Dapat Merasakan

1604 Kata
Zein masih tak percaya dengan apa yang dia dengar. Tapi nyatanya Nadin tahu segalanya. "Percayalah, Nadin memiliki kelebihan. Dia bisa melihat arwah penasaran. Zara belum bisa menyelesaikan urusannya, makanya dia belum bisa pergi." Kata Arya. "Aku percaya padanya. Lalu sekarang aku harus bagaimana? Aku harus memutuskan Anita. Aku harus memberinya perhitungan." Kata Zein. "Jangan lakukan itu. Lebih baik kamu diam dan berpura-pura seperti tidak terjadi apapun. Setelah itu kita harus cari bukti. Jangan buat dia curiga." Ucap Nadin menjelaskan. Awalnya Zein menganggap Anita hanyalah adik saja. Karena sejak kecil kedua orang tua mereka berdua bersahabat. Zein tidak tahu kalau Anita menaruh hati padanya. Setelah kematian Zara, Zein menjadi lelaki pemurung dan seakan tidak mempunyai gairah untuk hidup lagi. "Zein, jangan seperti ini. Kamu harus bangkit. Kematian Zara bukan akhir dari segalanya. Kamu itu masih punya karir yang harus kamu perjuangkan. Kalau Zara masih hidup, dia juga tidak akan suka melihatmu begini." Ucap Wati, mama Zein. "Aku masih gak percaya kenapa Zara bisa pergi secepat ini, ma. Aku gak percaya kalau tubuh yang si temukan waktu itu adalah Zara." Kata Zein. "Percaya atau tidak. Dia itu Zara. Di mobil itu hanya ada Zara." Ucap Wati. Zein terus terpuruk berbulan-bulan lamanya. Berharap jika kehilangan orang yang dia cintai adalah sebuah mimpi. Zein, Nadin dan Arya mengunjungi makam Zara. Di batu nisan itu tertulis nama Zara. Zara yang melihatnya hanya diam. Melihat makamnya sendiri membuat perasaannya sakit. Sayangnya, Zara lupa tentang kecelakaan itu. Dia lupa saat mobil itu tergelincir dan jatuh dari atas tebing yang tinggi. Zara terdiam menatap Zein yang terlihat sedih. Zara memeluk Zein dari belakang. Tiba-tiba Zein dapat merasakan kehadiran Zara disampingnya. "Aku bisa merasakan kehadiran kamu, Sayang." Ucap Zein. "Za, aku selalu cinta sama kamu." Lanjut Zein. "Aku juga cinta sama kamu, Zi." Bisik Zara di telinga Zein. "Aku pasti akan segera mengungkap kejahatan Anita." Kata Zein. Tiba-tiba suara dering telepon Zein berbunyi. Anita menelepon dan meminta bertemu. "Sayang, kamu dimana?" Tanya Anita. "Tidak ada. Aku hanya bertemu teman." Jawab Zein. "Kita harus bertemu. Ada yang ingin aku bicarakan." Kata Anita. "Baiklah." Jawab Zein. Zein kemudian melihat ke arah Nadin dan Arya. "Setelah tahu kalau dia yang membunuh Zara, aku tidak bisa melihatnya." Ucap Zein sedih. "Temui dia. Jangan seperti ini. Sudah aku bilang bersikap biasa saja. Seolah-olah kita tidak tahu apapun." Ucap Nadin. Zein mengangguk. Dia harus menahannya untuk Zara. Dia ingin Zara bebas setelah ini. Tidak terbelenggu lagi. Zein kemudian meninggalkan makam. Zara yang melihat itu hanya menangis. Takdir yang begitu kejam telah memisahkan mereka berdua. Padahal mereka berdua sama-sama saling mencintai. "Ayo kita pulang." Ucap Nadin. Arya mengangguk. Sementara Zara tak bergerak sedikitpun. Nadin langsung memberikan isyarat agar Zara pulang bersamanya. Sesampainya di rumah, Zara hanya duduk di tepi ranjang. Meratapi nasib yang selalu tak berpihak padanya. Setelah semua terungkap, maka Zara akan siap untuk pergi selamanya. ... Zein mulai menyelidiki semuanya secara diam-diam. Dari mulai mencari orang suruhan Anita dan juga melihat rekaman CCTV. Rekaman saat mobil Zara di sabotase telah di hapus. Namun satu yang terlewat. Saat seorang lelaki datang dan Anita memberinya uang. Zein memasuki sebuah gudang. Di sana salah seorang lelaki terikat di sebuah kursi. Wajahnya sudah babak belur karena di pukuli oleh anak buah Zein. "Katakan yang sebenarnya. Kamu kan yang menyabotase mobil Zara? Siapa yang menyuruhmu?" Tanya Zein kesal. "A-anita. Dialah yang menyuruhku. Dia membayar ku. Aku terpaksa melakukannya. Aku butuh uang." Kata lelaki itu. "Jadi karena terpaksa kau mencelakai wanita yang tidak bersalah? Tega sekali kau." Kata Zein. "Maafkan aku. Jangan bunuh aku. Aku bersalah. Aku akan mengungkap segalanya." Kata Lelaki itu ketakutan. "Kalian jaga dia dengan baik. Dia akan menjadi saksi." Kata Zein. Zein lalu pergi. Sebentar lagi dia berjanji akan datang menemui Zara. Dia akan segera mengungkap kejahatan Anita. Zein menekan bel pintu rumah Nadin. Sisi yang mendengarnya segera membuka pintu dengan segera. Dia terkejut karena yang datang adalah lelaki lain dan bukan Arya. "Eh, siapa ya?" Tanya Sisi. "Selamat siang Tante. Nadin ada?" Tanya Zein. "Siapa, Ma?" Nadin langsung keluar dan melihat siap yang datang. "Eh, kamu." Ucap Nadin. "Nadin, saya ada urusan sama kamu. Apa bisa kita keluar?" Zein memberikan isyarat agar Nadin keluar membawa Zara. "Baiklah. Tunggu sebentar." Ucap Nadin. Nadin kemudian mengajak Zein berbincang di taman belakang rumahnya. Agar Zein dan Zara bisa leluasa bersama. "Nadin, apa Zara disini?" Tanya Zein. Nadin mengangguk dan menatap ke samping. Melihat Zara yang tengah menatap Zein. Dan kini Nadin yang menjadi perantara keduanya untuk saling berbicara. "Za, maafkan aku. Ini salahku. Andai saja waktu itu aku gak biarin kamu pergi lebih dulu. Mungkin kamu akan hidup sampai sekarang." Kata Zein. "Ini bukan salah kamu. Ini sudah takdir. Mungkin memang jalan kita tidak sama." Kata Nadin mengikuti ucapan Zara. "Za, sampai saat ini cuma kamu yang ada di hatiku." Ucap Zein. "Zi, bahkan setelah kematian ku, kamu tetap ada di hatiku." Kata Nadin masih meniru ucapan Zara. Zara tak bisa membendung perasaannya lagi. Dengan tanpa izin dia merasuki tubuh Nadin. Menatap Zein yang tengah menatapnya juga. Tiba-tiba Zara mendekat dan mencium Zein dengan tiba-tiba. Arya melihat semuanya. Dia mengerti kalau itu adalah ulah Zara. Arya langsung menarik tubuh Nadin dan menjauhkannya dari Zein. Dia tidak suka sikap Zara yang semaunya sendiri. Nadin juga tidak tahu kapan Arya datang dan memergoki keduanya. "Pak, ini bukan aku." Ucap Nadin setelah sadar apa yang Zara lakukan dengan tubuhnya. "Iya, saya tahu. Makanya saya Jauhin kamu dari dia." Kata Arya. Melihat itu Zein hanya diam dan bingung. "Kamu jangan salah paham. Bukan Nadin yang cium kamu. Tapi Zara. Dia tanpa izin merasuki tubuh Nadin." Kata Arya. Zein mengangguk dan paham akan semuanya. "Zara, jangan begitu lagi. Ini sudah gak bisa di lakukan." Kata Nadin kesal. "Maaf, Nadin. Aku terbawa suasana. Aku sangat merindukan Zein." Kata Zara. "Nadin, maaf ya? Seharusnya aku sadar itu." Kata Zein. Nadin hanya mengangguk. Setelah kedatangan Arya yang entah kapan, ketiganya jadi kaku. Nadin tidak tahu kenapa Arya bisa datang ke rumahnya dengan tiba-tiba. Kini ketiganya sudah sama-sama duduk diruang tamu. Pembahasan mereka tentang Anita yang belum tahu semuanya. "Lalu bagaimana kelanjutannya?" Tanya Arya. "Secepatnya dia akan di tangkap. Dan Zara bisa tenang. Dia akan segera bebas dan pergi ke alamnya. Tanpa beban dan rasa penasaran lagi." Kata Zein. Mendengar itu Zara menjadi sedih. Baru sebentar dia merasa senang karena bertemu Zein, dan setelah ini dia harus segera pergi. Dia akan menghilang selamanya. Zara bahagia walau sebentar lagi dia harus pergi. Dia bisa merasakan memiliki teman seperti Nadin dan juga kekasih yang sangat mencintainya. Zara ikhlas dan juga siap untuk pergi kapanpun. Nadin menatap Zara dan dapat melihat kesedihan di matanya. Nadin mengerti jika perasaan Zara untuk saat ini pasti bimbang. Namun Nadin tahu kalau Zara akan mengambil keputusan yang tepat. ... Nadin kembali melihat siaran berita. Di sana dikatakan kalau tunangan Zein Al-malik telah ditangkap karena pembunuhan berencana terhadap model Cantik, Azara Clarista. Zara yang ada di samping Nadin justru terlihat sedih. Itu tandanya sebentar lagi dia akan segera pergi jauh dari orang yang dia cintai. Memang berat, tapi Zara harus melakukannya. Demi lelaki yang dia sayangi. Zara mulai menghilang. Nadin yang menyadari itu segera mencari Zara. Nadin menyimpulkan kalau Zara pasti menemui Zein. Sebelum itu Nadin menelepon Arya terlebih dahulu. Nadin dan Arya mengunjungi tempat Zein berada. Dan benar dugaan Nadin, Zara ada di sana. Dia memandangi Zein yang juga terlihat sangat sedih. Nadin merasa iba melihat Zara yang menatap Zein dengan seksama. "Zi, setelah ini aku akan pergi. Aku harap kamu menemukan pengganti diriku yang lebih baik. Semoga saja kamu bahagia." Ucap Zara. Zein dapat merasakan kehadiran Zara saat ini. Sampai Zein melihat Nadin dan Arya di ruangannya. "Dia ada disini. Aku pikir sebentar lagi dia akan pergi." Kata Nadin. "Apa benar begitu?" Tanya Zein tersenyum. "Andai saja Zara bisa menyentuhku, sekali saja." Ucap Zein. Zara mulai mengulurkan tangannya. Hendak menyentuh tangan Zein. Namun sesuatu yang mengejutkan terjadi. Zara mampu merasakan kehangatan tangan Zein. Dan Zein yang juga merasakannya ikut tercengang. "Za, apa ini kamu?" Ucap Zein. Zara melepas sentuhan tangannya. "Nadin, aku bisa menyentuh tangan Zein." Kata Zara. "Zein, apa kamu bisa merasakannya?" Tanya Nadin. "Aku bisa merasakannya." Kata Zein. "Kenapa bisa begini?" Tanya Nadin. Bersamaan dengan itu, Nadin mendapat sebuah telepon. Nadin keluar dari ruangan dan mengangkat telepon tersebut. "Halo, apa benar ini dengan Nona Nadin?" Tanya seseorang di seberang telepon. "Iya benar, ini siapa ya?" Tanya Nadin. "Ini dari rumah sakit yang kemarin Nona datangi. Nona bertanya tentang korban kecelakaan yang bernama Zara, kan?" Ucapnya. "Iya, benar. Saya waktu itu bertanya tentang kematian Zara. Tapi sekarang saya sudah tahu semuanya. Dia sudah meninggal dan di makamkan di TPU anggrek." Jawab Nadin. "Bukan begitu, Nona. Di rumah sakit ini ada seorang pasien koma yang sudah setahun disini. Tanpa identitas yang di ketahui. Saya pikir mungkin saja wanita itu yang Nona cari. Lebih baik anda segera kemari. Karena para dokter disini sudah memutuskan untuk mencabut segala peralatan medisnya nanti malam. Karena dia sudah koma selama setahun. Rumah sakit tidak bisa mempertahankannya lagi. Saya ingat pada Nona dan memberi tahu ini. Siapa tahu dia benar wanita yang Nona cari. Satu lagi, tidak ada identitas terhadap dirinya. Dia hanya memakai sebuah cincin berlian di jari manisnya." Ucapan suster di seberang telepon membuat Nadin menyadari sesuatu. Ternyata Zara masih hidup . Makanya barusan saat Zara menyentuh Zein, dia dapat merasakannya. Semua masuk akal sekarang. Tentang Zara yang lupa segalanya karena memang Zara saat ini masih hidup dan berada di tengah-tengah antara kehidupan dan kematian. Yang terpenting, sekarang sudah sore. Nadin harus menuju rumah sakit yang jaraknya lumayan jauh dari sana. Jika telat sedikit saja, Zara akan hilang dan benar-benar mati. Kini Nadin harus sekali lagi berjuang dan menyelamatkan kehidupan Zara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN