Wajah di tekuk dengan bibir yang terus manyun tampak menghiasi pagi yang cerah ini. Menatap lurus ke arah pria yang tengah berdiri depan cermin dengan tangan yang sibuk membenarkan posisi dasi yang melingkar di lehernya. "Haruskah berangkat sepagi ini, Sayang?" Mendengar keluhan sang kekasih yang terdengar sangat manja, membuat Bayu menoleh. Tersenyum saat tatapan keduanya bertemu. Dia tahu jika Lidya merasa cemburu jika dirinya terlalu memperhatikan gadis lain, walaupun semua di lakukannya untuk kebaikan mereka berdua. "Kenapa buru-buru? Ini baru jam tujuh loh." Lidya yang masih dalam keadaan tanpa busana kini berjalan mendekat ke arah Bayu. Tidak ada rasa malu atau pun canggung lagi, hal seperti itu sudah menjadi hal biasa bagi keduanya. Bahkan, mereka sudah layaknya suami istri jik

