Nadin menatap sosok Mamanya dengan tatapan iba. Masih tak menyangka jika ternyata Papa yang dia banggakan telah berkhianat. "Ma, aku berangkat ke kampus dulu ya?" Pamit Nadin. "Baiklah Sayang." Ucap Sisi. Nadin akhirnya memilih berangkat ke kampus dan juga mempercepat tujuannya. Nadin lalu segera menuju kelasnya sesampainya di kampus. Ketika sedang duduk dengan santainya, Nadin kembali menerima sebuah pesan misterius di ponselnya dan mengatakan sesuatu yang mengejutkan dia. 'Bagaimana saat kamu tahu jika orang yang kamu percaya berkhianat? Pasti sakit kan?' Pesan itu datang lagi. Segala sesuatu yang Nadin alami selalu saja dia tahu dan Nadin muak itu. Nadin segera mendatangi Siska di mejanya. "Udah cukup, Sis." Ucap Nadin. "Apaan sih. Gak jelas banget." Ucap Siska. "Udah cukup kam

