Fotografer Cupu

1409 Kata
“Naik mobil saya saja supaya kita cepat sampai di kantor,” ucap Pak Sastro memandu April dan Stella ke seberang jalan. Kedua wanita muda itu hanya bisa menurut, karena saat ini mereka tidak memiliki sarana transportasi. Terpaksa mereka menaiki mobil Pak Sastro yang pendek dan kecil. Penderitaan mereka tak hanya sampai di situ, karena suhu di mobil Pak Sastro mirip dengan ruang sauna. April sampai mengipasi dirinya dengan tangan untuk mengurangi hawa panas. Mungkin jika dia berdiam di mobil lebih dari satu jam, ia akan berubah menjadi roti panggang. “Pak, apa Ac-nya tidak berfungsi?” tanya Stella sambil mengelap dahinya yang bercucuran keringat. “Buka saja jendelanya, Mbak, angin alami itu lebih sehat daripada AC. Kala terus-terusan pakai AC nanti kulitnya cepat keriput,” ujar Pak Sastro malah menceramahi Stella. April mengedipkan matanya ke Stella agar sahabatnya itu berhenti mengeluh. Untung saja jarak warung nasi gudeg dan kantor Majalah CInta Budaya lumayan dekat, sehingga mereka tiba dalam waktu sepuluh menit. Bak keluar dari lubang neraka, April dan Stella langsung bernapas lega saat keluar dari mobil itu. “Nah, selamat datang di Majalah Cinta Budaya,” ucap Pak Sastro dengan bangganya. April memandang bangunan kuno model Belanda yang menjulang di hadapannya. Sebagian catnya telah terkelupas dan atapnya terlihat rapuh dimakan usia. Siapa sangka Mega Media Corp yang merupakan perusahaan media cetak ternama, memiliki kantor cabang yang tidak terawat seperti ini. “Mbak-mbak, jangan melamun di sini, nanti kesambet. Calon fotografer kita sudah menunggu di dalam,” tegur Pak Sastro sambil menepukkan tangan. Stella pun menarik tangan April dan menggiringnya untuk mengikuti langkah Pak Sastro. Namun saat mereka membuka pintu, mereka dikejutkan oleh sosok laki-laki yang sedang berjalan mondar-mandir. Lelaki itu juga sama terkejutnya, sehingga mereka saling beradu pandang. Dalam beberapa detik, mereka hanya bertatap-tatapan layaknya adegan di dalam drama rumah tangga. Untuk sesaat, April terpana dengan tampilan lelaki di hadapannya. Entah mengapa ciri-ciri lelaki ini sangat cocok dengan apa yang ada di pikirannya. . “Pril, apa ini keajaiban? Pria itu sepertinya memenuhi kriteriamu, baik sebagai fotografer maupun sebagai suami bayaran,” bisik Stella. Mendengar Stella berbisik-bisik, Pak Sastro segera berdehem untuk mencairkan suasana. “Ehemmm, apa Mas ini adalah fotografer yang akan ikut wawancara kerja?” Lelaki berambut klimis itu membenahi letak kacamatanya sambil menatap Pak Sastro. “Iya, Pak, saya baru saja tiba di Jogja dan langsung datang ke sini. Apakah Bapak yang bernama Pak Sastro?” tanya lelaki itu. Merasa bangga karena namanya begitu terkenal, Pak Sastro pun menaikkan kerah kemejanya ke atas. “Betul, Mas, saya adalah pimpinan redaksi, Sastro Ongko Susilo. Dari mana Mas tahu tentang saya?” tanya Pak Sastro penasaran. “Tentu saja saya tahu, karena di akun i********: Majalah Cinta Budaya, kebanyakan isinya adalah foto-foto Bapak.” Pak Sastro tersipu malu mendengar jawaban dari lelaki muda itu. “Kalau begitu langsung saja Bapak mewawancarai saya sekarang.” Saking tidak sabarnya, lelaki berkacamata itu hendak menggandeng tangan Pak Sastro. Namun gerakannya segera dihalangi oleh Stella. “Maaf, Mas, yang mau mewawancarai calon fotografer adalah saya, Stella Diani, dan teman saya ini. Saya adalah perwakilan dari Mega Media Jakarta.” Seolah tak percaya, pria itu menatap Pak Sastro melalui lensa kacamatanya yang tebal. Sementara Pak Sastro hanya membalas dengan anggukan kepala. “Pak, ruangan mana yang bisa saya pakai untuk wawancara?” tanya Stella. “Ruang meeting, mari saya antarkan.” Mengikuti arahan Pak Sastro, ketiga orang itu berbelok ke kanan dan tiba di sebuah ruangan berpintu kayu. Begitu pintu dibuka, bau apek bercampur pewangi ruangan berbaur menjadi satu. “Silakan masuk, saya mau melakukan beberapa pekerjaan yang tertunda,” ujar Pak Sastro melenggang dengan santai. Selepas Pak Sastro pergi, Stella menyuruh lelaki itu untuk menunggu di luar sebentar. “Mas, tolong tunggu sebentar di luar. Saya mau berdiskusi dulu dengan teman saya, April,” ujar Stella menarik lengan April. Stella tidak menyadari jika raut wajah lelaki itu berubah drastis saat mendengarnya menyebutkan nama April. *** "Pril, kamu saja yang mewawancarai fotografer itu? Aku hanya akan bertindak sebagai pendamping," ujar Stella. "Kenapa begitu? Bukankah seharusnya kamu yang bertugas dan aku hanya menemani saja? Aku bahkan belum resmi menjadi karyawan," sanggah April. "Ck, aku berbuat begini demi kebaikanmu. Kamu harus memahami sifat dari Clark Kent sebelum memilih dia sebagai partner kerjamu," ujar Stella nyengir. "Clark Kent?" tanya April tidak mengerti dengan istilah yang dipakai sahabatnya itu. "Iya, dia mirip sekali dengan superman versi cupu. Lihat saja kacamata kotaknya yang kebesaran, lalu model rambutnya itu...lepek seperti bakso gepeng. Aku rasa dia adalah perwujudan dari doa-doamu, Pril," ledek Stella. "Enak saja, mana pernah aku mendoakan hal seperti itu," gerutu April. "Sudahlah, turuti saja kata-kataku. Aku panggil Clark Kent sekarang." Tanpa persetujuan dari April, Stella membuka pintu dan menghampiri pria yang setia menantinya di balik pintu. "Mari masuk, Mas," ucap Stella sembari menyunggingkan senyum. Stella jadi penasaran apakah pria cupu ini aslinya ganteng seperti Superman. Namun jika dipandang dari berbagai sisi, hal itu sangatlah mustahil. Di dalam ruangan, April telah mempersiapkan diri agar terlihat profesional dalam melakukan wawancara. "Silakan duduk. Karena kita seumuran, saya tidak akan memakai bahasa yang terlalu formal. Apakah kamu fotografer yang direkomendasikan oleh kantor pusat?" tanya April. "Iya, Mbak, saya mendapat rekomendasi karena lulus psikotest di kantor pusat Mega Media Jakarta," jawab pria itu tak lepas menatap April. "Boleh saya minta berkas lamarannya?" potong Stella. Pria itu mengeluarkan amplop cokelat tebal dari tasnya. Namun bukannya memberikan kepada Stella, ia justru menyodorkan kepada April. "Ini, Mbak, silakan," kata pria itu tersenyum lebar. April memiringkan wajahnya, karena silau dengan behel perak yang terpasang di gigi pria itu. Sebaliknya, Stella malah memicingkan mata untuk mengamatinya. Ia penasaran apakah April akan bertahan jika bersuamikan lelaki model begini. Berusaha mengabaikan behel gigi pria itu, April menyerahkan berkas lamaran kepada Stella. Kemudian, ia mulai mengajukan sejumlah pertanyaan. "Siapa nama panggilanmu?" tanya April. "Mbak boleh memanggil saya Janu atau Ari. Karena nama lengkap saya adalah...Januari," ujar pria itu penuh percaya diri. Sontak kelopak mata April dan Stella membola secara bersamaan. April mencoba bertanya ulang karena ia takut salah mendengar. "Namamu benar, Januari?" "Iya, Mama saya yang memberikan nama itu karena saya terlahir di bulan Januari." "Pril, sepertinya kalian berdua jodoh, namanya aja mirip," bisik Stella yang langsung dipelototi oleh April. "Apa saja pengalaman kerjamu sebagai fotografer?" lanjut April. "Sejak SMA, saya menjuarai berbagai macam lomba fotografi. Kemudian di umur dua puluh satu tahun, saya sudah memiliki studio sendiri dan mengelolanya sampai sekarang. Saya juga menjadi fotografer lepas untuk beberapa majalah." "Lalu spesialisasimu di bidang apa?" "Pemotretan hewan, terakhir model foto saya adalah kucing anggora. Saya juga pernah memotret burung elang, singa, dan ular. Ini ada contohnya di ponsel saya." Januari mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan beberapa jenis binatang liar yang berhasil dia abadikan. April dan Stella memandang foto itu dengan takjub. Harus diakui bahwa pria berkacamata ini memiliki bakat fotografi yang luar biasa. "Tapi di sini kamu akan memotret berbagai objek. Bisa manusia, makanan, tempat wisata, rumah, alat musik, atau apa saja yang berhubungan dengan budaya. Apa kamu tidak keberatan?" tanya April. "Saya bersedia, Mbak, bahkan untuk memotret penampakan pun saya tidak keberatan. Mau saya ajak ke tempat angker untuk berburu hantu?" tanya Januari mencodongkan wajahnya. "Jangan, saya tidak berminat," tolak April bergidik. Stella terkekeh pelan karena ia tahu bahwa April memang seorang penakut. "Ada lagi yang ingin ditanyakan, Mbak?" tantang Januari kepada April. Stella pun mengacungkan tangannya untuk menyela sesi tanya jawab antara April dan Januari. "Saya punya satu pertanyaan untukmu. Di sini tertulis statusmu belum menikah. Apa kamu benar-benar masih single?" "Saya memang single. Kalau Mbak nggak percaya, lihat saja KTP saya," jawab Januari menunjuk ke berkas lamarannya. "Bukan itu maksud saya. Lebih jelasnya begini, pria mungkin statusnya belum menikah, tetapi bisa jadi kondisi fisiknya tidak seperti itu. Saya menanyakan hal ini karena Majalah Cinta Budaya membutuhkan karyawan yang berbudi luhur, berakhlak mulia, dan menjunjung tinggi norma-norma budaya bangsa,” papar Stella memberikan alasan. "Ow, saya mengerti sekarang. Jangan khawatir, saya adalah pria yang menjunjung adat ketimuran, menghormati harkat dan martabat wanita, mencintai budaya nenek moyang, serta berguna bagi nusa dan bangsa. Saya bersedia membuktikannya kepada Mbak April jika memang diperlukan," ucap Januari malah melirik kepada April. April hanya bengong menyaksikan dua orang manusia yang ada di dekatnya. Mendadak ia merasa mual akibat mendengar ocehan Stella dan Januari, yang berlagak seperti guru mata pelajaran Pkn. "Jadi bagaimana, apa saya diterima?" tanya Januari memandang April dan Stella secara bergantian. "Diterima! Kamu resmi diterima menjadi fotografer Majalah Cinta Budaya, sekaligus rekan kerja April," tandas Stella mengetukkan penanya ke meja kaca.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN