bab 3 bayang-bayang di bawah bulan

1113 Kata
Malam itu, Hutan Lempung terasa lebih gelap dari biasanya. Kabut menggantung seperti tirai lembut yang siap menutupi segalanya. Di bawah sinar bulan temaram, Liani berdiri di tepi kebun milik almarhum ibunya, menatap barisan pohon yang menari pelan dalam bisikan angin. Ia memegang buku tua di tangan kiri, dan lentera di tangan kanan. Halaman-halaman yang menguning itu seperti hidup dalam genggamannya, setiap kalimat seolah bernapas—membangkitkan bayangan masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi. "Darah yang tertumpah tidak pernah hilang, hanya tertidur di akar bumi," suara ibunya kembali terngiang dalam kepala. Liani melangkah hati-hati menuju batas belakang rumah panggungnya. Di sinilah, menurut catatan ibunya, pernah terdengar lolongan aneh dari hutan. Seorang dukun tua bernama Mang Apai bahkan pernah berkata bahwa tanah di sini adalah tempat bernafasnya para arwah yang tak tenang. Tak jauh dari tempatnya berdiri, seekor burung hantu bertengger di cabang pohon durian tua. Matanya menyala keperakan saat menatap Liani. Tanpa suara, burung itu mengepakkan sayap dan terbang ke arah utara, seolah memberi petunjuk. "Ke arah itu... tempat terakhir Ibu membacakan mantra pelindung," gumam Liani. Dengan langkah pelan namun pasti, ia mengikuti arah burung hantu itu. Setiap langkah terasa berat, seperti tanah menolak dirinya untuk mengungkap sesuatu yang telah lama terkubur. Ia melintasi semak berduri, melangkahi akar pepohonan yang menjalar seperti urat nadi tanah. Tiba-tiba, suara gumaman lirih terdengar dari kejauhan. Liani berhenti, tubuhnya kaku. Suara itu seperti nyanyian, namun tak beraturan, diiringi isakan halus. Ia menyibakkan semak yang tinggi, dan mendapati sebuah gubuk tua berdiri di tengah celah pepohonan. Gubuk itu tampak reyot, atapnya hampir runtuh, namun dari dalamnya terlihat cahaya samar kekuningan. Liani menelan ludah. "Kalau bukan malam ini, mungkin aku takkan pernah tahu," bisiknya. Ia membuka pintu gubuk perlahan. Engselnya berderit nyaring, memecah keheningan malam. Di dalam, terdapat seorang wanita tua duduk di tikar pandan. Rambutnya putih panjang, menutupi sebagian wajahnya. "Kau datang juga akhirnya... darah Waya masih mengalir di nadimu," katanya tanpa menoleh. Liani merinding. "Ibu mengenal saya?" "Siapa yang tak kenal anak dari wanita yang menolak menjadi kuyang?" Wanita itu bangkit perlahan, memperlihatkan matanya yang putih seperti tak lagi melihat dunia ini. Namun Liani tahu, wanita ini melihat lebih jauh dari sekadar yang tampak. "Saya datang untuk mencari kebenaran. Tentang Ibu. Tentang makhluk itu," kata Liani dengan suara bergetar. Wanita tua itu berjalan menghampirinya. "Makhluk itu tak selalu jahat. Ia bagian dari keseimbangan. Tapi ketika ikatan darah dikorbankan demi kekuatan... maka yang tersisa hanya kutukan." Liani menunduk, mengingat cerita ibunya tentang seorang perempuan yang mengkhianati sesama demi umur panjang. Perempuan itu tidak lain adalah nenek kandungnya sendiri. "Ada yang ingin bertemu denganmu malam ini," lanjut wanita itu. Ia membuka pintu belakang gubuk dan mengarahkan lentera kecil ke luar. Dari balik kabut, sesosok bayangan melayang perlahan. Samar, namun jelas: hanya kepala, rambut panjang berkibar, dan organ dalam menggantung di bawahnya, berpendar merah samar seperti bara api. Wajah itu tak asing. Mata yang redup, namun menyimpan kesedihan yang dalam. "Itu... wajah Ibu..." Wanita tua itu mengangguk. "Ia belum pergi. Arwahnya terikat. Hanya kau yang bisa membebaskannya. Tapi kau harus memilih. Jalan darah... atau jalan cahaya." Liani terisak. Matanya membasah. Tubuhnya gemetar, namun tidak bergeming. Lentera di tangannya bergetar, cahayanya menari dalam gelap. "Apa yang harus kulakukan?" "Temukan cermin batu di dalam goa di Bukit Pitu. Tempat terakhir darah nenekmu tertumpah. Di sana, kau akan tahu siapa dirimu sebenarnya. Tapi hati-hati, tidak semua bayangan ingin dikenali." Suara itu menghilang bersamaan dengan tiupan angin yang membawa kabut lebih tebal. Saat Liani menoleh, wanita tua itu sudah tiada. Gubuk pun berubah menjadi reruntuhan, seolah tak pernah berdiri. Liani berdiri sendiri dalam gelap, hanya ditemani buku tua, lentera, dan semangat ibunya yang masih menuntunnya dari balik alam. Di kejauhan, terdengar lolongan panjang, diikuti suara sayap yang menyambar udara. Malam belum selesai. Dan tanah masih bernafas. --- Namun belum sepenuhnya Liani meninggalkan tempat itu, ketika cahaya lentera menyentuh dinding batu di belakang gubuk yang telah runtuh. Di sana, terukir lambang menyerupai spiral matahari, mirip dengan ukiran Dayak kuno yang pernah ia lihat di lembaran terakhir buku milik ibunya. Ia mendekat, menyentuh ukiran tersebut dengan ujung jarinya. Hangat. Padahal batu biasanya dingin. Dari sentuhan itu, ia melihat kilasan ingatan—wanita muda, mirip dirinya, berlari di tengah hutan dengan rambut acak-acakan, menangis sambil membawa balita. Suara jeritan menggema dari langit. Liani terjatuh ke tanah, napasnya terengah. Ia sadar, ini bukan sekadar mimpi atau delusi. Hutan ini menyimpan ingatan, dan batu itu adalah gerbangnya. "Aku akan kembali," ucapnya pelan. Sebelum pulang ke rumah, Liani memutuskan untuk membuat tanda pada pohon sekitar gubuk agar bisa kembali ke tempat itu. Ia mengikat kain kecil warna merah dari pinggir jaketnya ke dahan terdekat. Saat ia menoleh ke arah jalan pulang, seberkas cahaya keemasan tampak di antara pepohonan. Bukan dari lentera. Cahaya itu berkilauan seperti kunang-kunang, namun lebih besar dan tenang. Tanpa ragu, Liani melangkah menuju cahaya itu. Ia menemukan sebuah batu pipih besar dengan bekas dudukan dupa dan abu hitam di sekelilingnya. Di tengah batu, ada wadah tanah liat berisi air yang tampak bersinar dalam gelap. "Ini... altar pemujaan kuno?" katanya. Ia menunduk dan melihat bayangannya sendiri di dalam air. Tapi bayangan itu... berbeda. Wajahnya lebih tua, lebih tegas, dan di baliknya tampak sosok lain—wanita berambut panjang berdarah, memegang tali pusar yang bersinar merah. Air itu beriak tiba-tiba dan bayangannya hilang. Liani mundur, panik, tapi airnya kembali tenang. "Jangan takut, Liani... semuanya akan terbuka pada waktunya," suara lembut menggema, entah dari mana. Ia menyentuh permukaan air, dan rasa dingin menyengat langsung ke tulangnya. Saat menarik tangannya, sebuah simbol muncul di punggung tangan kirinya. Spiral matahari yang sama dengan ukiran batu tadi. Tapi kali ini, berwarna merah menyala. "Apa pun yang terjadi, aku tidak boleh mundur," bisiknya dengan tekad. Liani kembali berjalan pulang. Di kejauhan, rumah panggungnya sudah terlihat, cahaya lampu minyak di jendela masih menyala. Siluet wanita hamil di dalam rumah tampak berdiri mematung. Ia mempercepat langkah, namun saat membuka pintu, rumah kosong. Tidak ada siapa-siapa. Bahkan lentera minyak yang biasa digantung ibunya tidak menyala. Hanya angin yang masuk perlahan dari sela jendela, membawa aroma kayu bakar dan bunga kenanga. Di meja tengah, buku tua itu terbuka dengan sendirinya. Halaman baru muncul, tulisan tangan ibunya yang belum pernah ia lihat sebelumnya: "Jika kau membaca ini, berarti kau telah melihatnya. Jangan percaya bayangan. Carilah kebenaran di balik darah. Bukan semua keturunan ditakdirkan menjadi sama. Kau bisa mengubah akhir cerita ini." Liani mengusap air matanya. Ia menutup buku itu perlahan, menatap ke luar jendela. Di langit, kabut kembali menebal. Tapi kali ini, bukan karena takut ia menatapnya. Ia tahu, inilah awal dari jalan panjang yang akan membawanya pada warisan terdalam dari tanah leluhurnya. Dan dari kegelapan malam, terdengar bisikan... atau mungkin nyanyian... Sesuatu sedang menanti di balik bayangan. ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN