Mata April terbelalak lebar saat memandang foto-foto yang ada di ponselnya. Di situ terlihat jelas aktivitas Zayn yang sedang memasuki gerbang sekolah TK. Hari ini, Zayn memang mulai mendaftar ke sekolah yang baru dengan diantarkan oleh Seno dan Mbok Sumi.
Hati April mencelos seketika. Ia langsung bisa menebak siapa orang yang telah mengirimkan foto-foto ini.
"Mbak April, ayo masuk," tegur Pak Sastro melihat April masih bengong di depan pintu.
"I-iya, Pak," jawab April buru-buru masuk.
April menyimpan ponselnya ke dalam tas. Meski dalam hatinya sangat khawatir memikirkan Zayn, tetapi ia harus tetap mengedepankan profesionalitas.
"Silakan dibaca dulu job desk utama dari wartawan Majalah Cinta Budaya. Gaji kita memang tidak seberapa, tetapi kita mengemban misi yang mulia, yaitu melestarikan budaya daerah sesuai cita-cita Bapak Tanujaya. Dalam dua bulan ke depan, kita diharuskan meningkatkan penjualan minimal dua puluh persen dari bulan sebelumnya. Karena itu, kita semua harus bekerja keras dan saling mendukung," papar Pak Sastro. Gayanya sudah seperti seorang dosen yang mengajari mahasiswa.
"Saya mengerti, Pak. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat nama majalah kita dikenal lagi oleh publik."
"Bagus, Mbak April. Kalau ada pertanyaan, silakan langsung diajukan. Jangan sungkan, karena saya ini adalah pimpinan yang demokratis."
"Saya akan mulai membuat daftar calon narasumber. Apa Bapak sudah punya rekomendasi yang bisa saya jadikan contoh?" tanya April.
"Ada, kebetulan saya akan memberikannya kepada Mbak April."
Pak Sastro mengambil selembar kertas dari lacinya, lalu menyodorkan kepada April.
"Di situ ada tiga nama yang saya tulis. Masing-masing narasumber memiliki keunikan dan ciri khas. Nanti Mbak April bisa cari tahu sendiri di internet mengenai profil mereka," ucap Pak Sastro.
"Baik, Pak. Setelah ini, saya ingin minta izin kepada Bapak untuk keluar kantor, paling lama tiga jam. Saya mau mengurus keperluan anak saya di sekolah," ujar April sembari menyimpan kertas dari Pak Sastro di dalam tas.
Pak Sastro menaikkan alisnya karena terkejut dengan perkataan April.
"Mbak April sudah memiliki anak? Bukankah statusnya di KTP masih single?"
Beberapa detik kemudian, Pak Sastro menyesal karena sudah menanyakan hal yang bersifat privasi. Ia berpikir bahwa mungkin April telah melakukan kesalahan di masa lalu hingga memiliki anak di luar nikah. Hal yang seperti ini memang kerap terjadi di kalangan anak muda zaman sekarang.
"Sebenarnya saya...."
"Tidak perlu dijelaskan Mbak April, saya sudah mengerti. Silakan saja kalau mau mengurus anak dulu, karena jam kerja Mbak April yang resmi baru terhitung mulai besok," ucap Pak Sastro penuh keyakinan.
"Terima kasih banyak, Pak, saya permisi.”
April beranjak dari kursi untuk meninggalkan ruangan Pak Sastro, tetapi atasannya itu tiba-tiba memanggilnya.
"Mbak April, tunggu sebentar. Bagaimana kalau Mbak April diantarkan saja oleh Mas Janu? Di sini ada motor kantor, tetapi untuk biaya bensin harus ditanggung sendiri."
"Saya akan naik ojek, Pak. Tidak mungkin saya merepotkan Januari untuk urusan pribadi saya."
"Justru kalian harus sering bersama untuk latihan membangun chemistry sebagai rekan kerja. Sebentar saya akan bicara ke Mas Janu."
April hendak mencegah Pak Sastro, tetapi pria itu sudah berjalan menuju ke meja Januari. April pun memilih untuk menghubungi ponsel Seno guna menanyakan keberadaan Zayn sekarang.
"Halo, Mas Seno, Zayn sekarang di mana? Apa kalian sudah pulang dari sekolah?" tanya April.
"Sudah, Mbak. Zayn sedang saya ajak makan ayam goreng di restoran Kentaci, di Jalan Hartono. Dia agak rewel, katanya ingin menyusul Mbak April ke tempat kerja."
"Lalu, apa Zayn sudah terlanjur diterima di sekolah yang tadi?" tanya April.
"Belum sih, Mbak, saya baru isi form pendaftaran. Besok saya dan Ibu ke sekolah lagi untuk bayar uang pangkal dan mengukur seragam," ucap Seno.
"Bagus, batalkan saja pendaftarannya."
"Lho, memangnya kenapa, Mbak?" tanya Seno bingung.
"Nanti aku jelaskan. Tolong tetap di situ, Mas Seno, aku akan menjemput Zayn sekarang dan mendaftarkannya ke sekolah yang lain."
Selama April bicara dengan Seno, ia merasa ada seseorang yang memotretnya dari belakang. Namun ketika ia sudah mematikan panggilan, yang dilihatnya hanyalah si pria cupu, yaitu Januari.
"Januari, kamu bikin kaget aja. Untung aku nggak punya penyakit jantung," keluh April sambil mengelus dadanya.
Januari lantas menunjukkan kunci motor yang dipegangnya kepada April.
"Saya disuruh oleh Pak Sastro untuk mengantar Mbak April dengan motor kantor. Apa kita mau langsung menemui narasumber hari ini?" tanya Januari.
"Bu-kan, ini sebenarnya urusan pribadiku. Lebih baik kamu di kantor daripada mengantarku. Dan mulai sekarang panggil namaku aja, nggak usah pakai bahasa yang formal," jawab April merasa tidak enak hati.
"Oke, tetapi aku tetap akan mengantarmu. Di kantor, aku belum punya pekerjaan, jadi lebih baik kita keluar untuk mencari inspirasi, dan sekalian menghapalkan jalan di kota Jogja."
Karena Januari bersikeras, April tidak bisa menolak. Ia terpaksa menerima ajakan pria itu untuk pergi bersama. Ketika sampai di pekarangan kantor, April terkejut karena motor yang akan mereka pakai adalah motor jadul tahun 1990-an. Melihat bentukannya, April khawatir jika motor itu akan mogok sebelum sampai di tempat tujuan.
"Kita mau ke mana?" tanya Januari.
"Ke restoran Kentaci di Jalan Hartono, apa kamu tahu di mana lokasinya? Bagaimana kalau kita nyasar dan nggak bisa pulang?” tanya April. Ia baru teringat bahwa mereka berdua sama-sama pendatang dan baru saja menginjakkan kaki di kota Jogja.
“Jangan khawatir, tinggal pakai G-maps dan semua beres. Sebentar aku nyalakan internet dulu,” kata Januari mengambil ponselnya. Namun, tak sampai lima menit pria itu memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.
“Kenapa, Janu?” tanya April.
“Ternyata kuota internetku habis. Bisa pinjam ponselmu?” tanya Januari tersenyum lebar.
Sedikit kesal, April mengeluarkan ponselnya dan menyalakan mobile data. Ia mencari lokasi restoran yang dimaksud oleh Seno, lalu menunjukkannya kepada Januari. Melihat wajah Januari, April jadi ragu apakah pria itu benar-benar memahami arah tujuan mereka.
“Sudah ngerti kita harus lewat jalan yang mana?” tanya April.
“Tenang aja, aku ahli dalam mencari jalan, termasuk jalan keluar, jalan pintas, dan juga jalan masuk ke hati seseorang. Pegangan yang kuat, aku akan sedikit ngebut,” jawab Januari enteng.
Karena tidak ada pegangan di motor itu, April terpaksa berpegangan pada pinggang Januari. Namun begitu, ia tetap menjaga jarak supaya tubuh mereka tidak berdekatan. Bagaimanapun April tidak mudah percaya kepada kaum adam, sekalipun penampakannya culun seperti Januari.
Dari arah belakang, April sesekali memberikan petunjuk kepada Januari dengan panduan dari G-maps. Beruntung mereka bisa sampai di tempat tujuan, setelah beberapa kali Januari salah mengambil jalan.
“Benar itu restorannya?” tanya Januari menunjuk pada restoran bercat merah hitam.
“Iya, sebentar aku akan menghubungi Seno.”
Januari bergegas memarkirkan motornya di halaman restoran, sementara April menekan nomer telepon Seno. Di kala panggilan April sudah terhubung, tiba-tiba ia mendengar suara anak kecil yang berteriak memanggilnya.
“Mommy!”
April terperanjat melihat Zayn berlari sendirian dari restoran menuju ke tempat parkir. Pada saat yang bersamaan, sebuah mobil meluncur masuk dari arah yang berlawanan. Sontak, mata April terbelalak lebar karena mobil itu sebentar lagi akan menabrak putra kesayangannya.
“Zayn, awas!” pekik April histeris.
Dalam hitungan detik, April terpaku di tempatnya dengan wajah pucat pasi. Sungguh, ia tidak akan sanggup jika harus kehilangan Zayn dengan cara tragis seperti ini. Namun, di kala April sudah kehilangan pengharapan, ia melihat seseorang berlari ke arah Zayn. Orang tersebut menyambar tubuh mungil Zayn secepat kilat, hingga bocah kecil itu terselamatkan dari maut.
Setelah melakukan aksi heroik, orang itu terjatuh di atas trotoar dengan posisi memeluk Zayn. Sementara Zayn yang sudah ketakutan setengah mati, langsung menangis tersedu-sedu.
“Hey, tenanglah, Nak, kamu sudah selamat.”
Mendengar suara berat itu, Zayn sadar bahwa ada seorang pahlawan yang sudah menyelamatkannya. Ia pun berhenti menangis dan membuka matanya yang semula terpejam rapat. Seketika, netra hitam Zayn bersitatap dengan seorang lelaki dewasa yang mengenakan kacamata berbentuk kotak.
“Om ini…Superman?” tanya Zayn mengerjapkan matanya.