Sentuhlah Tepat di Hatinya

1518 Kata
“Om bukan Superman, tetapi….” Belum sempat Zayn mendapat penjelasan dari sang pahlawan, April sudah berlari dan memeluk bocah kecil itu. Kini giliran air mata April yang tumpah ruah karena tidak mampu menahan ledakan emosinya. Ada rasa haru, takut, sedih, dan lega yang carut marut menjadi satu. Menjelang detik-detik terakhir tadi, April sempat mengikrarkan sumpah di dalam hatinya. Jika ada seseorang yang bisa menyelamatkan Zayn, maka bila dia seorang wanita akan dijadikan saudara, dan jika dia seorang pria akan dijadikan suami kontraknya, asalkan pria itu masih lajang. April tak menyangka jika doanya ini akan dikabulkan oleh Sang Pencipta. “Zayn, maafkan, Mommy,” ucap April di sela-sela tangisnya. Zayn yang berada dalam dekapan April, sedikit bingung. Ia tidak mengerti kenapa April meminta maaf kepadanya, sementara sang ibu tidak melakukan kesalahan apa pun. “Kenapa Mommy minta maaf?” Zayn mengerjapkan netranya yang masih basah oleh jejak air mata. “Karena Mommy lalai menjagamu, kamu hampir saja tertabrak mobil,” lanjut April dengan suara parau. Rasa bersalah yang begitu besar membuat ia tak dapat berhenti menangis. Seandainya ia benar-benar kehilangan Zayn, maka ia akan terpuruk sepanjang sisa hidupnya. Dari belakang, Seno berlarian menyusul ke arah Zayn dan April. Tadi ia sedang mencari-cari kunci motornya sambil menerima panggilan dari April. Seno mengira Zayn tetap berdiri di sisinya, tetapi siapa sangka anak itu nekat berlari sendirian untuk menyongsong kedatangan April. Seno hendak minta maaf kepada April, tetapi ia berhenti karena melihat sebuah pemandangan yang ganjil. April dan Zayn sedang berpelukan dengan bersandar pada tubuh seorang lelaki berkacamata. Dari kejauhan mereka nampak seperti keluarga kecil, yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Seno pun memilih untuk diam sampai adegan mirip film teletubbies itu selesai diperagakan. April masih menangis sesenggukan tanpa menyadari bahwa ia menjadi pusat perhatian dari orang-orang sekitar. Ia baru menyadari situasi ini saat mendengar suara deheman dari seorang pria. “Ehemm, bagaimana kalau menangisnya dijeda sebentar? Lebih baik kita pergi dari sini untuk mencari tempat berpelukan yang aman.” Mendapat teguran seperti itu, sontak April mendongakkan kepala. Sejak tadi April memang memeluk Zayn dengan erat, padahal Zayn masih berada dalam dekapan laki-laki yang menyelamatkannya. Dengan kata lain, April juga memeluk dan dipeluk cukup lama oleh pria ini. Bahkan, ia bisa melihat bahwa sebagian lengan kemeja sang pria basah oleh air matanya. “Ja-nu…,” ucap April terbata-bata. Matanya yang masih berembun bertemu pandang dengan netra hitam Januari. Rasanya April masih belum percaya bila orang yang telah menolong putranya, tak lain dan tak bukan adalah Januari. Siapa yang akan menduga jika pria dengan tampang pas-pasan ini memiliki keberanian tingkat dewa. Dengan menahan rasa malu, April pun berdiri dari posisinya sambil menarik Zayn dari jangkauan Januari. “Ma-af, Janu, aku nggak sengaja nangis di pelukanmu,” ucap April. “Sengaja pun nggak masalah, aku nggak keberatan sama sekali,” jawab Januari sambil mengibaskan kemejanya yang terkena kotoran aspal. “Apa ada bagian tubuhmu yang terluka?” tanya April. Ia sangat ingin membantu Januari, tetapi tidak bisa karena harus menggendong Zayn. “Mungkin hanya lecet-lecet sedikit di bagian lengan. Nanti sampai di kantor akan kuperiksa.” Seno pun bergegas menghampiri April dengan wajah tertunduk. Dia merasa sebagai pihak yang paling patut dipersalahkan atas kecelakaan yang hampir menimpa Zayn. “Saya minta maaf, Mbak April. Saya sudah teledor dalam menjaga Zayn,” ucap Seno penuh penyesalan. “Lupakan saja, Mas, saya yang bersalah karena menelepon Mas Seno. Sekarang saya harus mendaftarkan Zayn ke sekolah dan mengobati luka teman saya ini. Terima kasih, Mas.” Seno pun mengangguk dan membiarkan April membawa Zayn pergi. April mendudukkan Zayn di belakang punggung Januari, agar bocah kecil itu duduk di tengah-tengah. Sesungguhnya, April merasa tidak enak hati dengan Januari. Pria itu tidak memiliki kepentingan apa-apa, tetapi terpaksa harus mengantarkan dia dalam keadaan terluka. “Janu, apa kamu masih bisa mengendarai motor? Aku khawatir selain lecet, tangan atau kakimu ada yang keseleo,” tanya April nampak cemas. “Cuma lecet segini, nggak masalah untukku. Kita mau ke mana sekarang?” jawab Januari. “Ke TK. Pelita Harapan, lokasinya di sini,” ucap April menunjukkan ponselnya. Sepanjang perjalanan menuju ke sekolah, Zayn selalu memeluk Januari dengan erat. Bahkan, ia langsung minta digandeng oleh pria itu begitu mereka sampai di TK. Pelita Harapan. April berpikir bahwa Zayn bertingkah seperti itu karena menganggap Januari sebagai pahlawan penyelamatnya. Kedatangan April segera disambut baik oleh seorang guru yang bertugas menerima calon siswa baru. Untuk menyingkat waktu, April langsung minta diantar berkeliling sekolah guna memastikan keamanannya. Setelah mendapat penjelasan bahwa sekolah itu dilengkap dengan CCTV, dan kartu khusus untuk penjemput, April pun mantap untuk mendaftarkan Zayn di sana. Meski harga sekolah ini cukup menguras uang tabungannya, hal itu tidak menjadi masalah bagi April asalkan Zayn terlindung dari kemungkinan penculikan. Usai mengurus pembayaran dan membeli seragam, April meninggalkan sekolah itu. Ia meminta bantuan Januari sekali lagi untuk mengantar Zayn pulang ke rumah. Sebelumnya, April menelepon Mbok Sumi untuk menjemput Zayn di depan gapura Kampung Perjuangan, karena ia harus kembali ke kantor. “Untung Cah Bagus ini selamat,” ucap Mbok Sumi merasa lega. Ia sudah mendengar kabar dari Seno bahwa Zayn hampir tertabrak mobil di depan restoran. April hendak menurunkan Zayn dari atas motor, tetapi anak kecil itu malah menolak dan bertahan memegangi pinggang Januari. “Zayn, main dengan Eyang Sumi di rumah, ya. Nanti sekitar jam lima sore, Mommy akan pulang ke rumah untuk menemani Zayn,” bujuk April. Bukannya menurut, Zayn malah menempelkan kepalanya di punggung Januari. “Mommy, aku mau main dengan Om Superman.” “Zayn, jangan nakal, Om Januari harus bekerja seperti Mommy,” tegur April. “Apa Om Superman akan pulang ke rumah kita juga?” tanya Zayn meminta kejelasan. “Nggak, Sayang, Om Januari punya rumah sendiri.” “Kalau begitu, minta aja Om Superman pindah ke rumah kita, Mom,” rengek Zayn. “Nggak bisa, Zayn, pria dan wanita dewasa nggak boleh tinggal serumah sebelum menikah,” jelas April berusaha membuat Zayn mengerti. Zayn menggaruk kepalanya, karena tidak memahami makna dari ucapan April. “Menikah itu, apa, Mommy?” Melihat April kesulitan menjawab pertanyaan Zayn, Januari pun melepas helmnya. Ia merasa harus turun tangan untuk merayu Zayn agar mau berpisah darinya. Di dalam hati, Januari merasa bangga karena setelah sekian purnama ada juga yang mengidolakannya, meski itu seorang anak kecil berusia lima tahun. “Zayn, turun dulu, yuk, Om mau bicara sesuatu.” Zayn langsung patuh saat mendengar ucapan Januari. Bocah kecil itu bersedia turun dari motor tanpa banyak drama. Setelahnya, Januari berjongkok di hadapan Zayn, agar tinggi badan mereka menjadi sejajar. “Nama Om adalah Januari, bukan Superman. Om sebenarnya juga ingin main bersama Zayn, tetapi sekarang Om harus ke kantor dulu bersama Mommy April. Nanti sepulang kerja Om akan mengajak Zayn untuk bermain game tembak-tembakan pakai pesawat. Door…door! Mau, nggak?” “Mau, Om,” jawab Zayn kegirangan. “Kalau begitu Om dan Mommy harus berangkat sekarang juga. Lebih cepat berangkat, maka pulangnya juga akan lebih cepat. Terus kita bisa main game berdua di rumah Zayn, setuju, nggak?” tanya Januari. “Setuju, Om!” “Nah, anak pintar! Setelah ini Zayn mandi yang bersih, makan, sambil menunggu Mommy dan Om pulang. Sekarang toss, dulu!” “Oke, Om, toss!” April hanya bisa melongo melihat sang putra begitu mudahnya ditaklukkan oleh Januari, hanya dengan sebuah tawaran sederhana. Padahal biasanya ia harus berbicara sampai berbusa-busa untuk membuat Zayn patuh. Untuk sesaat, April jadi teringat akan sumpah yang telah diucapkannya. Januari adalah penyelamat nyawa Zayn, dan ia seorang pria. Lalu haruskah ia menepati sumpah itu dengan memilih Januari sebagai suaminya? “Bye, Mommy, Bye Om,” ujar Zayn melambaikan tangan. April balas melambaikan tangannya dengan pikiran yang masih mengembara ke mana-mana. Akibatnya, ia masih terus berdiri di depan gapura, padahal Zayn dan Mbok Sumi sudah menghilang dari pandangan. “Pril, mau sampai kapan berdiri di sini? Katanya mau kembali ke kantor,” tanya Januari menjentikkan jari. “Oh, i-iya, sorry. Aku hanya heran karena kamu bisa membujuk Zayn dengan mudah. Sepertinya aku harus banyak belajar darimu,” ucap April mengakui kehebatan Januari. Januari tersenyum lebar ketika mendapatkan pujian dari April. “Yah, mau bagaimana lagi. Aku memang berbakat dalam soal bujuk-membujuk, mulai dari anak kecil, orang dewasa, sampai kakek dan nenek. Kunci dalam menaklukkan seseorang cuma satu, yaitu seperti syair lagu, sentuhlah tepat di hatinya.” April pun mengikuti Januari naik ke atas motor. Namun, saat Januari mengangkat bahu untuk memutar balik motornya, pria itu meringis kesakitan. “Janu, kamu kenapa?” tanya April cemas. “Bahuku agak nyeri, padahal tadi aku merasa baik-baik saja,” ucap Januari. “Mungkin bahumu terkilir karena jatuh membentur aspal. Turun dulu dari motor, aku ingin memeriksanya.” Januari menepikan motornya di pinggir jalan yang agak sepi. Setelah mereka turun dari atas motor, April memegang bahu Januari untuk memberikan pijatan ringan. Namun pria berkacamata itu malah terus memandanginya tanpa berkedip. “A-da apa, Janu?” tanya April menjadi canggung. “Aku cuma ingin memberitahumu, bahwa aku pernah gagal menyentuh hati seorang wanita. Entah karena aku ini kurang ganteng, kurang kaya, atau kurang pintar, sehingga dia menghindariku. Yang jelas, dia pasti akan menyesal karena sudah menyia-nyiakan aku,” ucap Januari tiba-tiba.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN