April masih termangu di kursinya. Dia mencoba mencari cara lain untuk mempertahankan Zayn tanpa harus menikahi seorang laki-laki. Karena di dalam hatinya, April tidak berminat untuk terikat dengan siapa pun, meski itu hanya sebatas kontrak.
Ya, semenjak dia melihat bagaimana penderitaan Yuna yang disebabkan oleh tipu daya seorang pria, April bertekad untuk tidak jatuh cinta. Di samping itu, April juga masih ingat bagaimana dulu rumah tangga kedua orang tuanya sering diwarnai oleh pertengkaran. Sang mama kerap kali berurai air mata, hingga ia menghembuskan napas terakhir pada saat April berusia enam tahun.
Semua pengalaman masa lalu yang pahit itu, membuat April menutup pintu hatinya. Sekarang ini, dia hanya memiliki dua tujuan dalam hidup, yaitu membesarkan Zayn dan menjadi seorang wartawan yang sukses.
“Pril, jangan melamun di tempat umum, nanti ada setan lewat. Tuh, es krim Zayn sudah habis,” tegur Stella menjetikkan jarinya agar April tersadar dari lamunan.
April segera mengarahkan atensinya kepada sang keponakan, lalu menyeka bibir Zayn yang terkena cokelat. Bocah kecil itu hanya menguap lebar sambil mengucek kedua matanya. Terlihat jelas bahwa Zayn sudah tidak tahan untuk menyelami alam mimpi.
“Zayn ngantuk?” tanya April mengelus kepala keponakannya itu.
“Iya, Mommy, aku mau bobok,” rengek Zayn.
Melihat wajah Zayn yang sudah mengantuk berat, April merasa kasihan. Ia pun berpamitan kepada Stella agar bisa segera mengajak Zayn pulang.
“Stel, sorry, aku nggak bisa menemani kamu terlalu lama. Besok aku akan ke sini jam setengah tujuh pagi untuk mengantarmu ke bandara,” ujar April.
Stella memegang bahu sahabatnya itu sambil menghela napas berat. Ada rasa iba di hatinya melihat April yang berwajah cantik dan berhati baik, tetapi nasibnya kurang beruntung.
“Santai aja, Pril, aku bisa memahami kondisimu. Kamu nggak usah mengantarkan aku, karena aku akan naik taksi langsung dari hotel ke bandara. Ingat, pertimbangkanlah ideku tadi. Lebih baik memilih Januari yang setiap hari akan bertemu denganmu, daripada kamu mencari orang lain secara random.”
“Tetapi aku dan dia rekan kerja, Stel. Kamu tahu sendiri kalau Pak Sastro nggak memperbolehkan karyawannya memiliki hubungan di luar pekerjaan,” cetus April merasa ragu.
“Itu urusan gampang, Pril. Asalkan kalian berdua sepakat merahasiakan pernikahan itu, nggak akan ada orang kantor yang tahu. Jika nanti kamu butuh bantuan, jangan ragu untuk meneleponku.”
April pun memeluk Stella dengan penuh rasa haru. Ia merasa sangat beruntung memiliki Stella, di kala hidupnya sedang dilanda masalah yang pelik.
“Makasih, Stel, tolong doakan aku supaya bisa mengambil keputusan yang tepat,” ucap April dengan mata berkaca-kaca.
***
Raskal baru saja selesai makan malam. Saat ini, ia sedang mengeluarkan baju-bajunya dari koper dan meletakkannya di dalam lemari. Meski tubuhnya terasa pegal-pegal sehabis terjatuh di aspal, tetapi Raskal tetap ingin menata kamar kosnya serapi mungkin. Bagaimanapun ruangan ini adalah tempat berteduhnya selama dia berada di Jogja, sehingga harus dibuat senyaman mungkin.
Selesai dengan pekerjaannya, Raskal merebahkan diri di atas kasur berukuran single. Ia menatap seluruh sudut kamar kosnya, mulai dari langit-langit sampai ke ubin keramik yang berwarna putih. Kamar ini sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan kamarnya di rumah keluarga Raharja, maupun kamar pribadinya di apartemen. Bukan hanya dari segi ukuran, tetapi juga perabotan dan segala fasilitasnya. Namun, Raskal sudah bertekad untuk hidup sederhana, daripada dikelilingi kemewahan tetapi selalu dipandang sebelah mata.
Sejak dulu dia memang selalu dianggap nomer dua di dalam keluarga. Sebenarnya, tidak masalah bagi Raskal apabila Jonathan dianggap lebih unggul darinya dalam segala aspek. Hanya saja dia pernah mengalami sakit hati yang tak terkira saat Zavia lebih memilih Jonathan. Zavia adalah cinta pertama sekaligus satu-satunya gadis yang mendukung impiannya untuk menjadi fotografer. Namun, siapa sangka di belakangnya Zavia justru bermain hati dengan kakak kandungnya sendiri.
“Ah, kenapa aku harus memikirkan Zavia di saat seperti ini? Seharusnya aku fokus saja kepada misi utamaku,” gerutu Raskal berbicara seorang diri.
Karena kesal, Raskal berguling ke samping untuk mengubah posisi tidurnya. Tanpa sengaja bahunya yang memar tertekan oleh kasur, sehingga ia kembali merasa nyeri. Pikiran Raskal otomatis tertuju kepada Zayn dan April.
Raskal sendiri tidak habis pikir mengapa dia nekat mempertaruhkan nyawa demi seorang anak kecil yang belum dikenalnya. Entah itu karena dorongan hati nurani semata, ataukah karena Zayn merupakan putra dari April.
Malas untuk berpikir terlalu rumit, Raskal membenamkan wajahnya ke bantal agar dia terlelap. Namun, tiba-tiba saja ponsel Raskal berdering dengan nyaring. Awalnya, Raskal mengabaikan panggilan itu, tetapi karena suaranya tak henti mengganggu indera pendengaran, dia akhirnya bangun dari tempat tidur.
“Ck, siapa yang malam-malam begini menggangguku,” ujarnya berdecak kesal.
Begitu meraih ponsel, Raskal melihat nama sang asisten muncul di layar. Dalam sekejap, rasa jengkel Raskal pun hilang berganti dengan rasa ingin tahu yang besar. Dia berpikir bahwa mungkin Gilang sudah berhasil menyelidiki siapa April sebenarnya.
“Halo, Lang, kenapa meneleponku malam-malam begini? Apa kamu sudah mendapatkan petunjuk?” cecar Raskal.
“Betul, Tuan, saya ingin menunjukkan hasil prestasi saya sebagai detektif. Hanya beberapa jam dari saat Anda mengirim foto, saya sudah mendapatkan data-data yang akurat.”
Raskal mendekatkan benda pipih itu ke telinganya, supaya dia bisa mendengar suara Gilang lebih jelas.
“Kamu yakin sudah menemukan identitas April? Apakah dia benar April Ardinata?” tukas Raskal.
“Sabar dulu, Tuan, orang sabar pasti akan terhindar dari hipertensi. Setelah ini, saya akan mengirimkan link akun media sosial milik April Ardinata. Kebetulan nggak ada yang diprivate, sehingga Anda bisa langsung mengecek foto-fotonya. Nanti Anda bisa membuktikan sendiri apakah April yang bersama Anda sekarang adalah April Ardinata.”
“Kamu mulai pintar bermain teka-teki denganku, Lang. Cepat kirim sekarang atau aku akan menagih utangmu setahun yang lalu ditambah bunga sepuluh persen,” tandas Raskal.
Gilang mendengus sebal di balik telepon tatkala mendengar ancaman dari bosnya itu.
“Ish, Anda ini orang kaya tetapi perhitungan sekali, sudah mirip rentenir. Kalau begitu saya akan mengirimkan….”
Sebelum Gilang selesai bicara, Raskal sudah memutuskan sambungan telepon mereka. Selang dua menit, Raskal pun mendapatkan informasi yang sangat dia inginkan. Apalagi kalau bukan bukti otentik mengenai identitas asli seorang April Ardinata.
Dengan jantung yang berdebar, pria itu membuka tautan media sosial yang dikirimkan Gilang lewat chat. Begitu melihat foto sang pemilik akun, pupil mata Raskal terbuka dengan lebar. Semakin dirundung penasaran, Raskal menggulirkan jarinya ke bawah untuk melihat foto-foto yang lain.
Betapa terkejutnya Raskal saat melihat ada satu foto Zayn yang terpampang di sana. Sedangkan di bawahnya terdapat foto April bersama temannya yang tengah meliput acara fashion. Sekarang jelaslah sudah bahwa April yang bekerja di Majalah Cinta Budaya adalah April Ardinata, wanita yang melarikan diri karena enggan dijodohkan dengannya.
Tanpa sadar, Raskal meremat ponselnya dengan telapak tangan. Entah dia harus senang atau sedih dengan takdir yang serba kebetulan ini. Tak disangka, tanpa harus bersusah payah dia telah dipertemukan dengan April, biang keladi dari penyamarannya saat ini. Sedikit banyak, Raskal mulai menebak apa yang menyebabkan April tidak mau menjadi calon istrinya.
“Ternyata dunia ini memang sesempit daun kelor. Kita lihat saja nanti, April, aku yang tidak pantas untukmu atau kamu yang tidak pantas untukku,” gumam Raskal tersenyum miring.
***
Seorang pria berjalan masuk ke kamarnya dengan menggunakan bathrobe. Rambutnya masih setengah basah, karena ia baru saja selesai mandi. Pandangan tajam mata pria tersebut tertuju kepada benda kesayangannya yang tergeletak di atas meja. Dia sengaja meninggalkan ponsel rahasianya di apartemen, agar tidak ada seorang pun yang tahu bahwa dia memiliki profesi ganda.
Pria itu bergegas memeriksa isi ponselnya. Seperti biasa, selalu terdapat puluhan notifikasi pesan masuk dan panggilan tak terjawab. Bukan hanya dari para penggemar, tetapi juga dari sejumlah pihak yang menawarkan kerja sama.
Senyum langsung terbit di bibir pria itu ketika membuka pesan yang berisi foto-foto seorang bocah lelaki. Apabila diamati dari dekat, rupa bocah itu merupakan perpaduan antara dirinya dengan sang mantan kekasih, Yuna Ardinata. Ah, setiap kali mengingat Yuna yang begitu polos dan cantik, selalu saja timbul penyesalan di hatinya. Sayang sekali, waktu itu dia belum siap untuk berkomitmen, sehingga terpaksa meninggalkan Yuna dalam kondisi hamil. Meski begitu, dia selalu memantau perkembangan buah hati mereka dari kejauhan.
Tanpa ragu sedikit pun, pria tersebut menghubungi nomer telepon dari si pengirim pesan.
“Toni, kamu sudah menemukan Zayn?”
“Sudah, Tuan, tepat seperti dugaan saya mereka ada di Jogja sekarang.”
“Bagus, awasi terus April, supaya dia jangan sampai melarikan Zayn lebih jauh lagi.”
“Maaf, Tuan, saya ingin bertanya sesuatu. Apakah Anda akan tetap pada rencana semula untuk menikahi Nona April?” tanya pria bernama Toni tersebut.
“Bisa iya, bisa juga tidak. Aku akan membuat keputusan mengenai April setelah aku mendapat kepastian dari kekasihku,” jawab pria itu dengan ekspresi datar.