Butuh Suami Bayaran

1379 Kata
April memeluk Stella dengan erat begitu mereka bertemu di bandara. Kedua sahabat itu bergandengan tangan, menuju ke taksi yang akan mengantar mereka ke kantor Majalah Cinta Budaya. “Kenapa wajahmu lesu begitu, Pril? Kamu nggak suka bertemu aku yang kece badai? Atau kamu malas bekerja di Majalah Cinta Budaya?” tanya Stella mengamati wajah April. “Bukan, aku senang sekali bertemu denganmu. Hanya saja aku sedang banyak pikiran,” jawab April sambil menghela napas. “Ada apa lagi, Babe? Masalah papamu atau Zayn?” April berpikir sejenak. Mengingat tak ada orang lain lagi yang bisa diajak bertukar pikiran, ia pun memutuskan untuk berbagi cerita dengan Stella. “Kemarin ada pria misterius yang meneleponku, Stel. Dia mendesakku agar memberitahukan di mana keberadaan Zayn sekarang. Dia mengaku sebagai orang suruhan dari ayah kandungnya Zayn.” Kelopak mata Stella langsung melebar seperti bola pingpong. Ia tidak menyangka jika lelaki yang selama ini dicari oleh April justru muncul dengan sendirinya. “Hah, serius? Itu artinya selama ini dia sudah mengawasimu. Aku yakin pria itu pasti bukan orang sembarangan, bisa jadi dia seorang pejabat atau pengusaha terkenal. Kamu harus berhati-hati, Pril, takutnya dia akan menerormu.” “Yang aku cemaskan bukan diriku sendiri, tetapi Zayn. Aku takut dia akan merebut Zayn dariku,” jawab April dengan raut wajah gelisah. “Apa kamu mencatat nomer telepon pria itu? Kita bisa melaporkannya kepada polisi,” saran Stella. “Jangan, aku nggak mau melibatkan polisi sebelum aku mengumpulkan bukti-bukti yang cukup. Lagipula dia sudah menawarkan hal yang gila kepadaku.” “Hal gila apa?” tanya Stella mencodongkan tubuhnya. “Aku…disuruh menikah dengan bosnya. Jika aku menolak, dia mengancam akan mengambil Zayn. Aku benar-benar jijik dan benci dengan pria itu.” Stella terperangah tatkala mendengar penuturan sahabatnya. Dia tidak menyangka bahwa April akan terkena masalah seberat ini. “Pril, tahu begini lebih baik kamu menikah dengan Jonathan Raharja. Jika kamu menjadi menantu keluarga Raharja, posisimu akan aman. Pria psikopat itu nggak akan berani mengusikmu, karena statusmu adalah wanita yang sudah menikah.” “Aku juga berpikir begitu. Jika aku menikah, aku bisa mengadopsi Zayn secara hukum. Aku harus menikah secepatnya demi menyelamatkan Zayn, tetapi bukan dengan Jonathan Raharja.” Untuk kesekian kalinya Stella melotot, bahkan matanya sekarang sudah mirip dengan ikan koi. “Lalu kamu mau menikah dengan siapa? Setahuku kamu nggak punya pacar. Jangan bilang kamu akan menyewa seorang pria bayaran seperti yang ada di novel-novel,” ujar Stella mendadak cemas. “Tebakanmu benar, aku akan membayar seorang pria untuk menjadi suamiku, sampai aku bisa mengalahkan pecundang itu,” jawab April penuh keyakinan. “Ya ampun, kamu yakin, Pril? Bagaimana kalau pria sewaanmu itu justru orang jahat?” “Tenang saja, aku akan mencari calon suami secara langsung, bukan lewat media sosial atau aplikasi pencari jodoh. Dia harus memenuhi sejumlah persyaratan yang aku tetapkan. Aku juga akan membuat perjanjian tertulis dengan pria itu supaya dia tidak melanggar batasan.” Stella hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar rencana April yang tidak masuk akal. “Apa saja syaratmu kalau aku boleh tahu?” “Wajahnya harus lugu, penurut, setia, dari keluarga sederhana, agak lemot tetapi rajin bekerja.” “What, kamu mau cari suami atau asisten rumah tangga, Pril?” tanya Stella keheranan. Supir taksi yang mendengar percakapan mereka ikut senyum-senyum sendiri. Seandainya dia belum menikah, dia pasti akan melamar sebagai calon suami April. “Aku memang butuh suami yang seperti itu. Masih ada satu lagi syarat utamanya.” “A-apa syarat utamanya?” tanya Stella meneguk saliva kasar. “Laki-laki itu masih single dan belum pernah menyentuh wanita mana pun, alias…masih perjaka,” tegas April dengan sorot mata tajam. *** April dan Stella hampir sampai di kantor Majalah Cinta Budaya. Namun, Stella justru meminta supir taksi untuk berhenti di depan warung nasi gudeg. “Pril, temani aku sarapan dulu sebelum kita ke kantor. Mendadak perutku lapar sekali gara-gara memikirkan masalahmu,” keluh Stella. “Bilang saja kalau kamu ingin makan gudeg,” pungkas April lantas membantu Stella menurunkan kopernya. Keduanya turun dari taksi, lalu memesan nasi gudeg telur kepada pemilik warung. Namun tiba-tiba di belakang mereka terdengar suara bariton seorang pria. “Bu, saya pesan nasi gudeg ayam satu porsi.” April dan Stella menoleh secara bersamaan. Mulut mereka menganga saat melihat pria bertubuh gempal yang hanya memiliki beberapa helai rambut di kepalanya. Pria itu mengenakan kemeja merah bercorak hitam yang bertuliskan “Majalah Cinta Budaya.” Merasa diperhatikan oleh dua orang wanita muda, pria yang hampir berusia setengah abad itu tersenyum lebar. “Maaf, Mbak, apa kita sudah pernah bertemu sebelumnya?” “Belum,” jawab April dan Stella serempak. “Lalu kenapa memandangi saya sejak tadi?” tanya pria itu memiringkan kepalanya. “Karena Bapak mirip dengan om dari keponakan temannya sepupu perempuan kakak ipar saya.” Pria itu menggaruk-garuk kepalanya karena tidak mampu mencerna ucapan Stella. Sementara itu, April berusaha keras menahan tawa. Ia tahu benar bagaimana tingkah absurd Stella jika keisengannya sudah kambuh. “Coba diulang sekali lagi supaya saya bisa memahaminya,” pinta pria itu merasa penasaran. “Hmm, saya langsung to the point saja. Apakah Bapak adalah Pak Sastro, pemimpin redaksi Majalah Cinta Budaya?” tanya Stella memastikan. Pria itu terkesima untuk sesaat, tidak menyangka jika identitas rahasianya diketahui oleh para wanita cantik. “Betul, nama saya Sastro Ongko Susilo, disingkat SOS. Apa Mbak ini salah satu penggemar saya? Terus terang prestasi saya sebagai wartawan senior memang patut dikagumi. Saya selalu menjunjung tinggi nilai-nilai budaya bangsa,” papar Pak Sastro panjang lebar. April dan Stella berdesah karena tidak tahan mendengar kesombongan pria yang nyaris botak ini. Jika ia memang sehebat itu, tentu majalah yang dipimpinnya tidak akan mengalami kebangkrutan. “Bukan, Pak. Perkenalkan saya adalah Stella Diani, utusan dari HRD pusat Jakarta yang bertugas mewawancarai karyawan baru. Dan ini adalah teman saya sekaligus calon wartawan di majalah Bapak, namanya….” “Saya April Reistya,” potong April sebelum Stella keceplosan menyebutkan nama keluarganya. Bagaimanapun dia tidak mau keberadaannya sampai diketahui oleh Handika dan Jonathan Raharja. “Ow, jadi Mbak-mbak ini dari Mega Media Jakarta. Kalau begitu mari duduk, hari ini saya yang akan mentraktir nasi gudeg sebagai ucapan selamat datang,” ujar Pak Sastro langsung mempersilakan April dan Stella duduk. “Hari ini ada berapa orang yang akan diwawancari oleh Mbak Stella?” tanya Pak Sastro. “Saya akan mewawancarai lima orang kandidat fotografer dan lima orang asisten. Untuk wartawan tidak perlu lagi, karena sudah ada April.” Pak Sastro kemudian memindai April secara seksama untuk meneliti bagaimana karakter dari calon anak buahnya itu. “Kelihatannya Mbak April ini sudah berpengalaman sebagai wartawan. Dulu bekerja di mana?” tanya Pak Sastro. “Saya pernah bekerja di majalah fashion, Pak, juga pernah menjadi penulis lepas untuk situs berita online,” jawab April. “Oh, bagus itu, artinya saya tidak perlu mengajari Mbak April terlalu banyak. Hanya saja ada satu peraturan penting di Majalah Cinta Budaya yang harus diingat oleh Mbak April,” tegas Pak Sastro, “Peraturan apa, Pak? Saya pasti akan mematuhinya,” jawab April mantap. “Sesama rekan kerja dilarang memiliki hubungan asmara, apalagi sampai menikah. Saya menerapkan aturan ini demi menjaga profesionalitas dalam bekerja. Saya paling tidak suka jika ada yang baper-baperan di tempat kerja. Kalau ada karyawan yang melanggar, saya tidak akan segan untuk....” “Memecatnya?” tanya April dengan wajah serius. “Tepat sekali,” jawab Pak Sastro sambil menggoyangkan kelima jarinya. Tak berselang lama, nasi gudeg yang mereka pesan terhidang di atas meja. Namun baru saja mereka menyantapnya, terdengar lagu India yang menggema di dalam warung. Pak Sastro segera meraih ponsel miliknya karena lagu itu berasal dari sana. “Halo, Joko, ada apa?” tanya Pak Sastro. Pak Sastro mendengarkan penuturan lawan bicaranya sambil mengerutkan kening. Setelahnya, ia mematikan panggilan tersebut, lalu memandang April dan Stella secara bergantian. “Kita harus menghabiskan nasi gudeg ini dalam waktu lima menit.” “Hah, memangnya kenapa, Pak?” tanya April dan Stella bersamaan. “Karena di kantor sudah menunggu seorang kandidat fotografer dari Jakarta. Barusan Joko, office boy, mengabari saya.” April dan Stella saling berpandangan dengan tatapan bingung. “Stel, bukankah mereka kamu panggil satu jam lagi? Kenapa sekarang sudah ada yang datang?” tanya April. “Nggak tahu, mungkin dia kandidat yang direkomendasikan oleh Pak Akmal, kepala HRD. Kita harus menemuinya sekarang,” kata Stella panik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN