bab 2 bayang-bayang yang menggantung

784 Kata
Angin dini hari membawa suara-suara yang tak biasa. Tiupan dari hutan di belakang rumah panggung milik almarhumah Ibu Sari itu terdengar seperti bisikan panjang yang menyelusup di antara dinding papan tua. Liani terbangun dengan jantung berdegup lebih cepat dari biasanya. Lentera kecil di samping tempat tidurnya masih menyala, tapi nyalanya goyah, seperti ketakutan. Ia duduk perlahan, mengusap wajahnya, mencoba mengusir rasa ganjil yang menggantung di udara. Matanya tertuju pada meja kayu kecil di sudut ruangan, di mana buku tua warisan ibunya terbuka—angin seolah sengaja membalik-balik halamannya. Liani bangkit, langkah kakinya ringan namun penuh kewaspadaan. Ia duduk di depan buku itu, dan pada halaman yang tertahan oleh angin, ada tulisan tangan dengan tinta hitam yang mulai memudar: > "Jika malam gelap tanpa suara burung, dan angin datang dari tiga arah, maka tanah sedang bernapas. Waspadalah pada bayangan yang tak menyentuh tanah." Liani menelan ludah. Kata-kata itu tertulis dengan aksara halus khas ibu kota, namun maknanya seperti mantra—berat, dan nyaris menyerupai ramalan. Di sisi halaman itu, tersemat gambar sederhana: sosok kepala manusia melayang dengan jumbai-jumbai usus di bawahnya. Kabur, tapi cukup membuat bulu kuduk berdiri. --- Pagi datang lambat. Kabut tetap menyelimuti desa bahkan saat matahari sudah tinggi. Liani keluar rumah, membawa buku itu. Ia berniat mencari Mak Darmi, satu-satunya tetua desa yang dulu dekat dengan ibunya. Jalan setapak menuju rumah Mak Darmi dipenuhi suara alam yang tak biasa. Tidak ada suara ayam. Tidak ada anak-anak bermain. Hanya bisikan hutan dan gelegak air dari sungai kecil. "Anak Sari kah kau?" suara serak menyapanya dari balik tirai anyaman bambu. Liani mengangguk sopan. "Saya Liani, Mak. Mau tanya-tanya soal buku Ibu." Mak Darmi mempersilakan masuk. Di dalam rumah panggung itu, aroma daun kering dan akar-akaran memenuhi udara. Liani menyerahkan buku tua itu. Wajah Mak Darmi mengeras saat melihat halaman yang terbuka. "Ini... perjanjian lama. Antara darah dan tanah." "Perjanjian?" Liani bertanya, suara nyaris berbisik. "Orang dulu percaya, setiap tanah punya roh penjaga. Tapi ada yang melawan. Ada yang belajar membelokkan aturan alam... demi hidup abadi. Demi kuasa atas kelahiran dan kematian." Mak Darmi lalu menatap Liani dalam-dalam. "Ibumu dulunya penjaga. Tapi sesuatu terjadi. Ia berhenti. Ia takut... pada apa yang telah ia lepaskan." --- Hari beranjak sore saat Liani kembali ke rumah. Ia mulai membuka-buka buku itu lebih dalam. Ada catatan ritual, gambar tanaman hutan yang tak ia kenal, bahkan sketsa rumah-rumah tua di pinggir rawa. Tapi halaman paling belakang membuat dadanya sesak. > "Jika aku tiada, jaga rumah ini. Mereka akan kembali saat tanah bernapas. Jangan biarkan darah pertama jatuh tanpa peringatan." Malam kedua datang lebih cepat. Angin bertiup dari arah timur, lalu barat, lalu utara—persis seperti yang tertulis di buku. Lentera menyala, tapi nyalanya lebih goyah dari malam sebelumnya. Di kejauhan, suara anjing melolong—sebuah hal yang langka di desa ini. Dan kemudian… terdengar jeritan pendek dari arah barat desa. Liani, dengan lentera di tangan, segera menuju jendela. Ia menatap jauh ke luar, melewati kabut dan bayang pohon. Di antara celah pohon rambutan tua, ia melihat siluet seorang perempuan sedang berdiri diam, menatap ke langit. Siluet itu berasal dari rumah Bu Santi—seorang janda hamil tua yang tinggal tak jauh. Tapi… tiba-tiba siluet itu jatuh. Dan menghilang. Liani menahan napas. Tapi instingnya mendorongnya untuk bergerak. Ia mengenakan sandal dan jaket, lalu menyusuri jalan tanah menuju rumah Bu Santi. Setiap langkah terasa berat. Suara malam terasa lebih dekat, seolah mengawasi. Daun-daun basah menempel di kakinya, dan udara seperti membawa aroma besi—seperti darah. Sesampainya di rumah Bu Santi, pintu rumah terbuka sedikit. Lampu minyak masih menyala, tapi tak ada tanda-tanda penghuninya. Di lantai dapur, sebuah kain panjang tergeletak dengan bercak merah samar. Liani tidak berani masuk lebih jauh. Ia hanya menatap, lalu perlahan mundur dan menutup pintu kembali. --- Paginya, desa gempar. Bu Santi ditemukan tak sadarkan diri di dapur rumahnya. Pintu terbuka. Tanah di depan rumahnya basah oleh cairan merah kecokelatan. Para tetua berkumpul dan memutuskan bahwa "itu" telah kembali. "Ini seperti dulu," bisik salah satu warga. "Saat pertama kali Kuyang datang lima belas tahun lalu." Liani mendengarnya. Ia tak berkata apa-apa, tapi di dalam dadanya, ia tahu: warisan ibunya bukan hanya buku tua. Tapi tanggung jawab untuk menjaga batas antara dunia nyata dan dunia kelam. Dan batas itu kini semakin tipis. --- Pada malam ketiga, ia duduk di tangga rumah, memandangi langit. Bayangan samar melintas sekali lagi. Tapi kali ini, Liani tidak takut. Di tangannya, selain lentera, kini ada sebilah pisau kecil dengan ukiran Dayak. Warisan lain yang ia temukan di bawah lantai rumah. Di gagangnya terukir nama: Sari. Liani tahu. Malam-malam ke depan akan semakin gelap. Tapi ia juga tahu... ia tidak sendirian. Kuyang telah kembali. Dan penjaga lama telah mati. Kini... giliran Liani. ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN