“Tunggu dulu, Stel, aku mau bertanya sesuatu kepada Januari,” sela April memotong perkataan Stella.
Senyuman yang sudah terukir di wajah Januari langsung sirna, tetapi itu hanya terlihat beberapa detik saja. Setelahnya, pria berkacamata itu kembali memasang wajah polos tanpa dosa.
“Silakan bertanya, Mbak, saya siap menjawab.”
“Begini, kamu tadi mengatakan bahwa kamu punya studio sendiri. Lalu kenapa kamu malah melamar sebagai fotografer di Majalah Cinta Budaya? Pendapatanmu di studio pasti lebih besar daripada gaji bulanan di sini,” tanya April meragukan Januari.
Bisa jadi lelaki ini sekadar iseng atau memiliki motivasi yang tersembunyi sampai ia rela bekerja di majalah yang tidak populer. April khawatir bila Januari hanya bertahan beberapa bulan kemudian mengundurkan diri. Tentu saja hal itu akan sangat merepotkannya.
“Sebenarnya ini terkait dengan cita-cita saya, Mbak. Saya ingin sekali menjadi fotografer tetap di sebuah majalah supaya memiliki mentor. Pengalaman saya belum terlalu banyak, karena itu saya membutuhkan nasehat dari para senior, terutama pimpinan redaksi,” jawab Januari diplomatis.
“Tapi siapa yang akan mengelola studiomu kalau kamu bekerja di tempat lain? Jangan sampai kamu kepikiran oleh studiomu, lalu tidak fokus dengan tugas utama di kantor,” tanya April masih belum percaya.
Stella hanya geleng-geleng kepala menyaksikan sifat perfeksionis yang dimiliki April. Ia tersenyum geli membayangkan bagaimana pria cupu seperti Januari akan menyerah tanpa syarat di bawah kendali April.
“Studio saya hanya studio mini, karena klien saya lebih banyak hewan daripada manusia. Saya juga meminta partner yang bisa menggantikan saya untuk mengurus studio.”
“Kamu benar-benar mantap untuk bekerja di Majalah Cinta Budaya?” tanya April sekali lagi.
“Mantap seratur persen, Mbak.”
Tanya jawab itu terhenti karena pintu ruang meeting diketuk dari luar. Tak lama, muncul seorang pemuda bertubuh kurus di ambang pintu.
“Mbak, saya Joko. Saya disuruh oleh Pak Sastro untuk memberitahu bahwa di depan sudah menunggu empat orang yang akan wawancara.”
“Oke, Mas,” sahut Stella. Ia langsung berbisik kepada April akan menghentikan wawancara dengan Januari.
“Pril, sudah cukup, kita ditunggu oleh kandidat yang lain di luar.”
April mengangguk lantas berbicara kepada Januari.
“Wawancara hari ini sudah cukup, terima kasih atas waktunya.”
“Lalu bagaimana, Mbak, apa saya jadi diterima?” tanya Januari memastikan.
“Iya, kamu sudah diterima. Sekarang kamu bisa menemui Pak Sastro di ruangannya sambil membawa berkas ini,” tukas Stella.
“Terima kasih banyak, Mbak, saya terharu sekali karena impian saya menjadi kenyataan,” kata Januari sembari menyeka kacamatanya yang berembun. April sampai mengerutkan dahi melihat sikap Januari yang cengeng seperti anak-anak.
Sebelum keluar dari ruangan itu, Januari bersalaman lebih dulu dengan Stella lantas beralih kepada April. Namun, saat ia bersentuhan dengan April, Januari tidak kunjung melepaskan tangan wanita itu.
“Mbak April, saya berjanji akan menunjukkan kinerja yang terbaik untuk memajukan Mbak April…eh, maksudnya memajukan Majalah Cinta Budaya,” tegas Januari.
April sedikit terkejut karena Januari meremat jemarinya dengan kuat. Buru-buru, ia melepaskan tangannya dari genggaman lelaki itu.
“Iya, kamu boleh keluar sekarang.”
“Baik, Mbak, kebetulan saya juga mau ke toilet, sudah kebelet,” ucap Januari lantas berjalan keluar dari ruangan itu.
Dengan petunjuk dari Joko, Januari menuju ke toilet yang terletak di bawah tangga. Ia segera mengunci pintu lalu melepas kacamatanya.
“Fuih, ternyata pakai kacamata besar menyusahkan juga, wajahku jadi berkeringat,” gerutu Raskal berbicara sendiri. Ia mencuci mukanya sebentar di wastafel, lalu mengelapnya dengan sapu tangan yang dibawanya di saku celana.
Pria itu mengamati dirinya sendiri di cermin. Ia merasa bangga dengan aktingnya yang sangat cemerlang hari ini. Namun kemudian, Raskal teringat akan sosok wanita yang baru saja melakukan wawancara dengannya. Entah mengapa namanya mirip dengan calon jodohnya yang melarikan diri dan membuatnya harus melakukan penyamaran konyol seperti ini.
“April, apa kamu memang April yang sama? Aku akan mencari tahu siapa kamu sebenarnya. Jika terbukti bahwa kamu adalah wanita itu, maka bersiaplah untuk menerima pembalasanku,” gumam Raskal berbicara sendiri di depan cermin.
Raskal meraih ponselnya yang tersimpan di tas pinggang, lalu menghubungi sang pengikut setia.
“Lang, kamu di mana sekarang?”
“Masih di atas bumi dan di bawah langit, Tuan, belum pindah ke planet lain,” jawab Gilang sembarangan. Pasalnya, dia sedang sibuk bersih-bersih di dalam studio dan malas untuk menerima telepon.
“Dasar kamu ini, diajak ngomong serius malah bercanda! Cepat tinggalkan pekerjaanmu sekarang, karena aku punya tugas yang sangat penting,” sembur Raskal.
“Tugas apa lagi, Tuan? Saya kira Anda akan akan tenang dan damai untuk selama-lamanya di tempat yang baru.”
“Enak saja, kamu pikir aku sudah meninggal dunia. Dengar, kamu harus menyelidiki seorang wanita dan memberiku laporan paling lambat lima hari.”
“Hah, Tuan menyuruh saya alih profesi menjadi detektif?” tanya Gilang sembari menggaruk kepalanya.
“Jangan banyak bertanya dan lakukan saja perintahku. Hari ini juga aku akan mengirimkan fotonya ke ponselmu.”
Tanpa banyak basa-basi, Raskal segera memutuskan sambungan teleponnya. Ia kembali mengenakan kacamata tebal itu untuk menunjang penampilannya sebagai Januari.
***
“Pril, lebih baik kamu berkenalan dengan rekan kerjamu yang lain. Fotografernya sudah dapat, jadi kamu nggak perlu lagi membantuku.”
“Lalu untuk apa kamu melanjutkan wawancara dengan kandidat lain?” tanya April tidak mengerti.
“Sekadar basa-basi karena aku terlanjur memanggil mereka. Aku akan lebih fokus untuk mencari asisten wartawan. Nanti kalau sudah selesai, aku traktir kamu makan siang di restoran,” ucap Stella.
Karena sudah diusir oleh sahabatnya, April memutuskan untuk melihat-lihat ruang kerja di Majalah Cinta Budaya. Ruangannya lumayan luas dengan beberapa meja yang bersekat. April hendak menuju ke ruangan Pak Sastro, tetapi pria itu sudah keluar terlebih dahulu bersama dengan Januari. Mereka nampak akrab dan cocok satu sama lain.
“Mbak April sudah selesai menemani Mbak Stella wawancara?” tanya Pak Sastro.
“Sudah, Pak, Stella bisa menghandle sendiri. Saya ingin menemui Bapak dan menanyakan job desk saya,” tutur April.
“Oh, kebetulan sekali, saya akan mengadakan meeting kecil. Sebelumnya, mari saya perkenalkan dengan seluruh staf, sekalian juga dengan Mas Janu.”
“Janu, siapa?” tanya April bingung.
“Janu itu saya, Mbak. Pak Sastro memutuskan untuk memanggil saya Janu supaya lebih enak didengar,” jawab Januari menunjuk dirinya.
April hanya mengangguk kecil, lalu mengikuti langkah kaki kedua orang pria tersebut. Pak Sastro pun memulai perkenalan dari meja yang paling depan.
“Ini adalah Niken, wartawan yang sudah bekerja dua tahun di majalah kita.”
“Semoga kalian betah di sini,” sapa Niken dengan gaya tomboy.
“Yang ini Husein, wartawan merangkap fotografer dan editor,” kata Pak Sastro memperkenalkan pria dengan poni dora di dahinya.
Wajah pria itu nampak mengkilat, bukan karena kedahsyatan dari produk skincare, melainkan karena kelenjar minyak yang berlebihan. Mungkin ia bekerja terlalu keras sampai tidak menghiraukan penampilannya.
“Aku Husein, pekerja paling serabutan di majalah,” ucapnya hanya menatap sekilas kepada April dan Januari.
“Yang itu Badarudin, dipanggil Udin, dia bagian marketing dan produksi.”
“Selamat datang, teman,” ujar Udin langsung meraih tangan Januari dan mengabaikan April. Pria berkulit putih itu terlihat sangat kemayu, sehingga membuat Januari merasa risih.
Pak Sastro lalu menyuruh mereka semua duduk, termasuk April dan Januari. Ia sendiri mengambil kursi kayu dan duduk di tengah-tengah anak buahnya.
“Hari ini team kita semakin lengkap karena kedatangan Mbak April sebagai wartawan dan Mas Janu sebagai fotografer baru. Karena itu, kita harus semakin optimis untuk membuat majalah kita bangkit kembali. Apalagi dua bulan lagi adalah hari ulang tahun Majalah Cinta Budaya yang ke enam puluh.”
“Siap, Pak,” jawab Januari terlihat paling bersemangat.
“Sebelumnya perlu saya ingatkan peraturan utama di majalah kita, yaitu menjaga profesionalitas. Tidak boleh ada hubungan percintaan antara karyawan laki-laki dan perempuan.”
Mendengar perkataan Pak Sastro, Niken pun berbisik di telinga April.
“Peraturan ini sebenarnya tidak perlu. Mana mungkin kita tertarik dengan laki-laki yang ada di sini. Yang satu kilang minyak, satunya bukan pria tulen, dan yang baru datang kelihatan sangat cupu,” bisik Niken.
April hanya senyum-senyum saja mendengar perkataan seniornya itu.
“Kenapa bisik-bisik, Niken?” tanya Pak Sasto penasaran.
“Ini, Pak, saya sedang memuji penampilan Bapak yang semakin keren seperti Amitabh Bachchan.”
“Terima kasih, Niken, memang banyak tetangga saya yang bilang begitu. Sekarang kita kembali ke pokok pembicaraan. Kita harus segera menaikkan volume penjualan, supaya tidak terkena peringatan dari kantor pusat. Target utama kita sekarang adalah kaum muda. Karena itu, kita harus membuat headline berita yang bisa menarik perhatian mereka.”
Pak Sastro lantas menatap April dan Januari secara bergantian.
“Karena di majalah ini yang paling muda adalah Mbak April dan Mas Januari, saya akan memberikan kesempatan kepada kalian untuk menulis artikel yang pertama. Kalian tentukan dulu berita apa yang akan kalian tulis untuk headline bulan depan, lalu segera diskusikan dengan saya. Untuk yang lain, bantu saya mencarikan narasumber yang usianya di bawah tiga puluh lima tahun.”
“Pak, apakah kami boleh bekerja mulai sekarang?” tanya Januari.
“Tentu saja boleh, tetapi saya mau menjelaskan beberapa hal dulu kepada Mbak April. Ayo, Mbak, ikut ke ruangan saya,” ujar Pak Sastro beranjak dari kursinya.
April pun berjalan mengikuti Pak Sastro, tetapi langkahnya terhenti saat mendengar suara notifikasi pesan masuk secara beruntun. Merasa penasaran, April membuka ponselnya sebentar untuk memeriksa isi pesan tersebut.
“I-ini mustahil, Zayn…,” ucap April dengan bibir memucat.