bab 1 malam saat bernapas
Angin malam menyusup pelan di antara celah-celah pohon ulin yang menjulang di pinggir Desa Batu Langit. Kabut turun pelan seperti embun yang bernyawa, merayap di tanah hitam yang lembap, seolah-olah tanah itu sendiri sedang menarik napas dalam-dalam. Pepohonan berbisik, entah oleh semilir angin atau oleh sesuatu yang lebih tua dari waktu.
Liani berdiri di depan rumah panggung tua peninggalan ibunya. Di tangannya, lentera minyak bergetar pelan—bukan karena angin, tapi karena jemarinya yang dingin dan gugup. Ia baru saja tiba sore tadi setelah menempuh perjalanan dari kota, pulang tanpa pesta sambut, hanya suara jangkrik dan kabar duka.
Ibunya ditemukan meninggal dua malam lalu, tubuhnya kaku di dalam kamar, dengan wajah yang menghadap jendela terbuka. Tak ada tanda kekerasan, hanya selembar saputangan merah basah oleh darah di lantai.
"Kuyang," bisik tetangga, setengah percaya setengah takut.
Tapi Liani bukan gadis yang mudah percaya mitos. Ia dibesarkan oleh ibunya yang keras dan penuh logika. Namun malam ini, di desa yang mulai asing baginya, udara penuh sesuatu yang tak bisa dijelaskan.
Ia menyalakan lentera dan menapaki tangga rumah, derit kayu tua seakan menyambutnya dengan bisikan. Di dalam, bau kayu basah dan minyak gosok masih sama. Tapi ada tambahan lain malam ini—wangi daun kemuning yang biasa digunakan untuk ritual pengusir roh jahat.
Di atas meja, sebuah buku tua tergeletak, dibalut kain batik lusuh. Buku itu milik ibunya, buku yang tak pernah ia izinkan dibuka. Di halaman pertama, tertulis tangan:
"Anakku Liani, jika kau membaca ini, berarti aku sudah tiada. Jangan takut. Tapi juga, jangan bodoh. Kuyang itu nyata."
Jantung Liani berdegup cepat. Tangannya menggenggam lentera lebih erat.
Di luar, suara hutan mulai berubah. Bukan lagi jangkrik, tapi desis panjang, seperti napas dari dasar rawa. Seekor anjing kampung melolong dari kejauhan, disusul oleh suara sayap yang tidak seperti burung.
Liani berjalan ke jendela. Kabut kini semakin tebal, menyelimuti rumah-rumah di kejauhan. Dan di pojok desa, samar-samar, terlihat siluet seorang perempuan berdiri di depan jendela rumah yang remang. Tubuhnya membungkuk, seolah sedang menunggu sesuatu.
Liani memejamkan mata. Ia menghirup dalam-dalam udara yang beraroma tanah basah dan darah.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak ia lahir, Liani merasa bahwa tanah tempat ia berpijak... sedang bernapas.
Dan ia tahu—itu bukan napas kehidupan.
---
Pagi harinya, langit desa masih kelabu, dan kabut belum benar-benar mengangkat. Di dapur rumah panggung, Liani menyalakan kompor tanah liat dan merebus air. Bunyi kayu terbakar seperti irama dari masa silam.
"Air panas bikin tenang," suara Pak Bahar memecah keheningan. Lelaki tua itu muncul di depan rumah, mengenakan kain sarung dan topi rotan kecil.
Liani hanya mengangguk. Ia menyiapkan dua gelas teh manis, seperti kebiasaan ibunya dulu.
Pak Bahar memandangi rumah sejenak, lalu duduk di balai-balai bambu. "Kau tahu, orang kampung sini nggak pernah berani buka jendela kalau malam bulan sabit. Apalagi kalau ada ibu hamil di rumah."
"Kenapa? Karena kuyang?" tanya Liani, suaranya datar tapi matanya menyorot ingin tahu.
"Karena mereka datang menghirup bau darah... darah panas yang belum keluar."
Liani menelan ludah. Ia menatap halaman rumah, di mana seorang perempuan paruh baya tampak menyapu halaman dengan daun kelapa kering. Anak-anak tak terlihat. Bahkan ayam pun enggan berkokok.
"Tadi malam saya dengar sesuatu terbang," lanjut Pak Bahar. "Tapi suara sayapnya bukan seperti burung. Lebih berat. Lebih basah."
Liani menggenggam buku tua di pangkuannya. Ia belum membaca banyak, tapi lembar-lembar awal mencatat hal yang mencengangkan: nama-nama anak yang hilang, lingkaran simbol di balik rumah, dan catatan pendek: "Langit bernapas, maka roh bebas."
---
Sore menjelang, dan Liani berjalan menuju pasar kecil desa. Di sana, ia bertemu dengan Murni, sahabat masa kecilnya, yang kini berjualan rempah dan obat-obatan kampung.
"Kamu pulang juga akhirnya," sapa Murni, menatap matanya lekat. "Aku... ikut sedih soal ibumu. Tapi, Li... kamu harus tahu, dia bukan cuma dukun biasa. Dia penjaga batas."
"Penjaga batas?"
Murni menarik Liani ke belakang lapak. Dari bawah meja, ia mengeluarkan kantong kecil berisi biji kemiri, kemenyan, dan sepotong kain putih.
"Kalau kau dengar suara bisikan malam ketiga nanti, jangan jawab. Dan jangan menoleh. Kalau menoleh, mereka bisa ikut pulang ke rumahmu."
---
Malam ketiga datang. Rumah Liani sunyi, hanya diterangi lentera dan bau minyak kelapa di sudut altar kecil yang ia buat sendiri. Ia membaca beberapa kalimat dalam buku ibu—mantra penolak, doa leluhur, dan nama-nama roh penjaga hutan.
Tiba-tiba, lentera bergetar. Bukan karena angin. Tapi karena sesuatu melintas di atas atap.
"Ssssss..."
Suara itu terdengar seperti napas, panjang dan mendalam.
Dari jendela, ia melihat bayangan melayang—tanpa tubuh, hanya kepala dan usus panjang yang bergoyang seperti belut di udara.
Liani mundur perlahan. Ia tak menjerit. Ia tahu sekarang: malam ini, tanah bernapas lebih dalam dari biasanya.
Dan sesuatu telah bangkit bersama kabutnya.