. Karena memang dari awal Arya tahu kalau sebelum dengan Anita, Zara memang menjadi tunangannya.
"Saya akan bantu kamu." Ucap Arya.
Nadin tersenyum. Keduanya lalu mendatangai tempat Zein bekerja. Di sebuah perusahaan produksi rekaman. Banyak artis dan model di promosikan di sana. Dan Zein sendiri adalah pemiliknya.
"Zein, selamat siang." Sapa Arya.
"Hai bro. Kamu sudah datang?" Tanya Zein.
Zein menatap Nadin yang ada disebelah Arya. Dia menduga kalau Nadin adalah kekasih Arya.
"Kenalkan, ini Nadin. Yang kemarin aku bawa di acara pertunangan kamu." Kata Arya.
Zara yang ada di samping Nadin lalu dengan tiba-tiba merasuki tubuh Nadin. Memeluk Zein secara langsung. Zein terkejut dengan tingkah Nadin. Padahal wanita itu bersama Arya, kekasihnya.
"Aku rindu kamu, Zi." Ucap Nadin.
Air mata tak dapat terbendung lagi. Nadin menangis dibawah kendali Zara.
"Bagaimana kamu bisa tahu nama panggilan itu? " Ucap Zein lalu menyingkirkan tubuh Nadin.
"Zi akan selalu ada untuk Za." Ucap Nadin.
Zein semakin terkejut dengan ucapan Nadin. Zi adalah nama panggilan yang Zara berikan untuknya, sedangkan Za adalah panggilan sayang
Zein untuk Zara.
Jika keduanya sedang bertengkar, maka Zein akan mengucapkan kata itu. Dan hanya mereka berdua yang tahu kalimat itu.
"Sampai kapanpun cinta kita akan ada. Bahkan kematian sekalipun tak mampu membuat cinta kita hilang." Ucap Nadin.
Zein yang mendengarnya terkejut. Kata itu pernah dia ucapkan pada Zara.
"Enggak mungkin. Ini enggak mungkin kan? Kamu bukan Zara. Za-ku sudah tiada." Ucap Zein.
"Rasakan ini, Zi. Kamu pasti tahu kalau aku Zara. Aku tahu kamu mencintaiku." Kata Nadin.
Zein menjambak rambutnya frustasi. Apa yang dikatakan Nadin tidak masuk akal. Namun dia tahu semua rahasia tentang Dirinya dan Zara.
Zara kemudian keluar dari tubuh Nadin. Melihat itu, Nadin baru sadar. Dia ingin menjelaskan segalanya pada Zein.
"Arya, kenapa dengan kekasihmu ini?" Tanya Zein bingung.
"Semua benar, Zein. Zara ada disini." Kata Arya.
"Zara ada disini. Dia ingin memberitahu kamu sesuatu." Kata Nadin.
"Bagaimana bisa aku mempercayai semua ini?" Tanya Zein.
"Tanya sama hati kamu. Kalau kamu mencintai Zara, kamu pasti percaya padanya." Kata Nadin.
"Apa yang ingin dia beritahukan padaku?" Tanya Zein.
"Kecelakaannya disengaja." Kata Nadin.
Zein merasa tubuhnya lemas. Tak dapat percaya kalau ternyata kecelakaan tunangannya sudah di rencanakan.
"Siapa yang melakukan itu? Siapa dia?" Tanya Zein kesal.
"Dia Anita. Tunangan mu saat ini." Jawab Nadin
Zein memundurkan tubuhnya. Kini dia mengerti segalanya. Anita ada hubungannya dengan kematian Zara, wanita yang sampai sekarang dia cintai.