Haruskah Aku Melamar Dia

1565 Kata
April cukup terkejut karena Januari tiba-tiba membicarakan tentang masalah pribadinya. April berpikir bahwa pria ini pernah mengalami patah hati berat, sehingga ia membutuhkan teman untuk berbagi cerita. Terkadang juga kondisi tubuh yang kurang fit bisa menyebabkan perasaan seseorang menjadi lebih sensitif. “Mungkin dia hanya belum mengenalmu dengan baik. Atau bisa jadi dia sudah mencintai lelaki lain. Tetapi percayalah, suatu hari kamu akan menemukan wanita yang lebih baik, Janu,” ucap April berusaha membesarkan hati Januari. Mendengar perkataan April, Januari hanya tersenyum miring. “Kamu benar, April. Di dalam hidupku, aku menganut sebuah semboyan, yaitu hilang satu tumbuh seribu. Artinya jika ada satu yang hilang, maka aku akan menggunakan seribu cara untuk menangkapnya kembali,” ucap Januari sengaja menekan kalimatnya. Entah mengapa hati April sedikit tersentil ketika Januari mengucapkan kalimat tersebut. Namun, April segera menepis perasaan aneh yang muncul di hatinya. Mustahil jika wanita yang dimaksud Januari adalah dirinya, karena mereka baru berkenalan hari ini. “Apa bahumu sudah baikan sekarang?” tanya April masih melanjutkan pijatannya di bahu Januari. “Sudah lumayan, terima kasih. Kita berangkat ke kantor sekarang,” kata Januari. Pria itu memanaskan mesin motor, sementara April setia menunggunya di belakang. Beruntung motor bebek itu tidak rewel, sehingga mereka bisa melanjutkan perjalanan. Januari sudah mulai menghapal jalan menuju ke kantor, sehingga mereka bisa tiba di kantor tanpa hambatan. Begitu melewati pintu, April langsung disambut oleh Stella dan Pak Sastro yang menanti kepulangan mereka dengan tidak sabaran. Stella memandang April dan Januari secara bergantian dengan mata memincing. Sebaliknya Pak Sastro langsung menepuk pundak Januari penuh rasa bahagia. “Mas Janu, Mbak April, akhirnya kalian pulang juga. Saya hampir menyuruh Joko untuk turun tangan melacak keberadaan kalian. Saya takut kalian berdua nyasar di tengah kota Jogja,” ujar Pak Sastro. “Kalian berdua dari mana saja? Tidak mungkin kalau hanya mendaftar sekolah bisa selama ini. Apa benar kalian tersesat?” tanya Stella beruntun. “Lain kali Mas Janu dan Mbak April harus membawa peta, kompas, dan tas ransel supaya tahu arah perjalanan,” sahut Pak Sastro. “Nggak sekalian bawa monyet, Pak, biar jadi Dora The Explorer,” seloroh Niken dari arah belakang. Januari tidak menjawab, karena ia merasakan pundaknya ngilu akibat ditepuk cukup keras oleh Pak Sastro. Melihat ekspresi Januari yang menanggung rasa sakit, April buru-buru memberikan penjelasan. “Maaf, Pak, kami telat karena...anak saya tadi hampir tertabrak mobil. Januari menyelamatkan anak saya dari kecelakaan, sehingga tangan dan bahunya terluka. Makanya, kami agak lama sampai ke kantor,” jelas April. Semua yang ada di ruangan itu langsung melotot mendengar kisah kepahlawanan seorang Januari. Mereka tak percaya jika si lelaki cupu ternyata memiliki keberanian sebesar itu. “April, kalau begitu kamu obati dulu luka Januari. Di ruang meeting, ada kotak P3K yang bisa dipakai,” ucap Pak Sastro tampak prihatin. “Iya, Pril, buruan ini sudah jam empat sore. Nanti kamu harus anterin aku ke hotel dan menemani aku makan malam. Besok pagi aku sudah balik ke Jakarta,” timpal Stella. April mengangguk, lalu berjalan menuju ke ruang meeting dengan diikuti oleh Januari. Begitu sampai di ruangan itu, pandangan April tertuju ke sebuah lemari kecil yang terletak di pojok ruangan. Karena lemari itu tidak terkunci, April dengan mudah membukanya lalu mengambil kotak kayu berwarna putih. April segera mengeluarkan kapas, obat luka, dan plester untuk persiapan mengobati Januari. Sementara itu, Januari duduk tak bergeming di salah satu kursi. Ia memanfaatkan kesempatan untuk mengirimkan foto April kepada Gilang. Januari merasa sangat penasaran apakah April yang ada di hadapannya ini adalah calon istrinya atau wanita lain yang kebetulan bernama sama. Namun, bila dia adalah April Ardinata, mengapa dia sudah memiliki seorang anak berusia lima tahun? “Janu, tolong buka kemejamu,” kata April. Januari berjengit kaget karena April tiba-tiba sudah duduk di hadapannya. Lekas saja ia mematikan ponselnya agar April tidak memergoki apa yang sedang dia lakukan. “Kenapa kemejamu belum dibuka?” tanya April. “Aku harus membuka baju di hadapanmu?” balas Januari keheranan. “Memangnya harus bagaimana lagi? Kamu memakai kemeja lengan panjang dan aku nggak bisa melihat luka-lukamu,” jawab April sedikit kesal. Pikiran pria itu jadi melantur ke mana-mana setelah mendengar permintaan April. Januari berpikir bahwa mungkin April sedang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, mengingat dia adalah seorang janda beranak satu. “Bagaimana, ya, aku khawatir kalau kamu akan khilaf setelah melihat aku tanpa baju.” “Maksudmu apa, Janu, aku nggak ngerti. Aku hanya memintamu melepas kemeja sebentar, bukan tanpa baju sama sekali. Apa kamu nggak pakai kaos dalaman?” tanya April to the point. “Pakai kok, tetapi….” April merasa kesal sendiri melihat tingkah Januari yang malu-malu mirip gadis perawan. Padahal dia sedang diburu waktu karena harus segera mengurusi Zayn dan Stella. Seandainya April tidak mengingat jasa Januari dalam menyelamatkan Zayn, dia juga tidak akan mau melakukan hal ini. Untuk mempersingkat waktu, April segera mencodongkan tubuhnya lalu membuka paksa kancing kemeja Januari. “Pril, sabar, jangan terburu-buru. Kita nggak boleh melanggar norma dan adat ketimuran,” ucap Januari dengan wajah memerah. Tanpa mempedulikan ocehan Januari, April melepaskan lengan kemeja pria itu. Tak disangka, Januari ternyata memiliki otot tubuh yang bagus layaknya pria yang suka berolah raga. Berbanding terbalik dengan penampilannya yang lugu mirip anggota kaum rebahan. April mengabaikan pemandangan di hadapannya, dan lebih fokus memeriksa luka lecet di seputaran lengan Januari. Dia juga melihat lebam berwarna kebiruan yang ada di bahu pria itu. Pantas saja sejak tadi Januari selalu mengeluhkan nyeri di bahunya. Dengan sigap, April mengobati luka Januari dan memberikan plester di bagian yang lecet. Sebagai langkah terakhir, April mengambil minyak urut lalu mengoleskannya di bahu Januari. Namun, saat April bersentuhan langsung dengan kulit hangat Januari, tiba-tiba saja ia menjadi kikuk. Pasalnya, ini pertama kali dia memegang tubuh seorang lelaki. Apalagi Januari terus memandangi setiap gerak-geriknya, seolah sedang menilai sesuatu. Dalam suasana hening itu, pintu ruang meeting terbuka dari luar. Sontak, April melepaskan tangannya, sedangkan Januari bergegas mengancingkan kemejanya. “Pril, kamu sudah selesai mengobati Januari?” tanya Stella penuh selidik. “Su-dah. Kenapa kamu ke sini, Stel?” tanya April sedikit gelagapan. “Mengajakmu pulang. Aku sudah minta izin ke Pak Sastro supaya kita balik ke hotel sekarang.” “Oke, tetapi setelah itu boleh nggak aku pulang dulu untuk mengajak Zayn? Aku sudah janji kepada Zayn untuk pulang jam lima,” pinta April. “Kalau begitu aku ke hotel sendiri aja naik taksi. Kamu pulang ke rumah sekarang, lalu ajak Zayn ke hotel untuk makan malam denganku.” “Oke, Stel, makasih, ya.” April berjalan keluar dari ruang meeting sambil memesan ojek online lewat aplikasi, tetapi Januari mengejarnya dari belakang. “Pril, tunggu, aku akan mengantarmu pulang ke rumah. Aku tadi sudah berjanji kepada Zayn untuk main game bersama.” “Nggak usah, nanti aku akan menjelaskan kepada Zayn bahwa kamu sedang sakit. Lebih baik kamu pulang saja dan istirahat. Sampai jumpa besok,” ucap April buru-buru keluar. *** “Zayn, mau nambah spaghettinya?” tanya April menawarkan makanannya kepada Zayn. Bocah kecil itu menggeleng pelan. Raut wajahnya masih kelihatan sedih karena hari ini dia gagal bermain game bersama Januari. April tadi juga harus bersusah payah untuk membujuk Zayn agar mau ikut dengannya ke hotel. “Bagaimana kalau Tante pesankan puding cokelat yang ada es krimnya, mau nggak?” bujuk Stella. Dia tahu benar di mana letak sisi lemah dari seorang anak kecil. “Mau, Tante,” jawab Zayn kembali bersemangat. “Stel, kenapa kamu menawarkan es krim malam-malam begini?” tanya April. “Cuma sekali ini aja, Pril, yang penting Zayn nggak sedih lagi,” bisik Stella. Tak lama kemudian, puding es krim pesanan Stella pun dihidangkan. Tanpa disuruh, Zayn langsung mengambil sendok dan mencicipi puding kesukaannya. Melihat Zayn sedang asyik menikmati makanan, Stella pun mengobrol dengan April. “Pril, aku cemas memikirkan kalian berdua. Menurutku anak buah dari lelaki psikopat itu sudah berada di Jogja. Buktinya dia bisa mengirimkan foto-foto Zayn ke ponselmu.” “Iya, aku juga berpikir begitu. Lalu aku harus bagaimana sekarang, Stel, aku bingung,” keluh April. “Jalan keluarnya hanya satu, cepatlah menikah dan adopsi Zayn secara hukum. Bila perlu, kamu menikah dalam minggu ini juga,” usul Stella. “Aku baru saja tiba di kota ini, mana bisa aku menikah jika aku belum menemukan calon suami,” ucap April dengan suara lirih. “Ck, siapa bilang kamu belum ada calon suami. Pria yang memenuhi kriteriamu itu sudah ada di depan mata. Dia adalah Januari, pahlawan cupu yang menyelamatkan Zayn. Besok bicara langsung kepadanya dan lamar dia menjadi suami bayaranmu.” Mata April melebar mendengar perkataan Stella yang tidak masuk akal. Baru sekali ini dia mendengar ada seorang wanita yang disuruh melamar seorang pria. Terlebih, pria itu baru dikenal dalam waktu satu hari. “Big No! Mau ditaruh di mana mukaku kalau aku melamar Januari. Bisa-bisa dia menganggapku sebagai wanita gila yang agresif dan haus belaian,” tolak April mentah-mentah. “Aku hanya memberikan saran, Pril, tetapi keputusan ada di tanganmu. Jika kamu benar-benar sayang kepada Zayn, seharusnya kamu mau berkorban. Sejauh ini, hanya Januari yang cocok menjadi suami bayaranmu. Selain dia dekat dengan Zayn, aku jamin Januari nggak akan berani macam-macam denganmu.” Untuk sesaat, April teringat akan sumpahnya bahwa dia akan menikahi pria yang menyelamatkan Zayn. Dia juga mengingat momen tadi sore, di mana Januari terlihat malu-malu ketika harus membuka baju. Hal ini semakin menegaskan bahwa Januari bukanlah pria m***m yang akan berniat untuk menyentuhnya. Namun, haruskah ia merendahkan diri dengan melamar Januari untuk menjadi suami kontraknya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN